[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memantau situasi
Satu minggu telah berlalu sejak hari pertama kiamat. Di dalam kastil megah kaki Gunung Qingcheng, kehidupan berjalan dalam keteraturan yang aneh. Di luar, dunia hancur; di dalam, dua bersaudara membangun rutinitas baru.
Pagi itu, Lin Yan duduk di ruang tamu, menyusun rencana di kepalanya. Lin Feng duduk di seberang, menatap kakaknya dengan campuran rasa hormat dan takut. Seminggu terakhir, ia menjalani latihan intensif yang hampir membuatnya pingsan setiap hari. Tapi hasilnya, fisiknya sekarang jauh lebih kuat dari manusia normal. Ia bisa lari keliling hutan tanpa tersengal, memukul pohon hingga retak, dan bertahan dari latihan gila kakaknya.
"Feng'er," panggil Lin Yan tiba-tiba. Matanya merah delima menatap tajam.
"Iya, Jie?" Lin Feng menegakkan punggung, waspada.
Lin Yan menatap adiknya dengan serius. "Mulai besok, Jie akan pergi selama seminggu. Kau tinggal di sini sendirian."
Lin Feng terkejut, matanya membelalak. "Pergi ke mana, Jie? Di luar banyak zombie!"
"Memantau situasi. Melihat sejauh mana kiamat menyebar. Mencari informasi." Lin Yan menghela napas, rambut putihnya tersibak sedikit. "Kita tidak bisa terus-terusan terkukung di sini tanpa tahu keadaan luar. Mungkin ada kelompok penyintas lain, mungkin ada bahaya baru."
"Tapi—"
"Jie sudah putuskan." Suara Lin Yan tegas, tidak bisa diganggu gugat. "Selama Jie pergi, kau harus menyelesaikan Latihan Iblis Part 2."
Lin Feng pucat pasi. Wajahnya yang tampan langsung berubah seperti mayat. "P-Part 2? Yang part 1 saja sudah seperti neraka! Jie, aku bisa mati!"
Lin Yan mengabaikan protes itu. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya, meletakkannya di meja marmer. "Ini daftarnya: 1000 push up, 1000 squat jump, lari 20 putaran keliling hutan, panjat pohon tertinggi 50 kali, dan latihan pernapasan setiap pagi dan malam. Juga latihan dasar bela diri dengan bayangan—Jie sudah setting simulasi di ruang bawah tanah."
Lin Feng membaca daftar itu, wajahnya makin pucat. "Jie... ini bunuh diri."
"Kau harus selesaikan dalam seminggu." Lin Yan tersenyum, senyum yang membuat Lin Feng merinding. Senyum yang sama seperti saat ia membantai zombie sambil vlog kayak tidak terjadi apa-apa. "Jika tidak..." Ia menjeda, memperpanjang ketegangan. "Kau akan Jie latih tambahan seminggu lagi dengan intensitas tiga kali lipat."
"JIE! KAU MONSTER!" teriak Lin Feng, tangannya meremas rambut sendiri frustrasi.
"no no no, aku ini kakak yang penyayang." Lin Yan mengacak rambut adiknya yang hitam legam dan lembut dengan nada bercanda. "Ingat, ini untuk kebaikanmu sendiri. Dunia luar tidak aman. Kau harus kuat. Janji sama Jie, kau akan selesaikan latihan ini."
Lin Feng menunduk, bahunya merosot. Ia tahu tidak bisa menolak. Akhirnya ia mengangguk pasrah. "Iya, Jie. Aku janji."
"Bagus." Lin Yan berdiri, meregangkan tubuh. "Jie pergi besok subuh. Jaga diri. Baihu dan Lang Shen akan bantu jaga area. Kalau ada masalah, teriak saja, mereka akan datang."
Pukul 04.00 pagi, suasana kastil masih gelap. Lampu-lampu taman di luar meredup, hanya menyisakan cahaya temaram. Lin Yan tertidur pulas di ranjangnya, memeluk bantal dengan nyaman. Mimpi indah tentang makan enak di restoran favoritnya sedang berlangsung—siomay ayam udang dengan saus pedas, lengkap dengan es teh manis.
