NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Hal Kecil yang Mulai Berarti

Pagi itu, Alisha Amanda sudah berada di dapur ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Ia sedang menyiapkan sarapan sederhana sambil sesekali memeriksa ponselnya. Rumah sakit baru saja mengirimkan pengingat mengenai jadwal pemeriksaan Ratih Amanda minggu depan. Alisha memastikan tanggalnya sudah tercatat, kemudian memasukkan ponsel ke saku.

Adrian Mahendra muncul dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Rambutnya tertata rapi, sementara sebuah jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.

"Kamu sudah bangun sejak tadi?" tanyanya.

Alisha menoleh.

"Iya. Aku harus berangkat lebih awal hari ini karena ada pesanan yang perlu disiapkan."

Adrian menarik kursi di meja makan.

"Pesanan sebanyak apa?"

"Cukup banyak. Ada pesanan roti dan beberapa kue untuk sebuah kantor."

"Kalau begitu, jangan sampai terlambat makan."

Alisha meletakkan sepiring telur dan roti di hadapannya.

"Aku akan makan saat istirahat."

Adrian mengangkat pandangan.

"Maksudku, jangan terlalu sibuk sampai lupa makan."

Alisha tersenyum kecil.

"Aku tahu. Aku akan berusaha mengingatnya."

Adrian tidak melanjutkan percakapan. Ia mulai sarapan sambil membaca pesan yang masuk ke ponselnya.

Mereka makan dalam keheningan yang tidak terasa canggung.

Beberapa menit kemudian, Alisha selesai lebih dahulu. Ia mengambil tasnya dan memeriksa sekali lagi apakah dompet serta ponselnya sudah dibawa.

"Aku berangkat dulu."

Adrian mengangguk.

"Hati-hati."

Alisha berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia sempat membukanya, Adrian kembali memanggil.

"Alisha."

Ia menoleh.

"Ya?"

"Kalau kamu membutuhkan kendaraan untuk pergi ke rumah sakit minggu depan, beri tahu aku lebih awal."

Alisha terdiam sesaat sebelum mengangguk.

"Baik. Terima kasih."

Setelah itu, ia meninggalkan rumah.

Adrian memperhatikan pintu yang kembali tertutup, lalu menunduk menatap sarapannya.

Ia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ia sering menawarkan bantuan kepada Alisha. Padahal, sejak awal mereka sudah sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing lebih dari yang diperlukan.

Namun, ketika mengingat kondisi Ratih yang masih membutuhkan pemeriksaan rutin, ia merasa tidak ada salahnya membantu jika memang diperlukan.

Adrian menghabiskan sarapannya dan berangkat ke kantor.

Baginya, semua itu masih bagian dari tanggung jawab.

Ia belum menyadari bahwa perhatian yang awalnya diberikan karena kewajiban perlahan mulai menjadi kebiasaan.

---

Suasana Sweet Morning Bakery sudah ramai ketika Alisha tiba.

Aroma roti yang baru dipanggang memenuhi ruangan. Mira sedang memeriksa daftar pesanan, sementara Rani melayani pelanggan yang mulai berdatangan.

"Alisha, akhirnya kamu datang!" seru Mira ketika melihatnya.

"Memangnya ada apa?"

Mira menunjukkan daftar pesanan yang cukup panjang.

"Kita mendapat pesanan tambahan dari kantor di dekat sini. Semuanya harus selesai sebelum pukul sebelas."

Alisha segera meletakkan tasnya di tempat penyimpanan.

"Baik. Bagian mana yang harus kubantu?"

"Kamu periksa jumlah rotinya dulu. Setelah itu, bantu aku menyiapkan kotak kue."

Alisha mengangguk dan langsung bekerja.

Pagi itu berjalan lebih sibuk daripada biasanya. Mereka harus memastikan setiap pesanan sesuai dengan daftar, mulai dari jenis roti, jumlah, hingga nama penerima.

Ketika salah satu kotak hampir tertukar dengan pesanan lain, Alisha segera menyadarinya.

"Tunggu, Mira. Sepertinya label yang ini salah."

Mira menghampiri dan memeriksa kotak tersebut.

"Benar juga. Untung kamu melihatnya."

Alisha mengganti label yang keliru, lalu memastikan seluruh pesanan sudah sesuai.

"Sudah selesai. Sekarang bisa langsung dikirim."

Mira tersenyum lega.

"Terima kasih, Lis. Kalau kamu tidak teliti, kita bisa salah mengirim pesanan."

"Tidak apa-apa. Kita memang harus memeriksanya sebelum dikirim."

Rani yang mendengar percakapan itu ikut menimpali.

"Kalau semua pesanan selesai tepat waktu, nanti kita bisa istirahat tanpa terburu-buru."

