NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Malam di Jakarta jarang sekali menyuguhkan langit yang benar-benar bersih, namun malam ini, entah karena sihir Linda atau sekadar keberuntungan atmosfer, bulan purnama menggantung megah di atas cakrawala beton. Sinarnya yang perak pucat menembus kaca balkon apartemen nomor 404, menciptakan siluet panjang yang menari di atas lantai kayu. Di dalam keheningan ini, aku bisa mendengar detak jantung ku sendiri, detak jantung manusia yang fana, yang berpacu melawan waktu yang tak kenal ampun.

Linda duduk di sofa, meringkuk dalam kegelapan yang hanya ditembus cahaya rembulan. Telinga rubahnya layu, rebah ke belakang, dan ekornya yang biasanya mengibas lincah kini melingkar erat di sekitar tubuhnya sendiri seolah-olah dia sedang mencoba menahan dirinya agar tidak hancur berkeping-keping. Ketakutannya pagi tadi masih menyisakan residu yang pahit di udara.

“Dia hancur karena mencintai ku,” Keluh ku sambil menatapnya dari ambang pintu dapur. “Genta benar soal satu hal: aku adalah beban bagi keabadiannya. Tapi dia salah soal hal yang paling krusial. Aku bukan racun yang menghancurkannya; aku adalah alasan kenapa dia memilih untuk tetap memiliki jantung yang berdetak di dunia manusia ini. Aku tidak boleh membiarkan keraguan Genta menang.”

Aku melangkah mendekat, sengaja membuat suara langkah kaki yang jelas agar tidak mengejutkan insting predatornya. Aku duduk di lantai, tepat di depan kakinya, di bawah tatapan mata hijaunya yang masih tampak sembab dan penuh kecemasan.

"Linda," panggil ku lembut.

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap ku, seolah sedang menghafal setiap garis di wajah ku sebelum waktu menghapusnya.

"Genta bilang aku adalah pencuri waktu," kata ku lagi, suara ku rendah namun stabil. "Dia bilang setiap detik bersama ku adalah pengikisan terhadap keabadian mu. Dan dia mungkin benar secara teknis. Tapi Linda, lihat aku. Apakah kau merasa kehilangan sesuatu saat bersama ku? Ataukah kau merasa... menjadi lebih hidup?"

Linda menghela napas panjang, sebuah isakan kecil lolos dari bibirnya. "Aku merasa hidup, Dimas. Justru itulah masalahnya. Rasanya terlalu hidup sampai-sampai aku takut saat hidup itu berhenti. Aku takut pada hari di mana aku terbangun di tempat tidur ini dan tidak ada lagi aroma kopi yang kau seduh, atau suara napas mu yang berat karena kelelahan kerja."

"Kalau begitu, berhentilah menatap akhir dari cerita ini," aku meraih tangannya, jemarinya terasa dingin namun mulai menghangat saat bersentuhan dengan kulit ku. "Seorang manusia seperti ku tidak hidup untuk seribu tahun ke depan. Kami hidup untuk saat ini. Untuk makan malam yang gosong, untuk kencan di pasar malam yang berisik, dan untuk saat-saat seperti ini. Keabadian tanpa makna hanyalah penjara, Linda. Kau memilih untuk keluar dari penjara itu saat kau memilih ku."

Aku menarik tangannya dan menempelkannya ke dada ku, tepat di mana jantung ku berdentum kuat.

"Dengarkan ini. Ini adalah bukti bahwa aku di sini. Aku tidak mencintai mu karena kau abadi, dan aku tidak mencintai mu karena kau cantik. Aku mencintai mu karena kau adalah Linda, siluman rubah posesif yang merusak kemeja kantor ku dan memasak sup paling aneh di dunia. Aku mencintai mu apa adanya, dengan segala risiko yang Genta lemparkan ke wajah ku."

Linda mendongak, matanya berkilat di bawah sinar bulan. "Kau benar-benar tidak takut? Kau tidak takut melihat ku tetap muda saat kau menua nanti?"

