NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Villa (bag 1)

**

"Aduh, jangan sentuh-sentuh pipi saya!" Rafa berteriak saat seseorang lelaki ayu mengusap-usap pipinya dengan spons yang mirip spons cuci piring.

"Aduh, ini apaan pakai lipstik segala! Saya gak mau yah, kaya cabe-cabean!"

"Ini apa lagi? Ini mata saya nanti perih kecolok!"

"Jangan acak-acak rambut saya!"

"Jangan sentuh-sentuh dagu saya!"

"Hei, jangan pencet-pencet hidung saya!" "Pergi kalian! Geli saya!"

Tiga orang yang tadi sedang mengelilingi Rafa, lebih tepatnya mendandani dia, saling menatap diam kemudian memilih pergi meninggalkan Rafa.

"Fel, Ay gak sengggop cowok Yey, cerewet! Ganteng sih, selera Ay tapi ngomel mulu!"

"Iya, Kak baru pegang rambutnya saja, sudah dimarahi!"

"Apalagi saya, mau baru ambil bulu mata palsu saja sudah diomelin!"

Felisa mengangguk bingung, merasa tidak enak juga. "Maaf yah, dia gak biasa aja. Ya udah, biar saya yang kasih make-up dia."

Ketiga orang itu mengangguk, tersenyum tipis kemudian berlalu pergi.

Felisa menarik napas berat, lalu berjalan menghampiri Rafa yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kamu kenapa, sih?" tanya Felisa saat sudah di depan Rafa, yang sebenarnya sedang menahan diri untuk tidak mengomel.

"Apanya, yang apa? Gatel banget ini, padahal baru mulai!" Rafa malah menarik tisu, berniat menghapus sedikit make-up yang sudah ada di wajahnya.

Felisa kembali menarik napas mencoba menahan sabar. Seandainya ada pilihan lain, tidak mau dia menggunakan Rafa sebagai partner-nya. Tapi, kalau pemotretan ini ditunda karena tidak ada model, tentu tidak mungkin, mereka lebih memilih melakukan pemotretan sampai subuh daripada ditunda.

Berhubung fotographer menyukai Rafa—yang Felisa akui tidak kalah tampan dari model-model lelaki lainnya hanya saja karena tidak terbiasa di-make-up, protesnya tidak berhenti-henti.

"Kalau protes terus, Elvan gak jadi nginep di rumah Mama," ancam Felisa yang langsung membuat Rafa duduk tegak.

"Gak bisa gitu! Tadi, udah janji kalau aku ikut pemotretan ini Elvan ke rumah Mama, biar kita bisa ikut acara kantor menginap di Puncak!"

"Makannya, nurut dimake-up, gak usah ribet!"

"Udah ganteng gini, gak usah make-up segala kali!" Rafa masih terus saja berdumel.

"Ya, udah! Gak jadi." Felisa sudah beranjak, tapi tangan Rafa menahannya. "Tenang aja, sekarang terpaksa aku yang make-up karena orang-orang udah gak mau sama kamu."

"Ok." Rafa akhirnya terpaksa menurut.

"Selesai!" Teriakan fotografer langsung membuat Rafa melemaskan tubuhnya.

Dia baru tahu, jika pemotretan bisa tidak semenyenangkan ini, meskipun kalau dipikir-pikir hanya bergaya di depan kamera. Tapi, jika harus bergaya ratusan kali dan sedikit ditegur saat salah ekspresi, yah capek juga.

Pemotretan tadi katanya bertema untuk baju musim panas, bisa dibilang baju kurang bahan. Felisa sendiri mengenakan baju gaya super ketat dan pendek, sedangkan dirinya kebanyakan memakai celana pendek selutut dengan kemeja tidak terkancing semua. Rafa sampai bergidig geli saat membayangkan dirinya berpose pamer aurat tadi.

"Ini, minum dulu!" Felisa tiba-tiba memberikan sebotol minuman yang langsung diterima Rafa.

"Kamu suka pose baju gitu? Terus sama cowok, seintim itu?"

