NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - Surat Jaminan untuk Bu Irma

"Siapa yang mengintip dari kejauhan masih bisa kabur? Kau pikir Ibu ini buta?"

Urat di dahi Ibu Surti menonjol menahan marah; ia menggertakkan gigi dan bertanya: "Tadi ketika Intan membuka pintu lalu memaki, dia tidak menyebutkan nama siapa-siapa. Kenapa kau malah keluar mengaku-ngaku? Kau kira aku bodoh dan mudah dibodohi?"

Bu Irma memalingkan muka karena merasa bersalah, lalu bergumam keras: "Kalau orang lain memaki, tidak boleh membalas juga?"

Kalimat itu menyulut seluruh amarah Ibu Surti; suaranya meninggi, seolah bergema di pelipisnya.

Melihat kedegilan Bu Irma, ia beralih menanya Yohan: "Kalau begitu bagaimana denganmu? Kenapa kau mendorong Intan?"

Yohan hanya melirik, lalu menutup mata dan bersandar, tidak peduli siapa pun; ia bahkan tidak menjawab, seolah telinganya tersumbat kapas.

Melihat sikap keduanya, Ibu Surti marah sampai ulu hati berkecamuk.

Ia memegang kepala, lalu berkata dengan suara meninggi: "Karena kalian tidak mau bekerja sama, mau tidak mau aku telepon polisi dan biar polisi yang mengurusnya!"

Jantung Bu Irma berdebar; ia melembut: "Bu RT, tidak usah menyibukkan polisi!"

"Kalau aku tidak sanggup mengatur kalian, masakan polisi juga tidak sanggup?" hardik Ibu Surti.

Intan yang masih panas berdiri dan berkata: "Bu RT, lebih baik biar kami saja yang memanggil polisi. Perkara ini sudah menjadi perselisihan antara kami dan mereka; kami tidak ingin merepotkan Ibu lebih jauh. Maaf sudah menyusahkan."

Kata-kata itu melegakan Ibu Surti; ia berulang kali memuji: "Benar juga, yang juara satu dalam ujian memang beda. Mutunya tinggi! Kesadarannya juga tinggi! Kalau Ibu yang tidak becus, ya sudah, panggil polisi saja."

Begitu Ibu Surti mengangkat gagang telepon kabel di meja dan telunjuknya mulai memutar nomor, ruangan itu hening; hanya bunyi putaran nomor yang berdentang kecil.

Bu Irma segera mengangkat kedua tangannya sambil menghambur: "Bu RT, aku mengaku salah, aku mengaku salah! Jangan panggil polisi, jangan panggil polisi!"

Urat lehernya menegang, dan air matanya nyaris menetes.

Ia tahu persis letak kesalahannya: Yohan pernah berurusan dengan kantor polisi dan punya catatan kriminal; kalau benar sampai polisi, yang paling rugi pasti dia sendiri dan anaknya.

Melihat Bu Irma benar-benar ketakutan, Ibu Surti berpaling ke tiga anggota keluarga Intan: "Bagaimana menurut kalian? Mau diselesaikan secara kekeluargaan, atau tetap pada rencana panggil polisi?"

Intan menoleh kepada Ibu dengan tatapan bertanya.

Ibu sejak tadi hanya membekukan wajahnya tanpa berkata.

Kini semua mata tertuju padanya; ia berbicara dengan suara dingin: "Boleh secara kekeluargaan, tetapi mulai malam ini keluarga kami tidak akan berhubungan lagi dengan keluarga seberan. Dua pintu itu kutaruh garis pemisah. Kalau keluarga seberan berani melewatinya di kemudian hari, jangan salahkan kami yang berlaku tidak sopan!"

Semua orang tertegun ketika mendengar tuntutan itu; sungguh tidak menyangka Ibu sampai meminta hal yang tegas seperti itu.

Nenek tua dan beberapa orang menasihati: "Ratmi, kita semua ini tetangga. Bukankah itu terlalu jauh?"

