NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 4 - CH 21 : REALITA

Tiga hari berlalu sejak malam pengiriman kue Black Forest legam ke Perumahan Asri Indah.

Bagi Bara Mahendra, tiga hari ini adalah masa keemasan dalam sejarah hidupnya yang miskin dan penuh penderitaan. Kehidupan di Bara's Kitchen berjalan sangat lancar, seolah mereka baru saja melewati badai kesialan terburuk dan kini sedang berjemur di bawah pelangi kapitalisme. Saldo ruko aman di angka fantastis: Lima puluh juta lebih sedikit.

Bara tidak lagi dihantui oleh bau amis laut, tetesan air lumpur, atau jejak kaki basah di tangga mezzanine-nya. Lingkaran garam di lantai sudah disapu bersih dan dibuang ke selokan depan. Operasional ruko kembali ke jam normal sebagai bakery beradab: Buka jam 08.00 pagi, tutup jam 17.00 sore. Tidak ada lagi lembur malam. Begitu matahari terbenam, Lintang pulang dengan senyum semringah, Mang Ojak pulang membawa motor bututnya, dan Bara bisa tidur tengkurap memeluk guling dengan tenang di rukonya.

Pada hari pertama, Bara bahkan sempat berpidato dengan sombongnya di depan Lintang dan Mang Ojak.

"Gue bilang juga apa," kata Bara waktu itu sambil menyeruput es kopi susu. "Demit Kota X itu cuma menang jumpscare doang. Dikasih gertakan dikit pake backing-an mafia sama dicuekin, langsung insecure terus resign. Buktinya ruko kita sekarang bersih. Nggak ada tuh yang namanya kutukan pesanan gaib."

Lintang yang sedang asyik menepuk-nepuk pipinya dengan toner mahal seharga lima ratus ribu hanya memutar bola mata. "Yaelah Mas, jangan sombong-sombong napa. Pamali tau nggak ngomongin yang enggak-enggak."

"Fakta, Tang. Dan soal rumah Blok C Nomor 4 itu? Jelas banget itu acara kumpul keluarga besar. Ibunya aja wangi perfume melati... eh, maksud gue wangi orang kaya. Duitnya juga masuk ke brankas gue dengan wujud duit merah seratus ribuan, bukan berubah jadi daun mangga," Bara tertawa puas.

Hari kedua juga dilewati dengan damai. Orderan reguler brownies dan cupcake masuk dengan stabil. Bara tidak pernah merasa sehidup ini.

Hingga akhirnya, tibalah hari ketiga.

Tepat pukul dua belas siang, matahari Kota X sedang terik-teriknya, memanggang aspal jalanan hingga berfatamorgana. Ruko Bara's Kitchen sedang sepi pelanggan. Di dalam lantai satu yang sejuk karena AC portable, Bara sedang sibuk mengajari Lintang teknik piping buttercream bentuk mawar merah di atas meja stainless.

"Bukan gitu, Tang. Tekan piping bag-nya dari atas, pakai telapak tangan, jangan dipencet dari tengah kayak lu mijit jerawat. Nanti krimnya pecah, mawar lu malah bentuknya kayak kotoran ayam sakit," omel Bara, tangannya memandu tangan Lintang.

"Susah, Mas! Tangan gue tremor belom makan siang," rajuk Lintang, mengerucutkan bibirnya. "Mana panas banget lagi di luar. Mang Ojak lama bener sih izin nganter beras ke rumah mertuanya. Padahal gue nitip seblak prasmanan."

Tiba-tiba, suara deru motor bebek Supra butut milik Mang Ojak terdengar meraung dari kejauhan. Suaranya sangat kasar, gigi mesinnya dipaksa turun dengan cepat. Motor itu berhenti mendadak di depan Bara's Kitchen, ban botaknya berdecit keras bergesekan dengan konblok, hingga menabrak tong sampah plastik di depan ruko sampai terguling.

BRAAAK!

Bara mengerutkan kening, meletakkan piping bag-nya. "Tuh, pahlawan seblak lu dateng. Tapi kok bawanya brutal amat kayak abis dikejar debt collector."

Pintu rolling door yang terbuka setengah didorong dengan sangat kasar ke atas.

Mang Ojak terhuyung masuk ke dalam ruko. Namun, pemandangan pria paruh baya itu membuat Bara dan Lintang seketika membeku.

Wajah Mang Ojak tidak pucat lagi, melainkan membiru seolah aliran darah di tubuhnya berhenti total. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras membasahi peci hitam dan kemeja batiknya yang sudah lepek. Bibirnya gemetar hebat tak terkendali, dan matanya melotot liar menatap kosong ke arah etalase. Pria yang biasanya selalu tersenyum ramah itu kini terlihat seperti baru saja melihat pintu neraka terbuka di depan matanya.

