sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: LABIRIN ECHO
Air terjun hitam itu menderu di belakang mereka, suaranya bergemuruh seperti ribuan suara yang berteriak bersamaan. Aldric, Sera, dan Ren berdiri di ambang mulut labirin—sebuah gua raksasa yang gelapnya seolah-olah memakan cahaya.
Ren menggenggam erat jari ibunya. Wajah anak itu pucat, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menatap kegelapan di depan dengan mata besar penuh ketakutan.
"Kau yakin ini satu-satunya jalan?" bisik Sera, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru air terjun.
Aldric mengangguk. Ia mengeluarkan batu pemberian Mora—batu yang dulu menuntunnya ke sarang Ghoul. Kini batu itu bersinar merah redup, tapi cahayanya tidak bisa menembus kegelapan labirin. Seolah ada sesuatu di dalam sana yang memakan cahaya.
"Aku masuk duluan. Kau di belakangku. Jangan pernah berhenti memegang pakaianku." Aldric menatap Sera tegas. "Apa pun yang kau dengar, apa pun yang kau lihat, jangan lepas. Mengerti?"
Sera mengangguk, meskipun ketakutan jelas terlihat di wajahnya.
Aldric melangkah masuk.
Gelap.
Bukan gelap biasa—gelap yang hidup, gelap yang bergerak, gelap yang merayap di kulit seperti jutaan serangga kecil. Aldric merasakan bulu kuduknya merinding, sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak ia berubah menjadi setengah iblis.
Di belakangnya, ia merasakan Sera memegang erat jubahnya. Tangan wanita itu gemetar.
Langkah pertama. Kedua. Ketiga.
Suara air terjun mulai memudar, digantikan oleh keheningan yang aneh—keheningan yang terlalu sempurna, terlalu sunyi.
Lalu bisikan itu mulai.
"Aldric..."
Suara lirih dari kejauhan. Samar, tapi jelas.
Aldric berhenti. Sera menabrak punggungnya.
"Kenapa—"
"Diam."
Mereka diam. Mendengarkan.
"Aldric... kemarilah, Nak..."
Jantung Aldric berhenti. Suara itu. Suara itu sangat dikenalnya.
Ayah.
"Kau dengar itu?" bisik Aldric.
Sera menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya dengar—"
"Aldric... Ayah di sini... tolong Ayah..."
Suara itu datang dari depan. Dari dalam kegelapan.
Aldric melangkah maju, setengah tersihir. Tangannya meraba belati di pinggang—masih ada.
"Aldric... jangan tinggalkan Ayah..."
"Ayah!" Aldric berlari kecil ke depan.
"Aldric!" Sera berteriak, tapi tangannya terlepas. "Aldric, tunggu!"
Ia tidak mendengar. Yang ada hanya suara ayahnya—ayahnya yang sudah mati, ayahnya yang diracun, ayahnya yang mayatnya ia gendong di ruang kerja itu.
Ayah hidup? Tidak mungkin. Tapi suara itu—
Ia berhenti.
Di depannya, dalam kegelapan, sesosok bayangan mulai terbentuk. Samar-samar, seperti lukisan kabur. Tapi cukup jelas untuk dikenali.
Raja Aldous Veynheart.
Ayahnya berdiri di sana, utuh, tidak terluka. Mengenakan jubah kerajaan kesukaannya—biru tua dengan sulaman singa emas. Tersenyum. Tersenyum hangat seperti dulu.
"Aldric, Nak... Ayah kangen padamu..."
"Ayah..." Air mata mengalir di pipi Aldric. Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke jurang, ia menangis. "Ayah hidup? Ayah tidak—"
"Aku selamat, Nak. Aku bersembunyi. Aku menunggumu kembali." Bayangan itu mengulurkan tangan. "Mari pulang. Bawa Ayah pulang."
Aldric melangkah maju. Tangannya terulur.
"Aldric!"
Terikan Sera memecahkan ilusi.
Untuk sesaat, wajah ayahnya berubah—menjadi sesuatu yang mengerikan. Matanya menghitam, mulutnya ternganga terlalu lebar, dan dari dalamnya keluar suara tawa mengerikan.
