Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Gedung pencakar langit Mahendra Group berdiri megah di kawasan pusat bisnis Jakarta. Kaca-kaca tingginya memantulkan pendar sinar matahari pagi, memancarkan keagungan sebuah imperium bisnis bernilai triliunan rupiah.
Namun bagi Naya, melangkah kembali menembus pintu kaca otomatis gedung ini terasa bagaikan menyerahkan diri ke dalam mulut singa.
Dengan kemeja biru muda yang sederhana dan rok kain hitam di bawah lutut, Naya berjalan menelusuri koridor lantai eksekutif, lantai lima belas yang hanya diisi oleh jajaran direksi dan ruang kerja sang CEO. Langkah kakinya berbunyi pelan di atas karpet tebal bernuansa abu-abu gelap.
"Naya!"
Sebuah suara hangat dan teramat familiar memanggil namanya dari arah lift. Naya memutar tubuhnya dan seketika tersenyum lebar.
Pria bertubuh tinggi dengan kacamata berbingkai tipis dan senyum manis melangkah menghampirinya. Aris, Manajer HRD yang selalu menjadi pahlawan pelindung bagi para staf biasa, menatap Naya dengan binar mata lega.
"Mas Aris!" sapa Naya jujur, merasa seperti menemukan oase di tengah padang pasir. "Terima kasih banyak ya, Mas. Kalau bukan karena Mas Aris yang merekomendasikan saya kembali, mungkin saya sudah gigit jari di rumah."
Aris tertawa renyah, sebuah tawa yang begitu menenangkan. "Kamu ini bicara apa, Naya? Justru perusahaan yang harus terima kasih. Sistem arsip digital proyek pembebasan lahan itu cuma kamu yang paling paham alurnya. Pas tahu Pak Raka setuju panggil kamu lagi, saya langsung lega setengah mati."
Aris melangkah mendekat, lalu dengan sangat alami dan perhatian, tangannya terangkat untuk membetulkan tali ID card Naya yang agak terbalik di dadanya. "Rambutmu juga sedikit berantakan. Berat ya seminggu kemarin setelah kejadian pemecatan itu?"
Naya agak tersipu dengan perhatian kecil itu, namun ia menggeleng cepat. "Agak kaget saja, Mas. Tapi sekarang saya sudah siap bekerja lagi."
Mereka berdua tidak menyadari bahwa di ujung koridor, sebuah pintu jati berukir sedikit terbuka.
Dari balik celah pintu ruang kerja CEO, sepasang mata elang menatap pemandangan itu dengan kilatan amarah yang mendadak membakar dada. Raka berdiri tegap di balik pintunya, memegang cangkir kopi hitamnya dengan genggaman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Melihat jemari Aris merapikan tali ID card Naya, serta senyuman lebar dan manis yang terpancar dari wajah Naya untuk Aris, membuat suhu tubuh Raka mendadak memuncak. Senyuman yang sama sekali tidak pernah Naya berikan padanya! Di depan Raka, wanita itu hanya tahu cara cemberut, menatap benci, atau memberikan senyuman mengejek yang menyebalkan.
Wanita tidak tahu diri, batin Raka menggeram kasar. Baru satu jam keluar dari apartemen, sudah tebar pesona sama pria lain! Lupa kalau statusnya itu istri sahku meskipun cuma kontrak?!
Raka mendorong pintu ruang kerjanya hingga terbuka lebar dengan bunyi brakk yang cukup keras, memotong percakapan hangat di lorong tersebut.
Naya dan Aris terlonjak kaget. Mereka memutar kepala dan mendapati sang CEO sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah sepucat es dan tatapan membunuh yang tertuju lurus... ke arah Aris.
"Sekretaris Aris," panggil Raka dengan suara rendah, berat, dan teramat dingin hingga sanggup membekukan udara di koridor.
Aris dengan sigap menunduk hormat. "Ya, Pak Raka? Ada arahan khusus?"
Raka melangkah keluar dari ruangannya dengan gaya angkuh, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana bahan mewahnya. Pria itu mengabaikan keberadaan Naya sepenuhnya, seolah-olah Naya hanyalah selembar kertas kosong, namun pandangannya mengunci Aris dengan aura intimidasi yang sangat pekat.
