Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatih Pribadi Sang Pemberontak
Udara pagi di lapangan basket SMA Garuda terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti ring, namun suara pantulan bola yang ritmis sudah memecah kesunyian. Bum. Bum. Bum. Reina berdiri di pinggir lapangan dengan jam sukat (stopwatch) di tangan dan sebuah papan klip yang penuh dengan catatan statistik. Ia bukan lagi Reina yang hanya tahu teori; ia adalah Reina yang kini memahami setiap peluh yang jatuh dari dahi Kenzo.
Lapangan Basket – Pukul 05.30 WIB
"Tiga puluh detik lagi, Ken! Kalau kamu nggak bisa three-point lima kali berturut-turut, kita tambah sesi push-up!" teriak Reina, suaranya lantang bergema di antara gedung sekolah yang masih sepi.
Kenzo mengatur napasnya yang memburu. Keringat membasahi kaos singletnya hingga tembus pandang, memperlihatkan setiap gerak otot bahunya yang bekerja keras. Ia melirik Reina, lalu menyeringai tipis. "Galak banget, Bu Ketua. Belum sarapan ya?"
SWISH!
Bola masuk dengan mulus. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Pada lemparan kelima, tangan Kenzo tampak sedikit gemetar. Bola menghantam bibir ring dan memantul keluar. Kenzo jatuh terduduk, memegangi lutut kirinya dengan wajah meringis kesakitan.
Reina langsung berlari ke tengah lapangan, rasa paniknya tidak bisa disembunyikan. "Ken! Ada apa? Lututmu?"
Kenzo mencoba mengatur napas, wajahnya pucat. "Cuma... kram dikit. Biasa."
Reina berlutut di sampingnya, matanya menatap tajam ke arah lutut Kenzo yang tampak sedikit bengkak. Ia teringat sesuatu. "Ini bukan kram biasa, kan? Ini cidera lama dari pertandingan tahun lalu yang bikin kamu berhenti jadi kapten?"
Kenzo terdiam, memalingkan wajah. Rahasia yang selama ini ia tutup rapat dengan sikap slengean-nya akhirnya terbongkar. "Dokter bilang aku nggak boleh main terlalu intens lagi. Tapi sepuluh juta itu cuma ada di lapangan basket, Rein. Bukan di perpustakaanmu."
Reina merasakan dadanya sesak. Ia menyentuh lutut Kenzo dengan sangat hati-hati. "Kenzo... kenapa kamu nggak bilang? Kamu mempertaruhkan kakimu buat festival ini?"
"Bukan buat festivalnya," bisik Kenzo, menatap mata Reina dengan intensitas yang melumpuhkan. "Tapi buat membuktikan kalau aku bisa jadi alasan kamu buat tetap berdiri tegak di depan Ayahmu. Aku nggak mau kamu kalah, Rein."
Ruang OSIS – Pukul 10.00 WIB
Tensi di sekolah semakin panas, namun bukan karena basket. Aris muncul kembali, tapi kali ini ia tidak membawa cokelat panas. Ia datang bersama ayahnya dan beberapa perwakilan komite sekolah.
"Kami sudah meninjau izin penggunaan nama sekolah untuk turnamen 3-on-3 akhir pekan ini," ujar perwakilan komite di depan Reina. "Karena risiko cidera dan keterlibatan pihak luar, sekolah memutuskan untuk menarik izin tersebut. Siswa SMA Garuda dilarang berpartisipasi."
Reina berdiri, matanya berkilat marah. Ia melirik Aris yang berdiri di belakang ayahnya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah ia tidak punya peran dalam sabotase ini.
"Ini turnamen umum, Pak. Kami mengikutinya secara mandiri," protes Reina.
"Tapi Kenzo Dirgantara adalah siswa kami. Jika terjadi sesuatu padanya, sekolah yang bertanggung jawab," balas komite itu dingin.
Reina tahu ini adalah permainan Aris. Aris ingin menutup semua jalan keluar bagi mereka agar Reina tidak punya pilihan selain kembali bersimpuh di depannya.
Gerbang Sekolah – Pukul 16.00 WIB
Kenzo sedang duduk di atas motornya, menunggu Reina dengan lutut yang sudah dibalut perban elastis. Saat Reina menceritakan soal pembatalan izin itu, Kenzo justru tertawa—tawa yang sarat akan tantangan.
"Mereka pikir selembar kertas bisa menghentikan aku?" Kenzo menghidupkan mesin motornya. "Dengar, Rein. Kalau sekolah nggak kasih izin kita bawa nama SMA Garuda, kita bakal main pakai nama lain."
"Nama apa?" tanya Reina bingung.
Kenzo menarik tangan Reina, menuntunnya untuk naik ke jok belakang. "Nama yang nggak bisa mereka larang. Nama yang cuma milik kita berdua."
Kenzo memacu motornya menuju pusat pendaftaran turnamen. Di formulir pendaftaran, ia menuliskan nama tim mereka dengan huruf kapital yang tegas: "LAWAN HATI".
"Kita bakal tunjukin ke Aris, ke Ayahmu, dan ke seluruh sekolah," bisik Kenzo saat mereka berdiri di depan papan pengumuman turnamen. "Bahwa lawan hati itu justru yang paling kuat kalau sudah jadi satu."
Reina menggenggam tangan Kenzo yang kasar. Ia tahu, akhir pekan ini akan menjadi pertaruhan terbesar dalam hidup mereka. Bukan hanya soal uang sepuluh juta, tapi soal apakah cinta mereka sanggup bertahan di tengah hantaman badai dari segala arah.