NovelToon NovelToon
Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Perjalanan Menuju Pendekar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:123.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.

Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.

Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.

Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan Sang Raja Dunia

Boqin Changing makan dengan lahap. Semangkuk bubur yang disajikan ibunya perlahan-lahan mulai kosong, sementara beberapa lauk sederhana di atas meja juga tidak luput dari perhatiannya.

Makanan itu sebenarnya tidak istimewa. Tidak ada bahan langka, tidak ada bumbu mahal, apalagi bahan-bahan berharga yang biasa digunakan para pendekar untuk membantu kultivasi mereka.

Namun, bagi Boqin Changing, makanan di hadapannya terasa jauh lebih enak daripada hidangan mewah yang pernah ia cicipi di berbagai tempat. Ada kehangatan di dalamnya. Bukan kehangatan biasa, melainkan kehangatan yang berasal dari kasih sayang seorang ibu.

Ia sudah mencicipi berbagai makanan lezat selama perjalanan hidupnya. Bahkan, dengan kedudukannya sekarang, tidak sulit baginya untuk mendapatkan hidangan terbaik di alam ini. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang bisa menggantikan masakan sederhana buatan ibunya itu.

Dulu, ia pernah tidak pernah benar-benar memahami betapa berharganya hal-hal sederhana seperti ini. Kini, setelah mengalami kehidupan pertama yang penuh kehilangan, ia baru menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan kekuatan atau kekayaan. Terkadang, kebahagiaan hanya berupa semangkuk bubur hangat yang disiapkan oleh ibunya.

Tak lama kemudian, Boqin Changing meletakkan sendoknya. Ia mengusap sudut bibir, lalu mengangkat wajah dengan senyum puas.

"Terima kasih, Ibu. Masakanmu tetap seenak biasanya."

Ehuang Baiye tertawa kecil.

"Kau ini. Baru makan semangkuk bubur saja sudah memuji Ibu seperti itu."

"Aku mengatakan yang sebenarnya."

"Kalau begitu, lain kali pulanglah lebih sering. Dengan begitu, Ibu bisa memasakkan makanan kesukaanmu."

Boqin Changing langsung mengangguk.

"Baik. Aku akan berusaha pulang lebih sering."

Ehuang Baiye tampak puas mendengar jawaban itu. Ia kemudian mengambil mangkuk kosong milik putranya dan hendak membawanya ke dapur.

Namun, Boqin Changing segera berdiri.

"Biar aku saja, Ibu."

"Kau baru pulang. Duduklah dan beristirahat. Urusan seperti ini biar Ibu yang mengerjakannya."

"Tapi, Ibu..."

"Sudahlah. Jangan membantah ibumu sendiri."

Boqin Changing langsung terdiam. Ia hanya bisa tersenyum pasrah, kemudian kembali duduk.

Salah satu pendekar terkuat di alam ini, sosok yang namanya membuat banyak orang gemetar ketakutan, ternyata tidak berdaya ketika berhadapan dengan ibunya sendiri. Jika para pendekar yang mengenalnya melihat pemandangan ini, mungkin mereka akan sulit mempercayai mata mereka.

Ehuang Baiye membawa mangkuk itu ke dapur. Setelah selesai membereskan beberapa peralatan makan, ia kembali duduk di hadapan putranya. Keduanya mulai mengobrol tentang hal-hal sederhana.

Ehuang Baiye menanyakan perjalanan Boqin Changing, apakah ia mengalami kesulitan selama berada di luar, serta apakah ada orang yang membuatnya kesal. Boqin Changing menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai. Ia tidak menceritakan semua hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, tetapi ia juga tidak menyembunyikan sesuatu yang perlu diketahui ibunya.

Sesekali, ia bahkan melontarkan candaan yang membuat Ehuang Baiye tertawa.

"Ibu, kau tidak tahu betapa merepotkannya beberapa orang yang kutemui."

"Benarkah? Lalu, apa yang kau lakukan kepada mereka?"

"Aku hanya berbicara dengan baik."

Ehuang Baiye mengangkat alis.

"Benarkah hanya berbicara?"

Boqin Changing terdiam sesaat.

Melihat ekspresi putranya, Ehuang Baiye langsung tertawa.

"Kau pikir Ibu tidak tahu seperti apa sifatmu? Kalau seseorang benar-benar membuatmu marah, bagaimana mungkin kau hanya berbicara dengannya?"

Boqin Changing mengusap hidungnya sambil tersenyum canggung.

"Ibu, aku sudah berubah. Sekarang aku jauh lebih sabar."

"Begitu, ya?"

"Tentu saja. Percaya padaku."

Ehuang Baiye menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Ia tidak melanjutkan pertanyaan itu, tetapi jelas tidak sepenuhnya mempercayai perkataan putranya itu.

