NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1 - Suami yang Pulang Bersimbah Darah

Hujan turun deras di luar IGD Rumah Sakit Cakra Medika.

Nadira baru saja melepas sarung tangan setelah operasi kecil di ruang tindakan ketika suara sirene ambulans menembus malam. Belum sempat ia minum, pintu IGD terbuka dengan kasar.

"Dokter! Korban tembak. Tekanan darah turun!"

Nadira menoleh. Dua perawat mendorong brankar masuk. Di atasnya terbaring seorang pria berseragam lapangan yang sudah nyaris tidak dikenali karena darah menutupi wajah dan dadanya.

"Ruang resusitasi satu. Cepat."

Nadira berjalan cepat, suara langkahnya tenggelam oleh deru hujan dan kepanikan perawat. Tangannya otomatis mengambil gunting medis untuk membuka seragam pasien. Ia sudah melihat banyak luka. Peluru, kecelakaan, tusukan, ledakan tabung gas. Semua darah punya bau yang sama.

Tapi saat kain di dada pria itu terbuka, matanya berhenti.

Ada bekas luka kecil di bawah tulang selangka kiri. Bentuknya seperti bulan sabit.

Nadira mengenal tanda itu dari satu-satunya foto lama yang pernah diberikan Mama Renata padanya empat tahun lalu. Foto buram seorang pria muda dengan seragam TNI, wajahnya kaku, matanya tajam, dan di dekat lehernya ada bekas luka kecil.

Arga Pratama Wijaya.

Suaminya.

Suami yang hanya ia temui sebentar saat akad nikah empat tahun lalu. Suami yang pergi setelah mengucap ijab kabul, lalu menghilang dalam operasi rahasia. Suami yang oleh banyak orang sudah dianggap gugur.

"Dok?" Perawat Santi memanggilnya.

Nadira menarik napas.

"Pasang dua jalur infus besar. Siapkan transfusi. Hubungi ruang operasi sekarang."

Suaranya tidak bergetar.

Ia tidak punya hak untuk runtuh di depan pasien, bahkan jika pasien itu laki-laki yang membuat hidupnya menggantung selama empat tahun.

Seorang pria berpakaian hitam mendekat. Rambutnya cepak, wajahnya tegang.

"Dokter, Komandan kami harus selamat."

"Nama pasien?"

Pria itu ragu sedetik. "Arga."

Nadira menatap monitor. "Nama lengkap."

Pria itu menelan ludah. "Mayor Arga Pratama Wijaya."

Ada sesuatu yang retak pelan di dada Nadira. Bukan karena ia baru tahu. Justru karena ia akhirnya mendengar nama itu diucapkan di depan tubuh yang hampir mati.

"Keluarga sudah dihubungi?"

"Belum bisa, Dok. Kami harus menunggu instruksi."

Nadira hampir tertawa. Instruksi. Selama empat tahun, hidupnya juga ditahan oleh kata itu. Instruksi operasi. Instruksi rahasia. Instruksi keamanan. Semua orang punya alasan untuk membiarkan dia menunggu, tapi tidak ada yang pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi istri yang tidak pernah benar-benar menjadi istri.

"Tekanan darah turun, Dok!"

Nadira menekan semua pikiran ke dasar kepala.

"Siapkan intubasi."

Arga membuka mata sedikit. Hanya sebentar. Mata itu hitam, buram karena nyeri, tapi tetap tajam seperti foto lama itu.

Nadira mendekat. "Mayor Arga, dengar saya?"

Bibirnya bergerak.

Nadira menunduk, mengira ia akan menyebut nama orang tuanya.

"Laras..."

Satu nama perempuan keluar dari mulutnya, pelan, pecah, tapi cukup jelas untuk menghantam Nadira.

Perawat tidak menyadari apa pun. Bima, pria cepak tadi, malah menggenggam sisi brankar.

"Komandan, tahan. Bu Laras dan Kendra aman."

Nadira diam selama setengah detik.

Bu Laras.

Kendra.

Nama perempuan dan anak yang disebut dalam kondisi sekarat.

Bagus, Arga.

Empat tahun tidak pulang, ternyata bukan karena tidak ada rumah. Mungkin hanya karena rumahnya bukan di tempat Nadira menunggu.

"Dokter?" Bima panik. "Kenapa?"

