Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Kepala bertopeng tengkorak milik pembunuh Sekte Bayangan Darah itu menggelinding di atas lantai kristal biru, meninggalkan jejak merah panas yang mengepulkan uap putih di tengah udara dingin gua bawah tanah.
Selama satu tarikan napas, keheningan menyergap aula Spirit Vein tersebut.
Dua anggota Tiga Belas Bayangan yang tersisa serta sang Diaken Dalam pengkhianat tersentak mundur secara serentak. Mata mereka terbelalak ngeri menatap mayat rekan mereka yang baru saja roboh tanpa kepala. Rekan mereka itu adalah pembunuh terlatih di Tahap Akhir Qi Gathering, namun ia tewas ditebas dalam satu kedipan mata bahkan sebelum sempat mengaktifkan perisai Qi-nya!
Di belakang Qin Mu, Bai Shuang menahan napas.
Tangan gadis itu yang memegang pedang giok es sedikit bergetar akibat racun yang membekukan meridiannya, namun sepasang matanya yang biasanya sedingin salju abadi kini menatap punggung sempit pemuda di depannya dengan keterkejutan yang nyata.
Pakaian abu-abu kasar itu tidak salah lagi adalah seragam murid baru Gerbang Luar Akademi Kekaisaran kasta paling bawah yang tadi pagi bahkan tidak layak menarik lirikan matanya dari atas perahu giok terbang. Namun barusan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bayangan di lantai terbelah menjadi manusia kedua, dan bagaimana sepasang bilah yang nyaris tak terlihat memotong leher seorang ahli Qi Gathering Akhir semudah memotong batang rumput!
"Siapa kau?!" bentak sang Diaken pengkhianat dengan suara berubah cempreng, mencoba menutupi rasa terkejutnya. Namun ketika ia memindai fluktuasi energi dari tubuh pemuda yang membelakangi Bai Shuang itu, matanya menyipit tajam. "Tunggu... hanya Tahap Awal Qi Gathering?! Dia hanya bocah Gerbang Luar yang kebetulan bersembunyi di langit-langit dan mengandalkan serangan curang!"
"Sialan! Berani-beraninya tikus baru merusak rencana Sekte Bayangan Darah!" geram kedua pembunuh bertopeng tengkorak lainnya, niat membunuh yang pekat dan amis kembali meledak dari tubuh mereka.
Qin Mu sama sekali tidak memedulikan teriakan mereka.
Tanpa menoleh ke belakang, tangan kiri Qin Mu bergerak cepat merogoh kantung kulit di pinggangnya, lalu menjentikkan sebuah botol porselen kecil berwarna merah bata ke arah belakang tepat ke depan dada Bai Shuang.
"Jangan paksa mengalirkan Qi esmu untuk melawan racun itu," suara Qin Mu keluar dengan nada datar dan cepat. "Serbuk Pembeku Meridian menggunakan sifat dingin dari teknik pedangmu sendiri untuk membekukan pembuluh darahmu. Semakin kau mengerahkan Qi, semakin cepat jantungmu berhenti."
Bai Shuang menangkap botol kecil itu secara refleks. Alisnya yang indah berkerut dingin. "Apa ini?"
"Akar Rumput Api yang direndam darah ular karang," jawab Qin Mu singkat, matanya tetap mengunci ketiga musuh di depannya yang mulai melangkah mengepung. "Kunyah isinya sekarang dan tekan titik darah di pergelangan tangan kirimu selama sepuluh tarikan napas untuk menguapkan racunnya. Kalau kau tidak mau mati konyol di tempat kotor ini, lakukan saja. Aku hanya akan menahan mereka selama sepuluh tarikan napas."
Bai Shuang menatap botol porselen kasar di tangannya. Sebagai putri kebanggaan Sekte Pedang Tianxuan, sejak kecil ia dididik untuk tidak pernah menerima obat yang tidak jelas asal-usulnya dari orang asing.
