Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kopi Senja
Valeska mendongak tajam, membelalakkan matanya yang masih sembap ke arah Elang. "Kok lo bisa tahu soal kompor semalam?! Lo mata-matai gue ya?!"
Elang menghembuskan napas pelan, memutar bola matanya malas. "Ge-er banget. Ya tahu lah, Nek Izah sendiri yang cerita ke gue tadi pagi pas gue lewat depan rumahnya."
"Kok lo bisa kenal sama Nek Izah?!" cecar Valeska lagi dengan nada curiga dan tidak terima.
"Jelas kenal lah. Kan gue ngajak kenalan," sahut Elang santai tanpa dosa. "Nek Izah itu ramah, kagak kayak lo yang tiap ketemu orang bawaannya mau ngajak perang."
Mendengar jawaban super santai dan terkesan meremehkan itu, kepala Valeska makin rasanya mau meledak. Rasa malu, gengsi, dan kekesalannya menyatu jadi satu. Dia menyambar brosur kafe di pangkuannya, meremasnya kasar lalu melemparkannya ke dada Elang.
"Terserah lo deh! Bikin emosi aja!" bentak Valeska ketus. Dia berdiri dengan menghentakkan kakinya keras-keras, mengusap sisa air mata di pipinya secara kasar.
"Gak usah sok peduli sama hidup gue! Mau gue dikeluarkan dari sekolah atau kagak, itu bukan urusan lo!" cetus Valeska galak sebelum memutar badannya dan berjalan cepat meninggalkan belakang lapangan basket.
Elang cuma menangkap brosur remas yang dilempar Valeska tadi. Dia menggeleng-gelengkan kepala menatap punggung cewek itu yang makin menjauh.
"Dasar batu," gumam Elang pelan sambil meluruskan kembali kertas brosur yang lecek itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
Langkah kaki Valeska terasa sangat berat saat memasuki kelas. Dia mengabaikan tatapan sinis Jena dan gengnya yang masih asyik mengobrol di depan. Valeska duduk di bangkunya yang berdebu di pojok belakang, mencengkeram jemarinya sendiri di bawah meja.
Kata-kata Pak Bambang soal ancaman dikeluarkan dari sekolah terus bergema di kepalanya. Di satu sisi, gengsinya menolak keras membayangkan seorang Valeska harus bekerja kasar mencuci piring di kafe. Tapi di sisi lain, kenyataan pahit membakar pikirannya—kalau dia putus sekolah, masa depannya benar-benar tamat.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas. Valeska berjalan paling akhir. Saat melintasi gerbang sekolah, matanya tidak sengaja menangkap sosok Elang yang sedang bersiap menaiki motor matic-nya di pinggir jalan.
Valeska menghentikan langkahnya di dekat tiang listrik, menelan ludah yang terasa sangat pahit. Gengsi tinggi dan kebutuhan hidupnya kini bertarung hebat di dalam dada.
Dengan menggigit bibir bawahnya erat-erat, Valeska membuang pandangan sebentar ke arah langit sore yang mulai meredup. Rasa malu yang membakar seluruh wajahnya tak lagi sanggup menahan kenyataan pahit yang mengepungnya. Kalau dia mempertahankan gengsinya hari ini, besok dia tidak akan bisa makan, dan minggu depan dia harus angkat kaki dari sekolah.
Dengan langkah pelan dan sangat ragu, Valeska mengikis jarak menuju motor Elang.
Elang yang baru saja hendak memasang helmnya menyadari keberadaan Valeska. Cowok itu menghentikan gerakannya, menatap Valeska datar dari atas jok motor tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Valeska menunduk dalam-dalam, jemarinya meremas tali tasnya begitu kencang hingga bukunya memutih.
"Kertas... brosur yang tadi..." suara Valeska terdengar sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara bising kendaraan di jalan raya. "Masih ada di lo?"
Elang menaikkan sebelah alisnya. "Brosur yang lo lempar ke dada gue tadi?"
Muka Valeska makin merah padam, rasanya ingin rasanya bumi terbelah dan menelannya saat itu juga. "Iya... yang itu," cicitnya ketus, mencoba menutupi gengsinya yang sudah hancur lebur. "Tempat kerja lo masih butuh orang, kan?"
Elang merogoh saku celananya, mengeluarkan kertas brosur yang sudah agak lecek itu, lalu mengacungkannya di depan muka Valeska.
"Katanya kagak sudi kerja kasar? Katanya bukan urusan gue?" goda Elang dengan senyum tipis yang sengaja memancing emosi.
"Elang! Mau ngasih apa enggak sih?!" bentak Valeska malu bercampur kesal, matanya mulai berkaca-kaca lagi karena merasa sangat dipojokkan.
Melihat mata Valeska yang kembali memerah, Elang menghentikan kebiasaannya menjahili cewek itu. Dia menghela napas panjang, memasukkan kembali brosur itu ke dalam sakunya, lalu menepuk jok belakang motornya.
"Naik," kata Elang singkat. "Gue anterin ke kafenya sekarang. Langsung ketemu sama bos gue biar lo bisa kerja mulai besok sore."
Valeska membeku. Dia menatap Elang dengan pandangan tak percaya. "Sekarang?"
"Ya sekarang. Kalau nunggu besok, lowongannya keburu diambil orang lain," balas Elang tegas sambil menyodorkan helm cadangannya. "Nanti habis dari kafe gue anter lo balik ke Gang Mawar. Cepetan, gue kagak mau terlambat shift."
Valeska menatap helm murah itu cukup lama. Kali ini, tanpa banyak membantah atau melayangkan makian pedasnya, Valeska meraih helm itu dan memakainya. Dia naik ke jok belakang motor Elang, menundukkan kepalanya dalam-dalam di belakang punggung cowok itu.