"Kenapa aku harus takut?" aku tersenyum, kali ini benar-benar tulus. "Itu artinya aku akan memiliki istri yang paling cantik di panti jompo nanti. Semua kakek-kakek di sana akan iri pada ku. Dan kau... kau akan tetap menjaga ku dengan sifat posesif mu itu, kan? Kau tidak akan membiarkan suster-suster muda mendekati ku?"

Linda tertawa kecil di tengah tangisnya, sebuah bunyi yang sangat melegakan dada ku. "Tentu saja tidak. Aku akan menggigit siapa pun yang berani menyentuh kursi roda mu nanti."

"Nah, itu baru istri ku," aku mengecup punggung tangannya.

Hening sejenak kembali menyelimuti kami, namun kali ini keheningan itu tidak lagi mencekam. Keheningan itu terasa penuh dengan keputusan yang menggantung di udara. Momen ini terasa seperti titik balik, sebuah jembatan yang harus kami seberangi bersama.

“Genta bilang hubungan ini adalah bunuh diri perlahan,” Keluh ku tajam. “Tapi dia lupa bahwa hidup adalah tentang menciptakan sesuatu yang bertahan lebih lama dari diri kita sendiri. Jika aku hanya memiliki waktu terbatas, maka aku ingin meninggalkan jejak yang permanen di dunia ini. Jejak yang akan menjaganya saat aku tidak lagi bisa memegang tangannya.”

"Linda," kata ku, nada suara ku berubah menjadi jauh lebih serius. "Mimpi tentang Elkan... mimpi yang kau ceritakan semalam. Aku memikirkannya sepanjang hari di kantor."

Linda tertegun, telinganya berkedut tegak. "Dimas? Kau bilang tadi itu berisiko..."

"Segalanya berisiko, Linda. Menyeberang jalan itu berisiko. Mencintai siluman itu sangat berisiko," aku berdiri dan duduk di sampingnya di sofa, menariknya ke dalam pelukan ku. "Genta bilang anak itu akan menderita. Tapi menurut ku, dia salah. Anak itu akan menjadi bukti bahwa cinta kita melampaui hukum alam. Dia akan memiliki kekuatan mu untuk melindunginya, dan dia akan memiliki kemanusiaan ku untuk memberinya hati."

Aku menangkup wajahnya, memaksa mata hijaunya mengunci mata ku. "Aku ingin kita mencobanya. Bukan hanya untuk mengikat mu, tapi untuk memberi mu teman. Untuk memberi mu alasan untuk tetap mencintai dunia ini saat aku sudah tidak ada lagi. Aku ingin ada bagian dari ku yang tetap hidup di samping mu, dalam wujud anak kita."

Linda gemetar hebat. Ekornya membelit pinggang ku dengan kekuatan yang hampir membuat ku sesak napas, namun aku membiarkannya. Aku tahu ini adalah cara dia memproses emosi yang meluap.

"Kau... kau yakin, Dimas? Ini berarti kita benar-benar mendeklarasikan perang pada klan siluman dan mungkin pada takdir manusia," bisik Linda, suaranya penuh dengan ketakutan sekaligus harapan yang membuncah.

"Aku sudah lama berperang dengan takdir sejak aku memutuskan untuk tidak lari saat pertama kali melihat telinga mu muncul di balik topi mu," jawab ku mantap. "Mari kita buat Elkan menjadi nyata. Mari kita berikan dia sarang yang paling hangat di apartemen ini."

“Ini adalah ikatan permanen,” Keluh ku dalam hati. “Lebih kuat dari sihir penyembuhan apa pun. Ini adalah janji bahwa aku tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya. Darah ku akan mengalir dalam pembuluh darah anak yang memiliki telinga sepertinya. Aku akan menjadi abadi melalui dia.”

Linda menatap ku lama, mencari keraguan terakhir di mata ku, namun dia tidak menemukannya. Dia perlahan-lahan melepaskan lilitan ekornya yang tegang dan menggantinya dengan pelukan yang lembut namun sangat posesif.

"Kau adalah pria manusia paling sombong yang pernah aku temui," bisik Linda, bibirnya menyentuh leher ku. "Berani-beraninya kau menantang waktu demi aku."

"Itu karena aku punya guru yang sangat galak," goda ku sambil membelai telinganya.