Namun kata-kata pemuda itu tepat sasaran. Sejak tadi, setiap kali ia mencoba mendorong racun itu dengan Qi esnya, dadanya justru terasa semakin membeku. Pemuda Gerbang Luar yang misterius ini mampu mengenali cara kerja racun Sekte Bayangan Darah hanya dalam sekali pandang!
Tanpa ragu lagi, Bai Shuang membuka sumbat botol itu, menelan akar merah yang terasa sepanas bara api di dalamnya, lalu langsung mundur dua langkah sambil menekan titik nadi di pergelangan tangan kirinya.
"Kau pikir seorang bocah Qi Gathering Awal bisa menahan kami bertiga selama sepuluh tarikan napas?!"
Diaken pengkhianat itu tertawa buas. Ia tidak ingin memberi Bai Shuang waktu untuk memulihkan diri. "Bunuh bocah itu dalam satu serangan! Aku yang akan memenggal kepala Bai Shuang!"
WUSH! WUSH!
Kedua pembunuh Tiga Belas Bayangan menerjang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan dengan belati sabit yang diselimuti Qi merah darah, sementara sang Diaken melompat lurus dari tengah, mengayunkan pedang lebarnya yang memancarkan tekanan Qi Gathering Akhir untuk membelah tubuh Qin Mu!
Tiga ahli Qi Gathering Akhir menyerang satu pemuda Qi Gathering Awal di ruang terbuka. Secara logika kultivasi, Qin Mu seharusnya langsung hancur menjadi kabut darah.
Namun Qin Mu tidak berdiri diam menerima hantaman itu.
Langkah Pertama — Jejak Hantu Tanpa Suara!
Tepat ketika tiga serangan mematikan itu menyatu di tempatnya berdiri, kaki Qin Mu menghentak lantai kristal. Tubuhnya melesat miring dengan sudut yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Dan di saat yang bersamaan, bayangan hitam yang memanjang di bawah kakinya tiba-tiba melompat naik ke udara!
TRANG! BOOM!
Pedang lebar milik sang Diaken hanya menebas bayangan semu hingga menghancurkan bongkahan kristal biru di lantai, sementara di sisi kanan, pembunuh Sekte Bayangan Darah membelalakkan matanya saat mendapati serangannya ditahan oleh sesosok manusia berpakaian hitam yang muncul begitu saja dari permukaan tanah!
Klone Bayangan!
Meskipun Klone Bayangan itu hanya memiliki kekuatan fisik Puncak Penempaan Tubuh, kerangka tulangnya sama kerasnya dengan besi tempa milik tubuh asli Qin Mu. Klone itu tidak memegang bilah kembar, namun di kedua tangannya telah tergenggam dua kantung Bubuk Pembusuk Tulang dan sebilah pedang rampasan yang langsung diayunkan dengan gaya bertarung bunuh diri sama sekali tidak peduli meski belati sabit musuh menggores bahunya!
"A-apa ini?! Kenapa ada dua orang yang sama persis?!" teriak pembunuh di sisi kanan dengan suara tercekat saat Klone Bayangan itu meledakkan kantung bubuk racun tepat di depan topeng tengkoraknya!
"Satu tarikan napas," hitung Qin Mu dingin dari sisi kiri.
Tubuh asli Qin Mu telah berada di titik buta pembunuh kedua. Qi berwarna abu-abu kehitaman dari Dantiannya mengalir deras ke dalam gagang Bilah Kembar Taring Hantu.
Begitu energi spiritual itu menyentuh logamnya, kekuatan Batu Elemen Bayangan Murni yang telah melebur di dalam senjata itu aktif sepenuhnya. Kedua bilah lengkung di tangan Qin Mu mendadak lenyap dari pandangan mata, berubah menjadi dua sabit transparan yang membaur sempurna dengan bayangan kristal!
Pembunuh kedua itu merasakan hawa dingin kematian menyergap lehernya. Dengan insting seorang veteran, ia buru-buru menyilangkan kedua belati sabitnya di depan dada sambil memadatkan perisai Qi darah setebal satu inci.