Suasana rumah dipenuhi percakapan ringan. Untuk sementara, Boqin Changing tidak perlu memikirkan urusan sekte ataupun berbagai masalah yang menunggunya di luar sana. Ia hanya ingin menikmati waktu bersama ibunya.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari luar rumah. Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria yang baru saja kembali dari ladang. Pakaiannya sederhana dan sedikit berdebu. Wajahnya menunjukkan kelelahan setelah seharian bekerja, tetapi ketika melihat siapa yang sedang duduk di dalam rumah, matanya langsung berbinar.

"Chang’er!"

Boqin Feng tersenyum lebar.

"Kau akhirnya pulang juga!"

Boqin Changing segera menoleh.

"Ayah!"

Boqin Feng tidak langsung mendekat. Sebaliknya, ia meletakkan barang bawaannya di dekat pintu, lalu tiba-tiba berdiri tegak di tengah ruangan.

Ia mengangkat kedua tangannya, menggerakkan kaki, kemudian memperagakan beberapa jurus bela diri dengan penuh semangat.

"Hahaha! Lihatlah, Chang’er! Bagaimana menurutmu jurus Ayah kali ini?"

Gerakannya memang cukup teratur untuk seseorang yang mempelajari bela diri. Namun, jika dibandingkan dengan para pendekar berpengalaman, jurus yang diperagakannya masih terlihat sederhana.

Ehuang Baiye yang melihat tingkah suaminya langsung tertawa.

"Kau baru saja pulang dari ladang, tetapi hal pertama yang kau lakukan justru memamerkan jurus di depan anakmu?"

Boqin Feng tidak merasa malu sedikit pun.

"Apa salahnya? Anakku sudah menjadi pendekar hebat. Sebagai ayahnya, tentu aku harus menunjukkan bahwa aku juga sedang berusaha menjadi lebih kuat!"

Ia kembali menggerakkan tangannya, lalu mengambil posisi kuda-kuda dengan wajah serius.

"Chang’er, bagaimana? Apakah Ayah terlihat hebat?"

Boqin Changing akhirnya tidak mampu menahan tawanya.

"Ayah, gerakanmu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya."

"Benarkah?"

"Tentu."

Boqin Feng langsung tersenyum bangga. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa putranya sengaja memilih kata-kata yang paling halus untuk memujinya.

Bagaimanapun, Boqin Feng memang bukan seorang pendekar hebat. Saat ini, kultivasinya baru berada di ranah Pendekar Menengah. Ia sendiri baru mulai serius mempelajari bela diri setelah tinggal di lingkungan Sekte Dua Pedang Petir.

Sebelumnya, kehidupannya tidak jauh berbeda dari seorang petani biasa. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus ladang dan mencari nafkah bagi keluarga. Jika bukan karena putranya, mungkin ia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dunia persilatan lebih jauh.

Namun, Boqin Feng tidak merasa rendah diri karena hal itu. Ia tahu bahwa dirinya tidak memiliki bakat luar biasa, sehingga ia hanya berusaha belajar sedikit demi sedikit. Baginya, selama tubuhnya masih sehat dan ia bisa melindungi keluarganya, itu sudah cukup.

Ehuang Baiye masih tertawa ketika melihat suaminya memasang wajah bangga.

"Baiklah, pendekar hebat. Kalau sudah selesai memamerkan jurus, sekarang temuilah putramu dengan benar."

Boqin Feng akhirnya menghentikan gerakannya.

"Ah, benar juga!"

Ia segera berbalik menghadap Boqin Changing. Namun, sebelum ayahnya sempat mengatakan sesuatu, Boqin Changing telah berdiri dari kursinya.

Ia melangkah maju, lalu membungkuk dengan penuh hormat.

"Ayah, aku sudah pulang."

Boqin Feng tertegun sejenak. Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi senyum hangat. Ia tidak memedulikan lagi jurus yang baru saja diperagakannya, lalu segera melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia memeluk putranya erat-erat.

"Selamat datang di rumah, Chang’er."

Tubuh Boqin Changing sedikit menegang ketika merasakan pelukan itu. Namun, hanya sesaat. Ia kemudian membalas pelukan ayahnya dengan kedua tangan.

"Ya, Ayah."

Suara Boqin Feng terdengar sedikit berat.

"Bagaimana perjalananmu? Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak terluka, bukan?"

"Aku baik-baik saja, Ayah. Tidak perlu khawatir."

"Baguslah."

Boqin Feng menepuk punggung putranya beberapa kali sebelum akhirnya melepaskannya. Ia kemudian memeriksa wajah Boqin Changing, seolah ingin memastikan sendiri bahwa anaknya benar-benar tidak mengalami masalah.