"Dimas..." Linda menarik napas panjang, aromanya yang seperti bunga melati di tengah malam kini terasa lebih intens. "Jika kita melakukannya... jika Elkan hadir... aku tidak akan pernah melepaskan mu. Kau tahu itu, kan? Kau tidak akan pernah bisa pergi lagi, bahkan dalam pikiran mu sekalipun."

"Aku tidak berencana pergi ke mana pun, Nyonya Rubah."

Di bawah sinar bulan yang menjadi saksi, suasana di ruang tamu itu berubah. Bukan lagi tentang ketakutan akan masa lalu atau ancaman Genta, melainkan tentang masa depan yang ingin kami bangun. Linda mulai mencium ku, kali ini bukan dengan agresi yang menakutkan seperti pagi tadi, tapi dengan kelembutan yang dalam, sebuah undangan untuk menyatukan dua jiwa yang haus akan keabadian dalam bentuk yang berbeda.

"Malam ini, Dimas," bisik Linda, suaranya bergetar dengan sihir yang mulai mengalir di sekitarnya. "Malam ini bulan sangat kuat. Mari kita buat janji itu menjadi nyata."

Aku menggendongnya menuju kamar tidur, di mana cahaya bulan menciptakan panggung bagi babak baru kehidupan kami. Di atas ranjang yang sering menjadi saksi suka dan duka kami, aku melepaskan segala keraguan ku. Aku tidak lagi memikirkan laporan kantor, tidak memikirkan ancaman Genta, dan tidak memikirkan rapuhnya fisik manusia ku.

Saat kami bersatu malam itu, rasanya berbeda dari sebelumnya. Ada sebuah niat yang terfokus, sebuah energi yang berputar di antara kami. Aku bisa merasakan sihir Linda yang hangat menyelimuti setiap sel tubuh ku, seolah-olah dia sedang menyucikan diri ku agar layak menjadi ayah bagi keturunannya.

“Lihatlah, Genta,” Keluh ku di tengah desah napas kami yang menyatu. “Kau bilang aku adalah beban. Tapi malam ini, aku adalah pencipta. Aku akan memberikan sesuatu yang tidak bisa kau berikan padanya: sebuah masa depan yang tumbuh dari cinta, bukan dari hukum ras yang kaku.”

Linda menangis dalam diam saat momen itu mencapai puncaknya. Tangis kebahagiaan, tangis kelegaan, dan tangis atas klaim yang kini telah tersegel sepenuhnya. Ekornya membelit ku begitu erat, seolah-olah dia sedang mencoba menyerap seluruh keberadaan ku ke dalam rahimnya.

Setelah semuanya mereda, kami berbaring dalam diam, saling berpelukan di bawah selimut yang hangat. Napas kami perlahan menjadi teratur, selaras dengan detak jam dinding yang terus berdetak.

"Terima kasih, Dimas," bisik Linda, suaranya kini terdengar sangat damai. "Aku bisa merasakannya... kemungkinan itu. Dia akan datang."

"Dia akan datang, Linda. Dan dia akan menjadi anak yang paling dicintai di seluruh dunia," jawab ku sambil mencium keningnya.

Malam itu, apartemen nomor 404 bukan lagi sekadar tempat tinggal. Ia telah resmi menjadi sebuah benteng pertahanan bagi sebuah rahasia besar. Sebuah janji telah dibuat di bawah sinar bulan, sebuah ikatan permanen yang akan melampaui kematian dan waktu.

Aku tertidur dengan senyum di bibir ku, merasakan telinga Linda yang berkedut lembut di bawah dagu ku. Ketakutan mungkin masih akan ada esok pagi, dan Genta mungkin akan kembali dengan ancaman yang lebih besar, tapi malam ini, aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar.

Aku bukan lagi sekadar manusia yang menua. Aku adalah bagian dari sesuatu yang abadi.

“Selamat datang di dunia yang penuh tantangan ini, Elkan,” Keluh terakhir ku sebelum benar-benar terlelap. “Papa dan Mama akan menunggu mu. Dan Papa berjanji, Papa tidak akan pergi sebelum memastikan kau cukup kuat untuk menjaga Mama mu.”

Di luar jendela, bulan purnama mulai turun, namun di dalam kamar itu, sebuah cahaya baru baru saja mulai menyala.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!