Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Siang hari datang lebih cepat dari yang Yusallia sadari.
Jam di dinding ruang praktiknya sudah hampir menunjukkan waktu istirahat makan siang ketika pasien terakhir pagi itu duduk di hadapannya. Seorang perempuan muda yang sejak awal terlihat sedikit cemas, tapi perlahan mulai lebih tenang setelah percakapan mereka berjalan cukup lama.
Yusallia duduk dengan posisi yang sama seperti beberapa jam terakhir—tegak tapi tidak kaku, tangan bertumpu ringan di atas meja, matanya fokus namun tetap lembut.
Ia mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa sesi mereka hampir selesai.
“Untuk minggu ini, coba dulu obat yang tadi kita bahas ya,” ucap Yusallia dengan suara tenang.
Pasien di depannya mengangguk kecil.
“Kalau nanti masih terasa berat, kita evaluasi lagi pelan-pelan. Nggak perlu buru-buru. nanti kontrol lagi kesini sebulan lagi”
Perempuan itu tersenyum tipis. Tidak sepenuhnya lega, tapi setidaknya tidak seberat saat pertama masuk tadi.
“Terima kasih, dok.” kata pasien itu mengakhiri sesi kunjungan kali.
Yusallia membalas senyum itu dengan hangat.
“Iya. Hati-hati di jalan.” kata Yusallia hangat sambil tersenyum.
Pasien itu berdiri, merapikan tasnya, lalu berjalan keluar dari ruangan.
Pintu tertutup pelan.
Dan untuk beberapa detik, ruangan itu kembali hening.
Yusallia bersandar sebentar di kursinya. Menarik napas panjang.
Pagi yang cukup padat akhirnya selesai.
Ia menatap berkas di mejanya sebentar, memastikan tidak ada catatan yang terlewat.
Beberapa tulisan terakhir ia rapikan, lalu menutup map dengan pelan.
Baru saja ia ingin berdiri—Terdengar ketukan ringan di pintu.
“Masuk,” ucapnya.
Seorang petugas rumah sakit masuk sambil membawa kotak makan siang.
“Makan siangnya, dok.” kata petugas tersebut
Yusallia langsung tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Petugas itu mengangguk sopan, lalu keluar lagi.
Kotak makan siang itu diletakkan di atas meja kecil di sudut ruangan.
Menu sederhana dan sehat seperti biasa. Tidak istimewa, tapi cukup mengenyangkan.
Yusallia membuka kotak makan itu pelan. Aroma hangat dari makanan langsung terasa.
Ia duduk di sofa kecil di ruangannya, membiarkan tubuhnya sedikit rileks setelah sejak pagi duduk dalam posisi formal.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia benar-benar berhenti. Tidak membaca berkas. Tidak berbicara. Tidak mendengarkan cerita orang lain. Hanya makan sejenak mengisi energi.
Beberapa suapan pertama terasa menenangkan.
Ritme sederhana yang hampir selalu ia syukuri diam-diam.
Waktu istirahat makan siang seringkali jadi satu-satunya jeda di hari yang panjang.
Ponselnya tergeletak di meja kecil di dekatnya.
Layar tiba-tiba menyala.
Nama yang muncul membuat tangannya berhenti menyuap makanan ke mulutnya sebentar.
Bryan.
Ia menelan makanannya dulu sebelum menjawab telpon itu.
“Halo?”
Suara Bryan langsung terdengar santai di seberang. “Ganggu waktu lo nggak?”
Yusallia melirik jam di dinding.
“Enggak. Lagi istirahat makan siang.”
“Oh pas ya,” jawab Bryan ringan.
Yusallia tersenyum kecil. “Kenapa?”
“Ada info penting.” kata Bryan di sebrang telpon.
“Ngeri amat bahasanya.”
Bryan tertawa pelan. “Nggak penting-penting amat sih sebenernya.”
“Terus?”
Bryan berhenti sebentar, seolah mencari kata yang tepat.
“Anak-anak SMA kita… mau bikin kumpul kecil-kecilan.” kata Bryan menyampaikan informasi yang ingin ia sampaikan pada Yusallia.
Yusallia sedikit mengernyit. “Kumpul kecil?”
“Iya. Bukan reuni gede. Cuma yang teman-teman dekat aja pas SMA.” jelas Bryan.
“Hm…”
“Besok malam,” lanjut Bryan santai.
Yusallia terdiam sebentar.
Besok malam. Kata-kata itu terasa familiar. Entah kenapa.
“Tempatnya di club biasa kita ngumpul dulu,” tambah Bryan.
Yusallia menghela napas kecil, tapi tidak terdengar keberatan.
“Siapa aja yang ikut?” tanya Yusallia.
“Paling gue, lo… terus teman-teman dekat kita dulu pas SMA.” jawab Bryan santai.
Nada suara Bryan santai. Tidak memaksa. Tidak terlalu berharap. Tapi jelas ingin Yusallia ikut.
Yusallia menusuk makanannya pelan.
Berpikir sebentar.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia benar-benar bertemu teman-teman lama di luar acara formal.
Kehidupan kerja membuat waktunya semakin sempit.
Dan jujur saja… ia jarang benar-benar keluar untuk sekadar bersosialisasi.
