NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. PERPISAHAN DI CI SEPI DAN DENTUMAN JANTUNG

"Idih, ngapain saya harus sedih? Justru saya bersyukur sekali. Kalau perlu, hari ini saya bikin nasi tumpeng besar buat merayakan kepergian kamu dari vila ini," ucap Rahsya tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun, berusaha keras menyembunyikan kilat aneh yang mendadak muncul di sepasang matanya.

"Jangan menyesal ya, Kak, kalau nanti Kakak beneran kangen sama suara aku," gumam Amel lesu. Bahunya merosot turun. Ia menatap punggung tegap Rahsya dengan tatapan mata penuh kekecewaan yang mendalam.

"Sudah sana keluar, saya lagi sibuk beres-beres peralatan medis. Kamu mengganggu pemandangan saja di sini," usir Rahsya ketus.

Tangannya beralih menyapu lantai dengan gerakan mengusir yang tegas, meskipun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ada sebuah rasa asing yang berdenyut tidak nyaman saat menyadari bahwa besok pagi pun ia akan meninggalkan Desa Ci Sepi ini sendirian.

"Ya sudah, aku pergi nih!" seru Amel dengan nada yang sengaja ditinggikan. Matanya melirik tajam ke arah Rahsya, berharap pria itu akan menahannya.

Namun, pria itu tetap bergeming. Tangannya masih sibuk menggerakkan sapu di atas lantai, seolah-olah keberadaan Amel di sana hanyalah butiran debu halus yang tidak kasat mata.

"Pergi saja, tidak usah minta izin segala," sahut Rahsya datar tanpa menghentikan aktivitasnya sedikit pun.

Amel menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berbalik cepat memasuki vila untuk mengemasi sisa pakaiannya.

****

Pukul sepuluh siang, tenggorokan Rahsya terasa kering kerontang setelah menangani rentetan pasien desa yang datang silih berganti sejak pagi. Ia menyambar botol minumnya yang ternyata sudah kosong melompong.

Rahsya pun melangkah masuk ke dalam vila, menuju ke arah dapur untuk mengisi ulang air minumnya. Namun, saat botol itu sudah terisi penuh, tangannya sedikit goyah hingga air mineral itu tumpah, membasahi permukaan lantai keramik yang licin.

Tepat saat itu, Amel muncul di ambang pintu dapur dengan tas ransel yang sudah tersampir di salah satu bahunya. Ia berniat meminum air untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi dari desa ini.

Rahsya baru saja berbalik setelah membelakangi Amel untuk menyambar kain lap di atas meja marmer. Tanpa menyadari adanya genangan air di bawah kakinya, Amel melangkah maju dengan cepat.

Sret!

"Kyaaaa!" jerit Amel saat kaki kanannya terpeleset hebat. Refleks, kedua tangannya bergerak cepat menyambar lengan kokoh Rahsya untuk mencari pegangan hidup.

Tenaga tarikan Amel yang mendadak itu seketika menarik tubuh Rahsya hingga kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Rahsya terhuyung ke belakang, mengikuti arah tarikan tubuh Amel yang terjatuh.

Brukk!

Tubuh tegap Rahsya menimpa Amel dengan telak di atas lantai dapur yang basah. Dan entah ini merupakan sebuah kesialan murni atau bentuk keberuntungan gila yang aneh, wajah mereka mendarat dalam posisi yang sangat tidak terduga di bawah sana. Bibir Rahsya menyentuh bibir Amel dengan sempurna tanpa penghalang.

Cup!

Dunia seolah-olah berhenti berputar seketika. Keheningan yang pekak menyergap ruangan dapur itu selama beberapa detik. Jantung keduanya berpacu dengan sangat liar, seirama dengan detak jarum jam dinding yang mendadak terdengar begitu nyaring.

"Astagfirullah!"

Rahsya tersentak hebat. Ia segera bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat kikuk. Wajahnya yang biasanya putih pucat kini merona merah padam hingga ke ujung telinganya.

Dengan gerakan panik dan salah tingkah yang luar biasa, ia justru mengambil kain lap yang tadinya ingin dipakai untuk membersihkan lantai, lalu menggunakannya untuk mengusap bibirnya sendiri dengan kasar.

"Kamu... kamu sengaja mau melecehkan saya, ya?" tuduh Rahsya dengan suara yang sedikit bergetar menahan canggung.

Matanya sama sekali tidak berani menatap langsung ke arah manik mata Amel. Ia mendadak sibuk membetulkan letak kerah kemejanya yang berantakan, mencoba keras menutupi fakta medis bahwa jantungnya saat ini sedang berdebar tidak keruan di balik rusuknya.

"Apa sih, Kak! Orang Amel tidak sengaja!" protes Amel, suaranya langsung naik satu oktav karena tidak terima dituduh berbuat mesum.

"Lagian siapa juga yang menumpahkan air di atas lantai? Jadinya licin, kan! Amel cuma refleks mencari pegangan karena panik mau jatuh, dan kebetulan Kak Rahsya ada di situ!"

Rahsya mendengus, segera membuang muka demi menyembunyikan rona merah yang kini kian menjalar hingga ke lehernya. Padahal, di dalam lubuk hatinya, ia tahu betul dialah pelaku utama yang menumpahkan air tadi. Namun, ego tinggi dan kecanggungannya yang mendarah daging memaksa lidahnya untuk melemparkan kesalahan pada orang lain.

"Alasan saja kamu. Bilang saja kamu mau modus, kan?"

