NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Musim dingin di Swantipura bukanlah sekadar perubahan cuaca; ia adalah sebuah entitas hidup yang menggerogoti kehangatan dari segala hal yang disentuhnya. Di balik dinding-dinding batu granit hitam keraton yang menjulang menantang langit utara, angin melolong menyanyikan kidung kematian yang tak berkesudahan.

Sudah tiga purnama Dewi Pregiwa terkurung di dalam kemegahan yang membekukan ini. Tiga purnama sejak sebuah tangan berlapis baja melepaskan genggamannya di atas karpet merah, menyerahkannya pada takdir yang tak pernah ia inginkan.

Di dalam kamarnya yang luas, yang lantainya dilapisi bulu beruang putih dan dindingnya dihiasi permadani sutra tebal, Pregiwa duduk mematung di depan perapian raksasa. Api menyala berkobar, menjilat-jilat kayu pinus hingga berderak bising, namun tak sedikit pun hawa panas itu mampu menembus kulitnya. Ia mengenakan gaun kebesaran permaisuri berbahan beludru hitam kelam, warna kebanggaan Swantipura, dengan sulaman elang perak yang mencengkeram bahunya.

Ia terlihat sangat cantik. Kecantikan yang sempurna, absolut, dan mematikan. Namun, jika seseorang berani menatap langsung ke dalam sepasang mata bulatnya yang dulu terkenal teduh, mereka hanya akan menemukan sebuah kehampaan yang mengerikan. Sumur air matanya telah lama mengering. Jiwanya telah terbang jauh ke selatan, tertinggal di atas padang debu bernama Kurusetra.

"Gusti Permaisuri," suara gemetar seorang emban memecah keheningan ruangan yang menyesakkan itu. Pelayan wanita asli Swantipura itu menunduk sangat dalam, nyaris mencium lantai, tidak berani menatap wajah ratu barunya. "Gusti Pangeran Mahkota Jayantaka memohon izin untuk menghadap. Beliau... beliau membawa kabar langsung dari garis depan Tegal Kurusetra."

Mendengar nama tempat terkutuk itu disebut, jemari lentik Pregiwa yang beristirahat di pangkuannya sedikit menegang. Hanya sebuah kedutan kecil yang tak tertangkap oleh mata telanjang. Di dalam dadanya, sisa-sisa reruntuhan hatinya berdegup dengan ritme yang menyakitkan. Firasat yang telah menghancurkannya beberapa malam lalu—kilat cahaya emas yang membelah langit selatan—kini datang menuntut pembuktian.

"Persilakan suamiku masuk," titah Pregiwa. Suaranya tidak lagi bergetar. Suaranya mengalun datar, jernih, dan sedingin udara pegunungan.

Pintu kayu ek raksasa berderit terbuka. Pangeran Jayantaka melangkah masuk dengan langkah tegap dan senyum lebar yang memancarkan euforia kemenangan. Ia masih mengenakan zirah perangnya, meski tanpa helm. Jubah bulu serigalanya berkibar mengikuti langkahnya yang penuh semangat. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan perkamen yang disegel dengan malam merah.

"Istriku yang jelita!" seru Jayantaka, suaranya menggema memantul di dinding batu. Ia berjalan menghampiri Pregiwa, membungkuk sedikit, lalu mengecup kening sang permaisuri.

Pregiwa menerima kecupan itu tanpa berkedip. Ia tidak memalingkan wajah, tidak pula membalasnya. Ia membiarkan bibir pria itu menyentuh kulitnya layaknya sebuah patung pualam yang menerima jatuhnya sehelai daun kering. Tidak ada penolakan fisik, namun penolakan batinnya membangun sebuah tembok tak kasat mata yang setebal seribu jengkal.

"Hari ini, para dewa tersenyum kepada kita!" lanjut Jayantaka, matanya berbinar-binar penuh ambisi. Ia duduk di kursi berlengan di seberang Pregiwa, membuka gulungan perkamen itu dengan gerakan kasar karena terlalu bersemangat. "Utusan elang tercepat kita baru saja tiba dari perbatasan selatan. Baratayuda telah mencapai puncaknya. Dan kavaleri kita... oh, Pregiwa, lima puluh ribu kavaleri lapis baja Swantipura telah menghancurkan formasi sayap Astina menjadi serpihan debu! Pengorbananmu tidak sia-sia. Keluargamu, para Pandawa, di ambang kemenangan mutlak!"

"Sebuah berita yang sangat menggembirakan, Kanda Pangeran," jawab Pregiwa, kalimatnya meluncur begitu mekanis, tanpa intonasi, tanpa secercah pun kelegaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang putri Amarta yang mendengar keluarganya selamat. "Keadilan akhirnya menemukan jalannya di Kurusetra. Ayahandaku pasti sangat bersyukur atas bantuan kavaleri Swantipura."

