Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Bima, diam!” Sari akhirnya meledak. “Kalau kau berani menyebut kejadian tadi malam lagi, turun dari mobil sekarang juga!”
“Ciiit!”
Bima langsung menginjak rem. Mobil berhenti mendadak di tengah jalanan yang cukup padat. Sari tidak sempat bereaksi. Kepalanya hampir terbentur sandaran kursi depan.
“Apa yang kau lakukan!”
“Bukankah Anda menyuruh saya turun?” jawab Bima dengan wajah serius. “Sebagai karyawan, saya tentu harus mematuhi perintah atasan.”
“Kau… lanjutkan mengemudi!” Sari menahan sakit di kepalanya.
“Nah begitu dong. Seorang wanita tidak seharusnya terus menerus berkata kasar. Dampaknya tidak baik,” ujar Bima dengan nada menasihati.
Wajah Sari langsung menggelap. Ia tidak menjawab lagi dan hanya menatap keluar jendela.
“Jangan selalu memasang wajah muram seperti orang yang sedang ditagih utang Bos! Hidup ini indah—cobalah tersenyum! Tidak mau tersenyum? Kalau begitu aku saja yang tersenyum untukmu?” lanjut Bima tanpa henti.
“Bima! Bisa tidak kau diam sebentar saja!” seru Sari dengan frustrasi.
Bima tertawa. “Manusia harus sering berkomunikasi. Hubungan akan lebih harmonis! Kalau kau terus diam, suasananya jadi menekan. Jiwa kecilku yang rapuh bisa terluka!”
“Baik! Kau memang pandai bicara!” Sari menggertakkan gigi. Ia menatap pria menyebalkan itu lalu berkata dengan dingin, “Bukankah kau bilang akan mematuhi semua pengaturanku? Sekarang aku punya tugas untukmu. Malam ini ada pesta koktail. Kau ikut denganku dan kau akan menjadi pacarku.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Pacar palsu.”
“Pacar palsu?” Bima tampak terkejut, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. “Oh, jadi itu alasan kau menjadikanku asisten Presdir. Kau ingin aku menjadi tamengmu!”
Ia berpikir sejenak lalu bertanya dengan penuh minat. “Kalau aku menjadi pacar palsumu… boleh tidak aku menggenggam tanganmu, memeluk pinggangmu, atau sedikit bersenang-senang bersamamu?”
“Tidak boleh!” Sari langsung menolak dengan tegas. “Kalau kau berani menyentuhku lagi, aku tidak akan memaafkanmu!”
“Kalau begitu aku tidak mau!” Bima langsung menggeleng.
Sari menggertakkan gigi. “Jadi kau mau atau tidak?”
“Tidak! Tidak akan kulakukan bahkan sampai mati!” jawab Bima tanpa ragu.
Sari benar-benar ingin mencekik bajingan ini. “Baik!” katanya akhirnya dengan susah payah menahan emosi. “Jika situasinya memaksa… mungkin kita perlu sedikit kontak fisik agar orang lain tidak curiga. Tapi harus dengan izinku!”
“Begitu baru masuk akal!” Bima mengangguk puas. “Baiklah, demi kebaikanmu… aku dengan terpaksa akan menjadi pacar palsumu!”
Wajah Sari hampir berubah ungu karena marah. Terpaksa? Yang benar-benar dirugikan di sini justru aku!
Saat mobil melaju, Bima kembali bercanda. “Sekarang aku sudah menjadi pacar palsumu. Apakah di masa depan aku punya kesempatan untuk menjadi yang asli? Cepat atau lambat, aku pasti akan mendapatkan hatimu.”
Hati Sari bergetar sesaat. Namun detik berikutnya—
“Kalau sudah mendapatkan hatimu, berarti aku bisa membuka lebih banyak ‘posisi’ lagi.”
Wajah Bima dipenuhi ekspresi penuh harapan. Sari hampir ingin menabrakkan mobil ini dan mati bersama di tempat.
...
Mobil melaju langsung menuju Grand Indonesia, dan Sari membawa Bima ke butik Armani. Ia memutuskan membelikannya satu set pakaian baru karena pakaian kumal Bima tidak pantas untuk pesta nanti malam.
Keduanya masuk ke toko dengan jarak beberapa langkah. Seorang pramuniaga wanita segera menyambut Sari dengan sikap penuh hormat. Sekali pandang saja, ia sudah tahu bahwa Sari adalah pelanggan VVIP.
Sementara itu, pramuniaga lain bertugas melayani Bima. Ia berdiri di depan pria itu, seolah tanpa sengaja menghalangi langkahnya masuk, lalu membungkuk secara formalitas. Dari tatapannya, jelas ia menilai Bima hanya sebagai "orang numpang lewat".
