NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

"Tolong panggilan dokter yang mengoperasiku kesini" pinta Enzo pada salah satu perawat yang merawat dirinya.

"Maksudnya dokter Eve, tuan?" tanya perawat memastikan.

"Jadi namanya Eve" gumam Enzo tersenyum dalam hati.

"Iya itu, saya tidak tahu namanya" kata Enzo.

Perawat mengangguk, "Sebentar saya panggilkan tuan" katanya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Enzo. Perawat tersebut menemui Evelyn di ruangannya.

"Kenapa sus?" tanya Evelyn ketika melihat perawat masuk kedalam ruangannya.

"Pasien pria itu ingin bertemu dengan anda dok" ucapnya.

"Mau apa? Bukannya tadi pagi saya sudah memeriksanya?" bingung Evelyn.

"Saya juga tidak tahu, tapi beliau minta anda datang ke ruangannya" ucapnya.

Evelyn yang sedang merapikan beberapa berkas pasien di atas mejanya menghentikan kegiatannya sejenak. Alisnya sedikit bertaut mendengar penjelasan perawat itu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan pria asing yang semalam ia selamatkan dari luka tusuk tersebut.

Padahal tadi pagi ia sudah memeriksa keadaan pria itu dengan cukup teliti.

"Dia bilang ingin bertemu saya?" tanya Evelyn lagi untuk memastikan.

Perawat itu mengangguk pelan.

"Iya dok. Katanya dia ingin bertemu dokter yang mengoperasinya."

Evelyn menghela napas pelan. Tangannya otomatis meraih jas putih yang tadi ia gantung di sandaran kursi.

"Baiklah. Saya ke sana sebentar," ucap Evelyn akhirnya.

Perawat itu mengangguk lalu keluar dari ruangan lebih dulu. Sementara Evelyn mengenakan kembali jas dokternya dengan rapi. Ia menatap sekilas pantulan dirinya di kaca kecil di dinding, memastikan rambutnya tidak berantakan.

Di dalam hati ia masih bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya diinginkan pria itu? Apakah lukanya terasa lebih sakit? Atau ada sesuatu yang ingin ia tanyakan?

Setelah merasa siap, Evelyn berjalan keluar dari ruangannya. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang koridor rumah sakit yang mulai sedikit lebih sepi dibandingkan pagi tadi.

Beberapa perawat yang melintas menyapanya dengan hormat.

"Selamat siang, dok."

Evelyn membalas dengan anggukan kecil sambil terus berjalan menuju ruang rawat VIP tempat pria itu dirawat.

Tak butuh waktu lama hingga ia sampai di depan pintu kamar tersebut.

Tok

Tok

Evelyn mengetuk pintu dua kali sebelum akhirnya membukanya.

Di dalam kamar, Enzo sedang duduk bersandar di ranjang pasien. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan semalam saat tubuhnya dipenuhi darah.

Ketika pintu terbuka, mata tajam Enzo langsung tertuju pada sosok wanita yang masuk.

Untuk sesaat, ia terdiam.

Wanita itu ternyata jauh lebih cantik jika dilihat dalam keadaan sadar. Rambut hitamnya terikat rapi, wajahnya terlihat tenang namun tegas, dan jas dokter putih yang ia kenakan membuat auranya terlihat begitu profesional.

"Ehem."

Suara kecil dari Evelyn membuat Enzo tersadar dari lamunannya.

"Anda ingin bertemu saya?" tanya Evelyn dengan nada datar namun sopan.

Ia melangkah mendekati ranjang pasien sambil membuka map pemeriksaan di tangannya.

Enzo menatapnya dengan senyum tipis.

"Jadi… nama anda Evelyn?" tanyanya santai.

Evelyn sedikit mengernyit.

"Siapa yang memberi tahu anda?" tanyanya balik.

"Perawat tadi. Nama di bajumu juga sudah menjelaskan" jawab Enzo ringan.

Evelyn hanya mengangguk kecil, lalu mulai memeriksa kondisi pasiennya seperti biasa. Ia memeriksa tekanan darah, melihat luka operasi, serta memperhatikan kondisi tubuh pria itu.

"Lukanya terlihat baik. Tidak ada tanda infeksi," ucap Evelyn profesional.

Kemudian ia menutup map tersebut.

"Kalau begitu, ada yang ingin anda katakan?" tanya Evelyn langsung pada inti.

Enzo menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Saya hanya ingin berterima kasih."

Evelyn tampak sedikit terkejut dengan jawaban. "Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi kewajiban saya menyelamatkan nyawa orang lain"

Enzo mengangguk, sejenak ruangan itu sunyi.

"Kalau sudah tidak ada yang ingin anda katakan, saya pergi dulu, saya harus melanjutkan pekerjaan saya" kata Evelyn.

"Tunggu" cegah Enzo ketika melihat Evelyn hendak berbalik.

"Apalagi" kesal Evelyn.

"Saya mau mandi, tapi saya tidak bisa melepas baju sendiri, tanpa bantuan orang lain" ucap Enzo.

"Terus maksudmu....." Tanya Evelyn bingung.

"Iya, saya ingin kamu membantu melepas baju saya" ucap Enzo enteng.

Evelyn melongo tidak percaya."Yang luka kan perutmu, bukan tanganmu atau kakimu. Terus kenapa tidak bisa lepas baju sendiri"

Evelyn menatap Enzo dengan ekspresi tidak percaya. Alisnya terangkat tinggi, sementara tangannya sudah menggenggam erat map pasien yang tadi ia bawa. Ia benar-benar tidak menyangka pria yang tampak tenang dan misterius itu bisa mengatakan sesuatu yang begitu... menyebalkan dengan wajah setenang itu.