Dia hanya Qi Gathering Awal! Senjata biasa tidak akan bisa menembus perisai Qi-ku! pikir pembunuh itu dengan yakin.
Namun ia salah menghitung dua hal: ia tidak bisa melihat panjang serta sudut sabetan bilah yang telah menyatu dengan bayangan, dan senjata di tangan Qin Mu kini adalah Senjata Spiritual!
SRING—!
Tanpa suara benturan logam yang keras, bilah transparan di tangan kiri Qin Mu melewati celah di bawah silangan belati lawan seperti hantu, memotong perisai Qi darah itu layaknya pisau panas membelah mentega, lalu mengiris putus urat nadi di ketiak dan dada pembunuh tersebut!
"AAAARGH! Senjatanya tidak terlihat!!"
Pembunuh itu menjerit ngeri sambil melompat mundur dengan dada bersimbah darah.
"Lima tarikan napas," suara Qin Mu terdengar lagi bagaikan ketukan lonceng kematian.
Sang Diaken pengkhianat yang melihat kedua rekannya dibuat kalang kabut oleh bocah itu menjadi murka sekaligus ketakutan. Ia memutar pedang lebarnya, melepaskan gelombang Qi bertubi-tubi yang memaksa Qin Mu dan Klone Bayangannya terus berpindah tempat di antara pilar-pilar kristal.
BOOM! BOOM! BOOM!
Pilar-pilar kristal biru bertumbangan. Tulang lengan Qin Mu bergetar menahan hempasan gelombang Qi sang Diaken dari jarak dekat, dan segores luka tipis muncul di pipinya akibat serpihan kristal yang meledak. Namun langkah kakinya bersama Klone Bayangannya bergerak dalam harmoni yang begitu rapat, menciptakan jaring bayangan yang membuat sang Diaken gagal menembus ke arah Bai Shuang di belakang mereka!
"Sembilan tarikan napas!"
Pembunuh kedua yang terluka parah tadi nekat membakar esensi darahnya untuk melepaskan satu tusukan terakhir bersama sang Diaken guna mengunci ruang gerak Qin Mu.
Namun tepat saat Qin Mu menarik kembali Klone Bayangannya ke bawah telapak kakinya dan melompat mundur—
"Sepuluh."
Udara di dalam gua kristal itu mendadak membeku hingga titik nol!
Di belakang punggung Qin Mu, Bai Shuang membuka kedua matanya.
Berkat akar rumput api pemberian Qin Mu yang membakar habis Serbuk Pembeku Meridian di titik nadinya, segel yang menahan kekuatan sang Putri Surga dari Sekte Pedang Tianxuan telah hancur berkeping-keping. Rambut hitam panjang gadis itu berkibar liar di tengah badai salju tipis yang muncul dari kehampaan, dan pedang giok es di tangannya memancarkan cahaya biru menyilaukan dari ranah Puncak Qi Gathering!
"Kalian semua... mati."
Suara Bai Shuang terdengar begitu dingin dan agung. Gadis itu melangkah maju satu tindak melewati samping tubuh Qin Mu, lalu mengayunkan pedang giok esnya dalam satu garis lurus yang sederhana namun mengandung seuntai pemahaman Niat Pedang Es!
Pedang Pertama Tianxuan — Pembeku!
KRAAAAK—!
Cahaya pedang biru es menyapu seluruh ruangan bagaikan gelombang pasang.
Kedua pembunuh Tiga Belas Bayangan yang baru saja hendak mengejar Qin Mu bahkan tidak sempat menjerit. Tubuh mereka langsung terbungkus lapisan es tebal dalam sekejap mata, sebelum akhirnya hancur terbelah menjadi potongan-potongan daging beku yang berjatuhan ke lantai!
"Tidak—!!"
Sang Diaken pengkhianat membelalakkan matanya dalam keputusasaan. Ia mengangkat pedang lebarnya untuk menangkis, namun bilah pedangnya langsung membeku dan patah menjadi dua! Sisa tebasan pedang es Bai Shuang menembus bahu kanan sang Diaken hingga menghancurkan tulang selangkanya, menghempaskan pria itu menabrak dinding gua dengan keras!