"Kau pikir ayahmu hidup? Bodoh! Dia mati! Mati di pelukanmu! Dan kau—kau tidak bisa menyelamatkannya!"
Aldric terhenyak. Bayangan itu berubah menjadi monster—wajah ayahnya yang membusuk, daging bergelantungan, mata putih terbalik.
"Kau gagal, Aldric! Kau gagal melindungi kami! Liana mati! Ibu mati! Aku mati! Dan kau—kau lari! Kau sembunyi di dasar jurang!"
"Tidak..." Aldric mundur. "Aku tidak lari. Aku—"
"Kau lemah! Kau pecundang! Kau—"
BRAK!
Sebuah batu melayang dari belakang, menghantam kepala monster itu. Monster itu menjerit, lalu menghilang dalam kepulan asap hitam.
Aldric menoleh. Sera berdiri di sana, dengan batu lain di tangan, siap melempar. Wajahnya tegang, tapi matanya penuh tekad.
"Itu bukan ayahmu," katanya. "Ini labirin. Ini yang mereka peringatkan. Jangan percaya apa pun."
Aldric terpaku. Ia masih gemetar, air mata masih mengalir. Tapi perlahan, kesadarannya kembali.
"Kau... kau lihat itu?"
Sera menggeleng. "Aku hanya lihat kau bicara sendiri, lalu lari, lalu hampir menyentuh dinding batu yang ternyata jurang." Ia menunjuk ke depan. "Selangkah lagi, kau jatuh."
Aldric menoleh. Di depannya, hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri, terbuka jurang dalam—dasar hitam yang tidak terlihat. Jika Sera tidak melempar batu, jika ilusi itu terus membimbingnya...
Ia menarik napas panjang. "Terima kasih."
"Kita saling membutuhkan di sini." Sera mendekat, meraih tangannya. "Pegang. Jangan lepas lagi."
Aldric menggenggam tangan wanita itu. Hangat. Nyata.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Labirin Echo bukan sekadar lorong berliku. Ia hidup, bernapas, dan yang paling mengerikan—ia tahu ketakutan terdalam setiap makhluk yang masuk.
Mereka melewati lorong-lorong yang dindingnya bergerak, berubah bentuk setiap kali mereka lewat. Mereka menyeberangi jembatan alami di atas sungai bawah tanah yang airnya bukan air—tapi jutaan mata kecil yang berkedip-kedip, menatap mereka dengan rasa ingin tahu mengerikan.
Dan setiap beberapa langkah, bisikan itu datang lagi.
Kali ini untuk Sera.
"Sera... Sera... kenapa kau tinggalkan aku?"
Sera tersentak. Ia menoleh ke kiri, ke kanan, mencari sumber suara.
"Aku mati karena kau, Sera. Karena kau terlalu lemah untuk melindungiku."
Suara laki-laki. Suami Sera.
Sera berhenti. Tangannya gemetar di genggaman Aldric.
"Sera." Aldric menariknya. "Itu bukan dia. Itu ilusi."
"Aku tahu." Suara Sera serak. "Tapi... tapi suaranya persis..."
"Ren... kau dengar itu, Ren? Ibumu membiarkan Ayah mati. Ibumu—"
"DIAM!" Sera berteriak. Air mata mengalir deras. "Jangan seret Ren! Jangan!"
Dari kegelapan, sesosok bayangan muncul—laki-laki tinggi kurus, wajahnya familiar. Suami Sera. Tapi matanya—matanya kosong, hitam, menganga.
"Ren... Nak... Ayah di sini... tinggalkan ibumu yang lemah itu... Ayah jagain kamu..."
Ren, yang selama ini diam memeluk kaki ibunya, mulai bergerak. Ia menatap bayangan itu dengan mata bingung.
"Ayah?"
"Jangan, Ren!" Sera menjerit. "Itu bukan Ayah! Jangan!"
