NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Persiapan di markas The High-Liners malam itu terasa seperti sebuah mobilisasi militer yang penuh dengan kegembiraan. Deru mesin motor yang dipanaskan bersahutan dengan gelak tawa anggota klub.

Seminggu setelah insiden di Sunset Boulevard, suasana markas justru semakin solid. Malam ini adalah jadwal touring menuju pegunungan—sebuah tradisi tahunan untuk menjauh dari penatnya Los Angeles dan menikmati udara dingin di sebuah vila yang sudah disiapkan oleh Daniels.

Halaman markas penuh dengan motor-motor berkilau dan beberapa mobil logistik. Hampir semua anggota membawa pasangan atau teman dekat mereka. Ethan sudah bertengger di atas motor sport-nya, sementara seorang gadis cantik berpakaian denim menempel sempurna di punggungnya, memeluk pinggang Ethan dengan posesif.

James dan Thomas pun tak mau kalah, masing-masing sudah memiliki boncengan yang siap diajak menembus kabut malam.

"Kau yakin tidak ingin membawa Berry, Al?" Ethan berteriak dari kejauhan, tawanya meledak saat melihat Alistair yang berdiri sendirian di samping motornya. "Ini perjalanan panjang. Jok belakangmu akan terasa sangat sepi dan dingin!"

Alistair hanya membalas dengan gelengan kepala pelan. Ia sedang sibuk mengencangkan tali pada tas ranselnya yang diikat di jok belakang, menyisakan ruang yang sangat sempit untuk penumpang. Baginya, touring adalah tentang kebebasan, bukan tentang menunjukkan romansa.

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah sel mobil SUV hitam milik Daniels terparkir tepat di depan pintu utama markas. Sebuah pemandangan yang asing, karena biasanya Daniels selalu menggunakan motor pribadinya untuk memimpin barisan.

Pintu mobil terbuka, dan seorang gadis turun dari sana.

Daniels keluar dari kursi pengemudi, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Ia langsung menarik tangan gadis itu menuju ke arah Alistair. Anggota lain yang melihat itu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya siapa gadis asing yang dibawa oleh sang ketua.

"Al, bisa bicara sebentar?" panggil Daniels.

Alistair menegakkan tubuhnya. Di bawah cahaya lampu neon markas yang temaram, ia melihat seorang gadis berdiri di samping Daniels. Gadis itu mengenakan jaket kulit yang tampak sedikit kebesaran dan sebuah topi baseball yang menutupi sebagian wajahnya. Karena malam sudah larut dan Alistair sedang fokus pada persiapan teknisnya, ia tidak terlalu memperhatikan detail wajah gadis itu.

"Ini adikku, Faelyn Osborn. Adik kandungku," ucap Daniels, suaranya mengandung nada protektif yang sangat kental.

Alistair sedikit tertegun. "Aku baru tahu kau punya adik, Dan."

"Dia selama ini tinggal di Texas bersama Grand Ma dan Grand Pa. Dia baru saja pindah ke sini pagi tadi, dan dia bersikeras ingin ikut melihat pegunungan," Daniels menghela napas, seolah sedikit kewalahan dengan permintaan adiknya. "Jok motorku penuh dengan peralatan logistik penting di bagian belakang, dan aku harus memimpin barisan di depan. Aku tidak bisa menjaganya sepanjang jalan."

Daniels menatap Alistair dengan tatapan penuh kepercayaan. "Aku percayakan Faelyn padamu ya, Al? Aku tahu kau adalah pengendara yang paling stabil dan tidak akan bertingkah konyol di jalan."

Alistair hanya mengangguk pelan. Sifat "iya-iya saja" miliknya kembali muncul.

"Tentu, Dan. Dia bisa ikut denganku."

Alistair tidak terlalu memperhatikan Faelyn saat gadis itu melangkah mendekati motornya. Ia hanya memberikan helm cadangan miliknya kepada Faelyn tanpa banyak bicara. Ia adalah Alistair yang dingin—seorang remaja 16 tahun yang menganggap wanita adalah makhluk yang rumit, dan ia tidak punya energi untuk memulai percakapan basa-basi.