【BANGUN! BANGUN, DASAR PEMALAS!】
Suara Sistem Xiyue meledak di kepalanya, keras seperti klakson truk di telinga. Lin Yan mengerang, meraih bantal, dan melemparkannya ke arah sumber suara. Bantal itu menembus hologram sistem dan jatuh di lantai dengan bunyi gedebuk.
【Bodoh! Aku hologram! Lempar bantal apanya?】 Layar sistem berkedip-kedip gemas.
【SEKARANG BANGUN! JAM 4 PAGI! WAKTU MULAI MISI!】
Lin Yan menggeram, menutup telinga dengan bantal lain. "Sekarang itu masih pagi! Libur! Sistem juga harus libur!"
【TIDAK ADA LIBUR DI DUNIA KIAMAT! BANGUN ATAU AKU TERIAK TERUS!】
Dan sistem benar-benar berteriak terus. Layar hologramnya bergetar, mengeluarkan suara memekik frekuensi tinggi yang membuat kepala Lin Yan seperti dipukul palu bertubi-tubi.
"AAAAARGH! BERHENTI!" Lin Yan bangkit dengan mata merah sekarang lebih merah dari biasanya karena marah dan kurang tidur. Rambut putihnya berantakan seperti sarang tawon. "AKU BANGUN! BERHENTI TERIAK!"
【Akhirnya. Dasar pemalas.】 Layar sistem menampilkan ikon si gadis kecil yang tersenyum puas.
"Kurang ajar kau, sistem." Lin Yan menggerutu sambil berjalan ke kamar mandi, setengah tersandung bantal yang dilempar.
【Lebih cepat mandinya, lebih cepat kita pergi. Jangan lupa sikat gigi, napasmu bau neraka.】
"DIAM KAU SISTEM SIALAN!"
Dua puluh menit kemudian, Lin Yan keluar dengan penampilan khasnya. Crop top merah menyala yang memperlihatkan sedikit perut rampingnya, celana olahraga hitam, jaket hitam dengan tudung yang kini menutupi kepalanya, sarung tangan hitam, dan sepatu bot. Rambut putihnya diikat keluar dari tudung, sedikit berantakan tapi tetap terlihat stylish—gaya malas yang sengaja. Ia menguap lebar, masih mengantuk.
【Jangan menguap! Ayo gerak! lebih cepat lebih baik】
Lin Yan melangkah ke pintu kastil, lalu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah sistem dengan tatapan bingung. "Eh, sistem. Naik apa aku ke kota? Jalan kaki?"
Sistem Xiyue terdiam sesaat. Layar hologramnya berkedip-kedip, seolah menarik napas panjang yeahmeskipun tidak punya napas.
【BODOH! KAU SUDAH SEMINGGU LATIHAN REALITY WAPER! KAU LUPA?!】
Lin Yan mengerjap. "Oh... iya, ya."
【DASAR! AKU CAPE BERURUSAN DENGAN HOST SEPERTI KAU!】
【Kemampuan Reality Warper-mu sudah cukup stabil untuk teleportasi jarak pendek. Kau bisa memanifestasikan dirimu di tempat yang pernah kau lihat atau kunjungi. Cukup pikirkan tempatnya dengan detail, dan kau akan sampai di sana. Ini bukan kekuatan elemen, ini kehendak murni—sesuai namanya, Reality Warper.】
Mata Lin Yan berbinar. "Teleportasi? Wah, keren! Aku seperti tokoh utama novel Xianxia yang punya cheat!"
【Kau ini host paling aneh. Kadang malas setengah mati, tapi kalau sudah soal kekuatan keren langsung semangat kayak anak kecil dikasih permen.】
Lin Yan mengabaikan ejekan itu. Ia memejamkan mata, memusatkan pikiran pada pusat kota—tepatnya di atap sebuah gedung tinggi yang pernah ia lihat di internet dulu, gedung perkantoran 15 lantai di pusat bisnis. Ia memvisualisasikan detailnya: pagar pembatas beton, papan reklame yang setengah roboh, pemandangan kota dari atas.
