"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi berikutnya, meskipun persendianku masih terasa agak kaku dan kepalaku sesekali berdenyut, aku memaksa diri untuk bangkit. Aku tidak tahan lagi terkurung dalam kamar yang hanya penuh dengan bayang-bayang mereka. Aku butuh udara luar, meski aku tahu udara di sekolah akan terasa sangat mencekik.
Bunda sempat melarang, tapi aku bersikeras. Aku memoles wajahku dengan sedikit lebih tebal dari biasanya, hanya untuk menutupi pucat dan jejak lelah yang enggan hilang.
"Fis berangkat, Bun," pamitku singkat. Aku sengaja berangkat lebih pagi sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, demi menghindari pertemuan dengan Bintang atau Kaila di depan pagar.
Gerbang sekolah masih sepi saat aku melangkah masuk. Angin pagi yang dingin membuatku merapatkan almamater. Aku berjalan menunduk, melewati koridor yang biasanya menjadi tempatku dan Guntur berpapasan secara tidak sengaja.
Saat aku sampai di depan loker, mataku tertuju pada sebuah benda yang tergantung di sana. Sebuah kantong plastik putih berisi kotak obat dan cokelat batangan—titipan yang kemarin disebutkan Ayu. Aku menatapnya datar. Tidak ada rasa haru, hanya ada rasa hambar yang menyakitkan.
Tanpa membukanya, aku menyambar kantong itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah besar di pojok koridor. Aku tidak butuh penawar dari orang yang menjadi sumber racunnya.
"Fis? Lo udah masuk?"
Suara itu membuatku menoleh. Ayu berdiri di sana, memegang botol minum, menatapku dengan wajah campur aduk. Di belakangnya, tampak Alif yang juga baru datang.
"Lo pucat banget, Fis. Jangan dipaksain kalau belum kuat," ucap Ayu pelan, mencoba mendekat.
"Gue kuat. Gue cuma nggak mau di rumah terus," sahutku dingin. Aku sengaja tidak menatap Alif sedikit pun. Bagiku, dia bukan lagi jembatan, tapi saksi bisu yang ikut meruntuhkan segalanya.
Aku masuk ke kelas dan duduk di bangku paling pojok. Aku mengeluarkan buku, berpura-pura sangat sibuk membaca. Tak lama, kelas mulai ramai. Dari sudut mataku, aku melihat Kaila masuk dengan wajah lesu. Dia sempat berhenti di depan mejaku, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, tapi aku segera memasang earphone dan memalingkan wajah ke jendela.
Namun, ketenanganku terusik saat bel masuk berbunyi. Seorang siswa kelas sebelah masuk ke kelasku dan menaruh sebuah surat di meja depanku.
"Dari Guntur. Katanya, dia tunggu lo di atap sekolah pas jam istirahat. Dia bilang, ini terakhir kalinya dia minta waktu lo," ucap siswa itu lalu pergi.
Dadaku bergemuruh. Terakhir kali?
Aku menatap surat di atas meja itu dengan tatapan kosong.
Terakhir kalinya? Lucu sekali. Dia yang memutuskan untuk pergi, dia yang berkhianat dengan sahabatku sendiri, dan sekarang dia yang mengatur kapan "waktu terakhir" itu harus terjadi.
Aku teringat plastik berisi cokelat dan obat di pagar rumah kemarin yang disebutkan Ayu. Ternyata dugaanku benar, itu bukan dari Guntur. Mana mungkin laki-laki sedingin itu peduli sampai datang ke rumahku? Itu pasti cara teman-temannya—atau mungkin Bintang—untuk membuatku merasa lebih baik. Guntur yang asli tetaplah Guntur yang tidak punya hati.
Tanpa ragu sedikit pun, aku mengambil surat itu. Tidak ada getaran di tanganku lagi, hanya ada rasa kebas yang dingin.
Sret! Sret!
Aku merobek kertas itu menjadi serpihan kecil di depan mata teman-temanku yang mulai berbisik. Aku tidak butuh drama di atap sekolah. Aku tidak butuh penjelasan yang sudah basi.
"Fis... itu dari Guntur," bisik Kaila yang duduk tak jauh dariku, suaranya terdengar ngeri melihat reaksiku.
"Gue tahu," sahutku datar. Aku bangkit, berjalan ke depan kelas, dan menjatuhkan serpihan kertas itu tepat ke dalam tempat sampah. "Dan gue nggak peduli."
Aku kembali ke tempat duduk, tepat saat Bintang muncul di ambang pintu kelas X-IPS 2. Napasnya sedikit terengah, sepertinya dia sengaja lari dari kelasnya di gedung seberang hanya untuk memastikanku masuk sekolah.
"Fis! Kamu udah masuk?" Bintang mendekat, wajahnya cerah seketika saat melihatku, meski matanya menangkap sisa-sisa pucat di wajahku. "Gimana keadaan kamu? Udah enakan?"
"Udah, Bin. Makasih ya," jawabku, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut. Setidaknya, Bintang tidak berpura-pura.
Bintang tersenyum lega, lalu dia melirik ke arah tempat sampah tempat aku baru saja membuang surat Guntur. Dia sepertinya mengerti apa yang terjadi. "Baguslah kalau kamu udah bisa tegas, Fis. Kamu pantes dapet yang lebih baik."
Namun, di tengah obrolan kami, suasana kelas mendadak senyap. Fita berdiri di pintu kelas. Matanya merah, sembap seperti habis menangis semalaman. Dia tidak menatap siapapun kecuali aku.
"Afisa... tolong, sekali ini aja. Gue mau ngomong sesuatu soal Guntur yang lo nggak tahu," ucap Fita dengan suara bergetar.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2