Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KDRT
Yoselin melangkah perlahan memasuki rumah besar yang pintunya tidak dikunci. Langkah kakinya terasa amat berat, menyusuri lantai marmer yang dingin. Efek dari begadang selama dua malam tiga hari tanpa tidur yang cukup membuat tubuh Yoselin berada di ambang batas kelelahan. Pikirannya kosong, dan yang ada di dalam kepalanya saat ini hanyalah keinginan untuk segera merebahkan diri.
Dengan langkah santai dan lesu, ia menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai dua, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.
Namun, tepat di detik ia melintasi ambang pintu kamar yang remang, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan amat keras. Yoselin tersentak kaget. Sebelum sempat bersuara, tubuhnya ditarik secara kasar.
Pelakunya adalah Edward.
"E-Edward? Kenapa kamu ada di rumah?" tanya Yoselin terbata-bata, bingung melihat kehadiran suaminya.
Namun, respon Edward benar-benar di luar dugaan. Tatapan mata pria itu memerah, dipenuhi kemurkaan dan kegilaan yang tak terkendali. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Edward mendorong tubuh Yoselin dengan kasar hingga wanita itu terhempas ke atas tempat tidur king size.
Belum sempat Yoselin membetulkan posisinya yang tidak siap, Edward sudah menindih tubuh mungil itu, mengunci kedua tangannya di atas kepala.
Napas Edward memburu kasar di atas wajah Yoselin. Saat jarak mereka begitu dekat, indra penciuman Edward menangkap aroma parfum woody-spicy pria mahal yang menguar kuat dari gaun rose gold yang dikenakan Yoselin, aroma khas milik Javier Vernand Romero.
"Sialan!" umpat Edward meluapkan amarahnya, suaranya menggelegar memenuhi kamar.
Yoselin terperanjat, matanya membelalak lebar. Ini adalah pertama kalinya selama dua tahun pernikahan mereka ia melihat Edward semarah dan sebrutal ini.
"Edward, lepaskan aku! Apa-apaan kamu ini?!" jerit Yoselin mencoba meronta.
"Apa-apaan katamu?!" bentak Edward dengan urat-urat leher yang menegang. Pria itu menatap Yoselin dengan tatapan nyalang yang sangat menghina.
"Aku yang harusnya bertanya padamu, Yoselin! Dari mana saja kamu jam dua malam begini, hah?! Mengenakan gaun terbuka ini dan beraroma parfum pria lain!"
"Aku baru saja pulang dari acara kantor V. Corp! Lepaskan aku, ini sakit!" ringis Yoselin memohon.
"Acara kantor atau habis melayani pria itu?!" cemooh Edward dengan senyuman paling sinis dan merendahkan yang pernah ada.
"Pria di telepon tadi bilang kamu ketiduran karena kelelahan menghadapi kekuatannya! Jalang! Berani sekali kamu menjual dirimu pada Javier Vernand Romero!"
Yoselin membeku, dadanya dihantam rasa tidak percaya dan sakit hati yang luar biasa atas tuduhan keji itu.
"Apa yang kamu bicarakan, Edward?! Aku tidak pernah melakukan hal sehina itu! Jaga ucapanmu!"
"Jangan berakting sok suci di depanku, Yoselin!" maki Edward makin menjadi-jadi, matanya berkilat penuh dendam dan kebencian.
"Kamu itu tidak lebih dari wanita murahan! Wanita murahan yang rela melebarkan kakinya untuk pria lain hanya karena tidak mendapatkan perhatian dariku!"
"Edward! Cukup!" pekik Yoselin histeris, air mata mulai menetes di sudut matanya.
"Aku bukan wanita murahan! Lepaskan aku!"
Yoselin memberontak hebat, memutar tubuhnya dan menendang-nendang untuk melepaskan diri. Namun, tenaga Yoselin yang sedang lelah bukan tandingannya. Edward yang telah dikuasai cemburu dan amarah buta semakin mempererat kuncian tangannya.
Tanpa belas kasihan, Edward menundukkan wajahnya dan mencium bibir Yoselin secara kasar dan paksa. Ciuman itu tidak mengandung rasa cinta sedikit pun, hanya paksaan, gigitan, dan kebrutalan yang bertujuan untuk menghancurkan.
Yoselin menangis tersedu-sedu, berusaha memalingkan wajahnya. Ia merasa sangat dilecehkan, direndahkan, dan diinjak-injak harga dirinya oleh pria yang berstatus sebagai suaminya sendiri. Yoselin tidak tahu apa salahnya hingga Edward tega memperlakukannya sekejam ini.