Jayantaka mengangguk-angguk puas. Namun kemudian, raut wajahnya berubah sedikit serius, mencoba memasang topeng simpati yang gagal menutupi binar kemenangannya.

"Memang, kemenangan ini luar biasa. Namun, peperangan sebesar ini tentu menuntut tumbal yang tidak sedikit," ucap Jayantaka, melipat kembali perkamen itu dan mengetuk-ngetukkannya ke sandaran kursi. "Astina melancarkan serangan malam yang sangat pengecut. Adipati Karna, panglima terkuat mereka, menggunakan senjata pusaka kahyangan yang menyapu bersih sepertiga pasukan tengah. Jika bukan karena sebuah keajaiban—atau lebih tepatnya, sebuah pengorbanan yang sangat bodoh namun efektif—kerajaan ayahmu pasti sudah runtuh malam itu juga."

Pregiwa memalingkan wajahnya dari kobaran api di perapian. Ia menatap lurus ke mata biru es suaminya. Tatapannya begitu tajam, begitu menembus, seolah ia sedang menguliti jiwa Pangeran Jayantaka lapis demi lapis.

"Pengorbanan siapa yang Kanda bicarakan?" tanya Pregiwa. Dua kata terakhir itu meluncur dari bibirnya layaknya desisan seekor ular kobra berbisa yang sedang mengawasi mangsanya.

"Sepupumu. Sang senopati separuh raksasa yang mengawalmu kemari," jawab Jayantaka dengan nada kasual, seolah ia sedang membicarakan seekor kuda perang yang mati karena kelelahan, bukan tentang seorang pahlawan, bukan tentang pria yang menyelamatkan nyawa istrinya. "Gatotkaca. Kudengar ia kehilangan akal sehatnya dan menyerang Karna sendirian tanpa perintah. Senjata pusaka Konta Wijayadanu milik Karna menembus dadanya. Raksasa itu mati seketika. Namun saat ia jatuh, tubuhnya menghancurkan barisan belakang Astina. Benar-benar sebuah mesin perang yang berguna hingga detik terakhirnya."

Dunia di sekitar Pregiwa meledak dalam keheningan yang absolut.

Ia sudah tahu. Jiwanya telah memberitahunya beberapa malam yang lalu. Namun, mendengar nama itu diucapkan, mendengar konfirmasi bahwa dada bidang tempatnya menangis dan mencari kehangatan itu kini telah berlubang dan hancur, adalah sebuah rasa sakit yang tidak bisa dideskripsikan oleh bahasa manusia manapun.

*Mati seketika.* Dua kata itu menghujam jantungnya, merobek urat nadinya, dan mencekik paru-parunya. Paragraf panjang yang menjelaskan betapa kejamnya rasa kehilangan itu tiba-tiba menyusut menjadi sebuah kekosongan raksasa. Pria itu pergi. Sayap yang melindunginya dari sengatan matahari telah patah. Raksasa canggung yang takut menyentuh kulitnya itu kini telah membusuk di atas tanah berlumur darah.

Di hadapannya, Pangeran Jayantaka terus mengoceh, menjelaskan detail strategi pasca-kematian Gatotkaca dan bagaimana Swantipura akan menuntut lebih banyak wilayah dari Amarta sebagai kompensasi bantuan militer. Mulut pria itu bergerak-gerak, namun Pregiwa tidak mendengar apa pun. Telinganya berdenging hebat.

Di masa lalu, Dewi Pregiwa yang rapuh pasti akan menjerit. Ia akan jatuh berlutut, menangis meraung-raung, merutuki para dewa, dan memohon agar bumi menelannya hidup-hidup. Ia akan membiarkan kesedihannya meluap dan menghancurkan dirinya sendiri di depan semua orang.

Namun hari ini, di ruangan batu yang dingin itu, sebuah keajaiban yang mengerikan sedang terjadi.

Batas toleransi rasa sakit pada jiwa manusia memiliki titik jenuhnya sendiri. Ketika sebuah hati telah dipaksa hancur berkali-kali—saat dipaksa berpisah di Wanamarta, saat dijual demi lima puluh ribu kuda, saat dipaksa melepaskan genggaman tangan di gerbang Swantipura—hati itu tidak lagi bisa dihancurkan. Hati itu bermutasi. Rasa sakit yang melampaui batas kewarasan itu membakar habis seluruh sisa kelemahan, seluruh sisa air mata, dan seluruh sisa kenaifan di dalam diri Dewi Pregiwa.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!