Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Daripada kamu kena virus di rumah sakit steril begini, mendingan kita pulang aja yuk?" ucap Zela santai, seolah keberadaan Freya yang terbaring kritis di balik kaca di belakang mereka sama sekali bukan hal penting.
Zela menurunkan tangannya dari dada bidang Bashkar, lalu meraih pergelangan tangan besar suaminya itu dengan kedua tangannya. Ia menggenggam jemari Bashkar erat-erat, kemudian memasang kuda-kuda dan mulai menarik lengan kokoh itu menuju arah pintu keluar koridor VIP.
"Yuk, pulang, Sayang! Di rumah kan lebih hangat, lagian aku mau—"
Sret.
Kalimat Zela terputus seketika. Tubuhnya yang sudah melangkah dua tindak ke depan mendadak terhenti kaku, tersentak kembali ke belakang.
Zela berkedip bingung. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Bashkar sama sekali tidak bergeser sejengkal pun dari posisinya berdiri. Pria itu tetap menancap kokoh di lantai marmer seperti tiang pancang berbobot ratusan ton. Lengan kemeja hitamnya yang tergulung hingga siku memperlihatkan urat-urat menonjol yang sama sekali tidak bergeming sedikit pun meski Zela mengerahkan tenaganya.
Zela mendesis pelan, memasang raut wajah tidak terima. "Loh? Kok gak jalan?"
Zela mengencangkan genggamannya pada pergelangan tangan Bashkar. Kali ini, ia menyatukan kedua kakinya di lantai, mencondongkan seluruh berat badannya ke depan, lalu menarik tangan pria itu dengan sisa tenaga ekstra.
"Ayo dong, Bashkar! Bergerak dikit kek!" seru Zela seraya meringis, napasnya mulai terengah-engah karena mendadak harus melakukan latihan angkat beban spontan.
Tetap tidak ada pergeseran. Bashkar hanya berdiri menjulang, menatap ke bawah pada tingkah istrinya yang sibuk menarik-narik tangannya dengan pandangan yang teramat datar, dingin, dan tidak tersentuh. Otot bicep dan shoulder-nya yang keras bak batu sama sekali tidak memberi ruang bagi Zela untuk menariknya walau hanya satu milimeter.
"Anjirr... kok susah banget sih ditariknya?!" gerutu Zela spontan, memprotes berat badan dan kekuatan fisik suaminya yang kelewat luar biasa di dalam hati. Ini pria badannya terbuat dari semen bertulang baja apa gimana sih?! Meringankan beban dikit napa!
Zela melepaskan genggamannya sebentar, mengusap telapak tangannya yang mendadak panas karena menggesek kulit keras Bashkar. Ia berdiri tegak, memayungi dadanya yang naik turun seraya menatap Bashkar dengan raut wajah cemberut nan manja.
"Kamu ini makan besi atau gimana sih, Mas?" omel Zela, sengaja memiringkan kepalanya dengan bibir dipanyunkan. "Tangan aku sampai pegal tau! Istri sendiri mau ngajak pulang baik-baik malah didiemin kayak patung!"
Mendengar omelan absurd bercampur sebutan 'Mas' yang diucapkan dengan gaya merajuk tanpa rasa takut sedikit pun itu, garis rahang Bashkar mengencang tipis. Manik mata kelabunya menatap lekat-lekat pada wajah merona milik Zela mencari sekilas keraguan, ketakutan, atau kepura-puraan. Namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata bulat yang jujur, hangat, dan benar-benar tidak berniat melepaskan genggamannya.
Mobil sedan hitam bermerek mahal milik Bashkar membelah jalanan kota yang mulai diterpa remang sore. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu pekat, sunyi, dan dingin. Hanya terdengar dengung halus mesin mobil yang melaju mulus di atas aspal. Bashkar duduk tenang di kursi belakang dengan posisi tubuh tegap dan angkuh, sementara Zela duduk di sampingnya, sengaja menyandarkan bahunya rapat ke lengan kokoh sang suami meski pria itu memancarkan aura mengintimidasi.
Bashkar melirik dingin pada wanita yang menempel di sisinya. Manik mata kelabunya menyipit tajam, tak lagi mampu menahan keheranan atas perubahan drastis wanita ini.
"Apa sebenarnya rencanamu, Zelara?" tanya Bashkar. Suaranya berat, rendah, dan penuh penekanan yang menembus keheningan kabin. "Berhenti bersandiwara. Katakan apa yang kau inginkan sebenarnya."
Zela menoleh, menyunggingkan senyum manis tanpa beban sedikit pun. Ia memiringkan kepalanya santai. "Enggak ada rencana apa-apa, Sayang. Aku kan cuma mau jadi istri yang baik buat kamu."
Bashkar tidak membalas senyuman itu. Wajahnya tetap datar bagai porselen dingin. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Zela, pria itu merogoh bagian dalam jas hitamnya, mengeluarkan sebuah amplop putih tebal, lalu meletakkannya dengan tegas di atas pangkuan Zela.
Zela mengernyit bingung. Ia meraih amplop itu dan membuka lipatannya. Matanya seketika membelalak lebar, bibirnya terkatup kaku membaca judul bertuliskan huruf tebal di lembar pertama: SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN.
"Loh?! Kan aku udah bilang aku enggak mau cerai!" seru Zela melongo kaget, menatap dokumen di tangannya lalu bergantian menatap wajah kaku Bashkar dengan raut tak percaya.
"Aku tidak bertanya soal pendapatmu, Zelara Sabiru," potong Bashkar dingin tanpa celah. Suaranya datar namun sarat akan kekuasaan yang mutlak. "Tandatangani dokumen itu. Di sana sudah tertulis, setelah perceraian ini selesai, kau akan membawa uang pesangon senilai satu miliar rupiah. Tidak kurang, dan tidak lebih dari itu."
Zela membeku di tempat. Kata-kata itu bergema nyaring di dalam dadanya.
Satu miliar...? batin Zela mengulang nominal itu.
Sebuah kepedihan tipis mendadak mencubit hatinya. Meskipun selama dua tahun ini Zelara Sabiru yang asli selalu bersikap kejam, arogan, dan menyiksanya secara mental, Bashkar—seorang pemimpin mafia yang ditakuti dunia—tetap tidak ingin membiarkan wanita ini menjadi gelandangan terlunta-lunta di jalanan setelah berpisah. Pria ini tetap memberikan perlindungan finansial yang sangat layak di akhir hubungan mereka. Ternyata di balik hatinya yang beku, dia benaran pria seroyal dan sebertanggung jawab ini, bisik Zela dalam hati, semakin bersimpati pada nasib suaminya.
Namun, Zela sama sekali tidak berniat menerima uang satu miliar itu jika artinya ia harus kehilangan Bashkar dan membiarkan pria ini kembali tenggelam dalam kesepian.
Zela buru-buru meremas kertas perjanjian itu di dadanya, menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia memajukan duduknya, mengikis jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari lengan Bashkar. Zela menggenggam ujung kemeja hitam suaminya erat-erat, memasang raut wajah paling memelas dengan mata bulatnya yang berbinar penuh permohonan.
"Enggak mauuu... Pliss, Mas..." rengek Zela dengan nada suara mendayu-dayu yang sangat manja. Ia menatap tepat ke manik mata kelabu Bashkar dengan bibir yang dipanyunkan sedemikian rupa. "Aku enggak mau uang satu miliar itu! Aku enggak butuh pesangon! Aku cuma mau kamu! Plisss, jangan ceraiin aku ya, Sayang?"