NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengawalan

Laras mendongak, ada sedikit rasa lega, namun itu hanya bertahan sedetik.

​"Tapi setelah tirai ditutup, tidak akan ada pesta perayaan. Tidak akan ada wawancara. Dan tidak akan ada lagi Julian," Elang menatap Laras dengan tatapan yang sangat final. "Malam itu juga, kita akan kembali ke Jakarta. Aku sudah membatalkan sisa tur Australia-mu. Dan pementasan di Opera House akan menjadi pementasan publik terakhirmu untuk waktu yang sangat lama."

​"Tidak... Elang, tolong jangan lakukan itu..." Laras memohon, ia jatuh berlutut di depan kaki Elang. "Jangan hukum seniku karena kesalahanku. Menari adalah hidupku."

​Elang berjongkok di depan Laras, ia membelai rambut Laras dengan sangat lembut, kontras dengan kata-katanya yang kejam. "Hidupmu adalah aku, Laras. Kamu akan tetap menari, tapi hanya untukku. Di studio yang kubangunkan untukmu. Di sana, kamu akan aman. Tidak akan ada Julian, tidak ada kamera, tidak ada mata pria lain yang mencoba mengulitimu."

​Elang mengangkat Laras dan menggendongnya menuju tempat tidur. Ia merebahkan Laras di sana dengan sangat hati-hati, seolah-olah Laras adalah boneka porselen yang baru saja ia perbaiki setelah pecah.

​"Tidurlah," bisik Elang sambil menyelimuti Laras. "Besok aku sendiri yang akan mengantarmu latihan. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sedetik pun. Dan lusa... lusa dunia akan melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum kamu benar-benar menjadi rahasiaku yang paling indah."

​Elang duduk di kursi di samping tempat tidur, tidak berniat pergi. Ia akan berjaga di sana sepanjang malam, memastikan Laras tidak menghilang ke dalam mimpi yang menjauhkannya dari kenyataan bahwa ia adalah milik Elang seutuhnya.

​***

​Esok paginya, latihan di Opera House berubah menjadi suasana yang sangat mencekam. Julian tidak terlihat di sana; Elang telah memastikan pria itu dilarang masuk ke area gedung melalui kekuasaan dan uangnya. Laras berlatih di bawah tatapan langsung Elang yang duduk di kursi barisan depan penonton yang kosong.

​Laras menari seperti robot. Gerakannya sempurna secara teknis, namun jiwanya seolah telah terbang meninggalkan tubuhnya. Setiap kali ia melakukan putaran, ia melihat Elang yang sedang memperhatikannya dengan senyum puas. Elang tampak sangat menikmati pemandangan itu—pemandangan di mana ia adalah satu-satunya penonton bagi bidadari yang ia kuasai.

​Di sela latihan, Elang menghampiri Laras, memberikan minum, dan menyeka keringat di lehernya sendiri. Ia bertindak sangat manis, namun bagi Laras, setiap sentuhan itu terasa seperti tanda kepemilikan yang semakin permanen.

​"Tarianmu luar biasa, Sayang," puji Elang sambil mencium pipi Laras di depan para kru yang hanya bisa menunduk takut. "Aku tidak sabar melihatmu menari di rumah kita nanti. Hanya untukku."

​Laras hanya bisa diam. Ia menatap panggung megah Opera House yang luas ini. Lusa, ia akan berdiri di sini untuk terakhir kalinya. Setelah itu, panggungnya akan menyempit menjadi ruangan empat dinding di kediaman Elang. Ia telah mendapatkan Sydney, namun ia telah kehilangan masa depannya.

​Malam itu, di bawah langit Sydney yang bertabur bintang, Laras menyadari bahwa janji Julian tentang kebebasan adalah sebuah fatamorgana yang justru mempercepat penutup sangkar emasnya. Elang Dirgantara bukan hanya seorang pria yang mencintainya; dia adalah badai yang telah meluluhlantakkan egonya, meninggalkan Laras dalam kondisi yang benar-benar tak berdaya selain bergantung pada lengan kokoh pria yang telah mencuri sayapnya.

​Pementasan lusa bukan lagi sebuah prestasi baginya. Itu adalah upacara pemakaman bagi kebebasannya. Dan saat ia menatap Elang yang sedang tertidur di sofa kamarnya demi menjaganya, Laras tahu, ia tidak akan pernah bisa lari. Elang adalah langitnya, lautnya, dan penjara indahnya.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!