Keheningan kembali turun di dalam gua kristal.
Bai Shuang menurunkan pedangnya perlahan. Napasnya sedikit memburu karena baru saja melepaskan serangan puncak setelah pulih dari racun, namun postur tubuhnya tetap tegak dan tak tersentuh bagaikan bunga teratai salju di puncak gunung.
"Siapa di Akademi Kekaisaran yang memerintahkanmu bekerja sama dengan Sekte Bayangan Darah untuk merampas Lempeng Segel Langit milikku?!" tanya Bai Shuang dingin sambil melangkah mendekati sang Diaken yang terkapar di dinding.
Namun sang Diaken pengkhianat hanya memuntahkan darah hitam sambil menyeringai mengerikan dengan wajah yang mulai membiru.
"Kalian... tidak akan pernah tahu... berapa banyak bayangan... yang sudah tumbuh di bawah kaki kalian..."
Krek!
Sebelum Bai Shuang atau Qin Mu sempat menghentikannya, Diaken itu menggigit hancur pil racun yang ditanam di dalam gigi gerahamnya sendiri. Hanya dalam dua detik, darah hitam keluar dari ketujuh lubang di wajahnya, dan nyawanya langsung melayang.
Bai Shuang mengerutkan keningnya melihat mayat Diaken tersebut.
Namun ketika gadis itu berbalik untuk berbicara kepada pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya, pemandangan yang ia lihat membuat kalimat di ujung lidahnya terhenti.
Qin Mu sama sekali tidak sedang mengagumi kehebatan tebasan pedang esnya, dan juga tidak sedang menatap wajah cantiknya seperti yang biasa dilakukan para pemuda bangsawan di ibu kota.
Pemuda berjubah murid luar itu justru sedang berjongkok dengan sangat tenang di dekat mayat-mayat tanpa kepala tersebut, mengibaskan darah dari bilah kembarnya yang telah kembali berwujud hitam pekat, lalu dengan tangan yang sangat cekatan merogoh dan mengambil keempat Kantung Penyimpan serta lencana dari pinggang mayat ketiga pembunuh Bayangan Darah dan sang Diaken!
Gerakannya begitu alami, dingin, dan terlatih persis seperti serigala gunung yang sudah puluhan kali menguliti bangkai buruannya.
Setelah memasukkan keempat kantung jarahan itu ke balik jubahnya, barulah Qin Mu berdiri dan menoleh ke arah Bai Shuang.
Mata hitam pemuda itu yang tenang dan dalam bertemu langsung dengan mata seputih salju milik Bai Shuang. Tidak ada rasa rendah diri, tidak ada rasa kagum yang berlebihan, hanya kewaspadaan datar dari seseorang yang terbiasa hidup di ujung pisau.
Bai Shuang terdiam sejenak. Pandangannya terhadap murid Gerbang Luar yang tadinya ia anggap sebagai "orang desa dari tanah bawah" ini berubah secara perlahan. Tanpa analisis racun yang tepat dan sepuluh tarikan napas yang dibeli oleh pemuda ini dengan nyawanya, hari ini Putri Surga dari Sekte Pedang Tianxuan pasti sudah menjadi mayat yang dilempar ke lubang tambang.
"Sekte Pedang Tianxuan tidak pernah berutang budi tanpa membalasnya, terlebih urusan nyawa," ucap Bai Shuang dengan suara jernih dan dingin, meski nada bicaranya kini tidak lagi memandang rendah. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kepingan giok es berukir pedang kecil. "Akar obatmu dan bantuanmu barusan telah menyelamatkan hidupku. Katakan namamu. Selama kau berada di Provinsi Cangzhou, kepingan giok ini bisa ditukarkan dengan seratus Batu Roh atau satu bantuan dari pengikut sekteku."
