Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTAHAN DI POS 4
Deru badai es yang menerobos masuk dari celah dinding Pos 4 terdengar seperti raungan seribu iblis yang keharusan darah. Hembusan salju tebal bertiup begitu kencang hingga jarak pandang di dalam ruangan runtuh menjadi nol absolut. Serpihan es tajam menyapu kulit, memadamkan bara perapian dan membekukan sisa-sisa air di dalam kendi hanya dalam hitungan detik.
Di tengah kegelapan yang membutakan, dentingan logam dan lolongan beringas memecah deru angin malam.
"Tahan celah itu, Shi Tou!" Teriak Lin Yuan dengan mata emas yang membelah kegelapan badai.
"Serahkan padaku!" Raung Shi Tou seraya menghentakkan perisai besinya tepat di bagian paling sempit dari celah dinding yang runtuh.
BAM!
Tiga ekor Serigala Duri Es menghantam perisai Shi Tou secara bersamaan. Benturan berdaya ledak tinggi itu membuat otot-otot lengan Shi Tou menegang hebat, tumit kakinya terseret mundur dua jengkal di atas tanah batu yang membeku. Namun, pria bertato itu menggeram, menancapkan tombaknya menembus celah bawah perisai dan mengocok perut salah satu serigala hingga darah biru membeku menyembur deras.
"Satu mati!" Teriak Shi Tou dengan napas memburu.
Di belakang Shi Tou, Lu Chen bergerak bagai siluet hantu di tengah kepulan salju. Tanpa bantuan pancaindra penglihatan, pemuda mantan bangsawan itu sepenuhnya mengandalkan gema suara dan getaran lantai batu.
SREK! SREK!
Dua ekor Serigala Duri Es yang mencoba melompati perisai Shi Tou lewat celah atas mendadak tertahan di udara. Belati kembar Lu Chen berputar dalam dua gerakan melingkar yang amat presisi, mengiris tendon leher dan sendi bahu kedua monster itu. Darah es bercucuran, dan tubuh serigala-serigala itu ambruk menghantam lantai sebelum sempat menyentuh Shi Tou.
"Terlalu rapat!" Ucap Lu Chen seraya menyapu darah dari belatinya, matanya memicing menembus kabut es. "Mereka menumpuk tubuh mereka untuk dijadikan batu pijakan melompati perisai!"
"Gunakan panah penanda!" Teriak Ah Xiu dari barisan belakang.
Gadis pemanah itu menarik tiga anak panah sekaligus. Tanpa melihat, jemarinya yang terbalut kain kusam bekerja dengan kecepatan luar biasa.
SWUSH! JLEB! JLEB! JLEB!
Tiga anak panah khusus berujung batu minyak terbakar melesat menembus badai salju di luar celah. Anak-panah itu menancap di tubuh serigala-serigala terdepan, memercikkan api spiritual berwarna jingga yang bertahan di tengah amukan es.
Seketika, siluet puluhan Serigala Duri Es di luar celah terlihat jelas bagaikan bayangan hitam di atas latar belakang api dan salju.
"Bagus, Ah Xiu!" Puji Lu Chen seraya melompat maju, memotong serigala lain yang mencoba menerobos.
Namun kawanan monster tipe es di luar sana tidak mengenal rasa takut. Terdorong oleh insting pembunuh yang tajam dan kondisi cuaca ekstrem yang menguntungkan mereka, puluhan serigala terus merangsek maju, merayap di atas tumpukan bangkai kawan-kawan mereka sendiri demi menerobos masuk ke dalam Pos 4.
Lin Yuan melangkah ke garis paling depan, berdiri persis di samping perisai Shi Tou.
Ia tidak menggunakan senjata tajam. Dalam jarak pandang kusam dengan tumpukan salju yang tebal, kepalan tangan murni dan aura Kera Putih adalah alat pembunuh yang paling efektif.
SREEEET!
Aura *qi* perak membakar pendaran dingin di sekujur lengan Lin Yuan. Suhu tubuhnya mendadak melonjak panas, menciptakan kabut uap mendesis di sekeliling dada bertelanjang dadanya.
Seekor Serigala Duri Es berukuran raksasa—hampir sebesar anak sapi—menerjang dari atas perisai Shi Tou dengan rahang terbuka lebar, mengincar leher Lin Yuan.
Lin Yuan tidak berkedip. Ia menyusupkan tangan kirinya di bawah rahang bawah serigala itu, mencekik lehernya dengan cengkeraman murni yang mampu meremukkan batu, lalu mengayunkan tinju kanannya lurus ke arah dahi monster tersebut.
BOOM!
Pukulan berdaya ledak tinggi dari aura Kera Putih menghantam tengkorak sang serigala. Suara retakan tulang beradu nyaring dengan deru angin badai. Cangkang es dan tulang kepala serigala itu hancur melesak ke dalam, membunuh monster itu seketika di udara.
Tanpa membuang momentum, Lin Yuan mengayunkan bangkai serigala raksasa itu seperti gada, menghantam empat serigala lain yang mencoba merayap masuk dari sisi kiri.
BAM! BAM!
Keempat monster itu terpental keluar celah dinding, menghantam tebing batu di luar sebelum jatuh berguling di dalam badai salju.
SROOOT!
Aliran *Qi* Darah dalam jumlah melimpah meledak dari bangkai-bangkai monster yang tewas di tangan Lin Yuan. Uap merah hangat meluncur cepat menerobos pori-pori kulit Lin Yuan, mengalir bagai sungai lahar kecil di sepanjang meridiannya.
