NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Jati merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam elegan dengan logo platinum yang berkilau tertimpa cahaya lampu.

Ia meraih tangan Lintang, lalu meletakkan kartu itu tepat di telapak tangan istrinya.

"Pegang ini, Sayang. Ini kartu kredit tanpa limit untukmu," ucap Jati dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Lintang terbelalak, menatap kartu tipis yang terasa sangat berat karena nilainya itu.

"Mas, ini untuk apa? Aku tidak butuh uang sebanyak ini. Tabunganku masih ada."

"Ini sebagai ganti kesibukanmu," potong Jati sambil mengusap pipi Lintang lembut.

"Mas tidak mau kamu merasa bosan atau merasa harus bekerja lagi. Gunakan untuk belanja apa pun yang kamu mau. Tas, perhiasan, baju bayi, atau apa pun yang bisa membuatmu tersenyum hari ini. Anggap saja ini 'gaji' karena sudah menjadi istri dan calon ibu yang hebat."

Lintang hanya bisa tertegun, ia tahu suaminya tidak akan menerima penolakan.

Sementara itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan kediaman Bu Rani.

Sekretaris pribadi Jati, seorang pria berkacamata dengan setelan rapi, turun sambil membawa keranjang buah premium berukuran besar dan sebuah amplop cokelat tebal.

"Permisi, Bu Rani?" sapa sang sekretaris sopan saat Bu Rani keluar dengan wajah heran.

"Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Nak? Lintang mana? Kok tidak datang?" tanya Bu Rani kebingungan.

Sekretaris itu membungkuk hormat. "Mohon maaf, Bu. Saya utusan dari Bapak Jati Pratama. Ibu Lintang saat ini sudah tidak bisa melayani jasa pijat lagi karena kondisi kesehatan beliau yang sedang mengandung dan kesibukan mendampingi suami."

Bu Rani menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

"Hamil? Wah, syukurlah! Tapi, suami? Lintang sudah menikah dengan orang kaya?"

"Benar, Bu. Sebagai bentuk permohonan maaf karena tidak bisa datang, Pak Jati mengirimkan bingkisan ini. Dan di dalam amplop ini, sudah ada kontak tukang pijat profesional dari spa terbaik di Jakarta yang biayanya sudah dilunasi oleh Pak Jati untuk sepuluh kali kedatangan ke rumah Ibu," jelas sang sekretaris panjang lebar.

Bu Rani menerima bingkisan itu dengan tangan gemetar.

Ia tidak menyangka bahwa wanita sederhana yang dulu sering memijatnya kini telah menjadi permaisuri di sebuah dinasti bisnis besar.

"Sampaikan terima kasih saya pada Lintang dan suaminya ya, Nak. Saya ikut senang mendengar kabarnya," ucap Bu Rani haru.

Kembali ke Apartemen dimana di meja makan, Jati sedang memasangkan jam tangan ke pergelangan tangannya, siap untuk berangkat ke kantor. Namun, ia kembali melirik Lintang yang masih memandangi kartu kredit hitam itu.

"Jangan hanya dipandangi, Lintang. Siang nanti Mas mau lihat ada laporan transaksi masuk di ponsel Mas. Kalau tidak ada, Mas akan marah," goda Jati sambil mengecup dahi Lintang.

"Mas, kamu ini benar-benar ya," Lintang tertawa kecil, akhirnya luluh juga.

"Mas berangkat dulu. Ingat, jangan memijat siapa pun, bahkan diri sendiri kalau pegal. Panggil suster, oke?" pesan Jati sebelum benar-benar melangkah keluar dengan senyum kemenangan.

Lintang menatap kartu hitam di tangannya dengan ragu.

"Mungkin sesekali aku harus menuruti kata Mas Jati," gumamnya. Dengan pengawalan sopan dari supir pribadi yang disiapkan Jati, Lintang akhirnya tiba di sebuah mal mewah di pusat kota.

Ia ingin mencari beberapa pasang pakaian tidur berbahan sutra yang lembut karena kulitnya menjadi lebih sensitif sejak hamil.

Ia melangkah masuk ke sebuah butik pakaian tidur kelas atas. Namun, penampilannya yang sederhana—hanya mengenakan daster batik modern yang longgar dan flat shoes—membuat para pelayan di sana saling berbisik sinis.

Saat Lintang menyentuh salah satu piyama sutra yang terpajang, seorang pelayan wanita dengan riasan tebal menghampirinya dan langsung menarik pakaian itu dari tangan Lintang.

"Jangan sembarangan pegang, Mbak. Ini harganya puluhan juta. Kalau kotor atau rusak, Mbak tidak akan sanggup ganti," ketus pelayan itu sambil menatap Lintang dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Miskin kok banyak gaya. Cari pasar kaget saja sana."

Lintang tersentak, hatinya terasa perih. "Mbak, saya ke sini niatnya mau beli. Saya punya uang dan saya akan bayar. Tolong hargai pelanggan," ucap Lintang berusaha tegar.

"Halah, paling juga cuma mau foto-foto buat pamer! Keluar sekarang, sebelum saya panggil satpam!"

Pelayan itu kehilangan kesabaran dan malah mendorong bahu Lintang dengan kasar.

"Ah!" Lintang memekik.

Ia terhuyung ke belakang, beruntung tangannya segera meraih pinggiran rak besi yang kokoh sehingga ia tidak sampai jatuh tersungkur. Perutnya terasa sedikit kram karena kaget.