Ibu mendengus dingin: "Sudah begitu berantakan, apa gunanya bertetangga? Bagaimanapun, ini syaratku. Kalau mereka tidak setuju, kita ke kantor polisi. Lagipula kejadian hari ini perlu ada surat pernyataan; biar mereka tidak lagi sengaja mencari perkara. Kalau masih begitu, kita bertemu di kantor polisi!"

Semua orang terkejut oleh sikap keras Ibu itu; tak ada yang menyangka seorang ibu rumah tangga bisa sed keras itu.

Ibu Surti yang sejak awal memihak keluarga Intan kembali bertanya kepada Bu Irma dan Yohan: "Kalian setuju?"

Bu Irma merasa tak sampai hati, tidak mau menyetujui, tetapi keadaan lebih kuat daripada semua; kalau tidak setuju, berarti harus ke kantor polisi.

Baru membayangkannya saja sudah membuat hatinya perih.

Yohan masih mengabaikan semua orang, seolah-olah tidak ada yang bisa berbuat apa pun terhadapnya.

Intan yang mengingat Bapak belum makan berkata dengan tidak sabar: "Tinggal satu kalimat saja, kok lama sekali? Kukira semua orang bisa sesantai kau!"

Ibu Surti ikut menyaut: "Cepat putuskan."

Bu Irma mengangguk tanpa suara; Yohan ditepuk kepalanya oleh pria bertubuh besar di sebelahnya: "Kami sedang bicara denganmu! Bocah kurang ajar!"

Yohan membuka matanya karena sakit, menatap orang-orang di depannya dengan penuh kebencian, lalu menandatangani surat pernyataan itu dengan terpaksa; huruf-huruf yang ia coret bergetar seperti wajahnya yang muram.

Ia sempat hendak merobek kertas itu, tetapi Ibu Surti menatapnya tajam sehingga ia hanya menghentak kaki dan melengos.

Kedua keluarga masing-masing membawa surat pernyataan mereka lalu keluar dari kantor RT.

Begitu tiba di rumah, Ibu langsung membuat garis pemisah di lantai teras: ia mengambil sepotong kapur putih dari laci, lalu membungkuk dan menarik satu garis lurus dari ujung pintu rumahnya sampai ke ujung pintu rumah seberan, tebal dan panjang.

Intan dan Dimas terpana oleh kecepatan serta ketegasan gerak-geriknya; rasanya baru tadi pagi keluarga itu bercakap-cakap hangat di meja, dan sekarang Ibu sudah berdiri tegak di tengah dua pintu itu seperti penjaga batas.

Setelah semua duduk, Ibu berujar kepada Dimas: "Telepon Bapak dulu. Bilang ada kejadian di rumah, makanannya menyusul diantar belakangan, jangan khawatir."

Dimas sekilas melihat jam; sudah hampir pukul dua siang; ia segera menelepon Bapak.

Sementara menunggu, Intan memandangi luka di wajah Ibu dengan tidak enak hati: "Bu, kau kuobati dulu. Sore ini tidak usah masuk kerja? Seharian berkelahi, mengantuk juga belum. Lagi pula, kalau keluar dengan wajah begini, orang pasti bertanya-tanya. Kenapa tidak istirahat saja di rumah? Setengah hari gaji Ibu sekarang tidak akan terasa, kok. Nanti Bapak bisa menggantikan."

"Tidak apa-apa, cuma luka kecil." Ibu masuk ke kamar mandi lalu keluar dengan kepala tertunduk: "Sudahlah, kuminta cuti sore ini."

Saat itu telepon Dimas pun selesai; keluarga duduk untuk makan siang.

Di meja, sendok demi sendok naik dan turun hampir tanpa suara; hanya bunyi piring yang beradu dengan sendok yang memecah keheningan.

Wajah Ibu masih tegang, tetapi setidaknya suaranya kini menurun, lebih sejuk, seperti ketegangan yang perlahan tercabut satu per satu.

Karena suasana hati Ibu masih kurang baik, Intan coba menghiburnya: "Bu, malam nanti aku dan Kakak mau mencoba rasa bakso buatan kami. Nanti Ibu ikut mencicipi ya."

Ibu mengangguk pelan, tetapi wajahnya tidak segera cerah.