"Mang? Mang Ojak kenapa?!" Lintang langsung melempar celemeknya dan berlari mendekati pria itu. Kepanikannya menular. "Mang Ojak di begal?! Motornya disita?! Mana yang luka, Mang?!"

Mang Ojak tidak merespon Lintang. Kakinya lemas seperti jeli, membuatnya ambruk terduduk begitu saja di kursi plastik pelanggan di depan meja kasir. Tangannya yang keriput dan gemetar menunjuk-nunjuk ke arah luar ruko, napasnya memburu seperti orang yang sedang terkena serangan asma akut.

"Den... Den Bara..." suara Mang Ojak terdengar serak, parau, dan patah-patah dari tenggorokannya yang kering. "Abah... Abah tadi... Ya Allah, Gusti Nu Agung..."

"Iya, tenang Mang, tarik napas dulu," Bara menyusul dengan langkah cepat. Instingnya mengambil alih. Dia membuka kulkas chiller, mengambil sebotol air mineral dingin, membukakan tutupnya, dan menyodorkannya ke mulut Mang Ojak. "Minum. Pelan-pelan. Ada preman yang palak Mang Ojak?"

Mang Ojak meneguk air itu dengan rakus, airnya tumpah membasahi dagu dan leher kemejanya. Dia terbatuk keras, lalu menatap Bara dengan tatapan penuh teror absolut yang membuat bulu kuduk Bara otomatis meremang.

"Bukan preman, Den..." Mang Ojak menelan ludah, suaranya kini tinggal bisikan bergetar. "Jalan Ringroad Baru... itu kan tembusannya ngelewatin Perumahan Asri Indah yang malem Jumat kemaren kita datengin buat nganter kue, Den..."

Bara terdiam. Nama perumahan itu kembali disebut, merusak suasana siangnya yang cerah. "Iya. Terus kenapa? Mang Ojak lewat situ?"

"Karena siang bolong dan matahari terang banget... Abah iseng, Den. Abah iseng lewat daerah perumahan mewah itu dari deket pas lagi terang. Soalnya lebih deket lewat sana kalau dari rumah mertua Abah," cerita Mang Ojak, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Abah muter motor masuk ke dalem perumahannya."

Bara mulai merasakan firasat yang sangat, sangat tidak enak. Seolah ada balok es yang perlahan meluncur turun ke dalam lambungnya. "Terus? Mang Ojak disapa satpam posnya lagi? Nggak dikasih masuk?"

Mang Ojak menggeleng kuat-kuat. Tubuhnya menggigil meski suhu di ruko sedang normal. "Nggak ada satpam, Den. Nggak ada pos satpamnya malah, posnya hancur lebur! Kacanya pecah semua, atapnya rubuh. Gapuranya karatan, huruf tulisan 'Asri Indah'-nya udah copot sebagian, ketutup sama tanaman rambat liar."

"Maksudnya gimana sih, Mang? Kemaren malem kan kita bertiga liat sendiri posnya terang benderang. Satpamnya nonton TV tabung, sempet senyum buka portal ke Si Putih," Lintang memotong bingung, suaranya meninggi karena mulai ikut panik.

"DEN, DENGERIN ABAH!" Mang Ojak tiba-tiba mencengkeram lengan bawah Bara dengan sangat kuat, kuku-kukunya nyaris menancap ke kulit Bara. "Abah merinding, tapi Abah penasaran penasaran banget! Abah paksain kendarain Supra Abah masuk ke Blok C. Ke rumah Nomor 4 tempat Den Bara ngasih kardus kuenya."

Keheningan seketika menyelimuti dapur Bara's Kitchen. Suara mesin pendingin chiller yang mendengung kini terdengar memekakkan telinga.

"Dan... apa yang Mang Ojak liat di Nomor 4?" tanya Bara perlahan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat. Jantungnya mulai berdetak dengan ritme yang tidak karuan.

"Rumahnya... rumahnya udah separuh ambruk, Den," Mang Ojak terisak pelan, air matanya akhirnya jatuh. "Atapnya bolong hangus. Temboknya item semua bekas jilatan api. Rumput di halamannya setinggi dada Abah. Pagar hitam yang kemaren Den Bara buka pake dengkul itu... gemboknya udah mati berkarat, nyatu sama akar pohon beringin gede. Nggak ada meja batu di teras. Nggak ada mobil sedan parkir. Nggak ada lampu."

Lintang menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri.