Tepat pukul Sepuluh malam, barisan motor itu mulai bergerak meninggalkan Long Beach. Suara deru puluhan mesin menciptakan simfoni mekanis yang membelah keheningan malam Los Angeles. Mereka bergerak menuju jalur pegunungan yang berkelok-kelok.

Alistair merasakan beban kecil di jok belakangnya. Faelyn duduk di sana, memegang pegangan besi di samping jok, alih-alih memeluk pinggang Alistair seperti pasangan-pasangan lainnya. Jarak di antara mereka terasa sangat kaku dan canggung.

Sepanjang perjalanan menembus jalanan bebas hambatan, gadis itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Angin malam yang kencang membuat komunikasi mustahil jika tidak menggunakan interkom, namun bahkan sebelum berangkat tadi, Faelyn tidak mengucapkan sepatah kata pun selain anggukan kecil saat diperkenalkan.

Alistair merasa canggung. Biasanya, ia sangat menikmati kesendirian saat berkendara. Namun kini, ada kehadiran asing yang ia rasakan. Ia sesekali melirik melalui spion, namun ia hanya bisa melihat pantulan helm hitam Faelyn.

Di depannya, Ethan tampak sangat menikmati perjalanan. Kekasihnya sesekali mencium bahu Ethan atau berteriak gembira saat motor mereka melewati tikungan tajam. Pemandangan itu kontras dengan situasi Alistair.

"Kau oke di belakang?" Alistair mencoba bertanya melalui interkom helm yang terhubung.

Hanya ada suara desisan angin selama beberapa detik. Lalu, sebuah suara lembut, nyaris seperti bisikan, terdengar di telinganya.

"Aku oke," jawab Faelyn singkat. Suaranya terdengar datar, namun ada aksen Texas yang sangat tipis yang tertangkap oleh indra pendengaran Alistair yang tajam.

Alistair tidak membalas lagi. Ia kembali fokus pada aspal di depannya. Pemandangan alam mulai berubah saat mereka memasuki area pegunungan. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi terlihat seperti raksasa hitam di bawah sinar bulan. Udara semakin mendingin, merasuk hingga ke balik jaket kulit Alistair.

Ia merasa tangan Faelyn sedikit gemetar saat memegang pegangan besi motor. Alistair menyadari bahwa pegangan itu pasti terasa sangat dingin di tangan gadis itu. Tanpa berkata-kata, Alistair sedikit melambatkan kecepatannya agar angin tidak terlalu kencang menerjang penumpangnya.

"Pegang pinggangku saja kalau kau kedinginan. Pegangan besi itu terlalu dingin," ucap Alistair melalui interkom, suaranya tetap datar tanpa maksud menggoda.

Hening sejenak. Alistair sempat mengira permintaannya akan diabaikan. Namun perlahan, ia merasakan tangan Faelyn melepaskan pegangan besi dan melingkari pinggangnya dengan ragu-ragu. Cengkeramannya sangat lembut, seolah ia takut melanggar ruang pribadi Alistair.

Alistair sedikit tersentak saat merasakan sentuhan itu. Ada perasaan yang berbeda dibandingkan saat Berry Klatten mencoba menggandeng tangannya di sekolah.

Bersama Faelyn, ada sebuah misteri yang menyelimuti kesunyiannya. Gadis dari Texas ini seolah membawa suasana baru ke dalam dunianya yang selama ini hanya berisi deru mesin dan tekanan nama besar.

Perjalanan itu terus berlanjut menuju puncak, di mana sebuah vila mewah dan tenda-tenda kemah sudah menunggu.

Di bawah langit malam yang penuh bintang, Alistair Caleb memulai perjalanan yang ia kira hanyalah touring biasa, tanpa menyadari bahwa gadis di belakangnya adalah awal dari sebuah melodi baru yang akan mengubah ritme hidupnya selamanya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!