Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BAYANG-BAYANG PERTARUHAN DAN DENDAM MASA LALu
Lantai kayu ruang latihan menari itu terasa begitu dingin menyengat. Namun, peluh yang menetes dari pelipis Kamila membakar kulit mulusnya. Setiap putaran kaki dan ayunan tangannya dieksekusi dengan presisi tinggi, mencerminkan ketakutan, amarah, dan ambisi yang beradu hebat di dalam dadanya. Di ruang cermin yang luas ini, Kamila hanya ingin melarikan diri ke dalam alunan musik, menyembunyikan kenyataan pahit yang perlahan menggerogoti kehidupannya.
Dzz... Dzz...
Gawai milik Kamila yang tergeletak di pojok ruangan bergetar pelan di atas lantai. Dengan napas terengah-engah, Kamila menghentikan langkah darinya dan berjalan mendekati gawai tersebut. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang berhasil membuat dadanya berdesir cemas: Rizky Syah.
“Kakakmu hampir membuatku mati,” bunyi pesan singkat dari Rizky Syah.
Mata Kamila terpaku pada deretan huruf itu. Kata-kata itu membuatku mati. Ini apakah seperti yang kupahami? Mereka berdua berbicara kepadaku. Maksudnya apa? batin Kamila bingung, benaknya berputar mencoba merangkai puzzle konflik yang makin gelap antara kakaknya dan Rizky Syah.
Dengan jemari yang sedikit gemetaran, Kamila membalas ketus, “Oh.”
Balasan dingin itu rupanya memancing kekesalan lawan bicaranya. Detik berikutnya, pesan baru masuk dari Rizky Syah. “Bukankah kamu seharusnya menghiburku karena kekerasan kakakmu?”
“Tidak,” balas Kamila singkat, enggan masuk lebih jauh ke dalam permainannya.
“Sudahlah, dasar tidak berperasaan. 3 hari lagi,” ketik Rizky Syah sebelum akhirnya memutuskan percakapan secara sepihak.
3 hari lagi? Maksudnya apa? Kamila berdiri terpaku, dikelilingi keraguan yang membelenggu. Namun, ia menyadari bahwa ia tidak boleh terdistraksi saat ini. Ada hal yang jauh lebih penting mendesaknya.
Kudengar besok ada guru baru yang datang yang akan memilih penari solo kali ini. Aku harus berusaha lebih keras, bisik Kamila pada dirinya sendiri. Ia menatap bayangannya di cermin besar, tegak berdiri, dan bersiap kembali memperagakan gerakan tarian.
"Kamila! Kali ini aku tidak akan kalah lagi darimu!"
Sebuah suara nyaring dan penuh kepahitan memecah kesunyian ruangan. Sanum berjalan mendekat dengan langkah angkuh. Sanum adalah adik kandung dari Dias Lin—pria brengsek yang baru kemarin secara keji hampir melecehkan Kamila di pesta jika saja ia gagal meloloskan diri. Rasa trauma itu masih berbekas, namun Kamila menolak menunjukkan kelemahannya di depan musuhnya.
"Kita lihat saja siapa yang lebih baik," jawab Kamila dingin dan santai, menyembunyikan gemetar di dalam hatinya.
Sanum mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang amat sangat. Kamu sudah berkali-kali merebut posisi penari utama dariku dan menyakiti kakakku, Dias Lin! Kamu juga memanfaatkan keluarga Rizky Syah untuk menekan bisnis keluargaku, membuat keluargaku dalam masalah besar! Kamila, kali ini aku pasti akan mempermalukanmu, makian itu menggema bertubi-tubi di dalam hati Sanum. Kebenciannya telah membakar seluruh akal sehatnya.
Sebelum ketegangan di antara keduanya memuncak, pintu ruang latihan terbuka lebar. Seorang guru pembimbing lama melangkah masuk mendampingi seorang wanita setengah baya berpenampilan sangat elegan, berkelas, dengan keanggunan khas yang memancar dari setiap langkah kakinya.
"Kamila, Sanum, kemarilah!" panggil guru lama mereka dengan nada bersemangat. "Ini guru pembimbing baru kalian, Laila. Beliau adalah seorang guru besar yang sangat terkenal secara internasional. Audisi untuk tarian solo 'Permaisuri Mabuk' kali ini akan dipimpin langsung olehnya."
