"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Fajar di Ujung Pena
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela apartemen Maya terasa berbeda hari ini. Bukan lagi cahaya yang menuntut Hana untuk segera ke dapur dan berkutat dengan uap masakan, melainkan cahaya yang mengundangnya untuk melihat dunia yang lebih luas. Di atas meja makan minimalis itu, laptop Hana masih terbuka, menampilkan ribuan komentar yang terus mengalir masuk.
Namun, ada satu pesan yang menonjol di kotak masuk surelnya. Sebuah pesan dari salah satu penerbit mayor terbesar di negeri ini.
"Ibu Hana, kami telah mengikuti narasi Anda sejak bab pertama. Kekuatan emosi dan kejujuran dalam tulisan Anda sangat luar biasa. Kami ingin menawarkan kontrak penerbitan fisik dengan nilai royalti dan uang muka yang kompetitif. Kami percaya, cerita ini harus dibaca oleh lebih banyak wanita."
Hana membacanya berulang kali. Tangannya gemetar. Uang muka yang ditawarkan cukup untuk menyewa apartemen sendiri selama setahun dan memulai hidup baru tanpa harus menoleh ke belakang. Ini bukan sekadar uang; ini adalah kemerdekaan.
"May! Lihat ini!" seru Hana saat Maya baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak berantakan.
Maya membaca surel itu dengan mata membelalak, lalu ia memeluk Hana dengan kencang. "Aku sudah bilang, Na! Kamu punya nilai. Kamu bukan hanya 'istri Aris'. Kamu adalah penulis. Sekarang, kamu punya modal untuk benar-benar berdiri di atas kakimu sendiri."
Hana menangis haru. "Sepuluh tahun, May... sepuluh tahun aku merasa tidak berharga jika tidak ada uang dari Aris. Ternyata, kata-kataku sendiri yang menyelamatkanku."
"Sekarang, kita harus urus aspek hukumnya. Jangan sampai Aris atau ibunya menyentuh sepeser pun dari hasil keringatmu ini," ujar Maya dengan nada pengacara yang tajam.
Sementara itu, di kantor Aris, suasana terasa seperti di dalam bungker yang sedang dibombardir. Aris duduk di kursi kebesarannya, namun ia merasa kursi itu semakin sempit. Sekretarisnya baru saja keluar setelah memberikan tumpukan surat pembatalan kerja sama dari beberapa vendor besar yang merasa "tidak nyaman" berafiliasi dengan pimpinan yang citranya sedang hancur.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Itu adalah Pak Broto, salah satu Komisaris Utama perusahaan. Wajahnya merah padam.
"Aris! Apa-apaan ini?!" Pak Broto membanting tablet ke meja Aris, menampilkan bab terbaru dari tulisan Hana. "Keluarga kami menjunjung tinggi etika. Perusahaan ini dibangun dengan kepercayaan. Bagaimana bisa kamu membiarkan masalah pribadimu menjadi konsumsi publik seperti ini? Dan detail tentang proyek kantor yang dikaitkan dengan wanita itu... kamu tahu itu bisa dianggap gratifikasi atau penyalahgunaan jabatan?!"
"Pak, itu hanya fiksi! Istri saya hanya sedang emosi," Aris mencoba membela diri dengan suara yang bergetar.
"Fiksi atau bukan, publik sudah menjatuhkan vonisnya, Aris! Dewan Komisaris memutuskan untuk menonaktifkanmu sementara sampai masalah ini selesai secara kekeluargaan atau hukum. Kami tidak mau saham perusahaan anjlok karena perilaku pimpinannya yang tidak bermoral."
Aris terdiam. Dunia yang ia bangun dengan kebohongan dan ambisi itu kini runtuh hanya dalam hitungan hari. Setelah Pak Broto keluar, Aris jatuh terduduk. Ia meraih ponselnya, hendak menelepon Citra, namun ia teringat bahwa wanita itu pun sedang memaki-makinya karena bisnisnya ikut hancur.
Aris merasa benar-benar sendirian di puncak gedung yang dingin itu.
Pukul 19.30 malam itu.
Hana tidak mengunggah bab baru. Ia sengaja memberikan jeda. Ia ingin menikmati keheningan ini. Namun, sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal. Aris.
Hana ragu sejenak, lalu ia mengangkatnya. Ia ingin mendengar apa lagi yang ingin dikatakan pria itu.
"Na..." suara Aris terdengar sangat hancur. Tidak ada lagi nada sombong atau bentakan. "Aku sudah dinonaktifkan dari kantor. Semua orang menghujatku. Mama malu keluar rumah. Apakah kamu puas sekarang?"
Hana menghela napas panjang. Ia menatap lampu-lampu kota dari balkon apartemen. "Apakah aku puas, Mas? Apakah kamu pernah bertanya padaku, apakah aku puas saat melihatmu memberikan anting mutiara itu pada Citra? Apakah aku puas saat kamu menjual rahasia masa laluku padanya? Rasa puas tidak ada dalam kamus pengkhianatan, Mas. Yang ada hanya konsekuensi."
"Aku akan menceraikanmu kalau itu yang kamu mau, Na. Tapi tolong, hapus tulisan itu. Jangan hancurkan masa depanku lebih jauh lagi," rintih Aris.
