Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Strategi Ratih di Meja Makan
Terik matahari yang menyengat sejak pagi akhirnya memaksa rombongan kecil itu mengakhiri kunjungan ke tiga sekolah yang menjadi kandidat lokasi pertandingan bola voli dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Meski lelah, wajah mereka memperlihatkan kepuasan. Setidaknya, mereka telah mendapatkan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi lapangan, fasilitas pendukung, serta berbagai hal yang perlu dipersiapkan sebelum hari perlombaan tiba.
Namun, ada satu persoalan yang jauh lebih mendesak daripada urusan garis lapangan, tiang net, atau daftar peserta. Perut mereka sudah mulai berontak.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum kembali ke balai desa?" usul Arman sambil mengusap keringat di dahinya. "Kalau dipaksakan rapat dalam keadaan begini, saya khawatir yang dibahas malah menu makan siang."
Tawa kecil segera pecah.
"Itu usul paling masuk akal hari ini," sahut Darma. "Sejak tadi saya sudah membayangkan nasi hangat, ayam goreng, sambal, dan segelas es teh."
"Kamu ini memang kalau urusan makan paling bersemangat," goda Joko.
"Lho, memangnya hanya saya? Coba lihat wajah Kapten Reihan. Beliau juga kelihatannya membutuhkan tambahan energi."
Reihan yang sedang memasukkan kunci ke saku celananya hanya tersenyum tipis, "Kalau begitu, kita cari rumah makan yang dekat saja. Setelah makan, baru kita lanjutkan pembahasan."
Ratih segera menyambut usulan itu, “Kebetulan saya tahu tempat yang cocok. Ada rumah makan cukup terkenal di daerah perbatasan, tidak jauh dari jalan utama. Masakannya enak, tempatnya luas, dan biasanya ramai menjelang siang."
"Kalau Bu Kades yang merekomendasikan, saya ikut saja," ujar Arman.
"Baiklah. Kita ke sana sekarang."
Tanpa menunggu lama, rombongan kembali bergerak menuju kendaraan masing-masing. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik keputusan sederhana untuk makan siang bersama, Ratih telah menyusun rencana kecil yang cukup matang. Ia tidak ingin kesempatan berdekatan dengan Reihan berlalu begitu saja.
Rumah makan yang dituju berdiri di tepi jalan utama, di antara deretan pertokoan dan permukiman warga. Bangunannya cukup luas dengan dinding kayu dan atap tinggi yang membuat udara di dalamnya terasa lebih sejuk. Beberapa kipas angin berputar di langit-langit, menghalau hawa panas yang terbawa dari luar.
Aroma masakan langsung menyambut mereka begitu memasuki ruangan. Di atas meja-meja panjang, beberapa pelanggan terlihat menikmati hidangan khas rumahan. Ada ikan goreng, ayam bakar, sayur asam, tumis kangkung, sambal terasi, dan berbagai lauk lain yang tersaji menggugah selera.
Mita yang sejak tadi berusaha menahan lapar spontan mengembuskan napas lega, “Akhirnya ketemu juga dengan makanan," gumamnya pelan.
Darma yang berjalan di sampingnya mendengar ucapan itu, “Wah, Bu Mita ternyata sudah hampir kehilangan kesabaran."
"Bukan kehilangan kesabaran, Pak Darma. Kehilangan tenaga," jawab Mita sambil tertawa. "Dari pagi kita berkeliling lapangan, berdiri di bawah matahari, mengukur ini dan itu. Kalau tidak segera makan, saya khawatir nanti malah pingsan di balai desa."
"Kalau begitu, nanti saya usulkan agar dalam anggaran kegiatan tujuh belasan ada pos khusus untuk vitamin plus guru PJOK," canda Darma.
"Setuju! Tapi jangan hanya untuk guru PJOK. Semua panitia juga harus kebagian," balas Joko menimpali.
Ketiganya tertawa bersama. Beberapa langkah di belakang mereka, Reihan memperhatikan percakapan itu dengan senyum samar. Ia senang melihat Mita bisa tertawa lepas setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Namun, kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama ketika Ratih tiba-tiba mengambil inisiatif mengatur tempat duduk.
"Silakan, semuanya. Kita duduk di meja panjang yang dekat jendela saja. Tempatnya lebih nyaman," kata Ratih.
Ia kemudian menunjuk kursi yang berada di sisi kanan meja, “Mas Rei, duduk di sini saja. Biar bersebelahan sama saya. Nanti kita bisa sekalian membicarakan tindak lanjut kunjungan tadi."
Reihan sempat melirik ke arah Mita yang sedang meletakkan tas ranselnya di atas kursi kosong. Ia sebenarnya berharap bisa duduk tidak jauh dari perempuan itu, setidaknya agar mereka dapat berbincang selama makan siang.
Namun, sebelum sempat menentukan tempat duduk, Ratih telah menarik kursi untuknya, “Duduklah, Mas. Jangan sungkan."
Dengan sikap sopan, Reihan akhirnya menuruti permintaan tersebut. Tak etis ia menolak di depan semua orang yang mengarahkan pandangan pada mereka berdua, temasuk mata bening itu, "Terima kasih, Bu Ratih."
Ratih tampak puas. Ia segera duduk di samping Reihan, seolah posisi itu memang telah disiapkannya sejak awal.
