[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Kepanikan Di Pagi Hari
"Bagaimana kalau nanti saat dia sudah mulai tumbuh besar, kita membelikannya wig rambut berwarna gelap dari pasar kota? Kita bisa menyuruhnya memakai itu setiap kali ingin keluar rumah agar tidak menarik perhatian publik," usul Lucas mencoba mencari solusi praktis.
Sarah menghela napas panjang yang berat, melayangkan tatapan jengkel pada suaminya. "Kau berpikir terlalu jauh dan konyol, Lucas! Putrimu ini masih seorang bayi yang bahkan belum bisa merangkak. Bagaimana bisa otakmu menyuruh seorang anak balita mengenakan wig tebal sepanjang hari nanti?"
Perasaan Sarah diliputi oleh kegundahan yang mendalam. Otak wanitanya mulai mencemaskan masa depan White; memikirkan bagaimana cara anak perempuan misterius ini akan bersosialisasi jika dia memendam perbedaan fisik dan kekuatan magis yang begitu mencolok.
****
Malam pun akhirnya tiba menggantikan senja, membawa kegelapan yang pekat menutupi perbukitan Arcania. Sarah merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang kayu, tepat di samping boks bayi tempat White tidur. Sementara di sisi lain kasur, Lucas sudah terlelap mendengkur halus karena kelelahan setelah perjalanan jauhnya dari Kota Luminara.
Atmosfer di dalam kamar tidur utama terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Hanya terdengar gaung detak jam dinding kuno yang seolah berpacu seirama dengan detak jantung Sarah yang dipenuhi kecemasan.
Sarah memiringkan tubuh, menatap lekat White yang mulai menggeliat tidak tenang dalam tidurnya. Ia didera ketakutan hebat jika White secara tidak sadar melepaskan sisa kekuatan sihir es murni miliknya saat bermimpi buruk, yang bisa saja mengubah seluruh isi kamar menjadi bongkahan es abadi.
Tiba-tiba, firasat buruk Sarah menjadi kenyataan. Suhu udara di dalam kamar yang semula hangat mendadak merosot drastis hingga mencapai titik beku dalam hitungan detik.
Sarah bisa melihat dengan jelas kepulan uap dingin berwarna putih keluar dari sela-sela bibirnya setiap kali mengembuskan napas. Bulu kuduknya meremang hebat. Ia segera memeriksa selimut rajut yang membungkus tubuh White, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ujung kain selimut tersebut mulai mengeras, dilapisi oleh kristal-kristal es tipis yang merambat cepat.
"Jangan sekarang, Sayang... tolong, Ibu mohon tidurlah dengan tenang," bisik Sarah dengan nada bergetar menahan dingin dan ketakutan.
Ia memberanikan diri mengulurkan tangan, menyentuh kening mungil White. Kulit dahi bayi itu terasa teramat dingin, sedingin batuan pualam kutub yang tak bernyawa.
Tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri, Sarah segera mengangkat tubuh White dan mendekapnya erat-erat ke dada hangatnya. Ia mencoba menyalurkan seluruh sisa kehangatan tubuh manusianya untuk meredam hawa beku yang memancar dari pori-pori kulit White.
Anehnya, sebuah keajaiban emosional terjadi. Semakin erat Sarah memeluk bayi itu dengan ketulusan kasih sayang, hawa dingin yang mencekam di dalam kamar perlahan-lah mulai menyusut. Suhu ruangan kembali bergerak normal.
Sarah tertegun di dalam kegelapan kamar, menyadari satu fakta krusial baru: kekuatan sihir es yang tertanam di dalam tubuh White tampaknya bereaksi secara langsung terhadap fluktuasi emosinya dan kedekatan fisik dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan hati-hati, Sarah mengusap helai rambut putih selembut sutra milik bayinya hingga White benar-benar kembali tertidur pulas. Namun, sepasang mata Sarah tetap terjaga semalaman penuh dengan perasaan gundah gulana.
****
Sinar matahari pagi mulai merembes masuk menembus celah gorden, menandakan fajar baru telah tiba di Arcania. Namun, bukannya terbangun oleh kehangatan pagi, Lucas justru terbangun dengan tubuh yang menggigil hebat di bawah selimut tebalnya. Gigi-giginya berantukan pelan.
Pria itu merasa heran setengah mati; saat ini seharusnya merupakan puncak musim panas yang terik, namun atmosfer kamarnya terasa seperti di dalam gua es.
Saat Lucas membuka kelopak mata dan menolehkan wajahnya ke arah jendela kaca kamar, pria itu tersentak hebat hingga tubuhnya hampir saja terjatuh dari tepi tempat tidur akibat kepanikan yang menyerang sistem sarafnya.
"Sarah... Sarah, bangun! Demi Tuhan, lihat itu, bangunlah!" bisik Lucas dengan suara tertahan sembari mengguncang hebat bahu istrinya yang masih memejamkan mata.
Sarah mengerjap pelan, membuka sepasang matanya yang memerah akibat kurang tidur. Begitu ia menegakkan punggung dan mengikuti arah telunjuk Lucas yang bergetar, napas wanita itu seketika tertahan di tenggorokan.
Seluruh permukaan kaca jendela kamar mereka kini telah sepenuhnya tertutup oleh lapisan es tebal yang membeku dari dalam. Lapisan es itu membentuk pola bunga kristal geometri yang rumit dan presisi.
Cahaya matahari pagi yang menghantam permukaan es memantulkan pendaran spektrum warna pelangi, mengubah kamar tidur sederhana mereka menjadi seindah interior istana es di negeri dongeng.
"Indah sekali... tapi bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi?" gumam Sarah takjub di balik rasa takutnya.
