Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Lembar Poin
Malam itu bengkel Dao ditutup lebih awal. Perapian dibiarkan menyala kecil, dan lima orang duduk melingkar di atas karung arang dan peti kayu, dengan sebuah lentera minyak di tengah. Dao bersandar di landasan sambil memutar-mutar palu kecil. Lin Xue duduk tegak dengan tangan terlipat di pangkuan. Qiu Bo dan Tan Fu berdesakan di satu karung, dan Jian Chen berdiri di depan mereka dengan sebundel kertas tipis di tangan.
"Jadi kenapa aku ada di sini?" tanya Qiu Bo. "Aku hanya ingin tidur."
"Karena kau punya lembar poin," jawab Jian Chen.
"Semua orang punya lembar poin."
"Dan itu yang kubutuhkan." Jian Chen mengangkat bundel itu. "Setiap akhir bulan, murid luar menerima lembar poin dari Kepala Murid Luar. Tertulis berapa poin yang kita peroleh dari kerja. Tapi aula kontribusi mencatat angka yang berbeda. Aku ingin tahu seberapa besar bedanya."
"Berbeda bagaimana?" tanya Tan Fu sambil menggigit sepotong roti.
"Kalau lembar kalian menulis dua puluh poin, aula mencatat dua puluh tiga. Selisih tiga poin hilang di tengah jalan."
Dao berhenti memutar palu. "Gu Hong?"
"Aku belum tahu. Itu sebabnya kita kumpulkan data." Jian Chen membagi kertas di tangannya kepada setiap orang. "Aku sudah menyalin catatan resmi aula untuk dua puluh enam murid dari pondok tujuh sampai sepuluh. Tugas kalian: minta lembar poin dari teman-teman, tanpa memberi tahu alasannya, lalu bandingkan."
"Kau menyalin catatan aula?" Lin Xue menatapnya. "Bagaimana caranya?"
"Aku menyapu aula kontribusi dua hari. Papan catatan itu terbuka."
"Terbuka untuk dilihat, bukan disalin."
"Aku menghafal."
"Kau menghafal dua puluh enam angka dalam dua hari?"
"Aku punya ingatan yang baik," jawab Jian Chen. Ia tidak menjelaskan lebih jauh, dan Lin Xue tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu mengambil kertas itu.
"Baik," kata Lin Xue. "Aku akan memeriksa lembar milik pasien-pasienku. Mereka banyak."
"Aku punya teman di bengkel dan dapur," ujar Dao. "Biar aku yang bertanya."
"Aku dan Tan Fu urus pondok tujuh dan delapan," kata Qiu Bo, meski nadanya masih mengantuk.
"Kita bisa dapat banyak dalam tiga hari," tambah Tan Fu. "Tapi bagaimana kalau Gu Hong tahu?"
"Kalau dia tahu, dia akan tahu sesudah kita punya bukti," jawab Jian Chen. "Itu sebabnya jangan bicara keras. Jangan tulis nama. Cukup angka."
Tiga hari kemudian, mereka berkumpul lagi di bengkel. Qiu Bo membawa tiga puluh dua lembar. Tan Fu membawa dua puluh satu. Dao membawa empat puluh, sebagian kusut karena dibawa di saku celemek. Lin Xue membawa enam belas lembar dengan tulisan rapi, masing-masing diberi catatan kecil tentang kondisi pemilik.
Jian Chen menghamparkan semuanya di atas peti. Ia mencocokkan angka satu per satu dengan catatan di kepalanya. Dua puluh. Dua puluh tiga. Lima belas. Delapan belas. Dua puluh lima. Dua puluh delapan.
"Tiga," gumam Dao. "Tiga. Tiga. Hampir selalu tiga."
"Tidak selalu," kata Lin Xue. Ia menunjuk satu lembar. "Yang ini selisihnya lima. Pemilik lembar ini sedang sakit dan tidak sempat melapor. Gu Hong mengambil lebih banyak dari yang sakit."
"Yang lemah," kata Qiu Bo. "Dia mengincar yang lemah."
"Jumlahnya?" tanya Dao.
Jian Chen menghitung dengan jari. "Dari seratus sembilan lembar yang terkumpul, rata-rata selisihnya tiga koma dua poin per orang. Kalau ada tiga ratus murid luar..."
"Hampir seribu poin per bulan," bisik Tan Fu.
"Sembilan ratus enam puluh," koreksi Jian Chen. "Itu cukup untuk membeli enam puluh batu napas kelas menengah. Setiap bulan."