Qin Mu menatap kepingan giok es di tangan Bai Shuang, namun ia tidak mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Menyimpan tanda khusus milik Putri Surga Sekte Pedang Tianxuan di saat dirinya masih diincar oleh berbagai faksi di Gerbang Luar justru hanya akan mengundang perhatian yang tidak perlu.
"Simpan saja giokmu, Nona Bai," jawab Qin Mu datar sambil menyarungkan Bilah Kembar Taring Hantu ke punggung bawahnya. "Aku turun tangan bukan karena ingin mencari budi dari Sekte Pedang Tianxuan. Bajingan-bajingan ini tadi berencana melempar mayatmu ke Tambang Roh Kuno untuk mengkambinghitamkan sepuluh murid baru yang sedang dikunci di sana dan kebetulan, aku adalah salah satu dari sepuluh murid itu."
Qin Mu menepuk empat Kantung Penyimpan hasil jarahannya di balik jubahnya. "Akar obat tadi sudah terbayar lunas dengan kantung-kantung milik mayat ini. Jika Penatua Akademi datang memeriksa tempat ini nanti, katakan saja kau yang membunuh mereka semua seorang diri. Aku tidak suka namaku disebut-sebut dalam urusan faksi tingkat tinggi."
Bai Shuang terpaku, tangannya yang memegang giok es terhenti di udara.
Seumur hidupnya, para pangeran kerajaan dan jenius klan besar rela mempertaruhkan segalanya hanya demi mendapatkan satu lirikan atau sepotong tanda mata darinya. Namun pemuda Gerbang Luar di depannya ini baru saja menolak kepingan gioknya mentah-mentah dan memintanya tutup mulut!
Qin Mu sudah berbalik dan melangkah cepat menuju lorong gelap yang menghubungkan gua kristal itu kembali ke Tambang Roh Kuno. Waktu enam jam penguncian tambang hampir habis.
"Tunggu!" panggil Bai Shuang tanpa sadar, kakinya melangkah maju setengah tindak. "Setidaknya... siapa namamu?"
Langkah Qin Mu tidak berhenti saat tubuhnya mulai menyatu dengan bayangan lorong batu. Hanya suaranya yang tenang yang tertinggal menggema di antara kristal biru:
"Qin Mu."
Bai Shuang berdiri diam di tengah aula yang bersimbah darah itu selama beberapa saat, menatap lorong gelap yang telah kosong. Jari-jarinya yang seputih giok perlahan menggenggam kembali kepingan giok esnya.
"Qin Mu..." gumam Bai Shuang pelan, mengulang nama itu di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa di balik lumpur Gerbang Luar yang selama ini bahkan tidak pernah ia pandang, tersembunyi seekor naga bayangan yang taringnya jauh lebih tajam daripada para jenius di atas awan.
Di permukaan lereng utara Akademi Kekaisaran, matahari sore telah condong ke barat.
Waktu enam jam penutupan Tambang Roh Kuno telah berakhir.
Di depan pintu jeruji besi raksasa yang masih terkunci rapat itu, suasana dipenuhi oleh ketegangan dan senyum sinis yang tertahan. Lebih dari tiga puluh murid senior dari Faksi Wei telah berkumpul di sana, dipimpin langsung oleh Wei Tian yang berdiri dengan tangan terlipat di dada sambil mengenakan jubah brokat biru tuanya yang bersih.
Di samping Wei Tian, berdiri sang diaken bermata sipit dari Aula Penegak Hukum yang tadi pagi mengunci pintu tambang tersebut.
"Kakak Senior Wei, waktu enam jam sudah genap," bisik diaken itu sambil melirik ke arah jam pasir di dekat gerbang dengan senyum licik. "Dengan delapan orang sekelas Chen Hu dan Zhao Kun di dalam sana, ditambah kawanan Kelabang Batu Bermata Merah yang dipancing keluar, bocah bernama Qin Mu dan pandai besi itu pasti sudah tidak berbentuk lagi."
Wei Tian tersenyum tipis, matanya yang dingin menatap pintu jeruji besi di depannya.
"Begitu pintu dibuka, kau langsung masuk dan umumkan bahwa terjadi kecelakaan longsor dan serangan serangga buas yang menewaskan murid baru Qin Mu," ucap Wei Tian tenang. "Pastikan kau mengambil kembali lempeng gubuknya, kantung warisan alkimia milik orang tua Luo itu, dan bawa kepalanya secara diam-diam agar bisa kukirimkan ke Kota Linlang untuk mengobati amarah adik sepupuku, Canglan."
"Serahkan pada saya!"
Diaken Penegak Hukum itu melangkah maju, berdeham keras untuk memasang wajah serius, lalu memberi perintah kepada dua penjaga gerbang. "Waktu pembersihan miasma selesai! Tarik rantai dan buka pintu tambang!"
KREK... KLANG... KLANG!
Roda gigi besi berputar berat. Pintu jeruji besi seberat ribuan kati itu perlahan terangkat naik, memperlihatkan mulut gua tambang yang gelap gulita dan menyemburkan udara dingin yang berbau amis darah.
Ketujuh murid baru yang tadi bersembunyi di sudut terowongan langsung berlari keluar lebih dulu sambil menangis dan terbatuk-batuk dengan wajah pucat pasi seperti baru melihat hantu, bahkan tidak berani menoleh ke belakang sedikit pun!
Melihat kepanikan ketujuh murid baru itu dan tidak adanya tanda-tanda kemunculan Qin Mu, senyum di bibir Wei Tian dan sang diaken semakin melebar.
"Astaga! Kenapa hanya tujuh orang yang keluar?!" Diaken itu langsung berakting dengan suara lantang yang dibuat-buat terkejut. "Pasti terjadi bencana serangga buas di dalam sana! Sayang sekali, sepertinya murid baru Qin Mu dan Han Lie telah gugur dalam tugas—"
Bruk! Bruk! Gedebuk!
Kata-kata sang diaken terputus di tengah tenggorokan.
Dari dalam kegelapan mulut tambang, delapan buntalan berat tiba-tiba dilempar keluar secara beruntun bagaikan karung sampah, menggelinding di atas tanah berbatu, dan berhenti tepat di depan sepatu sutra milik Wei Tian!
Seluruh tiga puluh murid senior Faksi Wei di depan gerbang membeku.
Itu bukan mayat Qin Mu. Itu adalah delapan mayat algojo Faksi Wei yang mereka kirimkan tadi pagi termasuk mayat Zhao Kun yang dadanya tertembus bilah, dan tubuh tanpa kepala milik Chen Hu, sang praktisi Qi Gathering Akhir!
Wajah sang diaken langsung berubah sepucat kertas mayat, sementara senyum di wajah Wei Tian lenyap seketika, digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa. "Chen Hu...?! Bagaimana mungkin—?!"
TAP. TAP.
Suara langkah kaki yang tenang menggema dari balik bayangan mulut gua.
Di sisi kiri, Han Lie melangkah keluar sambil memanggul martil besinya yang berlumuran darah kering dengan seringai buas di wajahnya. Di sisi kanan, Mo Cang keluar tanpa suara sambil menyandarkan bahunya ke tiang batu.
Dan tepat di tengah-tengah mereka, melangkah keluar menembus batas bayangan gua menuju sinar matahari sore, Qin Mu berdiri tanpa satu pun luka di tubuhnya.
Dengan gerakan santai namun memancarkan tekanan dingin yang membuat para murid senior Faksi Wei tanpa sadar mundur selangkah, Qin Mu melemparkan satu kantung kapur kosong ke kaki sang diaken, lalu mengangkat matanya yang hitam kelam menatap lurus ke wajah Wei Tian.
"Pembersihan hama di dalam tambang sudah selesai," suara Qin Mu menggema datar di tengah kesunyian yang mencekam. "Delapan ekor anjing liar masuk tanpa izin dan tidak sengaja jatuh ke sarang serangga. Kakak Senior Wei... apakah kau ingin mengirim delapan ekor lagi besok pagi?"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️