Tapi Ren kecil, Ren hanya lima tahun. Ia tidak mengerti ilusi. Yang ia lihat adalah ayahnya—ayah yang sudah lama tidak ia lihat, ayah yang sangat ia rindukan.
"Ayah!" Ren berlari.
"Aldric!" Sera berteriak panik.
Aldric bergerak cepat. Ia melepaskan tangan Sera, melesat mengejar Ren. Anak itu berlari menuju bayangan—dan di belakang bayangan, Aldric bisa melihat jurang lain. Jurang yang sama.
Ia meraih kerah baju Ren, menariknya keras. Tubuh kecil itu terhenti beberapa langkah dari tepi jurang.
Bayangan itu menjerit marah. "LEPASKAN DIA! DIA ANAKKU!"
Ia melesat ke arah mereka—cepat, mengerikan.
Aldric menghunus belati pemberian Varyn. Begitu bayangan itu mendekat, ia menusukkannya ke "wajah" makhluk itu.
Belati itu bersinar terang—merah menyala—dan bayangan itu menjerit kesakitan. Jeritan yang memekakkan telinga, membuat dinding labirin bergetar. Lalu, dalam sekejap, ia menghilang. Belati di tangan Aldric retak, lalu hancur menjadi debu.
Hilang. Sekali pakai.
Aldric menatap debu di tangannya, lalu menatap Ren yang menangis tersedu-sedu.
"Ayah... Ayah..." isak anak itu.
Sera berlari menghampiri, langsung memeluk Ren erat. "Nak... Nak... maafkan Ibu... maaf..."
Aldric berdiri di samping mereka, mengawasi kegelapan. Ilusi itu mungkin sudah mati—untuk sementara. Tapi labirin ini masih hidup. Masih lapar.
"Kita harus terus maju," katanya. "Di sini terlalu berbahaya untuk berhenti."
Sera mengangguk, menggendong Ren yang masih terisak. Mereka melanjutkan perjalanan.
Berjam-jam mereka berjalan—atau mungkin hanya beberapa menit? Di labirin ini, waktu terasa kacau. Kadang terasa lama, kadang terasa cepat. Yang pasti, kaki mereka mulai lelah, dan persediaan air mulai menipis.
Ren tertidur di gendongan ibunya. Wajahnya masih basah air mata, tapi napasnya mulai teratur.
Sera berjalan dengan langkah berat. Aldric bisa melihat ia kelelahan, tapi wanita itu tidak mengeluh.
"Kau bisa bertahan?" tanya Aldric.
"Harus." Sera tersenyum getir. "Untuk Ren."
Mereka berhenti di sebuah ruangan yang agak luas—mungkin persimpangan, mungkin ruang istirahat. Di tengah ruangan, ada sesuatu yang aneh: sebuah batu besar berbentuk kursi, dan di atasnya, sesosok kerangka duduk bersandar.
Kerangka manusia. Sudah sangat tua—tulangnya mulai rapuh, pakaiannya tinggal serpihan. Di tangannya, sebuah buku terbuka—juga sudah lapuk, tapi masih bisa dilihat tulisannya.
Aldric mendekat. Di dadanya, ada luka—luka tebasan pedang yang masih jelas di tulang rusuknya.
Orang ini juga mencari jalan keluar, pikir Aldric. Tapi gagal.
Ia mengambil buku itu dengan hati-hati. Halaman-halamannya rapuh, nyaris hancur. Tapi beberapa kata masih terbaca.
"...hari ketujuh di labirin. Aku sudah tidak tahu mana siang mana malam. Mereka terus datang—arwah-arwah itu. Istriku, anakku, orang tuaku. Mereka bilang mereka memaafkanku. Tapi aku tahu itu bohong. Mereka hanya ingin aku ikut mereka ke dalam jurang..."
Aldric membalik halaman.
"...hari kesepuluh. Persediaan habis. Aku mulai melihat hal-hal aneh—dinding bergerak, lorong berubah. Aku sudah tidak tahu jalan pulang. Mungkin memang tidak ada jalan pulang..."
Halaman terakhir.