Mereka bertiga tertawa kecil sebelum kembali bekerja.

Bagi Alisha, kesibukan seperti ini justru membuat waktu berjalan lebih cepat. Ia menyukai pekerjaannya, terutama ketika berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik.

Meski penghasilannya belum besar, ia ingin terus belajar agar suatu hari nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Ia tidak ingin selamanya berada dalam keadaan sulit.

Terlebih, ia ingin bisa memberikan kehidupan yang lebih nyaman bagi ibunya.

---

Menjelang siang, Alisha akhirnya mendapatkan waktu istirahat.

Ia duduk di kursi belakang toko bersama Mira dan Rani, lalu membuka bekal yang dibawanya dari rumah.

Rani memperhatikan Alisha yang sedang memeriksa ponselnya.

"Kamu sedang menunggu pesan dari seseorang?"

Alisha mendongak.

"Tidak. Aku hanya memeriksa pesan dari rumah sakit."

"Oh, bagaimana kabar ibumu?"

"Sejauh ini baik. Minggu depan ada pemeriksaan lagi."

Mira mengangguk.

"Semoga hasilnya bagus, ya."

"Amin. Aku juga berharap begitu."

Rani kemudian tersenyum jahil.

"Kalau begitu, suamimu pasti ikut menemani, kan?"

Alisha hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.

"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"

"Karena dia terlihat perhatian waktu kamu cerita tentang ibumu."

Alisha menggeleng kecil.

"Dia hanya menawarkan bantuan. Belum tentu ikut."

"Tapi setidaknya dia menawarkan."

Alisha terdiam sebentar sebelum menjawab, "Kami tinggal serumah. Menurutku, wajar kalau dia membantu jika memang diperlukan."

Mira dan Rani saling berpandangan.

Mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan Alisha dan Adrian memiliki kesepakatan yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Di mata mereka, Alisha adalah seorang istri yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan rumah tangga.

"Ya, memang tidak salah," kata Mira akhirnya. "Yang penting kalian bisa saling menghormati."

Alisha mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

Ia tidak ingin membicarakan hubungannya dengan Adrian terlalu jauh.

Bukan karena ada masalah besar, tetapi karena ia sendiri belum menganggap hubungan mereka sebagai sesuatu yang perlu diceritakan kepada teman-temannya secara terperinci.

Pernikahan itu masih terasa seperti tanggung jawab yang harus dijalani.

Setelah makan, Alisha kembali bekerja.

Namun, sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas, ia sempat membuka pesan Adrian yang diterimanya beberapa menit sebelumnya.

Adrian: Sudah makan siang?

Alisha mengernyit sedikit.

Ia membalas dengan singkat.

Alisha: Sudah. Kamu sendiri?

Balasan Adrian datang tidak lama kemudian.

Adrian: Sudah.

Alisha tersenyum kecil, kemudian menyimpan ponselnya.

Ia tidak menganggap percakapan itu sebagai sesuatu yang istimewa. Adrian mungkin hanya mengingatkan karena mereka sudah beberapa kali membicarakan kebiasaan makan yang tidak teratur.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

---

Di kantor Mahendra Group, Adrian sedang memeriksa laporan keuangan ketika Daniel masuk membawa dokumen tambahan.

"Pak, laporan untuk rapat sore sudah siap."

Adrian menerima berkas itu.

"Letakkan di sini."

Daniel meletakkannya di meja, lalu menunggu jika ada instruksi lain.

"Apakah ada jadwal tambahan hari ini?" tanya Adrian.

"Tidak ada, Pak. Setelah rapat sore, jadwal Anda kosong."

"Baik."

Daniel mengangguk dan hendak pergi.

Namun, Adrian kembali berbicara.

"Daniel."

"Ya, Pak?"

"Apakah kamu tahu rumah sakit tempat ibu Alisha menjalani perawatan?"

Daniel tampak sedikit terkejut, meskipun ia segera kembali bersikap profesional.

"Saya mengetahui rumah sakitnya, Pak. Apakah ada sesuatu yang perlu saya urus?"

"Tidak perlu. Saya hanya ingin memastikan."

Daniel mengangguk.

"Baik, Pak."

Setelah Daniel keluar, Adrian menyandarkan punggung ke kursinya.

Ia teringat tawarannya kepada Alisha pagi tadi.

Jika jadwal pemeriksaan Ratih bertepatan dengan jam kerja Alisha, perempuan itu mungkin harus meminta izin dari bakery. Adrian tahu Alisha berusaha menjaga pekerjaannya, sehingga ia tidak ingin tawarannya justru membuat perempuan itu merasa terbebani.

Ia membuka kalender di ponsel dan memeriksa jadwalnya sendiri untuk minggu depan.

