NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Rumus Matematika dan Sisi Lain Arkan

Malam semakin larut di. Selepas makan malam dengan menu sayur lodeh dan ikan asin yang ternyata lahap dihabiskan oleh Arkan, suasana rumah pedesaan milik Mbah Harjo kembali tenang. Arkan duduk di meja belajar kayu kecil yang terletak di sudut ruang tengah, mencoba mengistirahatkan tangan kanannya yang masih terbalut kain kasa. Namun, pandangannya terusik oleh helaan napas frustrasi yang berulang kali terdengar dari arah meja makan.

Di sana, Reno sedang duduk dengan kepala yang ditopang kedua tangan. Di depannya tergelar sebuah buku paket matematika tebal dan beberapa lembar kertas coret-coretan yang sudah penuh dengan angka-angka acak yang kusut. Remaja yang biasanya ceria dan penuh rasa ingin tahu itu kini tampak layu, wajahnya ditekuk masam menatap deretan rumus aljabar dan geometri yang seolah siap melompat untuk mencekiknya.

"Gusti... kenapa susah sekali sih rumus ini? Kalau begini caranya, besok aku bisa remedial lagi dan bapak pasti akan mengomel semalaman," gumam Reno frustrasi, mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan stres.

Pak Barkah yang sedang menikmati kopi hitam bersama Mbah Harjo di teras luar hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak laki-lakinya. Sebagai petani, Pak Barkah tentu kesulitan jika harus membantu menjelaskan materi matematika kuantitatif tingkat SMA yang sudah modern seperti sekarang.

Arkan yang sejak tadi memperhatikan dalam diam akhirnya berdiri dari duduknya. Langkah kaki jangkungnya bergerak mendekati meja makan. Dengan gaya angkuhnya yang tipis namun kini terasa lebih bersahabat, ia berdiri di samping kursi Reno, melirik lembar soal yang membuat remaja itu frustrasi.

"Logika berpikirmu salah sejak awal, Reno," cetus Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. "Kamu mencoba menghafal rumusnya, bukan memahami polanya. Itu soal matriks dan fungsi kuadrat, metode yang kamu pakai terlalu berbelit-belit."

Reno mendongak dengan mata berbinar kaget sekaligus penuh harapan. "Mas Arkan bisa matematika? Aduh, tolongin Reno, Mas! Kepala Reno rasanya mau pecah. Guru di sekolah menjelaskannya cepat sekali, Reno tidak paham-paham sejak minggu lalu."

Arkan menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di sebelah Reno. Pria berusia dua puluh lima tahun itu meraih sebuah pulpen dengan tangan kirinya yang sehat. Meskipun harus menulis dengan tangan kiri karena tangan kanannya terluka, gerakan jari-jarinya tetap terlihat cekatan. Arkan adalah lulusan sarjana bisnis tingkat atas dari universitas luar negeri ternama di Jakarta. Baginya, matematika tingkat menengah seperti ini adalah hal yang terlalu mendasar di luar kepala.

"Lihat ini," perintah Arkan dengan nada suara tegas seperti seorang mentor bisnis. "Jangan lihat angka besarnya dulu. Pecah persamaannya menjadi dua bagian. Sifat matriks itu punya pola simetris. Kalau kamu pakai rumus cepat dari saya ini, kamu tidak perlu mengalikan angka-angkanya sampai sepanjang halaman."

Arkan mulai menuliskan coretan angka dengan rapi, menjabarkan langkah demi langkah penyelesaian soal dengan bahasa yang sangat sederhana, runtun, dan mudah dicerna oleh otak remaja seumur Reno. Tidak ada lagi sisa keangkuhan kaku yang menyebalkan dalam nada bicaranya. Yang ada hanyalah fokus dan kecerdasan murni seorang pria berpendidikan tinggi yang sedang membagikan ilmunya.

Reno memperhatikan setiap gerakan pulpen Arkan dengan mulut sedikit terbuka. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, soal rumit yang sejak tadi membuatnya stres langsung terjawab dengan hasil yang sangat akurat.