"...jika kau menemukan buku ini, jangan ikuti mereka. Apa pun yang kau lihat, apa pun yang kau dengar, jangan percaya. Ini labirin penipu. Ia akan menggunakan orang yang kau cintai untuk membunuhmu. Satu-satunya cara adalah—"
Tulisan terputus. Halaman selanjutnya sobek, hilang.
Aldric mengerutkan dahi. Satu-satunya cara adalah apa? Ia memeriksa kerangka itu, mencari petunjuk lain. Di bawah kerangka, ada coretan di lantai—coretan terakhir sebelum mati.
"Tutup matamu."
Hanya itu. Tiga kata yang diukir dengan jari di debu.
Tutup matamu?
Aldric merenung. Mungkin itu jawabannya. Labirin ini menggunakan penglihatan untuk menciptakan ilusi. Jika mereka tidak melihat...
"Kau temukan sesuatu?" Sera mendekat.
Aldric menunjukkan buku itu. Sera membaca, wajahnya berubah.
"Tutup mata?" ulangnya. "Kau pikir itu bisa?"
"Tidak tahu. Tapi orang ini sudah ribuan tahun di sini—mungkin pengetahuannya lebih baik dari kita."
"Tapi bagaimana kita jalan tanpa melihat?"
Aldric memikirkannya. Lalu, ide muncul di benaknya.
"Kita berpegangan. Satu orang buka mata, memandu. Yang lain tutup mata, jangan lihat apa pun. Bergantian."
Sera mengangguk. "Aku duluan yang tutup mata. Aku... aku tidak kuat lihat mereka lagi."
Aldric mengerti. Ilusi suaminya tadi hampir membuat Sera gila. Jika ia terus melihat, mungkin lain kali ia tidak bisa diselamatkan.
"Baik. Kau tutup mata. Pegang pundakku. Akan kutuntun."
Sera memejamkan mata. Tangannya meraih pundak Aldric. Ren masih tertidur di gendongannya.
Mereka mulai berjalan.
Dengan mata terbuka, Aldric melihat lorong-lorong yang terus berubah. Dinding bergerak, lantai bergeser, bahkan terkadang langit-langit turun mendekat. Tapi ia tidak peduli. Ia fokus pada satu arah—lurus ke depan, ke mana pun "depan" itu.
Bisikan-bisikan terus datang.
"Aldric... Lihat ke sini, Nak..."
"Aldric... Liana kedinginan... tolong Liana..."
"Kakak... Kakak di mana? Liana takut..."
Liana. Suara Liana.
Aldric mengepalkan tangan. Ia ingin menoleh, ingin melihat, ingin memastikan. Tapi ia ingat buku itu. Ia ingat kerangka yang mati sendirian.
Jangan lihat.
Ia terus berjalan. Lurus ke depan.
"Aldric, kau tega? Liana adikmu! Liana—"
Ia menutup telinga batinnya. Fokus. Sera di belakangnya, menggenggam erat. Ren tertidur.
Mereka butuh aku.
Langkah kaki terus berdetak di lorong yang sunyi. Bisikan-bisikan itu akhirnya memudar, digantikan oleh keheningan yang aneh—tapi kali ini keheningan yang damai, bukan mengancam.
Setelah berjalan entah berapa lama, Aldric merasakan perubahan. Udara di sekitarnya terasa berbeda—lebih ringan, lebih segar. Ia membuka mata—kapan ia memejamkannya?—dan melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga.
Cahaya.
Cahaya putih, terang, hangat. Di ujung lorong, di depan mereka, sebuah pintu terbuka. Pintu batu sederhana, tapi di baliknya, terlihat langit biru.
Langit biru.
Dunia atas.
"Kita... kita sampai?" bisik Sera, masih dengan mata terpejam.
Aldric menatap pintu itu. Cahaya di baliknya nyata—ia bisa merasakan hangatnya, bisa mencium aroma rumput segar, sesuatu yang sudah lama hilang dari indranya.
"Buka matamu," katanya.
Sera membuka mata. Begitu melihat cahaya itu, ia menangis—menangis haru. "Kita... kita selamat?"