Ada beberapa pertemuan penting, tetapi sebagian masih bisa diatur ulang jika diperlukan.

Adrian mengunci layar ponselnya.

Ia belum perlu mengambil keputusan sekarang. Alisha juga belum meminta bantuan.

Namun, setidaknya ia bisa menyediakan waktu jika keadaan memang mengharuskannya.

Adrian kembali bekerja.

Akan tetapi, sebelum membuka laporan berikutnya, ia sempat menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam.

Belakangan ini, ia mulai mengingat jadwal Alisha tanpa sengaja.

Ia tahu kapan perempuan itu biasanya berangkat kerja, kapan ia sibuk, dan kapan ibunya harus menjalani pemeriksaan.

Informasi-informasi itu awalnya hanya ia dengar dari percakapan sehari-hari.

Namun, sekarang ia justru mengingatnya dengan cukup jelas.

Adrian menghela napas.

"Mungkin karena kita tinggal serumah," gumamnya.

Ia kembali menatap dokumen.

Tidak ada alasan untuk memikirkan hal itu lebih jauh.

---

Sore hari, Alisha menerima kabar bahwa pesanan tambahan di bakery telah selesai dikirim.

Setelah membersihkan meja dan merapikan beberapa peralatan, ia berpamitan kepada Mira dan Rani.

"Aku pulang dulu."

Rani mengangguk.

"Hati-hati. Jangan lupa istirahat."

"Iya."

Mira menambahkan, "Besok jadwal kita lebih ringan, jadi kamu bisa sedikit santai."

Alisha tersenyum.

"Syukurlah. Aku bisa menggunakan waktu itu untuk mengurus beberapa keperluan."

Ia meninggalkan bakery dengan perasaan lega.

Di perjalanan pulang, ia sempat berhenti untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Setelah memastikan semuanya sudah dibawa, ia melanjutkan perjalanan.

Ketika tiba di rumah, Alisha mendapati Adrian belum pulang.

Ia meletakkan belanjaannya di dapur, kemudian mengganti pakaian.

Sore itu, ia berniat menyelesaikan catatan pengeluaran rumah sakit sebelum makan malam. Ia membuka buku kecil yang biasa digunakannya, lalu mencocokkan uang yang tersisa dengan perkiraan biaya minggu depan.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.

Nama Ratih muncul di layar.

"Ibu?"

"Halo, Nak. Kamu sedang sibuk?"

"Tidak, Bu. Aku baru saja pulang kerja. Bagaimana keadaan Ibu?"

"Baik. Ibu hanya ingin memastikan kamu tidak terlalu lelah."

Alisha tersenyum.

"Aku baik-baik saja. Hari ini memang sedikit sibuk, tetapi semuanya sudah selesai."

"Baguslah. Jangan lupa menjaga kesehatanmu juga."

"Iya, Bu."

Ratih terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Alisha, kamu tidak perlu memikirkan Ibu setiap saat. Ibu tahu kamu sedang berusaha keras."

Alisha menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

"Aku hanya ingin Ibu cepat sembuh."

"Ibu tahu, Nak. Tapi kamu juga harus memikirkan masa depanmu."

Alisha tidak langsung menjawab.

Ia tahu ibunya ingin melihat dirinya hidup dengan lebih tenang. Namun, selama Ratih masih membutuhkan perawatan, sulit baginya untuk tidak mengkhawatirkan keadaan tersebut.

"Aku akan baik-baik saja, Bu. Ibu fokus saja pada kesehatan."

Ratih tertawa kecil.

"Baiklah. Ibu tidak akan mengganggumu terlalu lama."

"Ibu tidak mengganggu. Aku justru senang mendengar suara Ibu."

Mereka berbicara beberapa menit lagi sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.

Alisha meletakkan ponsel dan memandang catatan pengeluarannya.

Ia masih memiliki banyak hal yang harus dipikirkan. Namun, selama ibunya terus membaik, ia akan berusaha menjalani semuanya satu per satu.

---

Adrian tiba di rumah ketika Alisha sedang menyiapkan makan malam.

Ia meletakkan tas kerjanya, lalu menuju dapur setelah mencium aroma masakan.

"Kamu memasak lagi?"

Alisha menoleh.

"Iya. Aku hanya membuat sup dan menggoreng telur."

Adrian melihat meja yang sudah dipersiapkan.

"Aku bisa membantu."

Alisha tampak sedikit terkejut.

"Kamu?"

Adrian mengangkat alis.

"Kenapa? Aku tidak bisa membantu?"

"Bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa melihatmu di dapur."

Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga tidak berniat mengambil alih dapur. Aku hanya bisa membantu membawa piring atau menyiapkan meja."

