NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

“Bagaimana Anda bisa memastikan saya kalah sebelum semua batu selesai dipotong? Lanjutkan!” kata Arga dengan sangat tenang.

“Baik! Aku akan menemanimu sampai titik darah penghabisan, biar kau kalah dengan puas!” bentak Joni Hartono dengan suara rendah yang penuh ancaman.

Lebih dari dua puluh batu kembali dipotong. Hasilnya tetap sama. Semua hancur! Kini, hanya tersisa satu batu terakhir di pojok meja. Batu itu berkulit tebal, kasar, dan ukurannya cukup besar—tampak seperti batu fondasi bangunan biasa yang sama sekali tidak bernilai.

Jantung Sherly berdegup kencang. Ia menggenggam tangan Arga erat-erat; telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Bagus Mahendra tak kuasa menahan diri untuk menggelengkan kepala, menghela napas panjang seolah sedang menyaksikan kehancuran Arga secara langsung.

“Arga, ajalmu sudah tiba!” Tiara tersenyum bengis, tubuhnya bergetar hebat karena kegembiraan melihat Arga akan jatuh miskin.

Joni Hartono mengangkat bahu dengan angkuh. “Sepertinya 'ilmu indigo' titisan Ratu Kidul-mu kali ini tidak terlalu manjur, Nak.”

Saat itu, bahkan Arga sendiri sempat diliputi kegugupan sesaat. Apakah ingatanku tentang masa depan keliru?

“Batu terakhir menentukan hasilnya! Potong sekarang!” Arga mengertakkan gigi dan memberi perintah tegas kepada ahli pemotong.

Semua orang menggelengkan kepala, bahkan malas menatap batu terakhir yang—menurut logika siapa pun—jelas-jelas hanyalah batu sampah.

Tiba-tiba, suara Hadi Setiawan terdengar dengan nada terkejut yang luar biasa:

“Naik! Warnanya naik! Hijau pekat!”

“Demi Tuhan! Ini benar-benar naik—dan warnanya sangat tajam!”

Jantung semua orang, termasuk Joni Hartono, seolah berhenti berdetak. Mereka serempak menoleh ke arah mesin pemotong batu. Saat itu terlihat jelas: lapisan abu-abu kasar terbelah, memperlihatkan warna hijau tua yang sangat pekat dan jernih—warna yang langsung menyihir mata!

“Itu Imperial Green!” seru Hadi Setiawan dengan suara bergetar karena semangat.

Imperial Green atau Hijau Kaisar adalah kasta tertinggi dalam dunia giok. Warna hijaunya melambangkan kemewahan, kewibawaan, dan kelangkaan yang luar biasa.

Giok jenis ini sangat langka karena sumber tambangnya di Myanmar sudah hampir habis, membuat harganya terus meroket gila-gilaan setiap tahun. Yang ditemukan dari batu Arga adalah kualitas tertinggi: Laokeng Glass (kaca tambang tua) yang sangat transparan.

“Batu sampah ternyata isinya Imperial Green!” “Ini mustahil!” “Apakah pemuda ini benar-benar sakti?”

Semua orang berbisik riuh. Joni Hartono mengertakkan gigi dan memaki, “Berapa sih nilai sedikit hijau itu? Lihat saja, pasti nanti di tengahnya keropos!”

“Naik lagi!” “Ya Tuhan, terus naik!”

Namun kenyataan justru berlawanan dengan harapan Joni. Seiring mesin terus bekerja, batu besar itu terbelah sepenuhnya. Sepotong giok Imperial Green berukuran sangat besar perlahan tersingkap di hadapan semua orang! Bahkan sang ahli pemotong tak kuasa menahan gemetar di tangannya. Seumur hidupnya memotong batu mentah, ia belum pernah melihat ukuran sebesar ini dengan kualitas semurni ini.

Setiap gerakan pisau dilakukan dengan kehati-hatian ekstrem, takut melukai giok seharga nyawa tersebut. Pemotongan batu-batu sebelumnya hanya butuh waktu tiga setengah jam, namun untuk batu satu ini saja, sang ahli membutuhkan satu jam penuh. Dan dalam satu jam itu, tak seorang pun mengantuk lagi. Semua mata terpaku pada cahaya hijau yang dalam dan memesona.

Naik! Terus naik! Naik dengan gila-gilaan!