Kekuatan di dalam dirinya merespons. Dunia di sekelilingnya bergetar, kabur, lalu...
Seketika, tubuhnya lenyap.
Lin Yan membuka mata. Ia kini berdiri di atas gedung bertingkat 15 di pusat kota. Angin bertiup kencang di ketinggian, membuat jaketnya berkibar. Di bawahnya, pemandangan mengerikan terbentang luas seperti lukisan neraka.
Jalan-jalan protokol yang biasanya macet kini penuh dengan mobil terbengkalai—ribuan kendaraan berhenti di tengah jalan, pintu terbuka, beberapa masih terbakar dengan asap hitam mengepul. Mayat-mayat bergelimpangan di trotoar, di tengah jalan, di depan toko-toko. Dan di antara mereka, zombie-zombie berkeliaran dalam kelompok, berjalan tanpa tujuan atau mengejar mangsa dengan gerakan kaku.
Di satu blok, sekelompok zombie sedang mengejar manusia yang berlari panik. Seorang pria jatuh, langsung dikeroyok. Jeritan terdengar meski dari kejauhan. Di blok lain, pertempuran kecil terjadi: beberapa orang bertahan di dalam toko dengan barikade, melawan zombie yang mencoba masuk.
Suasana benar-benar chaos. Kota yang dulu ramai kini menjadi ladang pembantaian.
Lin Yan duduk di ujung pembatas atap dengan santai, kakinya menjuntai ke bawah seolah sedang di taman bermain. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket, menyalakannya dengan korek api—hadiah dari Li Fei dulu di RSJ—lalu mengisap dalam-dalam.
【 ASTAGA!!...KAU MEROKOK?】 Suara sistem terdengar syok.
"Iya." Lin Yan menghembuskan asap, menikmati sensasinya. "Kenapa? Terkejut?"
【Kau perempuan! Masa perempuan merokok? Itu tidak sehat! Tidak feminin! bintang 1】 Nada sistem penuh celaan, seperti ibu-ibu tua.
Lin Yan tertawa kecil. "Sistem, di rumah sakit jiwa Taoyong, mereka punya supermarket seperti umumnya. Rokok, miras, semua ada. Aku sudah merokok sejak di sana yeah mungkin saat aku umur 16 tahun. Jadi ya, aku perokok. Dan soal feminin?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku pakai crop top, rok mini juga pernah. Tapi rokok? Itu pilihan hidup."
【...Aneh. Tapi sudahlah.】 Sistem mengalah, tidak mau berdebat lebih lama. 【Apa yang kau lakukan sekarang? Duduk santai di atas gedung?】
"Memantau situasi, katanya." Lin Yan mengisap rokok lagi, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Ponsel itu masih tersambung ke jaringan—mungkin karena menara seluler masih berfungsi. Ia membuka aplikasi Weibo—media sosial paling populer di Tiongkok. Berbagai trending topic bermunculan dengan tagar merah.
#KiamatZombie
#SelamatkanDiri
#PemerintahDarurat
#TolongKami
#ZombieOutbreak
#selamatkanmasyarakat
Lin Yan men-scroll satu per satu, jarinya bergerak malas. Banyak video dari para penyintas yang merekam keadaan. Ada yang menunjukkan cara membunuh zombie dengan benda tajam seperti parang, linggis, kapak. Ada yang merekam kelompoknya bertahan di supermarket, di mal, di apartemen. Ada juga video-video mengerikan tentang orang yang dimakan zombie secara langsung secara harfiah tidak disensor, penuh darah.
Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah kolom komentar.
Di bawah sebuah video tentang "Cara Mudah Membunuh Zombie dengan Parang" yang diunggah seorang pria paruh baya, komentar-komentar justru tidak membahas tekniknya.
"Tolong! Kami di lantai 3 mal Sinar Dunia! Zombie di bawah! Kirim bantuan!"
"Kami sesama manusia harus saling tolong! Jangan egois!"
"Pemerintah di mana? Kenapa tidak ada yang menyelamatkan kami?"
"Aku takut... tolong ada yang jemput... aku di apartemen Harmony Tower lantai 8..."