Aldric tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menatap langit biru itu.
Elara. Aku datang.
Mereka melangkah maju, melewati pintu batu, keluar dari kegelapan labirin—
Dan tiba-tiba, dunia berputar.
Saat Aldric membuka mata lagi, ia tidak lagi berada di pintu keluar.
Ia di kamar. Kamar tidurnya di istana. Ranjang empuk, seprai sutra merah, jendela besar dengan pemandangan taman.
Dan di sampingnya, sesosok tubuh hangat bersandar.
Elara.
Wanita berambut merah api itu menatapnya dengan mata hijau zamrud penuh cinta. Tangannya membelai pipi Aldric lembut.
"Bangun, Sayang," bisiknya. "Sarapan sudah siap. Ibu membuat kue madu kesukaanmu."
Aldric terpaku. Ini... ini tidak mungkin. Ini ilusi. Pasti ilusi.
Tapi hangatnya terasa nyata. Wanginya—wangi bunga ashford—sangat nyata.
"Elara?"
"Iya, Sayang?" Elara tersenyum. Senyum yang selalu membuat hatinya meleleh. "Kau mimpi buruk?"
Aldric menatap sekeliling. Kamar ini persis seperti dulu. Lukisan pernikahan mereka masih tergantung di dinding. Baju-bajunya masih di lemari. Di luar, suara burung berkicau—burung sungguhan, bukan monster bawah tanah.
Ini surga.
Ini yang selalu ia rindukan.
"Kemarilah." Elara menariknya, memeluknya erat. Tubuhnya hangat, lembut, nyata. "Aku kangen kamu. Jangan pergi lagi."
Aldric ingin menangis. Ingin menyerah. Ingin tinggal di sini selamanya, berpura-pura semua mimpi buruk itu tidak pernah terjadi.
Tapi di sudut matanya, ia melihat sesuatu.
Ren. Ren kecil, berdiri di ambang pintu kamar, menatapnya dengan mata besar. Di samping Ren, Sera memegang tangannya, wajahnya penuh peringatan.
Ini ilusi, bisik tatapan Sera. Ini jebakan.
Aldric memejamkan mata. Menarik napas panjang.
"Elara."
"Iya, Sayang?"
"Aku cinta kamu. Aku tidak akan pernah berhenti cinta kamu."
Tangan Elara membeku di punggungnya.
"Tapi ini bukan kamu."
Ia mendorong Elara menjauh.
Wajah Elara berubah. Menjadi sesuatu yang mengerikan—wajah yang sama dengan ilusi sebelumnya, tapi kali ini lebih buruk. Matanya menghitam, mulutnya ternganga, dan dari dalamnya keluar suara—suara Darius.
"Dia milikku, Adik. Kau tidak akan pernah mendapatkannya kembali."
Aldric menghunus pedang—pedang apa? Dari mana pedang ini datang?—dan menebas.
Ruangan itu hancur. Dunia hancur. Dan Aldric jatuh—
—ia terbangun di lantai batu.
Sera berlutut di sampingnya, menepuk-nepuk pipinya. Wajah wanita itu penuh kecemasan. Ren menangis di sampingnya.
"Aldric! Aldric, bangun!"
Aldric mengerang. Kepalanya sakit—sakit sekali. Ia menatap sekeliling. Masih di labirin. Masih di lorong batu. Pintu keluar tadi... hanya ilusi.
"Sial," umpatnya.
"Kau pingsan," kata Sera. "Tiba-tiba kau berhenti, lalu jatuh. Aku buka mata—aku tahu aku tidak boleh, tapi aku panik—dan kau hanya terbaring di sini selama... aku tidak tahu berapa lama."
Aldric duduk. Tubuhnya terasa lemah. Mungkin labirin ini menguras energinya setiap kali ia melawan ilusi.
"Aku lihat Elara," katanya lirih. "Di kamar kami. Di istana."
Sera diam. Ia mengerti.
"Itu berat," katanya akhirnya. "Yang paling berat. Ilusi orang yang paling kita cintai."