"Tidak ada." Nadira menatap monitor. "Bawa ke ruang operasi."

Operasi berlangsung hampir empat jam.

Peluru tidak bersarang terlalu dalam, tapi pecahan logam merusak jaringan dan ada perdarahan yang sulit dikendalikan. Nadira berdiri di meja operasi tanpa sekali pun membiarkan pikirannya melayang. Tangannya bekerja cepat. Perintahnya singkat. Saat salah satu residen gugup, ia hanya berkata, "Fokus. Dia masih hidup."

Lucu.

Selama empat tahun ia mengira Arga mungkin sudah mati. Sekarang setelah tubuh pria itu ada di depannya, ia justru menjadi orang yang paling keras kepala mempertahankan nyawanya.

Ketika operasi selesai, langit di luar mulai pucat.

Nadira keluar dari ruang operasi dengan punggung kaku. Masker ia turunkan. Keringat dingin menempel di pelipis.

Bima langsung berdiri. "Dokter, bagaimana Komandan?"

"Operasi berhasil. Dua puluh empat jam ke depan tetap kritis, tapi kondisinya stabil."

Bima menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Alhamdulillah."

Nadira melepas penutup kepala. "Siapa keluarga yang bisa dihubungi?"

Bima membuka mulut, tapi suara langkah cepat memotong jawabannya.

Seorang perempuan berlari dari ujung koridor. Rambutnya basah karena hujan, wajahnya pucat, dan di sampingnya seorang anak laki-laki kecil memegang boneka dinosaurus.

"Mas Arga!"

Perempuan itu berhenti di depan Bima. "Mas Arga gimana? Dia masih hidup, kan?"

Bima terlihat serba salah. "Bu Laras, tenang dulu. Operasi berhasil."

Perempuan bernama Laras itu langsung menangis. Anak kecil di sampingnya ikut panik.

"Papa Arga sakit, Ma?"

Papa Arga.

Nadira berdiri sangat diam.

Laras memeluk anak itu, lalu menatap Nadira. "Dokter yang operasi Mas Arga?"

"Iya."

"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkan suami saya."

Kata itu turun seperti pisau.

Suami saya.

Bima menegang. "Bu Laras..."

Laras seperti tidak mendengar. Ia sibuk menangis, memeluk anaknya, mengulang nama Arga berkali-kali seolah koridor rumah sakit itu miliknya.

Nadira tidak mengatakan apa pun.

Apa yang harus ia katakan?

Bahwa laki-laki yang sedang mereka tangisi adalah suaminya juga? Bahwa ia punya buku nikah dengan nama Arga Pratama Wijaya di lemari kamar rumah keluarga Wijaya? Bahwa selama empat tahun ia duduk di meja makan bersama Mama Renata, mendengarkan cerita tentang putra yang mungkin tidak akan pulang, sementara perempuan ini punya anak yang memanggilnya Papa?

Nadira memasukkan kedua tangan ke saku jas dokter.

"Pasien akan dipindah ke ICU. Hanya satu orang yang boleh melihat dari luar kaca."

Laras mengangguk cepat. "Saya istrinya. Saya yang akan menunggu."

Nadira menatapnya.

Bima membuka mulut, mungkin hendak meluruskan sesuatu, tapi Nadira sudah lebih dulu berkata, "Silakan ikuti perawat."

Ia berbalik sebelum siapa pun melihat wajahnya.

Di lorong menuju ruang dokter, beberapa perawat berbisik tentang pria yang baru selesai dioperasi itu. Mereka tidak tahu hubungan Nadira dengannya, jadi kalimat mereka terdengar ringan.

"Kasihan istrinya, ya. Datang bawa anak kecil."

"Mayor itu masih muda. Untung selamat."

"Dokter Nadira hebat banget. Kalau telat sedikit, mungkin tidak tertolong."

Nadira terus berjalan. Setiap kalimat menempel di punggungnya. Istrinya. Anak kecil. Untung selamat. Hebat. Tidak ada satu pun yang salah menurut mereka, tapi semuanya terasa seperti menertawakan hidup Nadira.

Di depan vending machine, ia berhenti sebentar. Tangannya hendak mengambil kopi kaleng, lalu batal. Lambungnya kosong sejak malam, tapi ia tidak yakin bisa menelan apa pun.

