Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Tiga Orang di Lorong Putih
Telinga Andien berdenging.
Hanya itu yang ia dengar selama beberapa detik: denging panjang dan tinggi, seperti nyamuk raksasa di dalam kepalanya. Dunia bergerak lambat. Serpihan kaca masih berjatuhan dari bingkai jendela, berkilau di bawah lampu meja yang miring.
Ia terbaring di lantai kayu, dan ada beban hangat menindih tubuhnya.
"Mas?"
Carlo tak menjawab. Wajahnya terbenam di bahu Andien, napasnya pendek dan berat. Lengannya masih memeluk Andien erat, seperti perisai yang lupa dilepas.
"Mas Carlo!"
Ia merasakan sesuatu yang basah dan hangat merembes ke kebayanya. Bukan darahnya sendiri. Ia tahu itu, bahkan sebelum menunduk dan melihat noda merah yang melebar di bahu kiri kemeja putih Carlo, tepat di tempat bekas luka lama yang baru saja menutup.
"Aku... tidak apa-apa," gumam Carlo, matanya setengah terbuka. "Kena... sedikit."
"Jangan bicara, Mas. Jangan bicara."
Di sisi lain ruangan, terdengar bunyi hantaman dan teriakan. Laras sudah berdiri dengan lutut menekan punggung Hendra yang tertelungkup di lantai, kedua lengan pria tua itu terpelintir ke belakang. Pistol kecil tergeletak beberapa langkah dari jangkauannya, ditendang jauh ke bawah rak buku.
"Aku dokter bedah residen tiga tahun di IGD," ujar Laras dengan napas tersengal, suaranya rendah dan sangat dingin. "Aku tahu titik di lengan manusia yang kalau ditekan, tangannya tak akan bisa memegang apa pun selama sebulan. Jangan coba-coba, Hendra."
Pintu depan didobrak. Derap sepatu bot memenuhi lorong, disusul teriakan, "Polisi! Jangan bergerak!"
Cahaya senter menyapu ruangan. Beberapa orang berseragam menyerbu masuk, dua di antaranya langsung meringkus Hendra dan menarik pria tua itu berdiri. Kacamata emasnya retak. Rambut peraknya berantakan. Untuk pertama kalinya, ia tampak seperti apa adanya: seorang lelaki enam puluh tahun yang kalah.
Saat digiring melewati Carlo, ia menoleh. "Ayahmu memilih orang yang salah, Nak."
"Ayahku memilihmu untuk menjaga keluarganya," jawab Carlo lirih dari lantai. "Kamu yang salah menafsirkan."
Hendra tak menjawab. Pintu menelan punggungnya.
---
Rumah sakit di jam dua dini hari adalah dunia yang ganjil: lampu neon yang terlalu terang, lantai licin yang mengilap, dan bau antiseptik yang menusuk hidung. Andien duduk di bangku plastik di lorong, kebayanya masih bernoda darah yang mulai mengering menjadi cokelat.
Carlo sudah masuk ruang operasi sejak satu jam lalu. Peluru itu menembus bahunya dan bersarang di dekat tulang selangka. Tidak mengenai arteri, kata dokter jaga, tapi cukup dalam untuk memerlukan pembedahan.
"Minum ini."
Andien mendongak. Laras berdiri di depannya, jaket hitamnya kini ternoda debu dan sedikit darah, menyodorkan gelas kertas berisi teh hangat. Rambutnya sudah terurai, dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua daripada pagi tadi.
"Terima kasih, Bu."
Laras duduk di sebelahnya, menyisakan satu kursi kosong di antara mereka. Keduanya menatap pintu ruang operasi yang tertutup, lampu merah di atasnya menyala tanpa berkedip.
Lama tak ada yang bicara.
"Pak Darto?" tanya Andien akhirnya.
"Ditahan. Tapi anaknya selamat, dan jaksa sudah kuberi rekamanmu. Hendra yang memerintahkan penikaman itu. Darto hanya alat." Laras menyesap tehnya sendiri. "Hukum akan menimbang. Aku akan memastikan pengacara terbaik untuknya."
"Ibu akan membantu orang yang hampir membunuh suami Ibu?"
"Aku akan membantu orang yang dipaksa memilih antara nyawa anaknya dan nyawa orang lain." Laras menatap gelasnya. "Aku bukan hakim, Andien. Aku hanya dokter. Aku terbiasa melihat orang pada saat terburuknya, dan tahu bahwa itu bukan keseluruhan mereka."
Andien menunduk. Kata-kata itu terasa seperti ditujukan bukan hanya untuk Darto.
"Bu," katanya pelan. "Saya mau pulang."
Laras menoleh.
"Ke desa. Kalau Mas Carlo sudah selesai dioperasi dan Ibu ada di sini, saya rasa saya tidak lagi dibutuhkan." Suaranya bergetar, tapi ia memaksakan diri melanjutkan. "Saya bukan istrinya, Bu. Pernikahan itu mungkin sah di mata agama, tapi saya tahu tempat saya. Ibu yang berhak di sini."
"Berhenti."
Nada Laras tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Andien menutup mulut.
"Aku sudah terlalu sering mendengar orang di rumah itu memutuskan sesuatu atas nama orang lain," kata Laras. "Carlo memutuskan untuk berbohong demi melindungiku. Hendra memutuskan siapa yang layak memimpin. Sekarang kamu memutuskan apa yang pantas untukmu tanpa bertanya apa yang kamu inginkan." Ia berhenti, menarik napas. "Apa yang kamu inginkan, Andien?"