"Kenapa orang-orang pada jahat? Kita harus kerja sama!"
Lin Yan menggeleng, menghembuskan asap. "Orang-orang ini... bukannya belajar cara bertahan dari video yang sudah diberikan, malah merengek minta tolong di kolom komentar. Tolol."
【Memang begitu kebanyakan manusia. Saat krisis, mereka panik dan berharap ada yang menyelamatkan. Mentalitas korban.]
"Padahal yang bisa menyelamatkan mereka ya mereka sendiri." Lin Yan membuka video lain. Seorang pria paruh baya mungkin mantan tentara yang merekam dirinya sedang membunuh zombie dengan linggis, sambil menjelaskan tekniknya dengan tenang: serang kepala, jangan biarkan mereka mendekat, selalu perhatikan sekitar. Komentar di bawahnya jauh lebih positif: orang-orang berterima kasih, bertanya detail, dan saling menyemangati.
"Makasih, Om! Ini berguna banget!"
"Aku berhasil bunuh satu pakai teknik ini!"
"Om, kalau zombie banyak gimana?"
"Semangat semuanya! Kita bisa bertahan!"
"Nah, ini baru berguna." Lin Yan like video itu—pertama kalinya ia like sesuatu di Weibo—lalu melanjutkan scroll.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Nama di layar: Paman Liu
Lin Yan tersenyum sinis. Senyum lebar yang tidak sampai ke mata. "Wah, paman tercinta. Kangen, ya? Atau baru sadar rumahnya kosong?"
Ia menjawab panggilan, langsung menjauhkan ponsel dari telinga—sudah hapal reaksi pertama.
"LIN YAN! DASAR ANAK SETAN! KAU HANCURKAN HIDUP KAMI!" teriak paman Liu di seberang, suaranya melengking sampai bergetar. "RUMAH ITU KOSONG MELOMPONG! HANYA TEMBOK DAN LANTAI! PERABOTAN MANA? KULKAS MANA? KASUR MANA? TV MANA? SEMUA HILANG! KAMI MASUK, KOSONG! SEPERTI RUMAH HANTU!"
Lin Yan mendengarkan dengan tenang sambil mengisap rokok, menikmati setiap kata. Setelah teriakan mereda—terdengar napas memburu—ia berkata dengan nada paling polos, "Paman, aku kan bilang menjual rumah. Bukan menjual rumah sekaligus perabotannya."
"APA?!"
"Di kontrak jual beli hanya tertulis 'rumah beserta bangunan'. Perabotan kan bukan bangunan." Lin Yan menghembuskan asap pelan-pelan. "Jadi itu hakku untuk membawanya. Lagipula, harga 80 juta untuk rumah sebesar itu sudah super murah. Masih bisa buat beli perabotan baru, kan? Kursi, meja, kulkas yeah pasti paman bisa beli."
"KAU! KAU—" paman Liu tersedak marah, suaranya seperti orang mau stroke.
"Paman, aku sibuk. Lagi di atas gedung, nikmatin pemandangan. Bye bye ya." Lin Yan menutup telepon, lalu langsung memblokir nomor itu dengan satu klik. Ia menyimpan ponsel, tersenyum puas.
【Kau benar-benar kejam. Mereka sekarang mungkin tidur di lantai kosong.]
"Bukan kejam. itu adil tolong digaris bawahi." Lin Yan mengisap rokok terakhir, lalu membuang puntungnya ke bawah—jatuh bebas 15 lantai. "Mereka mau rumah murah, dapat rumah murah. Tapi isi rumah urusan mereka sendiri. Lagian, dengan harga segitu, mereka bisa beli perabotan baru. Masih untung."
【Aku mulai kasihan sama pamanmu. Tapi di sisi lain, dia pantas dapat itu.】
"Setuju."
Lin Yan berdiri, meregangkan tubuh. Persendiannya berbunyi kecil. Dari atas gedung, ia melihat ke bawah lagi. Di jalan, sekelompok orang—mungkin 10-12 orang—sedang dikejar zombie. Mereka berlari panik, beberapa jatuh dan langsung diterkam oleh zombie yang mengejar dari belakang.