Rasa lelah yang mulai menggerogoti fisiknya menguap seketika. Sebaliknya, pendaran perak di sekujur otot Lin Yuan justru menyala makin padat, memancarkan gelombang kehangatan yang melindungi ketiga rekannya dari hawa beku badai es.
"Maju satu jangkah!" Perintah Lin Yuan dengan suara menggema penuh otoritas.
"Apa?!" Teriak Shi Tou kaget di tengah gemuruh angin. "Maju ke luar celah, Kapten?!"
"Jangan biarkan mereka menumpuk di mulut pintu!" Teriak Lin Yuan balik seraya melompat keluar melintasi celah dinding yang runtuh, berdiri murni di tengah kecamuk badai es luar. "Kita buat barikade dari bangkai mereka sendiri!"
Melihat keberanian gila Lin Yuan, darah Shi Tou membakar panas. Rasa takut akan kematian meluap menjadi keberanian murni. Pria bertato itu meraung keras, menyapu perisai besinya ke depan, dan melangkah keluar menyusul Lin Yuan.
"Aku di belakangmu, Kapten!" Raung Shi Tou seraya menghentakkan kakinya ke tanah es.
Lu Chen tertawa renyah, sebuah tawa liar yang jarang terpancar dari sosok mantannya sebagai bangsawan halus. "Kau benar-benar orang gila, Lin Yuan! Tapi aku suka taktik ini!"
Lu Chen meluncur keluar ke sisi kanan, belatinya menari cepat dalam kegelapan salju, menyasar persendian kaki monster-monster yang melesat mendekat. Sementara dari dalam celah Pos 4, Ah Xiu memberikan perlindungan penuh dari ketinggian, melepaskan anak panah demi anak panah dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.
SWUSH! JLEB! SWUSH! JLEB!
Setiap panah Ah Xiu menembus titik vital monster yang mencoba mengepung posisi Lin Yuan dan Shi Tou dari sudut buta.
Di bawah curahan badai es yang membekukan darah, empat prajurit buangan dari Unit 9 bertarung bagaikan satu mesin pembunuh yang sempurna. Shi Tou berdiri sebagai benteng tak tergoyahkan di tengah, Lu Chen menjadi bayangan pemotong yang lincah di sayap kanan, Ah Xiu menjadi mata malaikat pencabut nyawa dari belakang, dan Lin Yuan... Lin Yuan adalah inti pemangsa yang meremukkan setiap ancaman utama dengan tinju Kera Putihnya.
Satu per satu Serigala Duri Es tumbang. Bangkai-bangkai monster berpunggung duri itu mulai menumpuk di depan celah dinding Pos 4, membentuk sebuah tanggul daging dan es setinggi dua meter yang secara alami menyumbat hempasan badai salju ke dalam pos.
Setengah jam pertumpahan darah brutal berlalu.
Lolongan serigala di luar celah perlahan-lahan meredup, digantikan oleh keheningan malam yang hanya diisi oleh suara deru angin badai yang mulai melemah. Sisa-sisa kawanan monster es yang bertahan akhirnya memilih mundur, melarikan diri menembus ketebalan salju setelah menyadari bahwa empat manusia di depan mereka bukanlah mangsa, melainkan pembantai murni.
Di luar Pos 4, Lin Yuan berdiri di atas tumpukan belasan bangkai Serigala Duri Es.
Tubuh bagian atasnya yang bertelanjang dada dipenuhi oleh bercak darah biru membeku dan uap panas yang keluar dari pori-pori kulitnya. Pendaran aura perak di meridiannya meredup perlahan, masuk kembali ke dalam lautan jiwanya.
Shi Tou terduduk lelah di atas bangkai serigala raksasa, bersandar pada perisai besinya yang kini dipenuhi baretan dalam. Napasnya terengah-engah, memancarkan uap putih tebal. "Kita... kita berhasil bertahan, Kapten?"
Lu Chen menyarungkan belatinya dengan tangan yang sedikit gemetar akibat kelelahan fisik murni. Ia menatap tumpukan bangkai di sekeliling mereka lalu tertawa pelan. "Bertahan? Shi Tou, kita baru saja membantai seluruh kawanan monster es di tengah badai es nol jarak pandang."
Ah Xiu melangkah keluar dari celah Pos 4, memegang busur tulangnya yang kini dingin membeku. Gadis pemanah itu mendatangi Lin Yuan, mengamati wajah pemuda itu dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa hormat dan kehangatan yang amat dalam.
"Kau tidak terluka, Lin Yuan?" Tanya Ah Xiu dengan suara jernih dan lembut.
Lin Yuan mengusap lapisan es tipis dari alisnya, lalu menatap ketiga rekannya satu per satu. Senyum tipis yang amat membumi terukir di bibirnya.
"Aku tidak apa-apa, Ah Xiu," Jawab Lin Yuan tenang seraya melangkah turun dari tumpukan bangkai. "Ambil minyak spiritual dari tas dan nyalakan kembali api di dalam pos. Malam ini kita telah merebut kembali Pos Empat."
Shi Tou dan Lu Chen bangkit dengan senyuman lebar di wajah mereka yang kotor oleh darah dan jelaga. Di tengah malam paling dingin di perbatasan utara, di dalam pos yang hancur dihantam badai dan monster, chemistry serta ikatan persaudaraan Unit 9 telah menempa diri menjadi sekeras baja yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.