NovelToon NovelToon
Nox Astra: Sovereign Of The Nine Stars

Nox Astra: Sovereign Of The Nine Stars

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Seat Bos

1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYELINAPAN DI BALIK BAYANGAN

Lonceng besar di menara jam kediaman Veyris baru saja berdentang dua kali, menandakan puncak malam di mana seluruh penghuni mansion seharusnya sudah terlelap dalam mimpi. Namun, di dalam kamar mewah yang dihiasi tirai beludru biru, sepasang mata kecil terbuka lebar. Ryan—yang kini dipanggil Kaelan—menatap langit-langit dengan tajam. Tubuh balitanya terasa kaku karena ketegangan, namun jiwanya yang dewasa sudah tidak sabar untuk bergerak.

Di samping tempat tidurnya, Mira tertidur lelap di kursi panjang. Napasnya teratur, menandakan dia tidak akan bangun dalam waktu dekat. Kaelan menyibak selimut suteranya dengan gerakan sangat pelan. Kakinya yang mungil menyentuh lantai marmer yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil ke seluruh tubuhnya. Dengan langkah jinjit yang hampir tidak bersuara, ia merangkak menuju pintu kamar yang berat.

Beruntung bagi Kaelan, pintu itu tidak dikunci dari dalam—siapa yang menyangka seorang balita berusia tiga tahun akan mencoba melarikan diri di tengah malam? Dengan tenaga sisa yang ia miliki, ia menarik gagang pintu perlahan hingga terbuka sedikit, cukup untuk tubuh kecilnya menyelinap keluar.

Koridor mansion di malam hari tampak jauh lebih mencekam daripada siang tadi. Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai monster di dinding. Kaelan terus melangkah, menempel pada dinding agar keberadaannya tersamarkan. Ingatan fotografis dari perjalanannya bersama Mira siang tadi memandu langkahnya dengan presisi.

Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia mendekati sayap barat. Di ujung koridor, pintu kayu ek hitam perpustakaan berdiri kokoh. Di depannya, dua ksatria berbaju zirah lengkap berdiri tegak dengan tombak di tangan. Cahaya obor di dinding memantul pada pelindung dada mereka yang mengilap.

"Sial, mereka benar-benar tidak pernah tidur, batin Kaelan".

Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya yang kecil. Jika ia tertangkap, reputasinya sebagai "anak jenius yang menggemaskan" akan hancur, dan orang tuanya mungkin akan meningkatkan pengawasan. Ia butuh pengalihan.

Mata Kaelan menyapu area sekitarnya. Di sebuah meja kecil di sudut koridor, sekitar sepuluh meter dari posisi para ksatria, berdiri sebuah vas porselen putih yang tampak sangat mahal. Kaelan tersenyum tipis. Itulah "alat" yang ia butuhkan.

Ia merangkak memutar, masuk ke dalam kegelapan di balik pilar-pilar besar hingga ia berada tepat di belakang meja tersebut. Dengan tangan kecilnya yang gemetar, ia mendorong perlahan bagian bawah vas itu. Sedikit demi sedikit... hingga vas itu mencapai tepi meja.

"PRANGGG!"

Suara keramik yang pecah menghantam lantai marmer menggema dengan keras di koridor yang sunyi. Reaksinya instan.

"Siapa itu?!" teriak salah satu ksatria, suaranya teredam oleh helm baja.

"Di sana! Di ujung koridor!" sahut ksatria satunya.

Kedua penjaga itu langsung berlari menuju sumber suara dengan bunyi derap langkah zirah yang berat (klang, klang, klang). Begitu mereka memunggungi pintu perpustakaan, Kaelan tidak membuang waktu. Ia berlari secepat yang bisa dilakukan oleh kaki balitanya yang pendek. Napasnya tersengal, jantungnya berpacu liar karena adrenalin, namun ia berhasil mencapai pintu ganda perpustakaan tepat sebelum para ksatria menyadari bahwa mereka hanya mengejar sebuah vas yang pecah.

Kaelan mendorong pintu itu sedikit—hanya cukup untuk menyelinap masuk—lalu menutupnya kembali tanpa suara.

Di dalam, aroma kertas tua, tinta kering, dan kayu cendana langsung menyergap indera penciumannya. Ruangan itu raksasa, dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke kegelapan langit-langit. Ribuan buku tersusun rapi. Kaelan menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

Jangan terburu-buru, batinnya menenangkan diri. Kalau aku ambil buku sejarah tebal atau gulungan sihir kuno sekarang, aku hanya akan membuang waktu karena tidak mengerti satu kata pun.

Alih-alih mencari rak pusat yang berisi buku-buku besar, Kaelan justru merangkak menyisir rak-rak bagian bawah yang letaknya di pojok ruangan—area yang biasanya digunakan untuk menyimpan buku-buku dasar, dongeng, atau materi pengenalan untuk anak-anak bangsawan yang baru mulai belajar.

Ia menemukan sebuah buku yang lebih tipis dengan sampul kulit berwarna cokelat sederhana. Di sampulnya ada ilustrasi bergambar matahari dan lima daratan yang dikelilingi garis-garis biru. Ini dia. Peta atau buku pengantar geografi.

Kaelan duduk bersila di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela tinggi. Ia membuka halaman pertama. Benar saja, buku itu penuh dengan ilustrasi yang membantunya memahami makna tulisan di sampingnya. Ada gambar seseorang yang memegang api di tangannya dengan tulisan tebal di bawahnya.

Mana? Kaelan menebak-nebak sambil meraba simbol tersebut.

Kaelan penasaran. Ia mengulurkan jari mungilnya dan menyentuh tinta pada simbol tersebut.

Deg.

Tepat saat kulitnya bersentuhan dengan permukaan kertas, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya muncul. Rasanya bukan seperti menyentuh benda mati, melainkan seperti menyentuh kabel listrik yang memiliki arus sangat halus. Rasa hangat yang aneh menjalar dari ujung jarinya, merambat cepat melalui lengannya, dan menusuk lembut tepat di ulu hatinya.

Kaelan tersentak. Ia menarik tangannya dengan cepat seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Ia menatap jari telunjuknya yang gempal, lalu menatap buku itu kembali dengan ngeri.

Apa itu tadi? Statis? pikirnya bingung. Sebagai mantan mahasiswa, dia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin karena udara di perpustakaan ini terlalu kering, atau bahan kertasnya mengandung logam?

Namun, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada getaran aneh yang tertinggal di dadanya, sebuah perasaan "penuh" yang membuatnya merasa sedikit pusing namun juga sangat terjaga. Kaelan tidak tahu bahwa tindakannya menyentuh simbol "Mana" dengan bakat EX-nya telah memicu respons pasif dari energi dunia di sekitarnya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menepis rasa takutnya. Ia kembali menyentuh buku itu, kali ini lebih hati-hati. Rasa hangat itu kembali muncul, lebih tenang, seolah-olah buku itu sedang berbisik kepadanya.

Di bawah cahaya bulan yang redup, Kaelan mulai menyadari bahwa di dunia ini, bahkan sebuah buku anak-anak pun memiliki sesuatu yang "hidup" di dalamnya.

1
Apin Zen
tmat
Kaisar Absolute
🅑🅐🅖🅤🅢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!