"Masa depanmu hancur karena perbuatanmu sendiri, Mas. Bukan karena tulisanku. Tulisanku hanya menceritakan kebenaran. Dan soal perceraian... tenang saja. Maya sudah menyiapkan berkasnya. Aku tidak akan meminta harta yang bukan milikku. Aku hanya ingin kebebasanku kembali."
"Kamu egois, Hana! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!" Aris kembali ke watak aslinya saat merasa terpojok.
"Selama sepuluh tahun aku hanya memikirkanmu, Mas. Aku lupa memikirkan diriku sendiri. Jadi, kalau sekarang aku disebut egois karena ingin menyelamatkan jiwaku, maka aku akan menerimanya dengan bangga," ucap Hana dengan sangat tenang.
Hana mematikan sambungan telepon itu. Ia tidak memblokir nomor Aris, ia hanya ingin pria itu sadar bahwa suaranya tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukai Hana.
Hana kembali ke laptopnya. Ia mulai menulis Bab 10. Namun kali ini, nadanya bukan lagi tentang rasa sakit atau kemarahan. Ia menulis tentang 'Fajar'. Tentang bagaimana seorang wanita menemukan kembali jati dirinya di antara puing-puing rumah tangga yang hancur.
"Ternyata, surga itu bukan tentang bangunan mewah atau status sebagai istri pria terhormat. Surga itu adalah ketika kita bisa menatap cermin dan bangga dengan siapa yang kita lihat di sana. Surga itu adalah ketika kita tidak lagi takut pada hari esok, karena kita tahu kita memiliki kekuatan untuk menulis takdir kita sendiri."
Ia tidak lagi menyebut-nyebut tentang anting mutiara atau parfum wanita lain. Ia menceritakan tentang harapan. Tentang bagaimana ia merasa bersyukur telah "dilupakan", karena dengan begitu, ia bisa mengingat kembali siapa dirinya yang sebenarnya sebelum ia menjadi 'istri Aris'.
Keesokan harinya, Hana bertemu dengan pihak penerbit di sebuah kafe. Ia datang sendiri, tanpa didampingi Maya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia berani.
Pihak penerbit, seorang wanita paruh baya yang sangat ramah bernama Bu Siska, menyambutnya dengan hangat. "Ibu Hana, kami sangat senang Anda bersedia hadir. Kami sudah menyiapkan kontraknya. Nilainya mungkin tidak sebanding dengan harta suami Anda, tapi ini adalah hasil murni dari bakat Anda."
Hana membaca kontrak itu dengan teliti. Saat ia membubuhkan tanda tangan di atas materai, ia merasa seperti sedang menandatangani akta kelahirannya yang kedua.
"Terima kasih, Bu Siska. Saya tidak pernah menyangka cerita saya akan sejauh ini," ucap Hana.
"Cerita Ibu adalah suara bagi banyak wanita yang terbungkam, Bu Hana. Anda bukan hanya menulis novel, Anda sedang memberikan keberanian bagi orang lain," balas Bu Siska tulus.
Saat Hana keluar dari kafe itu, ia melihat Citra berdiri di dekat mobilnya. Wanita itu tampak sangat kacau. Rambutnya tidak lagi tertata, dan matanya terlihat sangat liar.
"Jadi ini tujuanmu? Menjadi selebriti dari penderitaanku?!" teriak Citra saat melihat Hana.
Hana tidak menghindar. Ia berdiri tegak menghadapi wanita yang pernah membuatnya merasa tidak berharga itu. "Penderitaanmu adalah pilihanmu, Citra. Kamu memilih untuk membangun kebahagiaan di atas air mataku. Sekarang, saat fondasimu runtuh, jangan salahkan aku."
"Aris akan kembali padaku! Dia tidak punya siapa-siapa lagi!"
"Ambillah dia, Citra. Aku sudah melepaskannya sejak lama. Kalian berdua cocok satu sama lain—dua jiwa yang hanya peduli pada kulit luar. Tapi ingat, saat uang Aris habis dan reputasinya hancur, apakah kamu masih akan tetap di sana? Ataukah kamu akan mencari 'proyek' baru?"
Citra terdiam, ia hanya bisa menatap Hana dengan kebencian yang tak berdaya. Hana masuk ke mobil taksinya, meninggalkan Citra yang berdiri sendirian di trotoar.
Hana menyandarkan kepalanya di kursi taksi. Ia merasa sangat ringan. Beban yang selama sepuluh tahun ini menghimpit bahunya seolah menguap tertiup angin AC mobil.
Malam itu, pukul 19.30, Hana mengunggah bab terbaru. Judulnya singkat: "Langkah Pertama".
Ia tidak menunggu komentar. Ia tidak lagi mengecek berapa banyak orang yang menghujat Aris. Ia menutup laptopnya, mengambil buku bacaan yang sudah lama ingin ia baca, dan menyeduh teh melati.
Di rumah besarnya, Aris duduk di ruang tengah yang kini dipenuhi debu karena tidak ada yang membersihkannya. Ia melihat postingan terbaru Hana. Ia membacanya dengan air mata yang menetes. Ia baru menyadari bahwa dalam setiap kata yang ditulis Hana, tidak ada lagi kebencian. Yang ada hanyalah sebuah perpisahan yang sangat dewasa.
Hana tidak lagi membencinya. Dan bagi Aris, itu adalah hukuman yang lebih berat daripada kemarahan. Karena itu berarti, Hana benar-benar telah melupakannya.