"Abah... Abah ketemu sama Pak Tua tukang sampah di ujung blok itu," lanjut Mang Ojak, suaranya makin parau. "Abah nanya, 'Pak, ini rumah Nomor 4 yang punya ke mana? Kemaren malem saya liat rame hajatan keluarga.' Tukang sapu itu malah natap Abah kayak natap orang gila, Den."

Bara menahan napasnya. "Tukang sampahnya bilang apa?"

"Dia bilang... 'Nyari siapa, Pak? Rumah itu udah kosong ditinggal mati dari tahun 1998 atau 1999 lupa. Dulu ada kebakaran gede banget pas mereka lagi kumpul keluarga besar malem-malem. Sepuluh orang mati terpanggang di dalem, termasuk ibu yang punya rumah... nggak sempet ada yang keluar karena pagarnya digembok dari luar sama perampok...'"

Darah Bara berdesir hebat. Dia mundur selangkah secara refleks, menjauhi Mang Ojak. Kepalanya berkunang-kunang.

"Nggak mungkin," Bara menggelengkan kepalanya pelan. "Mang, lu pasti salah masuk komplek. Atau salah blok. Kemaren kita denger ada suara musik keroncong, Mang! Lu sendiri yang markir Si Putih di belakang sedan hitam! Gue ngobrol sama ibu-ibu pake kebaya di teras. Gue... gue nerima duit amplop dari tangannya!"

"Itu masalahnya, Mas Bara!" Lintang tiba-tiba memekik histeris, wajah cantiknya kini ikut pucat pasi layaknya mayat. "Kalau rumahnya beneran kosong dan bekas kebakaran puluhan tahun lalu... ibu-ibu kebaya hitam anggun yang senyum dan ngobrol sama lo itu siapa, Mas?! Keluarga besar dari 'luar kota' yang kumpul di dalem rumah malem itu... MEREKA SEMUA DARI MANA?!"

Perut Bara terasa mual luar biasa. Kepalanya pusing seolah baru saja dipukul pakai tongkat bisbol.

Pesta hangat keluarga yang dia lihat tiga malam lalu... tawa renyah bapak-bapak di teras... musik keroncong... satpam yang ramah...

Itu semua adalah panggung ilusi. Halusinasi massal berskala besar yang sengaja diciptakan untuk mereka bertiga. Mereka bertiga benar-benar telah mengantar sebuah kue Black Forest monokrom ke tengah-tengah acara kumpul keluarga arwah penasaran korban kebakaran tragis. Mereka menjamu orang-orang yang sudah hangus menjadi abu.

Otak logis Bara yang selalu mencari celah rasional berusaha mati-matian mencari pijakan di tengah badai teror ini.

Tunggu. Ada satu bukti fisik yang nggak bisa dimanipulasi halusinasi.Duitnya.

"Duitnya!" Bara berteriak kencang, suaranya memecah ketegangan. Matanya membelalak lebar. "Waktu itu ibunya ngasih gue amplop putih tebal isi uang kertas seratus ribuan baru! Kalau itu setan, duitnya pasti daun! Atau tanah kuburan! Tapi duit itu berhasil gue bawa pulang dan gue masukin ke brankas! Duit nggak mungkin bohong!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bara berbalik dan berlari sprint menuju area kasir. Lintang dan Mang Ojak yang kakinya masih gemetar tertatih-tatih mengikutinya dari belakang.

Bara menyingkirkan karpet penutup dengan tendangan kasar. Dia membungkuk, berlutut di atas keramik keras, dan menekan kode kombinasi enam angka pada panel digital brankas bajanya. Jari-jarinya bergetar hebat hingga dia sempat salah tekan dua kali.

Tit-tit-tit-tit-tit-tit.KLIK. Pintu baja setebal lima sentimeter itu terbuka, menghembuskan udara dingin dari dalam.

Bara menahan napasnya. Matanya memindai isi brankas.

Tumpukan uang gepokan dari DP Bang Kobra dan sisa uang Adrian si Buaya Darat masih tersusun sangat rapi di sebelah kiri. Koin emas naga milik Haji Muhidin masih berkilau dengan angkuh di pojok belakang.

Dan di sisi kanan brankas... amplop putih bersih itu masih ada. Tergeletak persis di tempat Bara menaruhnya tiga hari lalu. Amplop berisi uang pelunasan dari ibu berkebaya hitam di Perumahan Asri Indah.

Bara menghembuskan napas yang tertahan. "Tuh kan! Amplopnya ada! Kalau itu duit setan, pasti udah il—"

Ucapan Bara terputus. Saat dia menjulurkan tangan dan menyentuh permukaan amplop kertas itu, rasa dingin yang tidak wajar menyengat ujung jarinya. Dinginnya bukan seperti dingin AC, melainkan dingin yang membekukan tulang, layaknya menyentuh bongkahan es di dalam freezer daging.

