Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Suara mesin Mercedes yang halus akhirnya berhenti di basement apartemen mereka. Perjalanan pulang dari kediaman besar Sterling terasa lebih panjang dari biasanya. Nomella lebih banyak diam, sementara Zeus sesekali bersiul, memainkan peran "suami bahagia" dengan ketelitian seorang aktor watak. Namun, di bawah lampu temaram dashboard, Nomella bisa melihat ketegangan yang tersembunyi di urat leher suaminya.
Begitu mereka memasuki kamar utama dan aroma lilin aromaterapi menyambut mereka, Nomella tidak bisa menahan pertanyaannya lagi. Ia duduk di tepi ranjang, memerhatikan Zeus yang sedang membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Zeus," panggil Nomella pelan. "Apa kau... apa kau benar-benar merasa tidak lagi butuh obat-obatan itu? Dokter bilang penghentian mendadak bisa berakibat buruk."
Zeus menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Nomella dengan binar mata yang begitu dalam. Pria itu melangkah mendekat, lalu duduk di hadapan istrinya. Ia meraih wajah Nomella dengan kedua tangannya yang hangat. Dengan penuh kelembutan, Zeus mendaratkan ciuman ringan di kening, lalu turun ke kelopak mata, hidung, dan terakhir di pipi Nomella. Sentuhan itu terasa sangat protektif.
"Aku tidak lagi butuh obat itu, Sayang," bisik Zeus, suaranya rendah dan stabil. "Aku tidak sakit. Jiwaku sudah tenang karena ada kau dan jagoan kita di sini. Percayalah padaku. Sekarang, tidurlah. Kau butuh istirahat."
Nomella menatap suaminya lama, mencari celah kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan keteduhan. Ia akhirnya mengangguk, membiarkan Zeus membantunya berbaring dan menyelimutinya hingga ke dada. Rasa lelah yang emosional membuat Nomella terlelap lebih cepat dari biasanya.
Namun, begitu napas Nomella berubah menjadi teratur dan berat, kehangatan di wajah Zeus menguap seketika.
Zeus duduk tegak di sisi ranjang, membelakangi istrinya. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia mengepalkan tangannya di atas lutut, mencoba menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Sudah dua hari ini, Zeus merasakan emosinya berada di ujung tanduk. Ketidakstabilan itu bukan karena dia gila, melainkan karena dia mulai ingat sepenuhnya.
Ia mengingat setiap tuntutan Charles, setiap tatapan dingin ayahnya yang menuntut kesempurnaan, dan bagaimana mereka memanipulasi rasa bersalahnya selama bertahun-tahun. Kata-kata Charles di meja makan tadi—tentang menjadi "pria yang bertanggung jawab seperti Zayn" rasanya ingin ia telan hidup-hidup bersama dengan wajah angkuh ayahnya itu.
Faktanya adalah: Zeus sudah sembuh. Dia tidak lagi butuh obat penenang karena kabut disosiasi itu telah tersingkap. Dia mengingat segalanya—bukan sebagai delusi, melainkan sebagai memori pahit yang nyata. Dia tahu siapa dirinya, dia tahu apa yang dilakukan keluarganya, dan dia sadar sepenuhnya akan drama yang sedang ia mainkan.
"Sialan," desisnya tanpa suara.
Ia merasa sangat lelah harus berekspresi hangat dan ceria sepanjang waktu. Jati dirinya yang asli—Zeus yang dingin, tajam, dan penuh perhitungan—telah kembali dengan kekuatan penuh. Namun, setiap kali ia ingin meledak, ia menoleh ke samping. Ia menatap Nomella yang tertidur pulas, lalu tangannya meraba perut rata istrinya. Di sana, ia merasakan "semestanya".
Hanya demi Nomella dan anak itu, Zeus bersedia tetap memakai topeng "Matahari" yang hangat. Ia tidak ingin Nomella ketakutan. Ia tidak ingin istrinya sadar bahwa pria yang kini memeluknya adalah pria yang sedang merencanakan kehancuran bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangan keluarga kecil mereka.
Zeus bangkit dengan perlahan, tidak ingin membangunkan Nomella. Ia melangkah menuju kamar mandi, menutup pintunya rapat-rapat, dan menguncinya.
Di depan cermin besar yang diterangi lampu putih pucat, Zeus menatap pantulan dirinya. Di sinilah, di balik pintu terkunci ini, ia melepas topengnya. Wajah yang tadi penuh senyum kini berubah menjadi sedingin es. Matanya yang hangat kini beralih menjadi tatapan predator yang tak kenal ampun. Ia mencuci wajahnya dengan air dingin, membiarkan setiap tetesnya menetralkan gejolak amarahnya.
"Drama yang sempurna," gumamnya pada pantulan dirinya sendiri.
Dia menyadari bahwa hidupnya sekarang adalah sebuah panggung sandiwara yang ia pimpin sendiri. Dia membiarkan Charles dan Elena berpikir bahwa mereka berhasil menjinakkannya. Dia membiarkan Nomella berpikir bahwa cintanya telah menyembuhkan kegilaannya. Padahal, yang terjadi adalah Zeus telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: seorang pria waras yang berpura-pura gila demi cinta.
Dia tidak akan lagi menjadi budak tuntutan keluarga Sterling. Dia akan menjadi Zeus yang memegang kendali. Jika ayahnya ingin dia menjadi "Zayn", maka dia akan memberikan pertunjukan terbaik—sampai saatnya tiba untuk meruntuhkan seluruh kekaisaran Charles Sterling dari dalam.
Zeus keluar dari kamar mandi, wajahnya kembali diatur menjadi tenang meskipun tatapan matanya masih menyisakan sedikit kedinginan. Ia kembali ke ranjang, menyelinap di balik selimut, dan menarik Nomella ke dalam dekapannya.
Saat Nomella sedikit menggeliat dan mencari kenyamanan di dadanya, kemarahan Zeus mereda seketika. Rasa cinta yang tumbuh di antara mereka adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah lautan kebohongan ini. Ia mencium rambut Nomella, membisikkan janji yang hanya bisa didengar oleh kegelapan malam.
"Tidurlah, Sayang. Tidak akan ada yang menyakitimu. Bahkan jika aku harus menjadi iblis untuk melindungi malaikatku."
Malam itu, Zeus Sterling tidak lagi tidur sebagai penderita delusi. Ia tidur sebagai seorang pria yang telah menemukan kembali jati dirinya, bersiap untuk menghadapi badai kebenaran yang ia tahu sudah berada di depan pintu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