“Lo ikut kan?” tanya Bryan lagi.
Yusallia tersenyum kecil.
“Iya.” jawab Yusallia.
Jawabannya sederhana.
Tapi cukup membuat Bryan langsung merespon cepat, “Serius?”
“Iya.”
“Wah akhirnya.” gumam Bryan tanpa sengaja.
Yusallia terkekeh pelan. “Kenapa emang?”
“Eh bukan begitu, maksudnya biasanya lo sibuk terus kan? jadi maybe akan nolak” jelas Bryan takut Yusallia salah paham.
“Masih sibuk juga sekarang.” Kata Yusallia.
“Tapi masih mau ikut,” balas Bryan cepat.
“Iya,” jawab Yusallia santai.
Bryan terdengar cukup puas dengan jawaban itu.“Good. gue akan bilang ke teman-teman yang lain, kalau lo ikut kali ini”
Beberapa detik hening.
Bryan lalu bertanya ringan, “Sekarang lagi makan siang?”
“Iya.”
“Di luar?” tanya Bryan lagi
“Enggak, di ruangan.” jawab Yusallia singkat.
Bryan mengangguk pelan di seberang sana, walaupun tidak terlihat.
“Sendirian?” tanya Bryan kembali.
“Iya.”
“Yaelah,” kata Bryan santai. “Gue kira lo lagi di luar.”
“Kenapa?” tanya Yusallia sambil mengernyitkan dahi meski tak terlihat oleh Bryan.
“Gue mau ngajak makan siang sekalian.” kata Bryan jujur.
Yusallia sedikit tertawa kecil. “Baru kepikiran sekarang, bukan?”
“Iya juga sih,” jawab Bryan santai.
Yusallia menggeleng pelan.
“Nggak bisa. Habis ini masih ada pasien lagi.” Kata Yusallia menolak.
“Secepat itu balik kerja?” tanya Bryan kaget.
“Iya.” Balas Yusallia singkat dan padat.
Bryan menghela napas kecil. “Yaudah.”
“Nanti aja kapan-kapan kalo gue kosong,” tambah Yusallia.
“Iya, kapan-kapan. gue tagih nanti janji lo ini" Nada suara Bryan tetap ringan. Tidak memaksa.nTidak membuat suasana jadi canggung.
“Jangan lupa besok malam ya,” kata Bryan mengingatkan lagi.
“Iya.”
“Jamnya nanti gue kabarin.” kata Bryan lagi.
“Oke.”
Bryan terdiam sebentar, lalu bertanya santai, “Kerjaan lagi banyak?”
“Lumayan.” jawab Yusallia.
“Jangan terlalu capek.” kata Bryan mengingatkan Yusallia.
Yusallia tersenyum kecil. “Iya.”
“Lo kalau capek biasanya nggak sadar.” omel kecil Bryan di sebrang telpon pada Yusallia.
“Lo juga nggak berubah,” balas Yusallia ringan.
Bryan tertawa pelan. “Udah kebiasaan ngingetin lo.”
“Gue baik-baik aja.” kata Yusallia meyakinkan Bryan bahwa ia baik-baik saja.
“Good.” puji Bryan.
Beberapa detik hening. Tidak ada yang terasa dipaksakan.
Percakapan sederhana. Ringan dan seperti dulu.
“Yaudah gue nggak ganggu lama-lama,” kata Bryan akhirnya.
“Iya.”
“Enjoy makan siangnya." kata Bryan.
“Thanks.”
“See you besok malam.” akhir Bryan sebelum menutup telpon.
“Iya.”
Telpon ditutup.
Ruangan kembali hening.
Yusallia menatap ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya kembali di meja.
Ia kembali mengambil sendoknya. Melanjutkan makan siangnya yang sempat terhenti.
Pikirannya sempat melayang ke masa lalu beberapa detik.
Waktu terasa berjalan cepat. Tiga tahun terasa lama. Tapi percakapannya dengan Bryan terasa seperti tidak pernah benar-benar berubah. Masih santai, ringan, dan terasa familiar.
Ia menghabiskan makan siangnya pelan. Tidak terburu-buru. Menikmati sisa waktu istirahat yang tidak terlalu panjang.
Beberapa menit kemudian, ia menutup kotak makan siangnya. Mengambil tisu basah. Membersihkan tangannya.
Jam di dinding menunjukkan waktu istirahat hampir selesai. Rutinitas kembali menunggu.
Ia berdiri dari sofa. Meraih jas dokternya. Memakainya kembali dengan rapi. Dengan ekspresinya yang kembali tenang.
Profesional.
Siap kembali menjadi tempat orang lain bercerita.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Asistennya muncul dengan map di tangan.
“Dok, pasien berikutnya sudah datang.” kata perawat yang bertugas sebagai asistennya hari ini.
Yusallia mengangguk kecil.
“Iya, persilahkan masuk.”
Ia kembali duduk di kursinya. Menarik napas pelan. Dan seperti biasa menyimpan sejenak kehidupan pribadinya di sudut pikirannya.
Fokus kembali ke orang yang membutuhkan bantuannya.
Hari masih panjang. Dan Yusallia… sudah siap melanjutkannya.