Enzo sendiri tampak santai. Ia bersandar di ranjang pasien, menatap Evelyn seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

"Bagaimana dengan infusnya, siapa yang akan memeganginya? Saya juga tidak bisa menunduk melepas celana saya," lanjut Enzo dengan nada datar, seakan permintaannya adalah hal yang paling masuk akal di dunia.

Evelyn menghembuskan napas panjang. Ia mencoba menahan kesabarannya.

"Kamu bisa memakainya kenapa tidak bisa melepaskannya sendiri" aneh Evelyn.

Tadi malam perawat sudah mengganti pakaian pria itu dengan pakaian rumah sakit, tapi tadi pagi pakaian pria itu sudah berubah, dia memakai kembali pakaiannya. Dan sekarang minta di bantu untuk melepasnya.

"Di rumah sakit ini ada perawat laki-laki," jawabnya tegas. "Saya bisa memanggil mereka untuk membantu anda."

Namun Enzo langsung menggeleng.

"Tidak."

Jawaban itu keluar cepat.

Evelyn kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan lebih tajam.

"Maksudnya?"

"Saya tidak nyaman," kata Enzo singkat.

Evelyn hampir saja tertawa mendengarnya.

"Tidak nyaman?" ulangnya. "Anda masuk kedalam mobil saya dengan luka tusuk di perut, hampir kehilangan banyak darah, dan sekarang anda bicara tentang kenyamanan?"

Enzo tersenyum tipis. "Ada batasannya."

Evelyn benar-benar merasa kesabarannya sedang diuji. "Kalau begitu tahan saja sampai anda pulang," katanya dingin.

Ia sudah bersiap berbalik pergi, namun suara Enzo kembali menghentikannya.

"Dokter." Nada suara Enzo kali ini terdengar sedikit lebih serius.

Evelyn berhenti melangkah, meskipun wajahnya jelas menunjukkan rasa jengkel. "Apa lagi?"

Enzo menatapnya lurus. "Saya pasien anda."

Evelyn menghela napas berat. "Tentu saja saya tahu."

"Dan kondisi saya masih dalam masa pemulihan setelah operasi," lanjut Enzo. "Bukankah dokter harus memastikan pasiennya tidak melakukan gerakan yang bisa membuka jahitan?"

Evelyn terdiam sejenak. Ia benci mengakui bahwa pria ini ada benarnya. Luka operasi di perut memang bisa terbuka jika pasien terlalu banyak membungkuk atau melakukan gerakan tiba-tiba. Namun tetap saja…Permintaan ini terasa aneh.

Evelyn menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Anda benar-benar tidak bisa?"

Enzo mengangkat tangan kirinya yang terpasang infus. "Kalau jarumnya tercabut, anda yang akan marah nanti," katanya santai.

Evelyn menatap tangan itu beberapa detik, lalu kembali menatap wajah Enzo yang terlihat terlalu tenang untuk ukuran pasien.

Di dalam hati ia bergumam kesal. Pria ini benar-benar menyebalkan.

Akhirnya Evelyn menghela napas panjang lagi, seolah menyerah.

"Baik," katanya pendek.

Namun ia langsung mengangkat satu jari peringatan. "Tapi hanya membantu sedikit. Jangan macam-macam."

Enzo terkekeh pelan. "Saya sedang sakit, dokter. Apa yang bisa saya lakukan?"

Evelyn memutar bola matanya kesal. Ia mendekat ke ranjang pasien, lalu berhenti di samping tempat tidur.

"Angkat sedikit tangan anda," katanya profesional.

Enzo menuruti tanpa protes. Gerakannya memang sedikit kaku karena luka di perutnya masih terasa nyeri.

Evelyn dengan hati-hati membantu melepaskan kancing baju rumah sakit yang ia kenakan.

Saat kain itu terbuka, terlihat perban yang membalut bagian perut Enzo.

Evelyn otomatis memeriksa kondisi luka itu sekilas dengan tatapan dokter yang serius.

"Jahitannya masih bagus," gumamnya.

Enzo menatapnya dengan sudut bibir terangkat.

"Dekat sekali."

Evelyn langsung melotot padanya.

"Diam."

Enzo malah tertawa kecil.

Setelah selesai membuka baju bagian atas, Evelyn mundur satu langkah.

"Untuk celana, anda bisa melakukannya sendiri sambil berdiri pelan. Jangan terlalu menunduk," jelasnya.

Enzo mengangguk pelan.

"Tapi…"

Evelyn langsung mengangkat tangan menghentikannya. "Tidak ada tapi." Seru Evelyn, Tatapan Evelyn benar-benar tajam sekarang.

"Saya dokter anda, bukan pelayan pribadi."

Enzo kembali tersenyum tipis. Ia tidak tahu kenapa, tetapi melihat Evelyn kesal seperti itu justru terasa menyenangkan. Wanita itu berbeda dari orang-orang yang biasa ia temui.

Tidak takut padanya. Tidak berusaha menyenangkan dirinya. Dan yang paling menarik…Evelyn sama sekali tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Enzo bersandar kembali di ranjang dengan senyum samar. Sementara Evelyn berjalan menuju pintu kamar. Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh sebentar.

"Kalau butuh bantuan lagi, panggil perawat."

Enzo hanya mengangguk.

Pintu kamar akhirnya tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian, senyum Enzo perlahan melebar.

"Evelyn…" gumamnya pelan.

Nama itu terasa asing di lidahnya, namun entah kenapa terdengar menarik.

Pria itu menatap pintu kamar yang baru saja dilewati Evelyn.

Tanpa ia sadari… Pertemuannya dengan dokter keras kepala itu baru saja menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan dokter dan pasien.

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!