Aldric mengangguk. Ia menatap ke depan—masih gelap, masih lorong, masih labirin.
"Kita harus terus maju."
"Aku bisa gantian buka mata," tawar Sera. "Kau istirahat dulu."
"Kau yakin?"
"Aku harus kuat. Untuk Ren." Sera tersenyum tipis. "Dan untukmu, yang sudah menyelamatkan kami."
Aldric mengangguk. Ia memejamkan mata, meraih pundak Sera.
"Kalau aku mulai bicara sendiri, atau melangkah ke arah aneh, pukul aku."
Sera tertawa kecil. "Dengan senang hati."
Mereka berjalan lagi. Sera memimpin, matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan. Aldric mengikuti dengan mata terpejam, mendengarkan langkah kaki, merasakan genggaman Sera di pergelangan tangannya.
Bisikan-bisikan masih datang. Tapi dengan mata terpejam, mereka tidak terlalu kuat. Seperti nyamuk berdengung di telinga—mengganggu, tapi tidak mematikan.
Mungkin ini jawabannya, pikir Aldric. Jangan lihat. Jangan percaya. Jangan biarkan mereka masuk.
Berjam-jam mereka berjalan seperti itu. Bergantian memimpin, bergantian memejamkan mata. Kadang mereka berhenti untuk minum, untuk memberi Ren makan dari sisa bekal. Kadang mereka hanya berjalan dalam diam, terlalu lelah untuk bicara.
Sampai akhirnya—
Udara berubah.
Aldric merasakannya lebih dulu. Udara yang lebih ringan, lebih segar. Ia membuka mata.
Di depan mereka, sebuah pintu batu. Sama seperti di ilusi tadi. Tapi kali ini, di balik pintu itu, ia tidak melihat langit biru yang indah. Ia melihat... lorong lain. Lorong biasa.
Sera menatapnya ragu. "Ini ilusi lagi?"
Aldric mendekati pintu itu. Ia meraba batu di sekelilingnya—dingin, keras, nyata. Ia mencium udara dari celah-celah pintu—aroma tanah basah, aroma rumput liar.
"Ini nyata," katanya.
"Kau yakin?"
Aldric menatap Sera. "Tidak. Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Ia mendorong pintu itu.
Pintu batu terbuka dengan suara berat—derit panjang yang menggema di lorong. Di baliknya, bukan lorong labirin. Bukan langit biru. Tapi...
Hutan.
Hutan malam. Pohon-pohon tinggi menjulang. Bulan bersinar di atas—bulan sungguhan, bukan jamur bercahaya.
Dunia atas.
Mereka berhasil.
Sera berlari keluar, menangis, tertawa, berputar-putar di bawah sinar bulan. Ren, yang sudah bangun, menatap langit dengan mata terbelalak.
"Bu, itu... itu bulan?"
"Iya, Nak. Bulan. Bulan sungguhan."
Aldric berdiri di mulut pintu, menatap pemandangan di depan. Hutan ini asing—ia tidak tahu di mana mereka berada. Tapi yang penting, mereka di atas.
Mereka di rumah.
Dari dalam labirin, suara gemuruh terdengar—seperti raungan kecewa. Lalu pintu batu itu mulai menutup, perlahan, berat.
Aldric melangkah keluar. Pintu itu tertutup sepenuhnya, dan ketika ia menoleh ke belakang, yang ada hanya tebing batu biasa. Tidak ada pintu. Tidak ada lorong. Seolah labirin itu tidak pernah ada.
Tapi mereka di sini. Mereka selamat.
Sera berlari ke arahnya, memeluknya erat. Ren ikut memeluk kakinya.
"Kau berhasil," isak Sera. "Kau membawa kami pulang."
Aldric diam. Ia menatap bulan, menatap bintang-bintang yang sudah lama tidak ia lihat.
Elara, bisiknya dalam hati. Aku pulang.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip. Kota Nivalen—ibukota kerajaan, tempat istana berada, tempat Elara ditahan.
Masih jauh. Tapi lebih dekat dari sebelumnya.
Perjalanan baru saja dimulai.