Boqin Changing hanya tersenyum. Pada saat itu, perasaan hangat memenuhi dadanya.

Dalam kehidupan pertamanya, ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih sangat muda. Setelah itu, ia menjalani tahun-tahun panjang dengan membawa penyesalan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Saat itu, ia pernah membayangkan bagaimana rasanya pulang ke rumah dan disambut oleh ayahnya seperti ini. Kini, keinginan yang dahulu hanya bisa menjadi angan-angan akhirnya terwujud.

Ayahnya masih hidup dan ibunya masih berada di sisinya. Ia bisa mendengar suara mereka, melihat senyum mereka, bahkan merasakan pelukan yang selama ini sangat dirindukannya.

Boqin Changing menundukkan kepala sejenak untuk menyembunyikan perasaannya.

“Inilah kebahagiaan yang ingin kupulihkan sejak awal.”

Ia tidak membutuhkan pengakuan dari seluruh dunia untuk merasa puas. Tidak pula membutuhkan gelar yang lebih tinggi agar hidupnya terasa berarti. Selama kedua orang tuanya masih berada di sisinya, ia sudah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu.

...******...

Malam pun tiba. Setelah kabar kepulangan Boqin Changing menyebar, rumahnya kedatangan banyak tamu. Bibi gurunya, Zhuang Yui, datang berkunjung bersama beberapa adik seperguruannya, yaitu Han Mei Yin, Liu Jianji, dan Li Quong.

Beberapa tetua Sekte Dua Pedang Petir lainnya juga menyempatkan diri untuk datang menemuinya. Suasana rumah menjadi jauh lebih ramai daripada biasanya.

Boqin Changing menyambut mereka dengan baik. Ia juga telah menyiapkan beberapa oleh-oleh yang diperolehnya selama perjalanan dan membagikannya kepada orang-orang yang datang berkunjung.

Tidak ada sesuatu yang terlalu berlebihan dalam pertemuan itu. Mereka hanya mengobrol, bertukar kabar, dan menikmati waktu bersama setelah cukup lama tidak berkumpul.

Han Mei Yin bahkan sempat mengeluh karena Boqin Changing jarang terlihat belakangan ini. Liu Jianji dan Li Quong juga mengajukan beberapa pertanyaan mengenai perjalanannya. Boqin Changing menjawab seperlunya sambil sesekali tersenyum melihat tingkah mereka.

Setelah beberapa waktu, para tamu akhirnya berpamitan satu per satu. Zhuang Yui dan para adik seperguruannya kembali ke tempat masing-masing. Para tetua pun meninggalkan rumah tersebut setelah menyampaikan salam perpisahan.

Ketika semuanya telah pergi, suasana rumah kembali tenang. Boqin Feng dan Ehuang Baiye telah beristirahat di dalam, sedangkan Boqin Changing memilih duduk sendirian di teras.

Udara malam terasa sejuk. Angin berembus pelan melewati halaman, membawa suara dedaunan yang bergesekan satu sama lain.

Boqin Changing bersandar santai pada kursinya. Ia memandang langit yang dipenuhi bintang, menikmati ketenangan yang jarang bisa ia rasakan selama menjalani kehidupan sebagai seorang pendekar.

Beberapa saat berlalu tanpa ada yang mengganggu. Tiba-tiba, sosok seseorang muncul dari kegelapan halaman. Langkahnya ringan. Ia bergerak mendekati teras tanpa menimbulkan suara berarti, seolah malam telah menjadi bagian dari dirinya. Boqin Changing tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

Sosok itu berhenti beberapa langkah darinya, lalu menundukkan kepala dengan hormat.

"Tuan."

Boqin Changing mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap orang tersebut. Itu adalah Wu Xing.

Boqin Changing menunjuk kursi kosong di dekatnya.

"Duduklah."

“Ada yang ingin kubicarakan…”

1
y@y@
⭐👍🏾👍🏿👍🏾⭐
ibarumbung
💛💛💛💛💛
Mahayabank: lanjuuut keenn
total 1 replies
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀👀
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍
Ipung Umam
lanjutkan
Sarip Hidayat
waaah knapa ini
mbono keling
💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪💪💪💪👍💪
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Andi Heryadi
dengan sumber daya yg berlimpah dr boqin chanqing,mestinya wan tian sdh diranah pendekar suci puncak thor😄
Rinaldi Sigar
lanjut
y@y@
👍🏼🌟👍🏻🌟👍🏼
Nanik S
Apakah Wang Tian juga akan membantu
Nanik S
Pendekar Lbah Angin dan kenapa sampai uang saja cuman keping Tembaga... Chang"er sangat jeli sekali
Mahayabank: 👍👍👍👍👀
total 1 replies
Eko🍤
traktiran🤣👍👍 bantaaaaaaaiiiiii
meiii
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!