Sepotong besar giok itu memancarkan cahaya memikat di bawah lampu aula, seakan mampu menyedot jiwa siapa pun yang menatapnya. Bahkan orang awam pun tahu: giok ini nilainya tak terhingga! Jauh melampaui belasan batu "pilihan" milik Joni Hartono.

Wajah Joni Hartono kini pucat pasi. Ia menatap bongkahan hijau itu dengan tatapan kosong, tak sanggup menerima kenyataan. Dalam waktu satu jam saja, satu batu ini bukan hanya mengalahkan nilainya—tetapi juga membuat Joni kehilangan seluruh kekayaannya! Itu adalah seluruh harta yang ia miliki—bahkan perusahaannya telah ia jaminkan sebagai taruhan!

“Giok Imperial Green jenis kaca ini adalah yang paling murni. Harga pasar saat ini setidaknya 20 milliar. Jika dipahat oleh maestro internasional, nilainya bisa melonjak tiga hingga lima kali lipat!” penguji mengumumkan hasil penilaian resmi di tempat.

“Gila! Modal 1 juta, menang 20 milliar!” “Ini sejarah! Aku belum pernah melihat keuntungan segila ini!”

Jantung semua orang berdegup kencang. Tatapan mereka kini beralih pada Arga—seolah menatap seorang dewa atau utusan langit yang nyata.

“Dia benar-benar punya ilmu linuwih… dia bukan manusia biasa!”

Seruan itu menyadarkan semua orang. Sepanjang proses, ekspresi Arga tetap tenang—penuh keyakinan dan kendali. Semuanya seolah telah ia perhitungkan sejak awal. Ini membuktikan bahwa Arga benar-benar mampu meramalkan masa depan!

“Mas Arga… Anda adalah guru sejati saya!” Bagus Mahendra menghela napas panjang, hatinya dipenuhi kekaguman yang luar biasa.

Di bawah tatapan penuh hormat, Arga dengan tenang mengambil cek taruhan miliknya dan Sherly dari atas meja, lalu menerima dokumen pengalihan aset Joni Hartono dari notaris. Ia tersenyum tipis pada Joni Hartono yang terduduk lemas.

“Terima kasih, Pak Joni, atas sumbangan keberuntungannya hari ini.”

Setelah berkata demikian, Arga menggandeng tangan Sherly—yang masih syok karena mendadak menjadi miliarder—dan bersiap pergi.

“Berhenti!” Joni Hartono meraung marah, menghadang jalan mereka dengan mata merah.

“Pak Joni, ada keperluan lain?” tanya Arga datar.

“Ini curang! Pasti kau sudah menyuap panitia pameran!” “Kalian kerja sama menipuku!” “Tidak! Kembalikan uang dan asetku! Ini tidak sah!”

Tak sanggup menerima kenyataan telah bangkrut total, Joni Hartono bertindak seperti orang hilang akal.

“Pak Joni, kalau tidak sanggup kalah, jangan berani bertaruh. Sikap Anda ini sungguh mempermalukan martabat Anda sendiri,” Arga menggelengkan kepala.

Joni hendak menyerang, tetapi ketika melihat para pengawal dan petugas keamanan pameran mulai bergerak mendekat, ia mundur dengan lesu. Ia telah bangkrut. Dan di tempat seperti ini, sekali Anda jatuh, tidak akan ada yang menolong.

“Pak Joni, mereka jelas-jelas menjebak Anda! Bagaimana Anda bisa menyerah begitu saja? Itu 10 miliar!” teriak Tiara dengan panik.

Seolah-olah uang 10 miliar yang hilang itu adalah miliknya sendiri!

Plak!

Joni Hartono menampar wajah Tiara dengan keras hingga perempuan itu tersungkur ke lantai marmer.

“Semua ini gara-gara kau, perempuan pembawa sial! Masih berani-beraninya kau bicara?” geram Joni.

Setelah itu, Joni berbalik dan melangkah pergi. Tepat sebelum keluar dari aula pameran, ia menoleh ke arah Arga. Matanya merah, dipenuhi dendam dan kebencian yang nyaris meluap.

“Kau pikir uangku semudah itu diambil? Tunggu saja. Cepat atau lambat, aku akan mengambil kembali hartaku—dan wanitamu—sekaligus!”

Usai mengucapkan ancaman itu, Joni pun pergi tanpa menoleh lagi.

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!