"Suer, Kak! Aku tidak ada niatan memodusin Kakak sama sekali. Aku ke dapur cuma mau minum!"

Amel mengangkat dua jarinya ke udara, membentuk tanda peace dengan raut wajah yang bersungguh-sungguh.

"Pokoknya saya tidak terima. Bibir suci saya sudah ternodai oleh kamu," ketus Rahsya.

Ia kembali mengusap bibirnya dengan kain lap—yang ironisnya, justru kain lap kotor itulah yang mengotori bibirnya sekarang, bukan bibir Amel.

Amel memutar bola matanya malas, mulai merasa jengah dengan drama pertahanan diri pria di depannya ini.

"Tidak usah berlebihan begitu juga kali, Kak. Itu juga ciuman pertama aku, dan aku bersikap biasa saja tuh," ucap Amel ketus.

Padahal, di dalam hatinya yang paling dalam, ribuan kembang api seolah baru saja meledak serentak karena first kiss-nya jatuh ke tangan pria jutek yang ia sukai sejak lama.

"Apa sekarang Kakak tidak merasa deg-degan atau ada rasa sedikit saja sama Amel setelah kejadian tadi?"

Rahsya tersentak. Pertanyaan Amel yang frontal itu menghantam telak pertahanan egonya. Ia sempat tertegun sejenak saat mendengar pengakuan Amel tentang ciuman pertamanya, namun lidah kaku sang dokter tetap memilih untuk mengeluarkan kata-kata yang tajam.

"Jangan ngomong yang aneh-aneh kamu. Mau itu ciuman keseratus kamu pun saya sama sekali tidak peduli," bohong Rahsya dengan nada suara yang sengaja dibuat kasar. "Saya tidak akan pernah tertarik pada anak kecil yang merepotkan seperti kamu."

Seketika itu juga, raut wajah Amel berubah total. Binar jenaka yang biasanya selalu menghiasi sepasang matanya mendadak padam, digantikan oleh garis wajah yang mengeras penuh kekecewaan. Ia menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah sepasang mata Rahsya yang pura-pura dingin.

"Stop, Kak!" bentak Amel, sukses membuat Rahsya berjengit kaget di tempatnya berdiri. "Bisa tidak sih, sehari saja Kakak tidak usah membentak, marah-marah, dan menyalahkan aku terus? Dan satu hal lagi yang perlu Kakak tahu, aku bukan anak kecil! Aku sudah besar, bahkan sudah lulus SMA!"

Amel mencengkeram tali ransel di bahunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi. "Ternyata Kakak memang manusia yang tidak punya perasaan sedikit pun."

Tanpa menunggu balasan kata dari mulut Rahsya lagi, Amel berbalik badan dengan sentakan kasar. Ia melangkah lebar-lebar meninggalkan area dapur tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia menghiraukan sosok dr. Rahsya yang kini hanya bisa mematung membisu di tengah genangan air, memegang kain lap kotor dengan perasaan dada yang tiba-tiba saja terasa kosong melompong.

Gengsi Rahsya memang sudah mendarah daging di dalam garis keturunannya. Ia berdiri mematung di dapur, memandangi pintu yang baru saja dilewati Amel dengan napas yang masih sedikit memburu akibat sisa kepanikan tadi. Ada sebuah dorongan kecil di kedua kakinya untuk melangkah maju, mengejar bayangan sweter merah muda itu dan setidaknya mengucapkan kata maaf yang tulus. Namun, logikanya yang kaku langsung memutus sirkuit emosional tersebut.

'Untuk apa? Toh, memang dia sendiri yang berjalan ceroboh,' gumam Rahsya, kembali membentengi dirinya dengan pembenaran logika yang rapuh.

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa insiden "sentuhan bibir" tadi hanyalah murni sebuah kecelakaan fisik biasa, bukan emosional.

Dengan gerakan kasar, Rahsya berjongkok dan mengelap genangan air di lantai menggunakan kain lap yang tadi sempat menyentuh wajahnya. Ia menekannya kuat-kuat ke lantai, seolah-olah sedang menghapus seluruh jejak kehadiran Amel dari vilanya.

"Syukur deh dia sudah pergi dari sini. Dunia ini serasa kembali tenang tanpa gangguan. Hahaha!"

Rahsya tertawa hambar, mencoba mengisi kesunyian dapur yang mendadak terasa terlalu luas dan hampa.

Namun, tawa palsu itu tidak mampu bertahan lama. Begitu suara langkah kaki Amel di halaman luar benar-benar menghilang dan digantikan oleh kesunyian Desa Ci Sepi yang menekan, Rahsya terdiam seribu bahasa. Ia duduk lunglai di atas kursi kayu dapur, menatap kosong ke arah botol minumnya yang masih terisi penuh.

Alih-alih merasa menang atau bahagia karena "gangguan" terbesarnya selama liburan telah lenyap, di dalam lubuk hatinya yang terdalam—sedalam sumur galian tua yang tak pernah tersentuh oleh cahaya matahari—ada sebuah rasa hampa yang perlahan-lahan mulai merayap naik.

Meja makan di depannya terasa terlalu kosong tanpa adanya celotehan berisik dari mulut Amel, dan udara di dalam vila besar itu mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Rahsya mendengus, mencoba mengusir perasaan melankolis itu dengan kembali ke setelan awalnya: wajah datar dan tidak peduli pada sekitar. Namun, ia tahu ia tidak akan pernah bisa membohongi detak jantungnya sendiri yang masih saja berdetak tidak beraturan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!