Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Panen
Sore harinya, Meng Lin dan Yan Rao kembali sibuk di dapur bersama.
Karena masih memiliki persediaan, mereka memutuskan untuk membuat nasi goreng dalam porsi besar. Bahan-bahannya sederhana, hanya nasi, telur, sedikit garam, dan daun bawang yang dipetik dari kebun belakang.
Bagi Meng Lin, makanan seperti ini sudah lebih dari cukup. Selain mudah dibuat, nasi goreng juga bisa disiapkan dalam jumlah banyak tanpa menghabiskan terlalu banyak bahan.
Yan Rao membantu memotong daun bawang, sementara Meng Lin menyalakan tungku dan mulai menggoreng telur.
“Lin Lin, sepertinya kita harus memasak lebih banyak daripada tadi siang,” kata Yan Rao sambil melirik tumpukan nasi di dalam wadah.
“Tambahkan saja sedikit lagi. Mereka mungkin pulang lebih lapar setelah bekerja seharian.”
Yan Rao tersenyum. “Kalau begini terus, mereka bisa terbiasa makan masakan kita.”
“Tidak masalah. Asalkan mereka mau berkontribusi, aku siap masak setiap hari!" Kata Meng Lin dengan jujur. Jika bisa dia hanya ingin masak saja, tanpa perlu turun ke sawah.
Keduanya tertawa kecil, lalu kembali bekerja.
Tidak lama kemudian, aroma nasi goreng mulai memenuhi halaman asrama.
Satu per satu pemuda terpelajar yang bekerja di ladang mulai kembali. Pakaian mereka dipenuhi debu, beberapa bahkan berjalan sambil memijat bahu yang terasa pegal.
Begitu memasuki halaman, mereka kembali disambut aroma makanan yang menggugah selera.
Seorang pemuda mengendus udara, kemudian menoleh kepada temannya. “Jangan bilang mereka memasak lagi?”
“Sepertinya begitu.”
Mereka saling pandang sebelum mempercepat langkah menuju dapur.
Ketika melihat meja yang sudah dipenuhi piring nasi goreng, Xia Ning dan beberapa pemuda lainnya justru merasa sedikit sungkan.
Pulang dari pekerjaan yang melelahkan, lalu langsung mendapatkan makanan hangat di atas meja. Rasanya memang menyenangkan.
Namun, mereka juga tahu bahwa Meng Lin dan Yan Rao baru datang kemarin. Mereka seharusnya masih sibuk membereskan barang-barang dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Tidak semua orang memiliki tenaga untuk memasak dalam jumlah besar setelah bekerja seharian.
Xia Ning memandang Meng Lin yang sedang membagikan nasi goreng ke dalam beberapa mangkuk.
“Adik Meng Lin, kalian memasak lagi sebanyak ini?”
Meng Lin mengangguk. “Nasi goreng lebih mudah dibuat. Tidak membutuhkan banyak bahan.”
“Tetap saja, kalian sudah memasak untuk kami saat makan siang. Kami merasa tidak enak jika terus menerima makanan begitu saja.”
“Tidak perlu sungkan, Kak Xia. Kami juga makan bersama. Lagi pula, memasak bukan pekerjaan yang sulit bagiku.” balas Meng Lin tersenyum.
Xia Ning masih terlihat ragu, tetapi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, seorang pemuda sudah mengambil mangkuk.
“Kalau begitu, lain kali gunakan jatah kami saja, kami tentu tidak ingin makan gratis setiap hari.. Tapi untuk malam ini, aku tidak akan menolak nasi goreng ini!”
Ucapan itu membuat beberapa orang tertawa.
Xia Ning akhirnya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau kalian sudah memasak, kami akan mencuci semua peralatan setelah makan. Kalian tidak perlu mengerjakannya lagi.”
Meng Lin tidak menolak. “Kalau begitu, terima kasih, Kak Xia.”
Sementara itu, empat pemuda membawa ember dan pergi mengambil air. Mereka bukan hanya ingin mengisi kembali persediaan air untuk keperluan dapur, tetapi juga hendak mandi setelah seharian bekerja.
Makan malam berlangsung dalam suasana yang jauh lebih akrab dibandingkan siang tadi.
Nasi goreng sederhana itu ludes dengan cepat. Beberapa pemuda bahkan menambah porsi, sedangkan yang lain terus memuji rasanya.
Setelah selesai makan, Xia Ning dan beberapa pemuda lainnya langsung mengumpulkan mangkuk serta sumpit untuk dicuci.
Meng Lin dan Yan Rao hanya perlu merapikan meja, sementara empat pemuda yang mengambil air bergantian menggunakan air untuk membersihkan diri.
Kehidupan di asrama perlahan mulai terasa teratur.
---
Malam semakin larut.
Yan Rao sudah tidur nyenyak di ranjang sebelah. Napasnya terdengar teratur setelah kelelahan mengurus banyak hal sejak pagi.
Meng Lin yang masih terjaga menunggu beberapa saat, memastikan temannya benar-benar tertidur sebelum memejamkan mata seolah hendak beristirahat.
Namun, begitu suasana kamar benar-benar tenang, ia diam-diam memasuki ruang dimensi.
Hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa tanaman yang telah ditanam sebelumnya.
Hamparan sayuran yang beberapa waktu lalu tumbuh subur kini telah mencapai masa panen. Semangka, sawi, labu, dan mentimun memenuhi petak-petak tanah.
Melihat hasil panen sebanyak itu, Meng Lin berpikir bahwa ia mungkin harus menghabiskan banyak waktu untuk memetik semuanya.