Entah kenapa, jika membayangkan sesi foto tadi di mana mereka melakukan banyak skinship terlalu intim dengan baju Felisa yang seketat itu, jika model lelakinya bukan dia, Rafa tiba-tiba merasa kesal.

"Gak selalu sependek itu, kok." Felisa menyeka keringat di dahi Rafa. "Jarang juga, aku foto sama cowok."

"Jarang, berarti pernah, dong?" selidik Rafa yang tiba-tiba semakin kesal.

"Namanya juga model." Felisa menjawab sembari melonggos pergi.

Rafa tidak terima ditinggal begitu saja, dengan cepat ia menahan tangan Felisa dan membalikkan tubuh wanita itu. "Aku belum selesai, loh!"

Felisa menaikkan alisnya dengan bingung. "Apanya yang belum selesai?"

"Jawaban kamu atas pertanyaan tadi." Rafa menjawab setengah kesal.

Felisa melipat tangan di depan dada. "Kenapa, sih? Udah ah, mau ganti baju mau cepet pulang dan ketemu Elvan."

"Kamu sering foto sama cowok? Lain kali, jangan diambil job sama cowok. Gak bakal miskin juga, kalau gak ngambil job itu! Aku juga kerja, mau apa bilang aja! Ingat, sekarang udah nikah gak jomblo!"

Felisa tertegun sesaat, setelahnya tersenyum lebar. "Kamu cemburu?"

Saat Felisa akan meraih wajah Rafa, sayang cowok itu mundur. "Mau kencing ah!"

Rafa berbalik tanpa menatap Felisa sama sekali, buru-buru berjalan cepat karena dia memang malu. Apa yang barusan dia lakukan? Kenapa harus marah-marah seperti itu? Rafa menggeleng, kemudian benar-benar pergi ke toilet yang dia sendiri tidak tahu ada di sebelah mana. Felisa terus memperhatikan Rafa sampai hilang keluar ruangan. Kedua tangannya menangkup pipi sambil terus tersenyum.

"Lucu banget."

"Hei, kenapa senyum-senyum?" Felisa tersentak, menatap tajam Meri.

"Ganggu aja!" Wanita itu malah melongos pergi meninggalkan Meri yang kebingungan.

"Aneh banget, ada suami datang malah gila. Ngeri ...." Meri menggeleng tak mengerti.

Seperti rencana, hari Sabtu ini Rafa sudah bersiap mengantarkan Elvan ke rumah mamanya karena mereka akan menginap di Puncak. Kebetulan, tiap 3 bulan sekali divisi-nya sering mengadakan acara seperti itu supaya otak bisa refreshing dari pekerjaan.

Dulu, Rafa sering ikut walau sering diejek karena jomblo dan selalu bersama Andre, tapi saat Elvan datang, Rafa sudah tidak pernah mengikuti acara itu lagi. Sekarang, sudah ada pasangan, kenapa tidak ikut?

"Jangan nakal, jangan buat Nenek repot jaga kamu. Nurut sama Nenek, terus sebelum bobo pipis dulu takut ngompol!" Felisa berjongkok menasihati Elvan.

Padahal, saat di apartemen maupun di mobil hal itu sudah diingatkan. Sesampainya di rumah Mama, Rafa sudah sampai hafal kebiasaan di sana, sementara Elvan hanya mengangguk-ngangguk sambil mengemuti permen.

"Papa, mau robot, yah?" Elvan berjalan mendekati Rafa.

Rafa berjongkok. "Siap, Bos!" Mereka berdua bertos ria, melupakan Felisa yang tadi sempat mengomel.

Felisa hanya menghela napas lelah. "Selalu gini."

"Iya, kata Papanya, Elvan itu persis kecilnya Rafa sekali." Mama mertuanya menepuk pelan pundak Felisa. "Repot banget yah, kamu mengurusi mereka berdua di rumah, Sayang?"

Felisa menggeleng pelan dan tersenyum tipis. "Anehnya enggak, Ma. Mereka udah kaya vitamin buat aku."