Sementara itu, Mita sama sekali tidak mempersoalkan susunan kursi. Baginya, urusan siapa duduk di sebelah siapa bukanlah hal penting. Selama tersedia makanan dan tempat duduk yang nyaman, ia tidak memiliki alasan untuk mengeluh.
Ia justru sibuk mencari posisi yang memudahkannya menjangkau hidangan.
Kebetulan, sebuah kursi kosong berada di antara Darma dan Joko.
"Nah, di sini saja," ujar Darma sambil menggeser kursinya sedikit. "Biar Bu Mita tidak perlu berjalan jauh kalau mau mengambil makanan."
"Terima kasih, Pak Darma." Mita duduk di tempat itu, lalu meletakkan tas kecilnya di sisi kursi.
Joko mengambil daftar menu dan mulai membaca beberapa pilihan lauk, "Bu Guru biasanya suka ikan atau ayam?"
Mita mengangkat wajah, "Apa saja boleh, Pak Joko. Yang penting nasinya banyak."
Darma langsung tertawa.
“"Ini baru jawaban orang yang benar-benar lapar! Tapi jangan panggil pak dong, dinas luar … mas aja. Saya pun belum terlalu tua…” komen Joko sambil tersenyum penuh arti.
Mita tersenyum mendengar ucapan Joko, tanpa menyadari bahwa seseorang di seberang meja memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Reihan.
Kapten muda itu berusaha mempertahankan ekspresi tenang. Namun, ada rasa kecewa yang diam-diam mengendap ketika menyadari bahwa dirinya harus duduk berjauhan dari Mita, sementara perempuan itu justru berada diapit dua pria yang tampaknya cukup nyaman berbincang dengannya.
“Kenapa harus duduk di sana?” Pertanyaan itu terlintas begitu saja. Reihan segera menggeleng kecil, menyadari betapa konyolnya pikiran tersebut.
Bukankah Mita bebas memilih tempat duduk? Lagi pula, mereka tidak memiliki hubungan apa pun yang memberinya hak untuk mengatur siapa yang boleh duduk di dekat perempuan itu.
Ia pun kembali memusatkan perhatian pada meja makan. Setidaknya, ia masih bisa melihat Mita dari tempatnya duduk. Dan entah mengapa, hal itu terasa cukup penting baginya.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai mengantarkan hidangan. Piring-piring besar berisi ikan goreng, ayam bakar, tumis kangkung, sayur bening, sambal, dan lalapan memenuhi meja. Nasi putih mengepul dalam wadah besar, mengundang selera siapa pun yang melihatnya.
Ratih segera mengambil piring untuk Reihan, “Mas mau ayam bakar atau ikan goreng?"
"Keduanya boleh, Bu. Saya tidak terlalu memilih makanan,” Reihan menjawab datar.
"Kalau begitu, coba ayam bakarnya. Di sini terkenal enak,“ Ratih mengambilkan sepotong ayam, meletakkannya di piring Reihan, kemudian menambahkan sedikit tumis kangkong, "Sayurnya juga jangan lupa. Aktivitas Mas pasti padat. Harus menjaga kesehatan."
"Terima kasih, Bu. Tidak perlu repot-repot," Reihan tidak ingin memberikan peluang pada Ratih yang memberikan perhatian ekstra padanya, agar tidak terjadi kesalah pahaman ke depannya.
"Ah, tidak repot, kok. Kebetulan saya memang senang melayani tamu."
Ratih mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum manis.
Yani, yang duduk tidak jauh dari mereka, menyaksikan interaksi tersebut dengan wajah cerah. Sejak awal ia memang berharap Ratih dan Reihan bisa semakin dekat. Menurutnya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan baik, penampilan menarik, serta kepribadian yang cocok untuk membangun hubungan serius.
"Kalau melihat Bu Ratih dan Kapten Reihan begini, rasanya menyenangkan juga," bisik Yani kepada seorang rekan di sampingnya.
"Kenapa?"
"Ya, siapa tahu ada kecocokan. Bu Ratih juga masih sendiri, Kapten Reihan pun kabarnya belum punya pasangan."
Yani tersenyum penuh harap. Ia mengambil ponsel di tas kecil. Ingin mengabadikan momen spesial Ratih dengan lelaki yang telah mencuri perhatiannya. Ia berpura-pura menelpon padahal ponselnya telah mengambil beberapa gambar yang angle-nya sangat pas. Yani tersenyum puas melihat hasil kamera ponselnya.
Di sisi lain, Reihan menanggapi perhatian Ratih dengan sopan, tetapi tidak berlebihan. Ia tetap mengambil sendiri gelas minumnya, sesekali menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan, dan mengucapkan terima kasih setiap kali Ratih menawarkan sesuatu.
Sikapnya tidak kasar. Ia hanya tidak memberikan respons yang bisa dianggap sebagai isyarat ketertarikan.
Sayangnya, Ratih tidak mudah menyerah, "Mas, kalau tidak salah, tugas di wilayah ini cukup padat, ya?" tanyanya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas Reihan.
"Ya, Bu. Ada beberapa hal yang memang harus kami pantau secara berkala."
"Kalau begitu, pasti sulit mencari waktu untuk beristirahat."
"Selama bisa mengatur waktu, semuanya masih bisa dijalani."
"Berarti Mas harus punya seseorang yang mengingatkan untuk menjaga kesehatan."
Reihan menghentikan gerakan tangannya sesaat. Ia memahami arah pembicaraan tersebut. “Benar, Bu. Keluarga biasanya selalu mengingatkan hal-hal seperti itu."