Andien membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang siap. Pertanyaan itu begitu asing. Sepanjang hidupnya, orang bertanya apa yang *seharusnya* ia lakukan. Tak ada yang pernah bertanya apa yang ia inginkan.
"Saya ingin..." bisiknya. "Saya ingin Ibu saya sehat. Ingin punya warung kecil sendiri. Dan ingin..." Ia menelan ludah. "Ingin berhenti menjadi rahasia seseorang."
Laras mengangguk perlahan, seolah baru mendengar diagnosis yang sudah lama ia duga.
"Itu keinginan yang masuk akal."
---
Lampu merah di atas pintu padam menjelang subuh.
Dokter bedah keluar dengan masker menggantung di leher dan wajah lelah yang tersenyum tipis. "Operasinya berhasil. Pelurunya sudah diangkat. Pasien perlu istirahat total beberapa minggu, tapi tidak ada kerusakan permanen. Kondisinya stabil."
Andien menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan air matanya jatuh tanpa suara. Di sampingnya, Laras menarik napas panjang yang gemetar, sesuatu yang sepertinya sudah ia tahan sejak berjam-jam lalu.
"Boleh kami masuk?"
"Satu orang dulu, sebentar saja. Dia sudah sadar sebagian."
Laras dan Andien saling menatap. Tak ada yang melangkah.
"Silakan," kata Andien, suaranya hampir tak terdengar. "Ibu istrinya."
"Kamu juga." Laras berdiri, menepuk bahu Andien sekilas, kikuk dan canggung, tetapi tulus. "Pergilah. Dia akan mencarimu begitu membuka mata. Aku bisa menunggu."
"Bu..."
"Aku sudah menunggu dua tahun. Sepuluh menit lagi tidak akan membunuhku."
Andien masuk dengan langkah ragu.
Ruangan itu kecil, putih, dan sunyi kecuali bunyi monitor yang berdetak teratur. Carlo terbaring dengan bahu dibalut perban tebal, wajahnya pucat dan jauh lebih muda dalam tidur obat. Ketika Andien duduk di tepi ranjang, kelopak matanya bergerak.
"Dien."
"Iya, Mas."
"Kamu... tidak terluka?"
"Tidak." Andien menggeleng, tertawa kecil di tengah air mata. "Mas yang bodoh, menjadikan diri perisai. Padahal Mas baru sembuh."
"Aku sudah terlalu sering menyelamatkan diriku sendiri." Senyum Carlo lemah dan miring. "Sekali ini, kupikir aku boleh menyelamatkan orang lain."
Andien tak menjawab. Ia hanya menatap tangan Carlo di atas selimut. Tangan kiri, dengan cincin emas tipis yang bukan darinya.
Ia meraih tangan itu dengan kedua tangannya, menggenggam sebentar, lalu meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati.
"Mas, saya mau bilang sesuatu. Dan Mas tidak boleh menyela."
Carlo diam.
"Saya mencintai Mas." Suaranya mantap, meski air matanya mengalir deras. "Saya tidak akan berbohong tentang itu. Tapi saya juga tidak mau mencintai seseorang yang menyuruh saya bersembunyi. Setelah Mas pulih nanti, Mas harus memilih. Bukan antara saya dan Bu Laras, tapi antara menjadi pria yang jujur atau tetap menjadi pria yang lari."
"Dien..."
"Saya belum selesai." Andien menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Apa pun pilihan Mas, saya akan pulang ke desa dulu. Saya perlu bertemu Ibu. Saya perlu bernapas. Dan kalau suatu hari Mas datang menjemput saya, Mas harus datang sebagai orang yang bisa menyebut nama saya di depan siapa pun, tanpa takut."
Carlo menatapnya lama. Matanya basah, dan untuk pertama kalinya Andien melihat pria itu tidak mencoba membujuk atau memberi janji.
"Itu adil," bisiknya.
"Mas tidak berjanji?"
"Tidak." Carlo tersenyum getir. "Kamu bilang, tunjukkan saja."
Andien menunduk dan mengecup kening pria itu, singkat dan lembut, sebuah perpisahan yang bukan akhir. Lalu ia berdiri dan berjalan ke pintu.
Di ambang pintu, ia berhenti.
Laras berdiri di sana, tak jadi menunggu di bangku. Mata mereka bertemu. Tak ada kata yang diperlukan, tetapi Laras mengangguk sekali, hampir tak terlihat, seperti pengakuan antara dua orang yang sama-sama kalah dan sama-sama bertahan.
Andien melangkah keluar. Laras melangkah masuk.
Di balik pintu yang menutup perlahan, Andien mendengar suara Laras yang tenang dan dingin, tetapi gemetar di tepinya.
"Carlo. Kita perlu bicara. Dan kali ini, kamu tidak boleh berbohong."
Andien menyusuri lorong putih menuju pintu keluar, ke arah subuh yang mulai memucat di balik jendela kaca. Di luar, kota perlahan terbangun. Jumat akan datang beberapa jam lagi, dengan RUPS dan kursi presiden direktur yang diperebutkan.
Tetapi bagi Andien, untuk pertama kalinya, hari itu bukan lagi hari yang menentukan nasibnya. Ia sudah memilih. Dan pilihan itu, ia sadari, terasa seperti pulang.
---
*Bersambung ke Bab 13...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya