Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misi dimulai
Sean sedang membersihkan halaman depan bersama para santri laki-laki lainnya ketika Abimana berjalan bersama ustadz Herman serta Kyai Adi melewati jalan setapak yang dipakai untuk semua santri lalu-lalang.
Gerakannya terhenti, matanya memandang dingin pada Abimana. Entahlah, sejak dia tahu jika Abimana memiliki istri lebih dari satu, dia jadi sedikit nir-empati kepada teman masa kecilnya itu. Apalagi setelah Sean tahu jika salah satu istri Abimana adalah perempuan yang pernah ia temui di pasar induk beberapa waktu lalu, yang berhasil mencuri perhatiannya.
Merasa diperhatikan, Abimana menghentikan langkahnya.
Sean seperti biasa, tetap tengil, tetap brandalan kalau kata ustadz Herman sering mengejeknya.
Abimana tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Wajahnya masih tegang, sisa-sisa kekesalan terhadap pemuda itu belum sepenuhnya reda.
"Abimana..."
Suara berat Abah Adi memecah keheningan. Pria tua itu menatap putranya dengan pandangan yang tidak lagi tersenyum.
"Kenapa kamu diam saja? Dan kenapa tatapanmu demikian, sehingga mengabaikan Abah-mu ini?" tegur Abah Adi, nadanya tenang namun tegas.
Abimana mengerjap, baru kemudian menyadari bahwa ia telah mengabaikan ayahnya sendiri. Ia menundukkan pandangan, menyadari kesalahannya, namun rasa kesal di dadanya belum sepenuhnya hilang.
"Maafkan saya Abah... Saya tidak bermaksud mengabaikan Abah..." sesalnya.
Abah menepuk lengan Abimana.
"Sepertinya kamu kelelahan hingga tak berkonstrasi.... Lebih baik, kamu istirahat dulu.. Biar ustadz Herman yang mengambil alih pekerjaan mu..."
"Ustadz Herman, kamu bisa ambil alih pekerjaan Abimana sementara waktu?" tanya Abah beralih kepada Herman yang berdiri di sisi Abimana.
"Na'am Kyai... Insyaallah, saya bisa..." sahut Herman dengan senyum terkembang.
Abah Adi lantas memasuki ruangannya.
"Gus... Lebih baik, Gus Abimana pulang saja.. Biar saya yang melanjutkannya..." imbuh Herman.
"Baiklah... Sebelumnya terimakasih..." Abimana menepuk lengan Herman sebelum dia pergi.
Di sudut lain, para santri telah membuat satu gerombolan meski masih sibuk dengan pekerjaan mereka, bergotongroyong membersihkan area tempat belajar dan halaman.
Ini memang sering dilakukan ketika weekend tiba.
Semua santri termasuk beberapa staf pengajar ikut berpartisipasi membersihkan area masing-masing yang dilakukan dua kali dalam sebulan agar kebersihan terutama kedisplinan setiap santri terjaga, meskipun pondok memiliki tenaga kebersihan.
"Lihat muka tengil ustadz Herman... Dia seperti baru memenangkan hadiah undian berjuta-juta.. muka sombongnya sangat kentara..." bisik Arya, santri senior memulai pergosipan diantara mereka.
Yang lain terlihat curi-curi pandang kepada ustadz senior itu yang memang dikenal 'tukang jilat' sebagai julukannya oleh beberapa santri.
"Sudahlah... Ayo kita kerja... Jangan sampai dia tantrum dan menyulitkan kita... Saya bulan depan mau pulang, jangan sampai izin itu terhambat karena dia lagi bad mood.." timpal yang lainnya.
"Memangnya kamu mau pulang kenapa Risman?" rasa penasaran Sean muncul.
"Ah.. itu... Teteh saya akan menikah. Dan karena mendiang ayah tidak memiliki saudara laki-laki dan kakek kami telah tiada, makanya saya yang bertindak menjadi wali bagi teteh...." jelas laki-laki bernama Risman, sahabat dari Arya.
"Kamu tidak punya saudara perempuan Sean? Kalau ada, bolehlah dikenalin ke kita-kita..." goda Arya.
Raut Sean seketika berubah.
"Ayo kerja... Jangan sampai kita semua kena hukum si 'penjilat' itu!" ucapnya acuh tapi tidak dengan yang lain.
Mereka semua justru ketar-ketir karena mulut lantam Sean yang tanpa filter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemala sedang mengangkat ember berisi air yang akan digunakan untuk membersihkan ruangan.
Dia terlihat kesusahan.
"Sini, saya bantu..." tangan Sean dengan cekatan meraih ember hitam dari tangan Kemala.
Sontak, hal itu membuatnya terkejut.
Pasalnya ini area santri perempuan.
"Kamu...? ngapain kamu disini? Kalau ketahuan Ummu Saidah, kamu bisa dihukum" ucap Kemala dengan nada rendah.
Sean meletakkan ember tersebut dipojokan.
"Sana pergi... Saya tidak mau kena masalah lagi karena kamu..." kesal Kemala karena Sean mengabaikan peringatan darinya.
"Tidak akan ada yang lihat... Mereka semua sedang sibuk..." tunjuk Sean pada kerumuman santri perempuan yang sibuk mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di sekitar taman.
"Ya, tapi tetap saja, kamu tidak boleh disini... Terakhir, waktu saya memergoki mu hendak kabur, saya jadi terkena hukuman..." cicit Kemala memandang ujung sepatunya.
"Wajah saya disini... Kenapa kamu lihat ke tanah..." gerutu Sean karena Kemala tak melihatnya ketika berbicara.
"Tidak boleh antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berbicara berdua... Takutnya ada setan lewat lalu tergoda... Sana pergi!"
"Baiklah... Tapi sebelumnya, kita boleh kenalan kan..? Saya Sean.." Sean meringis sesaat " Kamu pasti sudah dengar tentang saya yang cukup terkenal kan..." ucapnya mengulurkan tangan hendak berjabat.
Seperti biasa, Kemala hanya melihatnya saja tanpa ada niat menyambutnya.
"Saya Kemala... Dan kamu pasti sudah tahu saya siapa" ucapnya kemudian
Sean menarik tangannya dan mengedikkan bahu. "Kamu istri pertama Abimana.. Ya, semua orang sudah tahu... Bahkan mereka sering menjuluki mu sebagai istri yang menyedihkan..."
Kemala mengangkat wajahnya, memandang Sean.
"Apa saya memang semenyedihkan itu dimata para santri?" lirihnya.
Sean merubah rautnya menjadi lebih hangat.
"Kamu terlihat seperti orang yang memikul beban yang bukan milikmu sendiri"
Ucapan itu menembus pertahanan yang sudah tipis.
Mata Kemala memanas. "Bagaimana jika memang beban itu dipaksakan ada di pundakku?" suaranya bergetar. "Saya yang menjadi istri pertama. Namun tiba-tiba…Saya harus berbagi rumah, suami, kasih sayang. Dan yang lebih pedihnya lagi, saya terlihat orang ketiga dalam rumah tangga ini.. Saya... "
Ia menunduk, tak sanggup melanjutkan.
Sean diam sejenak, lalu berkata pelan namun tegas.
"Kamu tahu, Kemala… saya kagum padamu... melihat kamu seperti mendiang mama.... yang sabar, yang berusaha mengerti, yang menelan semua lukanya agar tak menambah beban orang lain. Tapi saya juga melihat wanita yang terluka sendirian."
Ia menoleh ke arah Kemala, tatapannya tak menghakimi.
"Kamu gadis yang menyedihkan, Kemala. Menyedihkan karena kamu membiarkan dirimu terkurung dalam keadaan yang tak seharusnya kamu terima begitu saja."
Kemala mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Tapi saya seorang istri. Saya harus taat, begitu ajaran agamanya"
"Ta'at bukan berarti membunuh diri sendiri perlahan-lahan," jawab Sean tenang.
Ia menatapnya lekat, seakan ingin Kemala melihat dirinya lewat pandangannya.
"Dan sayangnya… kamu terlalu cantik, terlalu berharga untuk sekadar menjadi 'istri pertama' yang ditinggalkan di sudut, yang hanya diingat saat yang lain sedang sakit atau lemah. Kamu bukan cadangan. Kamu bukan pelengkap. Kamu adalah seseorang yang utuh, yang pantas dicintai seutuhnya pula."
Angin berhembus pelan, menyapa pipi Kemala. Dia menunduk kembali, air mata akhirnya jatuh, namun kali ini bukan karena kesepian. Ada seseorang yang melihatnya. Ada seseorang yang memahami bahwa di balik kesabaran itu, ada hati yang remuk.
"Terima kasih…" bisiknya pelan.
Sean tersenyum tipis. "No problem... lagipula, saya tak mengatakan ini untuk membuatmu sedih. Saya ingin kamu sadar, nilaimu tak ditentukan oleh seberapa banyak ia datang kepadamu. Nilaimu ada pada dirimu sendiri."
Mata Kemala menatapnya, perlahan mengering, namun dadanya terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah, ia merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Kemala bisa merasakan sikap hangat dari seorang teman.
"Ternyata penampilan mu tak seseram sifatmu..." ungkap Kemala yang membuat Sean tersenyum tipis. Sangat tipis untuk dikatakan sebagai salah tingkah.
Bersambung