Alisha tertawa kecil.

"Kalau begitu, tolong ambilkan piring di lemari itu."

Adrian mengikuti arah telunjuknya dan mengambil beberapa piring.

Ia meletakkannya di meja, kemudian membantu menyiapkan sendok dan gelas.

Pekerjaan itu hanya membutuhkan beberapa menit.

Setelah semuanya siap, mereka duduk untuk makan malam.

"Terima kasih sudah membantu," kata Alisha.

Adrian mengangguk.

"Tidak sulit."

Mereka mulai makan.

Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok dan piring. Kemudian, Adrian membuka percakapan.

"Aku sudah memeriksa jadwalku untuk minggu depan."

Alisha mengangkat wajah.

"Kenapa?"

"Kalau kamu perlu mengantar ibumu ke rumah sakit, beri tahu aku tanggal pastinya. Aku akan melihat apakah bisa mengantarmu."

Alisha terdiam.

Ia tidak menyangka Adrian benar-benar memikirkan tawaran yang disampaikannya pagi tadi.

Namun, ia segera menjawab dengan tenang.

"Terima kasih. Aku akan memastikan jadwalnya dulu. Kalau aku bisa mengatur izin kerja sendiri, aku tidak perlu merepotkanmu."

"Kamu tidak merepotkan."

Alisha menatapnya.

Adrian melanjutkan, "Aku hanya menawarkan bantuan. Kamu bisa memutuskan sendiri apakah ingin menerimanya."

Alisha tidak langsung menjawab.

Ia menghargai sikap Adrian yang tidak memaksanya. Pria itu memberikan pilihan tanpa menuntut balasan apa pun.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Nanti akan kuberi tahu kalau jadwalnya sudah pasti."

Adrian mengangguk.

Pembicaraan itu selesai tanpa ada percakapan panjang.

Bagi Alisha, tawaran tersebut merupakan bantuan praktis yang bisa dipertimbangkan jika dibutuhkan.

Ia tidak menghubungkannya dengan perasaan.

Sementara bagi Adrian, melihat Alisha menerima tawarannya tanpa merasa tertekan membuatnya merasa sedikit lega.

Ia tidak ingin perempuan itu menganggapnya sebagai seseorang yang hanya memberikan perintah.

Meskipun mereka menikah berdasarkan kontrak, Adrian tetap ingin menjaga hubungan mereka agar berjalan dengan baik.

Setidaknya, itulah yang ia yakini.

---

Malam itu, setelah makan malam selesai, Alisha kembali ke kamarnya untuk menghubungi rumah sakit dan memastikan jadwal pemeriksaan Ratih.

Setelah mendapatkan kepastian, ia mencatat tanggalnya dan menyimpan buku pengeluaran di laci.

Di kamar lain, Adrian sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa pesan pekerjaan.

Sebuah pesan dari Daniel masuk, berisi pengingat mengenai pertemuan yang harus dihadirinya keesokan hari.

Adrian membalas singkat, lalu meletakkan ponsel.

Ia teringat percakapannya dengan Alisha saat makan malam.

Perempuan itu tidak langsung menerima tawarannya, tetapi juga tidak menolaknya dengan keras. Ia mempertimbangkan keadaan terlebih dahulu sebelum memutuskan.

Adrian menghargai sikap tersebut.

Namun, ia kembali bertanya-tanya mengapa ia merasa senang ketika Alisha akhirnya mengatakan akan memberitahunya jika membutuhkan bantuan.

Perasaan itu tidak cukup kuat untuk membuatnya mengambil kesimpulan apa pun.

Adrian belum jatuh cinta kepada Alisha.

Ia hanya mulai memperhatikan keberadaan perempuan itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Dan untuk saat ini, ia memilih membiarkan semuanya berjalan secara alami.

Sementara itu, Alisha sudah berbaring di tempat tidurnya.

Ia memikirkan pekerjaan esok hari, jadwal pemeriksaan ibunya, dan uang yang harus disiapkannya.

Adrian memang mulai menunjukkan perhatian kecil, tetapi bagi Alisha, hal itu belum mengubah apa pun.

Ia tetap menganggap pernikahan mereka sebagai kesepakatan yang harus dijalani dengan baik.

Mereka belum saling mencintai.

Mereka bahkan belum benar-benar mengenal kehidupan satu sama lain secara mendalam.

Namun, perlahan-lahan, mereka mulai terbiasa berbagi ruang, waktu, dan percakapan sederhana.

Dan terkadang, perubahan besar memang tidak dimulai dari peristiwa yang menggemparkan.

Terkadang, semuanya berawal dari seseorang yang mulai mengingat hal-hal kecil tentang orang lain, bahkan ketika ia sendiri belum memahami alasannya.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!