"Syukurlah, Mama seneng. Rumah tangga kalian awet-awet, yah. Mama selalu bersyukur, kamu yang menjadi menantu Mama." Mama tersenyum lebar.

"Aku juga sama bersyukur karena Mama yang udah jadi mertua aku."

"Bangun, kita udah sampai!" Rafa sedikit mengguncang tubuh Felisa yang tertidur di tengah perjalanan.

Felisa perlahan membuka matanya. "Cepet banget?"

Rafa mendengus. "Ya jelas lah, cepet. Orang situ tidur, saya encok ini nyetir!"

"Tukang ngomel!" Felisa membuka pintu mobil, lalu keluar meninggalkan Rafa.

"Dih, gak sadar diri, situ yang tukang ngomel di rumah"

"Kalian udah dibagi nomer, kan? Di Villa ini ada 8 kamar, 3 di atas dan 5 di bawah. Kita ada 5 pasang yang udah nikah, 4 jomblo cowok dan 5 jomblo cewek. Jadi, 5 kamar di bawah dipakai buat pasangan yang udah nikah, dan 2 kamar di atas buat para cewek jomblowati dan 1 kamar buat jomblowan. Ngerti?" Jelas Bima ketua di divisi mereka memberi intruksi.

"Sialan, harus yah disebut-sebut jomblowannya," dumel Andre di samping Felisa. "Saya gak jomblo kok, kalau bisa nginep bawa gebetan mau-mau aja." Andre menatap Felisa bangga.

"Jangan didengerin orang gila," bisik Rafa agak keras ke Felisa, sengaja memang supaya Andre mendengar.

"Sialan! Lo yang gila!" Seperti biasa, Andre sudah ngegas kesal, sedang Rafa balas mendengus.

Felisa yang berdiri di antara mereka berdua, hanya tertawa memperhatikannya. Dia tidak mengira, sosok Rafa akan seperti ini jika bersama temannya.

Kegiatan mereka setelah itu, biasa disuruh istirahat dan malamnya ada pesta BBQ di taman belakang. Untuk makan sore, disuruh membeli sendiri saja karena kebetulan tidak jauh dari vila ada rumah makan kecil.

"Mer, gimana dong, obat gue lupa bawa!" Felisa berjalan hilir mudik di kamar sambil menelepon.

Rafa kebetulan sedang mandi di kamar mandi di luar karena memang di vila ini semua kamar mandi ada di luar kamar. Felisa sendiri sudah mandi terlebih dahulu tadi.

"Terus, lo mau gue apa?" balas Meri diseberang telepon.

"Anterin lah, obat gue sini! Gue gak mau ngambil resiko kebobolan!"

Meri terdengar malah tertawa. "Kebobolan juga gak papa, kan udah ada lakinya."

"Gak mau! Hubungan kita belum jelas ada rasa, Lo tahu kan, kita gak nikah karena cinta?" Felisa masih berusaha terus membongkar isi tasnya, siapa tahu ada.

"Gak cinta, tapi making love ampir tiap hari!"

"Berisik! Cepet sini, bawa obat!"

"Malas, ini waktu liburan gue. Bye! Eh, bilang aja suruh keluarin di luar!"

"Sialan!" Felisa membanting ponsel, saat tahu Meri sudah memutuskan panggilan telepon.

Lagipula, bisa-bisanya dia teledor tidak membawa obat, sih? Obat yang selalu dia konsumsi setiap pagi, setelah berkegiatan semalam dengan Rafa. Felisa bukan tidak mau mempunyai anak lagi, tapi sekarang hubungan mereka saja tidak jelas seperti apa. Felisa jujur masih ragu, dia juga ingin merasakan pernikahan yang dipenuhi dengan cinta. Tapi Rafa belum pernah sama sekali memberikan itu, walau lelaki itu selalu memperlakukannya dengan baik.

Lalu, bagaimana sekarang? Felisa sangat yakin, malam ini pasti akan terjadi sesuatu diantara mereka seperti biasanya, apalagi di sini bebas tanpa Elvan.