Mata Sanum langsung berbinar serakah. Tanpa membuang waktu, ia mengambil langkah maju dan membungkuk penuh rasa hormat dengan senyum manis yang dipaksakan. "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu Guru Laila. Bisa mendapatkan bimbingan dari Bu Laila adalah kehormatan luar biasa besar bagi saya!"
Namun, di samping Sanum, Kamila justru terpaku membatu. Wajahnya pucat pasi, darahnya seakan berhenti mengalir begitu tatapannya beradu dengan mata dingin milik wanita berkelas di hadapannya itu.
Memory masa lalu yang kelam mendadak menyeruak tanpa permisi di dalam benak Kamila. Suara jeritan, riak air mata ibunya, dan pertengkaran hebat di rumah masa kecilnya berputar cepat di kepala Kamila bagaikan mimpi buruk yang mendadak menjadi kenyataan.
Flashback Masa Kecil Kamila
Dua belas tahun yang lalu...
Hujan deras mengguyur kediaman keluarga Ye malam itu. Kamila kecil yang baru berusia delapan tahun bersembunyi di balik pilar kayu koridor rumahnya, memeluk erat boneka beruang lusuh dengan tubuh bergetar ketakutan.
Dari dalam ruang tamu utama, terdengar suara pecahan vas bunga dan tangisan histeris ibunya.
"Bagaimana kamu tega melakukan ini pada keluarga kita?!" jerit sang ibu dengan suara serak menahan kesakitan di dadanya. "Siapa wanita ini, Mas?!"
Seorang wanita cantik bertubuh jangkung dengan gaun merah mewah berdiri di samping ayah Kamila. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, melainkan tatapan dingin dan penuh kemenangan. Wanita itu mengusap lembut lengan ayah Kamila.
"Namanya Laila," ujar Ayah Kamila dengan suara datar tanpa empati sedikit pun. "Dia wanita yang benar-benar memahami impian dan posisiku. Mulai malam ini, dia akan tinggal di sini bersama kita."
Kamila kecil menyaksikan bagaimana wanita bernama Laila itu tersenyum culas ke arah ibunya yang tersungkur di lantai. Laila menundukkan kepalanya sedikit, merapikan tatanan rambutnya yang anggun, lalu melirik ke arah Kamila kecil yang terisak di balik pilar.
"Anak-anakmu tidak perlu takut padaku," kata Laila waktu itu dengan suara halus namun beracun. "Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."
Sejak malam kelam itu, kebahagiaan di dalam rumah keluarga Ye hancur berantakan. Laila menghancurkan pernikahan orang tuanya, mengusir secara perlahan penderitaan ibunya hingga sang ibu memilih pergi dalam kepedihan.
Kembali ke Masa Sekarang
Kenyataan pahit itu menghantam dada Kamila bagaikan hantaman ombak yang maha dahsyat. Tatapan dingin yang dahulu penuh tipu daya di rumah masa kecilnya kini berada tepat di depan matanya, mengenakan topeng sebagai seorang 'Guru Besar Internasional' yang terhormat.
Itu dia... bukannya dia wanita selingkuhan ayahku yang dulu merusak keluargaku?! jerit Kamila dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku-buku tangannya memutih.
Laila mengalihkan pandangannya dari Sanum, lalu menatap Kamila lurus-lurus. Sebuah ukiran senyum tipis yang sarat akan makna tersirat muncul di bibir wanita paruh baya itu.
"Jadi ini Kamila Ye?" sapa Laila dengan intonasi suara yang begitu halus, namun di telinga Kamila terasa sangat menyengat dan beracun. "Sudah sekian lama aku tidak melihatmu... Kamu tumbuh persis seperti ibumu."
Sanum yang berdiri di sebelah Laila menyipitkan matanya bingung melirik interaksi tersebut, namun hatinya tertawa girang menyadari ada ketegangan terselubung di antara mereka.
Kamila menetralkan napasnya yang memburu, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di atas panggung lantai tari ini. Pertarungan untuk posisi penari solo "Permaisuri Mabuk" kini bukan lagi sekadar kompetisi bakat antara dirinya dan Sanum, melainkan panggung pembalasan dendam atas luka masa kecil yang belum pernah terobati.