Dengan tangan gemetar dan mata yang mulai berkaca-kaca, Lintang merogoh ponselnya.

Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi selain suaminya.

Di kantor pusat Jati Pratama dimana suasana ruang rapat sangat tegang.

Jati sedang memimpin presentasi proyek bernilai triliunan rupiah di depan para investor asing.

Ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Biasanya, Jati akan mengabaikan panggilan saat rapat, namun saat melihat nama "Istriku " di layar, ia langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar rapat dihentikan seketika.

"Halo, Sayang?" Jati menjawab dengan suara lembut, yang membuat seluruh peserta rapat tertegun.

Namun, yang terdengar di seberang sana hanyalah suara isak tangis yang tertahan.

"Mas."

Jati langsung berdiri dari kursinya, wajahnya berubah gelap dan dingin dalam sekejap.

"Lintang? Kamu kenapa? Ada apa? Siapa yang menyakitimu?"

"Mas, kartu Mas. Apa benar-benar bisa dipakai? Aku didorong oleh pelayan dan pelayannya bilang aku miskin..." ucap Lintang di sela tangisnya.

Mendengar kata "didorong" dan "istrinya menangis", amarah Jati meledak.

Ia tidak peduli lagi dengan rapat triliunan rupiah di depannya.

"Kamu di mana sekarang? Jangan bergerak dari sana, Lintang! Mas ke sana sekarang juga!" teriak Jati.

Ia menoleh ke arah asisten pribadinya yang sigap berdiri.

"Batalkan semua rapat! Siapkan mobil, kita ke Mal Grand Plaza sekarang. Dan hubungi pemilik mall itu, katakan aku ingin butik itu ditutup permanen dalam satu jam!"

Jati berlari keluar ruangan, meninggalkan para investor yang kebingungan.

Di dalam kepalanya hanya ada satu hal: siapa pun yang berani membuat Lintang meneteskan air mata, maka orang itu telah menggali kuburannya sendiri.

Langkah kaki Jati yang tegas bergema di koridor mal, diikuti oleh barisan pengawal berjas hitam yang membuat suasana butik seketika mencekam.

Wajah Jati tampak sekeras batu karang, matanya yang tajam langsung tertuju pada Lintang yang sedang duduk di sofa pojok sambil mengusap air matanya.

Jati tidak memedulikan siapa pun. Ia langsung berlutut di depan istrinya, memeriksa pergelangan tangan dan bahu Lintang dengan sangat hati-hati.

"Mana yang sakit? Katakan pada Mas, bagian mana yang dia sentuh tadi?" suara Jati rendah namun bergetar karena menahan murka.

"Mas, sudah, aku tidak apa-apa," bisik Lintang pelan, namun isaknya masih tersisa.

Pelayan yang tadi mendorong Lintang kini berdiri mematung.

Wajahnya yang tadi penuh kesombongan berubah menjadi sepucat kertas saat menyadari siapa pria yang sedang berlutut di depan "wanita daster" itu.

"Pak Jati..." suara pelayan itu mencicit, lututnya lemas hingga ia nyaris terjatuh.

Manajer butik yang baru saja berlari dari ruang belakang langsung membungkuk dalam-dalam, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Ia mengenali Jati Pratama—pria yang sahamnya tersebar di mana-mana, termasuk di gedung mal tempat mereka menyewa lapak.

"Pak Jati, mohon maaf sebesar-besarnya! Saya benar-benar minta maaf atas kelakuan staf kami yang tidak kompeten ini. Kami tidak tahu kalau beliau adalah Ibu Lintang, istri Anda," ucap sang manajer dengan suara gemetar, tak berani menatap mata Jati.

Jati berdiri perlahan, membalikkan badannya menghadap manajer dan pelayan itu.

Auranya begitu menindas hingga udara di butik itu terasa tipis.

"Tidak tahu?" Jati mendengus sinis.

"Jadi kalau dia bukan istriku, kalian berhak menghina dan mendorongnya? Begitu standar pelayanan kalian?"

Jati melirik pelayan wanita yang tadi mendorong Lintang.

Pelayan itu kini menangis, namun bukan karena menyesal, melainkan karena ketakutan.

"Kamu bilang dia miskin?" Jati mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya dan melemparkannya ke atas meja kasir.

"Kartu ini bisa membeli seluruh butik ini beserta gedungnya jika aku mau. Dan kamu berani menyentuh wanita yang bahkan aku sendiri tidak berani membentaknya?"

Jati menoleh ke arah asistennya. "Hubungi manajemen mal. Aku tidak mau melihat butik ini buka lagi besok pagi. Batalkan kontrak sewa mereka sekarang juga. Dan untuk perempuan ini..."

Jati menunjuk pelayan itu, "Pastikan namanya masuk daftar hitam di seluruh jaringan retail di negeri ini. Dia tidak boleh bekerja di mana pun lagi."

"Pak, tolong. Saya mohon, jangan pecat saya!" pelayan itu bersujud di kaki Jati, namun salah satu pengawal Jati segera menghalanginya.

"Ayo pulang, Sayang. Tempat ini terlalu kotor untukmu dan anak kita," ucap Jati lembut sambil merangkul pinggang Lintang, meninggalkan keributan dan tangisan di butik itu tanpa menoleh sedikit pun.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!