Hening. Api di perapian berderak. Dao mengepalkan tangan di atas palu. Qiu Bo mengusap wajahnya dengan kedua telapak, dan Tan Fu berhenti mengunyah.
"Dia mencuri dari kita," kata Qiu Bo akhirnya. "Dari semua orang. Dari Ma Rui juga, waktu dia masih hidup."
"Ya," jawab Jian Chen.
"Aku mau memukulnya."
"Jangan," kata Lin Xue dan Jian Chen bersamaan. Mereka saling pandang sebentar, lalu Lin Xue melanjutkan. "Kalau kau memukulnya, kau yang dihukum. Dia punya cambuk, dan sekte punya aturan yang berpihak pada pangkat."
"Lalu kita ngapain?" tanya Dao. "Kita punya angka, tapi tidak punya orang yang mau mendengarkan."
"Kita punya satu jalur," kata Jian Chen. "Tetua Penilik di aula kontribusi. Setiap bulan ia memeriksa buku pembayaran murid luar. Kalau angka kita sampai kepadanya, ia wajib menyelidiki."
"Tetua Penilik itu teman minum Gu Hong," ujar Qiu Bo. "Semua orang tahu."
"Aku tahu," kata Jian Chen. "Itu sebabnya aku tidak akan membawanya sendiri."
"Maksudmu?"
"Aku butuh seseorang yang tidak bisa dibungkam dan tidak takut pada Gu Hong. Dan aku butuh orang yang pernah menandatangani lembar-lembar itu."
Dao mengerutkan dahi. "Pengawas Lu Gang?"
"Ya."
"Dia pengecut."
"Dia berduka," koreksi Jian Chen. "Dan ia pernah bilang kepadaku bahwa dia lelah dibohongi."
Keesokan paginya, sebelum apel, Jian Chen menemukan Lu Gang sedang duduk sendirian di bawah pohon tua di dekat batu besar, mengunyah sepotong dendeng. Pengawas itu tidak menoleh ketika Jian Chen duduk di sampingnya.
"Pengawas," kata Jian Chen.
"Kau membawa masalah lagi," jawab Lu Gang.
"Aku membawa angka." Jian Chen menyerahkan satu lembar kertas berisi ringkasan: seratus sembilan sampel, selisih rata-rata tiga koma dua poin, tiga ratus murid, sembilan ratus enam puluh poin per bulan. Lu Gang membacanya perlahan, dan wajahnya menegang.
"Dari mana kau dapat ini?"
"Dari lembar poin yang dibagikan Gu Hong."
"Ini tuduhan serius."
"Aku tahu."
"Kalau salah, kau dicambuk lima puluh kali dan diusir dari sekte."
"Aku tahu."
Lu Gang menggulung kertas itu dan menggenggamnya erat. "Dengar, Nak. Setiap akhir bulan aku yang menandatangani buku pembayaran murid luar. Tapi Gu Hong yang menyerahkan daftar angkanya kepadaku. Aku tidak pernah memeriksanya. Aku bodoh." Ia mengepalkan tangan. "Dan aku sudah lama curiga. Tapi curiga tidak sama dengan bukti."
"Sekarang kau punya bukti."
"Aku punya selembar kertas dari murid tujuh belas tahun." Lu Gang menghela napas. "Kau butuh lebih dari ini. Kau butuh buku pembayaran asli yang kutandatangani, dan buku yang disimpan aula. Kalau dua buku itu berbeda, tidak ada yang bisa membantah."
"Bisakah Pengawas mengambilnya?"
"Buku asli di tangan Gu Hong. Buku aula di ruang Tetua Penilik." Lu Gang menatap Jian Chen tajam. "Dan kalau kau tanya apakah aku bisa mengambil keduanya, jawabannya tidak."
"Lalu siapa yang bisa?"
Lu Gang tidak langsung menjawab. Ia mengunyah dendengnya lama sekali sebelum berbicara. "Seorang murid dalam yang punya wewenang masuk ruang Tetua Penilik tanpa ditanya, dan yang membenci Gu Hong cukup keras untuk mau menanggung akibatnya."
Jian Chen menatapnya. Ia sudah tahu siapa yang dimaksud, dan ia tidak menyukai kesimpulannya. "Zhao Feng."
"Aku tidak menyebut nama," kata Lu Gang sambil berdiri. "Tapi kalau kau mau mencoba, jangan bilang aku yang menyarankan."