"Wah!! Gila, keren banget, Mas!" pekik Reno heboh dengan mata melotot takjub. "Pakai cara Mas Arkan cuma butuh tiga baris coretan! Di buku paket ini caranya sampai sepanjang satu halaman penuh! Mas Arkan beneran jenius ya!"

Arkan hanya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat samar, namun egonya sebagai pria kota yang cerdas merasa cukup puas melihat ekspresi takjub Reno. "Itu karena otakmu terlalu malas untuk mencari jalan pintas yang logis. Ayo lanjut ke soal berikutnya, biar saya tunjukkan pola dasarnya lagi."

Dari arah pintu teras luar, Pak Barkah dan Mbah Harjo diam-diam memperhatikan interaksi kedua anak muda itu dengan senyuman tipis yang penuh arti. Pak Barkah menatap punggung tegap Arkan dengan pandangan yang mulai berubah, dari yang awalnya menganggap Arkan hanya sebagai pemuda manja pembuat onar, kini mulai melihat sisi lain yang sangat potensial dan cerdas dari dalam diri sang Tuan Muda.

"Bramantyo tidak bohong soal otak anaknya," bisik Pak Barkah pelan pada Mbah Harjo, sambil menyesap sisa kopinya. "Anak itu sebenarnya sangat pintar dan punya masa depan cerah, hanya saja selama ini dia tersesat di tengah pergaulan kota yang salah."

Mbah Harjo mengangguk pelan penuh kebijaksanaan. "Setiap manusia punya takdir dan tempat belajarnya masing-masing, Barkah. Di kota, Arkan mungkin hanya belajar bagaimana cara membuang-buang uang. Tapi di desa kita ini, dia perlahan belajar bagaimana cara menggunakan kelebihannya untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Prosesnya sedang berjalan dengan sangat baik."

Hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Arkan tetap setia duduk di samping Reno, mengajari remaja itu berbagai trik cepat matematika dengan sabar yang tak terduga. Bude Lastri yang melihat hal itu bahkan sampai mengantarkan sepiring singkong goreng hangat dan dua gelas susu putih sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena anaknya sudah dibantu belajar.

Setelah Reno pamit masuk ke kamar dengan wajah ceria dan penuh percaya diri untuk menghadapi ujian esok pagi, Arkan membereskan alat tulis di atas meja. Sebelum ia beranjak berdiri, Pak Barkah berjalan mendekat lalu menepuk pundak jangkung Arkan dengan mantap.

"Terima kasih sudah membimbing Reno malam ini, Arkan. Kulit tanganmu boleh saja masih tipis dan melepuh di ladang, tapi isi kepalamu beneran terbukti berguna di rumah ini," ucap Pak Barkah dengan nada suara tulus tanpa ada lagi intimidasi kaku seperti hari-hari sebelumnya.

Arkan menatap Pak Barkah, lalu menganggukkan kepalanya sedikit. "Sama-sama. Lagipula Reno anak yang cepat tangkap kalau diberi stimulus pola yang benar," jawab Arkan dengan nada yang matang dan rendah hati.

Malam itu, saat Arkan kembali berbaring di atas kasur kapuk kamarnya yang sederhana, rasa pegal di tubuhnya entah kenapa tidak lagi terasa menyiksa seperti malam pertama. Di dalam keheningan kamar yang pengap, sebuah perasaan damai yang baru dan belum pernah ia rasakan selama hidup di apartemen mewah Jakarta perlahan-lahan mulai merayap di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Desa ini mulai membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun, di sela-sela kepuasan batinnya malam itu, bayangan wajah manis Nayla yang sedang tertawa lepas di warung kelontong sore tadi mendadak kembali melintas di benak Arkan. Jantung sang Tuan Muda kembali berdesir dengan ritme yang aneh sebelum akhirnya ia terlelap dalam tidur yang nyenyak, tidak menyadari bahwa esensi kehadirannya di desa ini akan segera membawa perubahan yang jauh lebih besar bagi kehidupan seorang gadis desa yang berwajah cantik itu.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!