Dengan gerakan kasar, Bara menyambar amplop itu dan langsung merobek ujungnya tanpa ampun.

Tumpukan uang kertas itu masih ada di dalamnya. Tidak berubah menjadi daun nangka layu. Tidak berubah menjadi tanah kuburan berpasir. Uang itu masih berwujud kertas tebal bernominal.

Tapi... ada yang salah. Sangat, sangat salah.

Saat Bara menarik tumpukan uang itu keluar dari selubung amplopnya, suhu di area kasir mendadak turun drastis. Sebuah aroma tajam yang sangat memualkan seketika meledak, menguar dengan brutal dan memenuhi seluruh ruangan Bara's Kitchen.

Itu bukan bau khas kertas atau tinta uang cetakan bank baru. Itu adalah campuran bau formalin mayat yang menyengat hidung, aroma kapur barus pelayat yang apak, dan wangi bunga kamboja basah yang sudah membusuk.

Bara menatap lembaran uang di tangannya. Matanya melebar penuh horor absolut. Wajahnya kehilangan seluruh rona kehidupan.

Itu bukan lagi uang kertas seratus ribuan edisi baru berwarna merah bergambar Soekarno-Hatta yang dia terima malam itu.

Di tangannya, yang tergenggam erat dengan gemetar, adalah tumpukan uang kertas lima puluh ribu rupiah edisi lama bergambar pahlawan W.R. Supratman.

Uang emisi tahun 1999. Uang kuno yang sudah belasan tahun ditarik dari peredaran oleh Bank Indonesia dan tidak laku lagi dipakai di pasar mana pun.

Kertas-kertas uang jadul itu terasa sangat kaku dan mengerut, seolah pernah basah kuyup lalu dikeringkan. Baunya seperti baru saja digali dari dalam peti mati. Dan yang membuat Bara nyaris memuntahkan isi perutnya adalah: Di setiap sudut uang kertas W.R. Supratman itu, terdapat bercak-bercak cokelat kehitaman yang sudah mengering dan berkerak.

Bercak darah.

"Allahu Akbar..." Mang Ojak melangkah mundur, menutup hidungnya dari bau formalin yang mencekik.

Bara menjatuhkan tumpukan uang kuno berbau anyir itu ke lantai keramik seolah benda itu baru saja membakar tangannya dengan api neraka.

Lembaran-lembaran wajah W.R. Supratman itu berserakan di atas keramik putih, beberapa di antaranya tertiup pelan oleh angin AC, menebarkan bau kapur barus yang semakin kuat mencekik paru-paru mereka bertiga.

"Mas..." Lintang merosot ke lantai, punggungnya menabrak etalase kaca. Gadis itu mulai menangis ketakutan. "Kita... kita bertiga beneran abis jualan sama keluarga orang mati, Mas..."

Bara menatap uang kuno bernoda darah di lantai, lalu menatap telapak tangan kanannya yang tiga hari lalu menerima amplop itu langsung dari si pembeli gaib. Rasa mual di lambung Bara tidak bisa ditahan lebih lama lagi.

Bara bangkit berdiri, berlari terhuyung-huyung ke arah sink wastafel dapur. Dia memutar keran air secara maksimal, lalu membasuh tangannya berulang kali menggunakan sabun cuci piring Mama Lemon. Dia menggosok telapak tangannya dengan sangat kasar, seolah ingin mengelupas kulitnya sendiri untuk menghilangkan sensasi sentuhan kulit sedingin es milik ibu berkebaya hitam itu.

Sambil terus menggosok tangannya yang memerah, Bara menatap pantulan wajahnya yang pucat di kaca wastafel.

Hari-hari damai ruko Bara's Kitchen telah resmi berakhir dengan cara yang paling brutal. Peringatan demit pelabuhan tempo hari hanyalah hidangan pembuka. Ini adalah main course-nya.

Bara sadar, dia tidak bisa lagi bersembunyi di balik brankas atau gertakan nama preman pasar. Dia butuh pertolongan. Dan dia butuh itu sekarang juga.

"Mang Ojak," panggil Bara dengan suara serak, mematikan keran air. Matanya menatap tajam ke arah karyawan tertuanya itu. "Punya kenalan orang pinter? Ustaz? Dukun? Indigo? Siapa aja. Cari yang paling sakti se-Kota X."

"B-buat apa, Den?" Mang Ojak tergagap.

"Buat ngeruqyah ruko ini. Hari ini juga. Sebelum ibu-ibu itu pesen snack box buat tahlilan," desis Bara.

Perjalanan mengantar kue telah usai, namun ekspedisi mencari dukun untuk menyelamatkan nyawa mereka baru saja dimulai.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!