"Apakah tugas HRD sekarang bertambah menjadi pengasuh staf baru?" sindir Raka tajam, nada bicaranya menusuk tanpa rasa belas kasihan. "Ini lantai eksekutif, Aris. Bukan tempat untuk mengobrol santai atau tebar perhatian konyol di jam kerja."
Wajah Aris sedikit memerah karena teguran bernada merendahkan itu, namun ia tetap berusaha profesional. "Mohon maaf, Pak Raka. Saya hanya memastikan Naya mendapatkan orientasi tugasnya dengan benar sebelum mulai mengerjakan berkas."
"Tugasnya adalah urusan saya, bukan urusanmu," potong Raka cepat tanpa memberikan ruang sanggahan. "Kembali ke lantaimu sekarang. Laporan evaluasi kinerja divisi operasional triwulan ini harus ada di meja saya sebelum jam satu siang."
"B-baik, Pak Raka. Saya permisi dulu," pamit Aris ragu-ragu. Pria itu melirik Naya sekilas, memberikan tatapan 'semangat' melalui matanya, sebelum akhirnya berbalik menuju lift.
Sepeninggal Aris, suasana di koridor lantai lima belas mendadak menjadi sangat kaku dan senyap. Naya berdiri merapat ke dinding, mengepalkan jemarinya menahan kekesalan. Sikap arogan Raka pada Aris benar-benar membuat darahnya mendidih.
"Ikut aku masuk," perintah Raka dingin tanpa menoleh sedikit pun, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas.
Naya menghela napas panjang, mengelus dadanya berusaha bersabar, lalu menyusul langkah pria itu masuk ke dalam ruangan berkaca besar tersebut. Pintu kayu tebal itu tertutup otomatis di belakang mereka, mengunci mereka berdua dalam ruangan privat yang sangat luas.
Begitu pintu tertutup, Naya langsung meluapkan kekesalannya. "Pak Raka! Apa-apaan sikap Anda tadi?! Mas Aris cuma membantu saya membetulkan tali ID card dan menjelaskan tugas! Kenapa Anda harus membentak dan memberi dia tugas menumpuk seperti itu?!"
Raka berjalan menuju meja kerja mahagoninya yang megah, lalu mendudukkan dirinya di kursi kulit hitam berdesain ergonomis. Pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertaut, menatap Naya dengan pandangan yang teramat dingin dan penuh rasa jijik yang dibuat-buat.
"Lupa pada aturan main kita, Naya Kanindita?" bisik Raka dengan nada suara yang begitu tenang namun berbahaya.
"Aturan yang mana?!" Naya bersedekap dada, menatap sang bos dengan tajam.
"Di kantor, kamu adalah staf sementara di bawah pengawasanku," tegas Raka. "Dan di luar kantor, kamu adalah istriku. Melihat seorang istri beramah-tamah dan tersenyum centil pada pria lain di depan mata suaminya sendiri ... menurutmu itu pantas?"
Naya melotot tidak percaya dengan tuduhan absurd tersebut. "Tersenyum centil?! Mas Aris itu orang baik yang ramah pada semua orang! Tidak seperti Anda yang selalu cemberut seperti teko air mendidih! Lagipula, kita ini menikah kontrak! Anda sendiri yang bikin aturan di Pasal 12 kalau tidak boleh melibatkan perasaan! Kenapa sekarang Anda yang sewot melihat saya bicara sama Mas Aris?!"
Kata 'sewot' dan tuduhan melibatkan perasaan menghantam gengsi Raka yang setinggi langit. Wajah sang CEO sedikit mengeras, matanya menyipit penuh amarah yang tertahan.
"Jatuh cinta padamu? Cemburu?" Raka tertawa sinis, sebuah tawa meremehkan yang sangat dibuat-buat demi menutupi gejolak aneh di dadanya. "Jangan terlalu percaya diri, Naya. Aku hanya tidak ingin reputasiku tercoreng kalau sampai ada rumor staf sementara di lantai eksekutif menggoda Manajer HRD. Itu merusak citra profesionalisme Mahendra Group."
"Alasan konyol!" cibir Naya tajam. "Bilang saja Anda memang senang melihat orang lain menderita!"