Ia teringat akad nikah empat tahun lalu. Arga berdiri kaku di sampingnya. Setelah ijab kabul, pria itu hanya menoleh sebentar dan berkata, "Maaf, saya harus pergi malam ini."

Nadira waktu itu mengangguk. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak sempat kecewa karena semua orang berkata tugas negara harus didahulukan. Ia percaya. Ia benar-benar percaya.

Sekarang kepercayaannya terasa sangat bodoh.

Di ruang ganti dokter, Nadira mengunci pintu. Ia berdiri di depan wastafel, mencuci tangan yang sebenarnya sudah bersih. Air mengalir di antara jarinya. Sabun berbusa. Bau antiseptik memenuhi hidung.

Tangannya tidak berhenti gemetar.

Ponselnya menyala. Ada pesan dari Mama Renata.

Nadira, kamu pulang pagi ini? Mama masak soto kesukaan kamu.

Nadira menatap layar lama sekali.

Mama Renata belum tahu Arga pulang. Belum tahu anaknya hidup. Belum tahu mungkin anaknya tidak pernah benar-benar sendiri.

Nadira mematikan keran.

Ia membuka kontak pengacara yang pernah direkomendasikan Maya, sahabatnya.

Jarinya mengetik pelan.

Pak Hari, saya ingin mengurus gugatan cerai. Secepatnya.

Pesan terkirim.

Baru setelah itu Nadira menyadari air mata jatuh ke layar ponselnya.

Ia menghapusnya dengan punggung tangan.

Tidak apa-apa.

Dokter boleh menyelamatkan pasien.

Tapi seorang istri juga boleh menyelamatkan dirinya sendiri.

Di luar pintu, suara langkah perawat kembali sibuk. Hidup rumah sakit terus bergerak seolah hati Nadira tidak baru saja patah. Ia menarik napas, merapikan jasnya, lalu membuka pintu dengan wajah yang sudah ia latih bertahun-tahun.

1
neni supraptini
seorang ibu bisa merasakan keresahan anaknya meski ditutupi
Wa Sarah
kalau Vania suka Kevin trus siblaras suka Arga....ya sudah atuh....ambil aja.
ayok Nadira selesaikan perceraiannya lalu pindah ketempat lain, punya ijazah dokter mau kerja di rumah sakit mana aja sama aja.
Wa Sarah
benar2x ye.....ceritanya. kan mau cerai, trus hubungannya sama si Vania tu apa kok ceritanya malah melenceng🙏
Wa Sarah
ini si Arga komndan ya....jadi ceritanya ni....soal parcntaan atau pekerjaan yg gak masuk dalam alur ceritanya.🙏🙏🙏
Amelia suhartono
wanita bodoh,sok kuat,tinggal lepas yg bukan urusannya
Nyagus Gunawan
𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙨𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙜𝙖...𝙟𝙜𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖...𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪...
Sintaram Keumala
2in broo🗿👍
Dokkan Battle
nama Arga emang goblok dan tukang selingkuh amit amit
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Wakana
arga kena azab
Wakana
nadira kamu malaikat atau apa
Hamdiah Arrahim
makanya jangan cepat2 ambil keputusan... kalau begini baru sadar... ternyata istrinya hebat...
Hera sasuwe
👍
Nurul Syahriani
ini cerita kenapa sih? vania gak suka nadira kenapa? karna kevin? kok sampe segitu misterius nya
Annie Soe..
Makin belibet, rumit tapiii aku sukaaa. Genre romance tapi jadi misteri ato apalah tapi selama benang merahnya terjaga ga masalah..
Jadi ga membosankan ga melulu romance, masalah rumah tangga,
Semangaatt thor..
😍💪
Andri Yeni
komunikasi nadira sama raka padahal dah nikah lama punya nak.kok msh kaku.kayak percakapan AI
Eka Anam
Nadira di telantarin 4 tahun tp nyamperin Laras bisa,udah gitu 4 th gaji nya di TF kesiapa?
Econ Ibrahim Latawa
♥️♥️
Annie Soe..
Ini bukan sekedar bacaan novel atau karya tulis biasa,,
Ada banyak pembelajaran yg bisa diambil, terutama di dialog dr. shafira sebagai psikiater. Thanks thor ..
Anita Shabrina
Kapan malam pertamanya...tau2 sdh hamidun sj... diskip yaaa ninaninuuuu nya thor... kan pengen tau awal ciuman dkk nya 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!