Duh maaf Sayang, Mama malah seneng gak ada kamu.

"Nyari apa sih, bongkar-bongkar tas segala?" Rafa sudah masuk dengan handuk di kepalanya.

"Lipstik," jawab Felisa asal, pasalnya Rafa tidak tahu jika Felisa memang suka rutin meminum obat itu.

"Ayo, kita cari makan!" ajak Rafa yang langsung diangguki Felisa.

Setelahnya, mereka berdua mencari makan ke luar bersama.

Satu hal yang baru Felisa sadari, jika kebanyakan bahkan hampir semua teman kerja wanita Rafa menatap dia sinis. Awalnya, Felisa pikir dia berbuat salah apa? Tapi setelah dipahami, ternyata mereka korban patah hati Rafa.

Sorry girls, its mine ...

Malamnya, acara BBQ dilaksanakan seperti sesuai rencana. Para lelaki sebagian sedang asyik bermain gitar, sebagian membantu para perempuan membakar daging. Meja makan sudah disiapkan sedari tadi.

Rafa sendiri sedang sibuk membakar daging dan dikelilingi 3 orang wanita. Felisa hanya mendengus melihatnya, sembari memotong buah.

"Cemburu, yah?" tanya mbak Ayu salah satu karyawan yang sudah menikah, sudah ada di samping Felisa. "Tenang aja, Rafa di kantor itu tipe lelaki setia. Sebelum saya tahu dia sudah menikah, bahkan dia sama sekali gak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Banyak sih yang mendekati, tapi semua dicuekin sama Rafa."

Felisa tersenyum. "Emang orangnya gitu. Gak peka juga, Mbak."

"Awalnya, saya berpikir wanita yang menjadi istri Rafa itu beruntung karena bisa dapat lelaki tampan dan baik kaya dia. Tapi setelah ketemu kamu, pikiran saya jadi terbalik."

Felisa menaikan alis bingung. "Gimana maksudnya, Mbak?"

Mbak Ayu sempat-sempatnya mencubit pipi Felisa. "Rafa juga beruntung bisa dapat istri yang cantik dan baik seperti kamu."

Felisa tersenyum, menunduk karena tiba-tiba malah merasa malu.

"Langgeng-langgeng kalian." Felisa hanya mengangguk untuk menjawab Mbak Ayu.

*

"Eh?"

Felisa baru saja kembali dari dapur untuk membawa sendok, tapi seseorang menariknya, membawanya ke bawah tangga dan memojokkannya.

"Kirain siapa." Felisa bernapas lega, saat ternyata Rafa yang melakukannya. Hampir saja, dia mau tonjok. "Mau ngapain, sih?"

Rafa hanya tersenyum. "Mau minta obat."

"Hah?"

Belum sempat Felisa mencerna, Rafa sudah membungkam bibirnya dengan ciuman. Bukan sekedar ciuman biasa, tapi lebih ke lumatan kasar dan terburu-buru.

Ini orang kenapa, sih?

Felisa malas berontak, lebih baik membiarkan lelaki itu selesai dengan urusannya. Felisa juga ikut memejamkan mata, memeluk leher Rafa dan sesekali membalas pugutan lelaki itu yang semakin dalam dan panas.

"Raf, lo dimana?"

Eh

Felisa berusaha mendorong Rafa, tapi lelaki itu tidak bergeming sama sekali. Felisa semakin panik saat mendengar suara langkah kaki semakin mendekat. Memang tidak ada yang salah mereka berciuman karena mereka sudah menikah, tapi malu juga jika kepergok orang melakukannya di sini.

"Raf, woi ... lo di mana?"

##

1
Siti Musyarofah
kira2 siapa yg culik fely y
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
up lagi Thor jangan lama y🙏
uriarmy16: udah, aku barusaan publish 2 chapter🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lagi thor
Siti Musyarofah
lagi, lagi Thor tahu2 udah abis aja
uriarmy16: sabar pemirsa 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lanjut thor
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!