Roda kehidupan memang telah melemparkannya ke dasar jurang, tapi sore itu, di atas motor matic milik cowok yang paling dia benci, Valeska baru saja mengambil langkah pertamanya untuk bertahan hidup.
***
Perjalanan menuju kafe terasa hening. Valeska memilih bungkam sepanjang jalan, sibuk menahan gejolak di dadanya. Perasaan malu, gengsi yang terkoyak, serta rasa takut akan masa depan berdesakan di kepalanya.
Motor Elang akhirnya berhenti di sebuah bangunan dua lantai berkonsep industrial-rustic bernama Kopi Senja. Kafe itu tampak cukup ramai oleh anak-anak muda dan pekerja kantor yang sedang beristirahat sore.
"Turun," panggil Elang sambil melepas helmnya.
Valeska melepas helm cadangan lalu menyerahkannya pada Elang tanpa berani menatap mata cowok itu. Dia merapikan seragamnya yang agak kusut, mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe yang megah namun hangat itu. Dulu, tempat seperti ini adalah tempatnya nongkrong dan memesan kopi mahal bersama Giselle. Sekarang? Dia datang untuk menjadi buruh di dapur belakang.
"Ikut gue ke dalam. Jangan jauh-jauh," kata Elang datar, melangkah mendahului Valeska menuju pintu samping kafe yang khusus membatasi area staf.
Valeska mengekor dengan menundukkan kepala dalam-dalam, berharap tidak ada orang yang mengenali wajahnya. Elang membawanya melewati koridor sempit hingga tiba di sebuah ruangan kantor kecil di area dapur.
Tak, tak!
"Mas Bayu, ini saya Elang," ujar Elang dari luar pintu kayu.
"Masuk, Lang!" sahut suara pria dari dalam.
Elang membuka pintu dan mendorong pelan bahu Valeska agar ikut masuk. Di balik meja kayu besar, seorang pria berusia awal tiga puluhan berpenampilan rapi dengan kemeja gulung menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Oh, Lang, udah sampai? Gimana?" tanya Mas Bayu—pemilik kafe tersebut—sebelum matanya beralih menatap Valeska yang berdiri kaku di samping Elang.
"Ini cewek yang saya ceritain semalam, Mas. Namanya Valeska," jelas Elang singkat dan lugas. "Dia butuh kerjaan paruh waktu buat isi posisi cuci piring dan bantu-bantu dapur habis jam sekolah."
Mas Bayu mengangguk-angguk paham, menatap Valeska dari atas ke bawah. Tatapannya tidak merendahkan, namun penuh penilaian profesional. "Valeska, ya? Kamu masih sekolah kan di SMA Nusantara? Udah pernah punya pengalaman kerja di dapur kafe sebelumnya?"
Tenggorokan Valeska mendadak terasa kering. Jawabannya sudah jelas tidak. Jangankan mencuci tumpukan piring kafe, mencuci piring rumahnya sendiri saja belum pernah dia lakukan seumur hidupnya.
"S-saya... belum pernah kerja, Mas," cicit Valeska parau, tangannya meremas kencang rok seragam di bawah meja. "Tapi saya... saya bisa belajar."
Mas Bayu mengangkat sebelah alisnya, agak ragu melihat kerapian dan aura Valeska yang sama sekali tidak kelihatan seperti pekerja keras. Namun, Elang langsung mengambil alih pembicaraan.
"Saya yang bakal ngajarin dan ngawasin dia, Mas," potong Elang tegas dengan nada meyakinkan. "Kalau ada piring pecah atau kerjaannya enggak beres, potong dari gaji saya aja."
Valeska tersentak pelan, menoleh kaget menatap profil samping Elang yang tetap berekspresi datar.
Mas Bayu terkekeh pelan melihat kesungguhan Elang. "Oke, kalau Elang yang jamin, saya percaya. Kamu bisa mulai kerja besok sore jam 4 pas selesai jam sekolah, Val. Soal gaji dan aturan nanti bakal dijelasin sama Elang. Deal?"
Valeska menelan ludahnya, menatap Mas Bayu lalu mengangguk pelan. "Deal... Makasih banyak, Mas."
Begitu keluar dari area dapur, Valeska menghentikan langkahnya di koridor belakang yang sepi. Dia menatap punggung Elang yang sedang merapikan lengan kemejanya.
"Elang," panggil Valeska pelan.
Elang memutar badannya, menatap cewek itu tenang. "Apa?"
"Kenapa... kenapa lo sampai sebegitunya jamin gue di depan bos lo?" tanya Valeska dengan suara bergetar. "Kalau gue bikin salah atau ngerusak barang, lo yang kena dampaknya. Kenapa lo segitunya?"
Elang merogoh saku celananya, menatap Valeska lurus-lurus.
"Gue udah bilang kan? Gue cuma ngebalas budi ke Papa lo," jawab Elang dingin, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Valeska untuk berpikir bahwa ada rasa kasihan atau perasaan lain di baliknya. "Gue kagak mau Papa lo kecewa kalau lihat anaknya terlunta-lunta di jalanan gara-gara gengsi."
Elang berbalik, melangkah menuju loker karyawan. "Gue ada shift sekarang. Helm cadangan tadi ada di jok motor. Lo tunggu di pos depan, setengah jam lagi pas shift gue ganti, gue anter lo pulang ke Gang Mawar."
Valeska mematung di tempatnya, menatap langkah kaki Elang yang menjauh. Di tengah rasa perih pada gengsinya yang makin terkoyak, ada secercah rasa aman yang anehnya mulai tumbuh di dasar hatinya.