“Mbak, pakaian di sini cukup mahal, ya?” tanya Bima sambil tersenyum, tidak mempedulikan sinisme pramuniaga itu.
“Ya,” jawab gadis itu dengan setengah hati. “Satu potong pakaian di sini harganya bisa puluhan juta Rupiah. Biasanya yang berbelanja di sini adalah orang dengan daya beli tinggi.”
Bima langsung membelalakkan mata. “Puluhan juta untuk satu baju? Astaga! Sopir kecil seperti saya jelas tidak mampu membelinya. Tapi kalau ada orang cantik yang mau menghadiahkan satu set untuk saya, itu akan luar biasa!”
Pramuniaga itu terdiam, dalam hati bergumam: Kalau begitu aku juga berharap ada yang menghadiahiku!
Di sisi lain toko, Sari bergerak cepat. Dalam waktu singkat, pramuniaga yang melayaninya sudah membawa beberapa potong pakaian—mulai dari jas, celana, kaus kaki, hingga sepatu.
“Kak, Anda benar-benar memiliki selera yang bagus. Ini semua adalah koleksi terbaru kami! Apakah ini untuk pacar Anda? Pasti sangat bahagia menjadi pacar Anda,” kata pramuniaga itu dengan senyum manis. Jika transaksi ini berhasil, komisinya saja bisa mencapai jutaan Rupiah.
“Bahagia menjadi pacarnya?” suara Bima terdengar dari kejauhan. “Mbak, sepertinya Anda salah lihat. Menjadi pacarnya itu menyedihkan. Tidak, tepatnya… sangat menyedihkan!”
“Mas sopir!” pramuniaga yang berdiri di samping Bima langsung mengerutkan kening. “Jika Anda tidak berniat membeli pakaian, silakan keluar. Jangan mengganggu pelanggan kami.”
“Memangnya sopir tidak boleh berada di sini?” balas Bima santai. “Dia memang pelanggan kalian, tapi aku juga bisa jadi pelanggan. Lagi pula aku tidak memfitnahnya. Kalau dia ada di sini, pacarnya bahkan tidak bisa masuk toko, bukankah itu menyedihkan?”
Pramuniaga itu terdiam, merasa pria ini sengaja mencari masalah. Ia lalu menyilangkan tangan di dada dan berkata dingin, “Kalau Anda tidak membeli apa pun, silakan keluar. Jika tidak, saya akan memanggil petugas keamanan.”
“Tidak perlu begitu. Kita sama-sama orang kecil, jadi tidak usah saling menyulitkan,” kata Bima santai. “Aku memang tidak membeli apa pun. Tapi pacarku yang akan membelikannya untukku.”
Ia mengangkat tangan dan menunjuk Sari. Pramuniaga itu mencibir. Pacarnya? Kalau begitu pacarku adalah pejabat terkaya di negeri ini!
“Terlalu banyak bicara! Cepat masuk dan coba pakaian!” suara Sari tiba-tiba menggelegar dari dalam toko, disertai tatapan tajam ke arah Bima.
Pramuniaga wanita itu langsung terpaku. Astaga… sopir ini benar-benar pacar wanita secantik dewi itu?
“Mas… maaf sekali, saya benar-benar tidak bermaksud seperti tadi!” ia buru-buru meminta maaf.
Bima hanya mengangkat bahu dan berjalan menuju ruang ganti. “Tidak apa-apa. Tadi aku hanya bercanda. Tapi ke depannya berhati-hatilah. Jangan terlalu membeda-bedakan orang. Di zaman sekarang, orang yang berpakaian bagus belum tentu kaya. Sedangkan yang berpakaian buruk seperti aku… yah, memang benar-benar tidak punya uang.”
Semua orang langsung merasa canggung mendengar kata-katanya.
Harus diakui, pakaian memang dapat mengubah seseorang. Setelah mengenakan setelan jas abu-abu yang pas di badan dan sepatu kulit bermerek yang mengilap, Bima yang awalnya tampak biasa saja kini terlihat sangat menonjol. Tubuhnya yang tegap, wajahnya yang tegas, ditambah senyum nakal di bibirnya—membuat beberapa pramuniaga wanita tanpa sadar menatapnya dengan mata berbinar.
Bahkan Sari pun tak bisa menahan sedikit getaran di hatinya. Namun di bibirnya tetap tidak ada belas kasihan. Ia mengeluarkan kartu emas untuk membayar, lalu mendengus pelan.
“Biasa saja. Kau memang tidak punya aura. Pakaian mahal apa pun terlihat biasa saja padamu.”
“Aku juga berpikir begitu,” jawab Bima santai. “Yang utama sebenarnya karena pakaian ini terlalu pasaran, jadi aku hanya bisa memakainya dengan terpaksa.”