“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
"Menikah?"
Arunika menatap pria bertubuh tegap di hadapannya dengan tawa getir yang tertahan. Matanya berpindah dari map perjanjian di atas meja lalu beralih ke raut wajah beku sang jenderal.
"Apa anda sedang kehilangan akal sehat? Kita bahkan tidak saling mengenal secara pribadi. Anda seorang jenderal terpandang dan saya baru saja diusir dari rumah. Lalu anda menyuruh saya menandatangani surat nikah ini?"
Arjuna bergeming. Sikap tubuhnya tetap tegak sempurna, memancarkan wibawa militer yang tak tergoyahkan.
"Aku tidak terbiasa menerima penolakan, Arunika."
Jawaban singkat itu terdengar bagai vonis mutlak. Arjuna melangkah ke sisi meja, membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat bersegel lilin merah.
"Ini surat wasiat mendiang istriku sebelum dia mengembuskan napas terakhir," ucap Arjuna seraya menyodorkan lembaran surat tersebut.
Nama sahabat karibnya disebut. Dada Arunika mendadak berdenyut nyeri. "Wasiat Alana?"
Arjuna mengangguk tipis. "Dia memintaku secara tertulis. Jika dia tiada, dia ingin aku menikahimu."
Kening Arunika berkerut dalam. Ia menatap Arjuna dengan sorot mata tak habis pikir.
"Kenapa harus aku? Alana punya ratusan kenalan wanita dari kalangan elit. Kenapa dia memilihku?"
Untuk sepersekian detik, rahang tegas Arjuna mengetat. Bayangan masa lalu melintas samar di matanya, sebelum kembali terkunci rapat di balik tatapan dingin.
"Aku tidak tahu isi kepalanya saat menulis itu," jawab Arjuna jujur, suaranya terdengar hampa. "Namun aku berjanji akan memenuhi permintaan terakhirnya. Dan aku bukan pria yang suka mengingkari janji."
Arunika mencengkeram tepi meja. Pikirannya berputar hebat. Baru beberapa jam lalu ia dihujat bagai sampah oleh ibu kandungnya sendiri, difitnah meracuni ayahnya dan diancam penjara oleh Intan. Kini, pria paling ditakuti di negeri ini justru menawarinya sebuah status resmi.
"Beri saya waktu untuk berpikir," pinta Arunika lirih.
"Tidak ada waktu. Pernikahan ini harus sah malam ini juga."
"Malam ini?!" Arunika tersentak. "Apa anda sudah gila?"
"Dua hari lagi pasukanku diberangkatkan untuk operasi militer di perbatasan. Aku tidak punya waktu meladeni keraguanmu."
Arunika menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia menegakkan punggung, menatap lurus ke dalam manik mata elang pria itu.
"Jenderal Arjuna, lihat saya baik-baik," tukas Arunika dengan nada menantang. "Apa anda benar-benar tidak keberatan dengan kondisi fisik saya?"
Arjuna terdiam sesaat. Tatapan matanya yang tajam turun, memindai sosok wanita di hadapannya. Arunika jauh dari gambaran wanita anggun yang biasa mondar-mandir di pesta militer. Tubuhnya berisi, pakaiannya basah kuyup terkena hujan dan rambutnya berantakan. Jauh berbeda dari Alana yang selalu anggun bak burung merak.
Tapi, di mata seorang prajurit seperti Arjuna, bentuk fisik hanyalah bungkus luar.
"Sama sekali tidak masalah," sahut Arjuna datar.
Arunika tertegun. "Tidak masalah?"
"Pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas," lanjut Arjuna tanpa basa-basi. "Kita tidak saling mencintai dan aku tidak berniat menuntut hak biologis darimu. Kita hanya menjalankan peran masing-masing."
Kata-kata itu dingin terasa jauh lebih jujur daripada ribuan kata manis yang pernah ia dengar. Setidaknya, Arjuna tidak sedang merancangnya untuk jatuh ke dalam jebakan asmara palsu.