Ia baru hendak berjalan mendekati tanaman ketika sebuah pikiran melintas di benaknya.
"Bagaimana kalau aku mencoba memanennya hanya dengan pikiran?"
Sebelumnya, ia memang telah menyadari bahwa ruang dimensi ini memiliki banyak kemampuan yang belum ia pahami.
Air dari dua batu yang menetes ke dalam mangkuk kayu saja sudah menunjukkan bahwa tempat ini tidak mengikuti aturan dunia biasa.
Meng Lin memusatkan pikirannya pada petak semangka. Sesaat kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Semangka-semangka yang telah matang terlepas dari tangkainya dan menghilang dari tanah. Dalam waktu singkat, semuanya muncul dengan rapi di dalam gudang.
Meng Lin membelalakkan mata. Ia mencoba lagi, kali ini dengan memusatkan perhatian pada sawi dan mentimun. Hasilnya sama.
Satu demi satu tanaman yang siap dipanen berpindah ke gudang tanpa perlu disentuhnya. Bahkan labu-labu yang berukuran besar pun dapat dipindahkan dengan mudah.
Beberapa saat kemudian, seluruh hasil panen telah terkumpul dengan rapi di dalam gudang.
Meng Lin berdiri terpaku selama beberapa detik sebelum senyum lebar muncul di wajahnya.
“Ternyata bisa seperti ini!” Ia benar-benar merasa lega.
Jika harus memanen semuanya secara manual, ia mungkin akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Namun, dengan kemampuan ini, ia hanya perlu memusatkan pikiran.
Setelah memastikan semua hasil panen tersimpan dengan baik, Meng Lin memandang hamparan tanah yang kini kembali kosong.
Kali ini, ia ingin mencoba sesuatu yang lain.
Ia memilih benih ubi jalar, stroberi, jagung, dan lobak. Setelah menentukan petak yang akan digunakan untuk setiap jenis tanaman, ia memusatkan pikirannya pada benih-benih tersebut.
Benih ubi jalar ditanam pada satu petak, stroberi pada petak lainnya, kemudian jagung dan lobak menyusul.
Awalnya, Meng Lin hanya mencoba pada sebagian kecil tanah. Namun, ketika melihat benih-benih itu benar-benar tertanam sesuai keinginannya, ia kembali mencoba pada bagian yang lebih luas.
Berhasil.
Tanah itu seolah mengerti apa yang ingin dilakukannya. Benih-benih masuk ke dalam tanah dengan teratur tanpa ia perlu membungkuk atau menggunakan alat apa pun.
Meng Lin nyaris tertawa karena terlalu senang.
“Kalau semua pekerjaan bisa dilakukan seperti ini, aku tidak perlu menghabiskan banyak tenaga lagi.”
Ia tidak harus terus-menerus berada di dalam ruang dimensi untuk merawat tanaman.Selama kemampuan ini bekerja sesuai keinginannya, ia bisa menghemat banyak waktu untuk melakukan hal lain.
Setelah selesai menanam, Meng Lin berjalan menuju gudang. Ruangan itu kini berisi hasil panen yang tersusun rapi. Sayuran dipisahkan berdasarkan jenisnya, sedangkan semangka diletakkan di bagian yang cukup luas agar tidak saling bertumpuk.
Meng Lin memperhatikan deretan semangka sebelum memilih satu yang berukuran sedang.
Ia ingin mencicipinya. Dengan satu pikiran, semangka itu berpindah ke dekatnya. Meng Lin mengambilnya, lalu membawanya ke bangku kayu di dekat gudang.
Ia tidak tahu apakah semangka itu akan memiliki rasa yang sama seperti buah-buahan di dunia luar. Meskipun tumbuh sangat cepat, belum tentu rasanya juga enak.
Setelah membelahnya, daging buah berwarna merah cerah langsung terlihat. Airnya berkilau di bawah cahaya, sementara aroma segar semangka perlahan tercium.
Meng Lin mengambil sepotong dan menggigitnya. Matanya seketika berbinar, manis. Bukan sekadar manis biasa, melainkan rasa manis yang segar dengan kandungan air yang melimpah. Daging buahnya juga terasa lembut, membuatnya ingin mengambil satu gigitan lagi.
Setelah seharian beraktivitas, semangka itu terasa sangat menyegarkan. Ia bahkan merasa tubuhnya lebih segar setelah memakannya.
Meng Lin menatap buah di tangannya, lalu memandang hasil panen yang memenuhi gudang.
Jika rasa buah-buahan lain sama baiknya, ruang dimensi ini bukan hanya akan menjadi tempat untuk menyimpan persediaan. Ia juga bisa menjadi sumber makanan yang sangat berharga.
Namun, Meng Lin tidak terburu-buru memikirkan cara menjual hasil panennya.
Setelah menghabiskan beberapa potong semangka, Meng Lin menyimpan sisanya kembali ke gudang.
Ia kemudian memandang petak-petak tanah yang baru saja ditanami benih. "Sudah bertunas..!"
Setelah memeriksa keadaan gudang untuk terakhir kalinya, ia meninggalkan ruang dimensi dan kembali ke kamar asrama.
Yan Rao masih tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari kepergiannya.
Meng Lin berbaring kembali di ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu memejamkan mata.
Besok masih ada banyak hal yang perlu diurus.
Untuk malam ini, ia akan beristirahat dengan tenang.
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍
gift ☕ biar semangat 🥰🥰