Di antara mereka, seorang wanita muda—mungkin 25 tahun, berambut panjang—melihat ke atas. Matanya menangkap sosok Lin Yan yang berdiri di atap. Ia langsung berteriak sekencang-kencangnya, mengabaikan zombie yang makin dekat.
"TOLONG! BANTU KAMI! KAU DI ATAP! TURUN! BANTU KAMI!"
Beberapa orang lain ikut menengadah, melihat sosok di atap gedung. Mereka ikut berteriak, berharap, memohon.
"TOLONG! KAMI SEKELUARGA! ADA ANAK KECIL!"
"KAU PUNYA SENJATA? LEMPAR BAJU! APA SAJA!"
"BANTU KAMI, JANGAN EGOIS!"
Lin Yan menatap mereka dengan ekspresi datar. Matanya merah delima kosong, tanpa emosi. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya—gerakan lambat, dramatis—dan memberikan jari tengah yang sangat jelas.
Orang-orang di bawah terbelalak. Beberapa berhenti lari sebentar karena shock. Lalu teriakan mereka berubah menjadi makian penuh kebencian.
"DASAR MANUSIA TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN!"
"KAU TERKUTUK! SEMOGA KAU MATI!"
"BAJINGAN! TIDAK PUNYA HATI!"
"SEMOGA KAU DIMAKAN ZOMBIE!"
Lin Yan hanya tersenyum lebar. Ia berbalik, jaket hitamnya terkibar tertiup angin. Langkahnya tenang menuju tengah atap. Tanpa menoleh lagi, ia memusatkan pikirannya.
Sekejap, tubuhnya lenyap.
Orang-orang di bawah berhenti berteriak, bingung setengah mati. Mereka menggosok mata, tidak percaya. Tapi zombie sudah terlalu dekat—mereka harus lari lagi. Jeritan kembali terdengar.
Di kastil, Lin Yan muncul tepat di ruang tamu dengan suara "pop" halus. Ia duduk di sofa favoritnya, menghela napas panjang. Tubuhnya terasa sedikit lelah—teleportasi menguras energi.
【Sudah selesai memantau?】
"Untuk hari ini, iya." Lin Yan meregangkan tubuh, membuka ikatan rambutnya. Rambut putih panjang tergerai bebas. "Besok lanjut lagi. Kita lihat perkembangan situasi di daerah lain. Mungkin pindah ke kota sebelah."
【Lalu, kesimpulanmu setelah pemantauan hari pertama?】
Lin Yan diam sejenak, berpikir. Matanya menerawang ke langit-langit kastil yang megah. "Manusia itu bodoh. Di saat krisis, kebanyakan hanya bisa merengek dan menyalahkan orang lain. Mentalitas korban, minta ditolong, tapi tidak mau berusaha sendiri."
【Dan kau termasuk yang mana?】
"Aku?" Lin Yan tersenyum lebar—senyum yang sama seperti saat membantai zombie. "Aku termasuk yang gila. Yang malas. Yang egois. Yang hanya peduli sama adik tampanku sendiri. Tapi aku yang selamat, punya kastil, punya makanan, punya kekuatan."
【Dan zombie?】
"Zombie cuma masalah kecil." Lin Yan merebahkan tubuh di sofa, memejamkan mata. "Yang berbahaya itu manusia hidup. Mereka lebih tidak terduga."
Sistem Xiyue hanya bisa diam, memproses jawaban itu. Di luar, matahari mulai terbit, menyinari dunia yang hancur dengan cahaya jingga. Suara erangan zombie terdengar samar dari kejauhan.
Di dalam kastil, Lin Yan berbaring di sofa, memejamkan mata—bersiap untuk misi berikutnya. Besok, kota lain. Besok, lebih banyak orang bodoh yang merengek minta tolong.
Dan ia akan terus memberikan jari tengah untuk mereka.
Karena di dunia baru ini, hanya yang kuat dan cerdas yang bertahan.
Dan Lin Yan si gadis gila dari RSJ Taoyong adalah salah satunya.