Dimas yang ingat tatapan Yohan barusan mengerutkan kening: "Bu, bagaimana kalau sore ini kita keluar melihat-lihat rumah yang bisa disewa? Kita sewa dulu lalu pindah. Sekarang kita sudah berdamai secara paksa dengan orang seberang; keluarga mereka tidak masuk akal dan pendendam. Siapa tahu mereka mencari kesempatan membalas? Bu dan Bapak tidak perlu takut, tetapi adikku ini perempuan; kita tidak bisa terus mengawalnya siang malam."

Ibu sebenarnya ingin membantah bahwa ia tidak takut, tetapi begitu soal Intan disebut, kepalanya langsung layu.

Anak-anak adalah kelemahannya; meski tidak memikirkan dirinya sendiri, ia tidak bisa tidak memikirkan buah hatinya.

Hanya saja rumah ini adalah hasil susah payah dua suami istri; bertahun-tahun baru bisa dibeli, utangnya harus disetel habis dulu sebelum pindah, jadi bagaimanapun dipikir-pikir tetap tidak ikhlas.

Intan tentu mendukung Dimas; ia ikut menasihati: "Bu, kalau dipikir-pikir, rumah ini tetap milik kita meski kita pindah. Kalau usaha lancar dan ada rezeki, kita bisa menjual rumah ini lalu membeli yang baru. Sekarang kita pindah saja dan sewa tempat; jadi tidak ada biaya tambahan, sebab nanti rumah yang ini bisa disewakan."

Yang paling dikhawatirkan Ibu memang soal uang.

Mendengar cara pandang seperti itu, kekikukannya langsung surut.

Ia menghabiskan makan dengan tidak tenang lalu menelepon mandornya untuk mengambil cuti.

Sesudah itu, setelah beristirahat sejenak, ia meminta Intan mengantarnya mengirim bekal untuk Bapak di Plaza Cendrawasih.

Dimas juga ingin ikut. Ibu yang melihat wajahnya babak belur merasa sangat kasihan, lalu berkata terus terang: "Ikut boleh, tapi lewat klinik dulu. Ambil obat dan oleskan pada lukamu."

Keluarga itu bergegas membereskan barang dan berangkat.

Bapak sudah gelisah sejak menerima telepon Dimas, tetapi gerobaknya sedang ramai sehingga ia tidak bisa meninggalkan gerobak walau sekejap mata.

Pelanggan berdatangan silih berganti menyerbu es campur dan bakso goreng yang baru dicoba, sementara dua mahasiswa pengantar meluncur keluar-masuk plaza.

Ia menahan diri meski tak habis dipikir bagaimana istri dan anak-anaknya harus menahan semuanya.

Begitu keluarga tiba, Intan langsung mengambil alih pekerjaan Bapak, melayani beberapa pelanggan sambil meminta Bapak makan bekal lebih dulu.

Dimas ikut membantu menata gelas dan sendok.

Bapak tidak memedulikan makanan; ia membuka mulut langsung menanyai perkelahian itu.

Ibu dengan sabar menuturkan seluruh kejadian kepada Bapak, dan Bapak terpana seketika; sendok berhenti di tengah jalan, mata menatap luka di pipi istrinya.

Ia menghela napas panjang, menggaruk tengkuk yang masih penuh peluh, lalu menelan sejumput nasi dari bekal itu sambil berpikir keras.

Melihat istri dan anak-anaknya semua penuh luka serta menarik napas lelah bergantian, dahi Bapak mengerut; ia tidak menyangka peristiwa di gang itu sudah sampai sejauh ini, dan diam-diam ia menyimpan tekad yang sama seperti garis kapur yang ditarik Ibu di lantai teras. (Bersambung)

1
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
ginevra
wkwkwk... ibu dimana2 gitu ya, kalau sekali marah bergetar bumi seisinya
Aquarius97 🕊️
Nah iya.. kemana vino Tan .. jelaskan 🙄
Kartika Candra Buwana: sibuk selingkuh tuh
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
walaupun bicaranya ceplas ceplos.. tapi mereka menghargai intan dan sangat mengerti .. sukaa macam ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!