"Bukankah hal seperti ini yang kamu inginkan selama ini dari suamimu, Yoselin?!" bisik Edward sinis tepat di depan bibir Yoselin yang terluka.
"Kamu berpura-pura menjadi istri yang manis selama dua tahun hanya untuk mendapatkan sentuhanku, kan?! Sekarang aku berikan!"
"Lepas! Kamu monster, Edward! Lepaskan aku!" jerit Yoselin sekuat tenaga seraya berhasil membebaskan satu tangannya dan menampar pipi Edward.
Plak!
Suara tamparan itu menggelegar di dalam kamar.
Tindakan balasan dari Yoselin justru membakar habis sisa akal sehat Edward. Tatapan mata pria itu berubah gelap sepenuhnya.
PLAK!
Tanpa ragu, Edward melayangkan tamparan yang sangat kuat ke pipi Yoselin. Kepala Yoselin terlempar ke samping, rasa panas dan remuk seketika menjalar di wajahnya. Sudut bibir bawah Yoselin pecah dan mengeluarkan darah segar yang mengalir ke dagunya.
Yoselin meringis kesakitan, rintihan penderitaan keluar dari tenggorokannya. Namun, aksi gila Edward tidak berhenti di sana.
Edward yang sudah kerasukan iblis amarah memutar tubuh Yoselin, lalu mendaratkan jemari tangannya yang kekar tepat di leher mungil Yoselin. Edward mencekik leher istrinya erat-erat, menekan saluran pernapasan wanita itu ke atas kasur.
"Ugh... E-Edward..." Yoselin tercekat.
Napasnya tertahan seketika. Tidak ada udara atau oksigen yang bisa masuk ke dalam paru-parunya. Wajah Yoselin yang semula pucat perlahan berubah menjadi memerah, lalu membiru karena kehabisan napas. Pemandangan di depannya mulai kabur dan membayang.
Dengan sisa kekuatan yang hampir habis, kedua tangan Yoselin yang gemetar memukul-mukul lengan dan dada bidang Edward, memohon belas kasihan agar pria itu menyudahi siksaannya. Namun Edward menatapnya dengan dingin, terus menekan leher itu tanpa berniat melepaskannya.
Kesadaran Yoselin perlahan mulai meredup. Di antara ambang kematian dan rasa sakit yang luar biasa, bulir-bulir air mata yang begitu panas mengalir deras dari sudut matanya, membasahi jemari tangan Edward yang sedang mencekiknya.
Tetesan air mata yang hangat dan kepasrahan di mata Yoselin yang mulai kehilangan binar kehidupan mendadak menghantam kesadaran Edward seperti sengatan listrik.
Edward tersentak. Manik matanya membelalak lebar melihat wajah membiru Yoselin dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Astaga..." bisik Edward gemetar.
Seketika itu juga, Edward melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Yoselin. Pria itu mundur menjauh, melompat turun dari atas tempat tidur dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Uhuk! Uhuk... Hah... Hah..."
Yoselin terbatuk-batuk hebat, menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang terasa membakar. Tubuhnya terkulai lemas dan tanpa daya di atas ranjang. Suara tangisan pilu dan trauma yang amat dalam pecah dari tenggorokannya, memenuhi kamar yang mencekam itu.
Edward berdiri mematung di samping ranjang, menatap kedua tangannya sendiri yang gemetar dengan raut wajah pucat pasi dan penuh ketakutan atas apa yang baru saja ia lakukan.
"Y... Yoselin...!" panggil Edward dengan suara bergetar dan kaku, melihat kondisi istrinya yang sangat berantakan dan bersimbah air mata.
Edward mencoba melangkah mendekat. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, berniat untuk menyentuh dan memeriksa keadaan Yoselin.
"Yoselin, aku... aku tidak bermaksud—"
Namun, baru saja tangan Edward terulur mendekat, Yoselin langsung memeluk tubuhnya sendiri dan menyusut ketakutan ke sudut tempat tidur.
"J-Jangan menyentuhku! Pergi! Jangan mendekat!" jerit Yoselin histeris dengan suara serak, matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat pada sosok pria di hadapannya.
Edward membeku di tempatnya, menatap jemarinya sendiri yang ternoda sedikit darah Yoselin, menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan apa yang tersisa dari wanita yang selama ini diam-diam selalu menjaganya.
Bersambung...