Ia bangkit dari kasur, melangkah mendekat, lalu menyentuh permukaan kaca jendela. Detik itu juga, ujung jarinya mendadak mati rasa akibat sengatan dingin yang luar biasa murni.
Lucas tidak ikut terpesona. Fokus matanya segera beralih penuh kecemasan ke arah boks bayi di sudut ruangan. Di dalam keranjang kayu itu, White masih tertidur tenang.
Namun, pemandangan yang membuat bulu kuduk kedua suami istri itu merinding adalah kondisi bantal kain yang menjadi alas kepala White. Bantal itu kini telah berubah menjadi sebongkah balok es padat yang transparan, berkilau jernih di bawah kepala sang bayi.
"Ini sudah bukan lagi sekadar trik sulap kecil atau halusinasi seperti yang kau katakan kemarin, Sarah," ucap Lucas dengan nada berat, wajahnya pucat pasi.
"Bayi perempuan ini membeku dan mengubah apa pun yang disentuhnya menjadi es saat dia sedang tertidur."
Lucas mengambil langkah mundur. Pria itu menyadari dengan kepasrahan yang pekat bahwa rumah kayu mereka kini telah bertransformasi menjadi tempat paling ajaib—sekaligus paling mematikan—di seluruh Arcania. Ia terduduk lemas di pinggiran tempat tidur, menyapu wajahnya berulang kali.
"Sarah... kita tidak bisa membiarkan fenomena ini terus berlanjut tanpa kendali. Jika suhu di dalam rumah terus merosot setiap kali White tertidur, kita bisa mati membeku di dalam tidur kita sendiri! Struktur kayu rumah ini juga bisa lapuk akibat es."
Sarah bergerak cepat, langsung mengangkat dan mendekap erat tubuh White ke dalam pelukannya. Ia menjadi tameng hidup yang ingin melindungi bayinya dari setiap untaian kalimat logis Lucas yang terdengar menyudutkan.
"Lalu apa maumu sekarang, Lucas?! Kau ingin membuangnya kembali ke tengah hutan liar?! Dia hanyalah seorang bayi suci yang tidak tahu apa-apa! Dia sama sekali tidak sadar memendam kekuatan es ini di dalam tubuh mungilnya!" bela Sarah emosional, sepasang matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah mengatakan harus membuang anak kita sendiri, Sarah!" suara Lucas sempat meninggi karena panik, namun ia segera merendahkannya kembali agar tidak mengejutkan White.
"Tapi lihatlah realitas di sekelilingmu. Bagaimana jika nanti saat dia tumbuh besar, dia mengalami mimpi buruk dan secara tidak sengaja mengubah seluruh Arcania menjadi gurun es abadi? Orang-orang dari kota besar akan datang menyerbu tempat ini, Sarah. Mereka akan memburu kita karena menyembunyikan pembawa kiamat!"
"Dia bukan monster!" potong Sarah tajam, air matanya kini luruh membasahi pipi. "Dia adalah White Emerson. Dia adalah putri kita sekarang, Lucas! Kau sendiri kemarin yang bersumpah akan menyayangi dan menjaganya seperti darah dagingmu sendiri!"
Mendengar kalimat pengingat janji tersebut, hati Lucas seketika luluh. Pria itu terdiam seribu bahasa. Ia melangkah mendekat, duduk di samping Sarah di atas kasur, lalu memberanikan diri menyentuh tangan kecil White yang terasa teramat dingin.
"Aku tahu, Sayang... aku tahu. Maafkan aku, aku juga sangat menyayanginya," bisik Lucas pelan penuh penyesalan. "Tapi kita harus bergerak cerdas. Kita harus mencari cara untuk mengendalikan energi ini. Kita tidak bisa selamanya menggantungkan nasib pada keberuntungan agar para tetangga tidak melihat adanya bunga es raksasa di jendela kamar kita di tengah musim panas."
Sarah menghapus sisa air matanya menggunakan ujung celemek. "Mungkin kekuatan es ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan stabilitas emosinya, Lucas. Semalam, saat suhunya merosot dan ujung selimutnya membeku, aku langsung memeluknya dengan penuh ketenangan. Anehnya, setelah itu suhu ruangan kembali normal."
Lucas mencerna informasi tersebut dengan serius. "Jika analisismu benar, berarti tugas utama kita adalah memastikan anak perempuan ini selalu merasa aman dan bahagia. Dan ada satu hal lagi yang jauh lebih krusial, Sarah... kita harus segera mencari tahu siapa identitas asli White sebenarnya. Aku teringat dulu saat masih remaja pernah mendengar dongeng tua dari para tetua di Kota Luminara tentang makhluk-makhluk mistis yang bisa jatuh dari langit dimensi atas. Dulu aku selalu menganggap cerita itu hanyalah bualan konyol, tapi sekarang..."
Lucas menggantung kalimatnya. Tatapannya terpaku pada helaian rambut putih White yang berkilau memantulkan cahaya fajar dari balik kaca jendela yang membeku.
Suara kokok ayam jantan mulai bersahut-sahutan dari kejauhan bukit, menandakan fajar telah menyingsing sepenuhnya dan para penduduk desa Arcania akan segera memulai aktivitas harian mereka di ladang.
Suara itu seketika membuat Lucas terlonjak panik. Itu adalah alarm bahaya; para petani tetangga akan segera berjalan melintasi jalur setapak di depan bukit rumah mereka. Dengan gerakan tergesa-gesa, Lucas langsung menyambar selembar kain seprai tua sewarna gandum dan tirai beludru tebal dari dalam lemari kayu kuno mereka.
"Bantu aku cepat, Sarah! Jangan sampai ada seberkas cahaya pun yang memantulkan kilau bunga es ini keluar rumah! Kalau ada satu saja petani yang lewat dan melihat ornamen es sedahsyat ini di tengah musim panas, tamatlah riwayat kita!"