Arunika menatap bayangan dirinya di jendela kaca yang gelap. Ia teringat seringai Intan dan makian sang ibu. Jika ia kembali ke jalanan, ia akan hancur dilindas fitnah mereka. Sementara di balik dinding baja kekuasaan sang jenderal, ia memiliki perisai untuk membalas mereka suatu hari nanti.
Arunika menghela napas panjang, mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Baiklah. Saya setuju."
Tak ada senyum bahagia, tak ada pelukan haru.
"Gio!" panggil Arjuna dengan nada bariton yang menggema di ruangan.
Seorang perwira berpangkat kapten yang sejak tadi bersiaga di ambang pintu langsung melangkah tegap ke dalam ruangan.
"Siap, Jenderal!"
"Hubungi petugas catatan sipil dan saksi resmi militer sekarang juga. Berkas pernikahan harus selesai dan ditandatangani sebelum tengah malam."
Gio sempat membelalak kaget, melirik Arunika sekilas. "Siap, laksanakan, Jenderal!"
Sebelum Arunika sempat menarik napas lega, Arjuna sudah melangkah mendekat dan menyambar pergelangan tangan kirinya. Jemari pria itu kasar dan kapalan, namun cengkeramannya kokoh tak terbantahkan. Tanpa meminta persetujuan, Arjuna memberikan sebuah cincin pada Arunika.
"Ini tanda pengikat kita," ucap Arjuna datar.
Arunika mendengus kesal melihat cincin itu.
Tanda pengikat? Memangnya aku barang pesanan? batinnya mengumpat. Tapi ia memilih mengunci rapat mulutnya.
Dua jam kemudian, berkas hitam di atas putih itu resmi ditandatangani. Status baru telah melekat padanya.
*****
Kediaman utama keluarga Wiratama mendadak riuh tatkala mobil dinas berplat hitam khusus meluncur memasuki pekarangan istana tersebut.
Arjuna melintasi aula utama, diikuti langkah Arunika yang masih mengenakan pakaian ganti sederhana.
"Siapa wanita itu, Arjuna?" tanya Ratna.
Wanita paruh baya bertabur perhiasan itu memindai Arunika dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik.
Sebelum Arjuna sempat menjawab, Wina, kakak perempuan Arjuna muncul dengan senyum sinis.
"Wah, rupanya adik kesayanganku baru saja memungut pelayan baru dari panti sosial?" ejek Wina tanpa tedeng aling-aling sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi dengan tubuh sebesar itu, apa dia sanggup naik turun tangga tanpa merusak lantai rumah ini? Jangan-jangan dia cuma bisa menghabiskan beras!"
Arunika mengepalkan tangannya di balik punggung. Rongga dadanya memanas. Hanya saja ia memilih menahan diri demi melihat sejauh mana drama keluarga borjuis ini bergulir.
Ratna melangkah maju dengan wajah kian menegang.
"Arjuna, jawab Ibu! Mau taruh di mana muka keluarga kita kalau kau membawa wanita kumal ini ke ruang utama?!"
Suasana seketika membeku tatkala Arjuna meremas lembut jemari tangan Arunika, lalu mengangkat pandangannya yang sedingin es menatap ibu dan kakaknya.
"Dia bukan pelayan. Arunika adalah nyonya sah di rumah ini. Dia istriku," ucap lantang Arjuna.
Mata Ratna membulat sempurna. Senyum menghina di bibir Wina pun lenyap seketika, tergantikan oleh keterkejutan yang meremukkan kesombongannya.
"Istri?!" pekik Wina histeris. "Aap kau sudah gila, Arjuna?!"
"Aku tidak menerima penolakan dari siapa pun di rumah ini," tegas Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya.
Arjuna menggenggam jemari Arunika kian erat di depan mereka.
"Perlakukan dia dengan hormat layaknya istri seorang jenderal. Jika ada yang berani menghinanya, kalian tahu konsekuensinya berhadapan denganku," ucap Arjuna memperingatkan.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget