Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Gerhana Kehampaan dan Aliansi yang Terpaksa
Langit di atas Akademi Pedang Langit yang biasanya dihiasi oleh aurora abadi Benua Utara, kini tampak seperti kanvas yang disiram tinta hitam pekat.
Tangan raksasa milik Sang Penelan Surya yang meraba keluar dari retakan dimensi bukan hanya sebuah ancaman fisik, melainkan sebuah anomali hukum alam.
Di mana pun tangan itu berada, cahaya seolah-olah tersedot masuk ke dalam pori-pori kulitnya yang pucat dan keriput seperti mayat yang tenggelam ribuan tahun di samudra kegelapan.
Suhu udara yang tadinya sudah membeku kini turun hingga ke titik di mana molekul udara pun seolah berhenti bergerak.
Para murid baru yang tadinya bersorak di arena turnamen kini jatuh berlutut, bukan karena luka, melainkan karena jiwa mereka gemetar menghadapi eksistensi yang melampaui logika dunia fana.
Ranu Wara berdiri di tengah arena yang retak, memegang dua potong sapu lidi yang patah. Ia mendesah pelan.
Matanya yang biasanya jenaka kini menatap langit dengan tatapan yang sangat tua, tatapan seorang penguasa yang melihat hama pengganggu masuk ke dalam kebun pribadinya.
"Pangeran Lingga, jika kau terus berdiri di sana dengan mulut terbuka, kau akan menelan banyak debu kehampaan. Dan percayalah, rasanya jauh lebih buruk daripada nasi basi," ucap Ranu tanpa menoleh.
Pangeran Lingga tersentak. Ia menggenggam erat pedang sucinya, Pedang Candra Kirana, yang kini bergetar hebat seolah-olah ketakutan.
Lingga menatap punggung murid luar di depannya. Dalam remang cahaya yang kian memudar, sosok Ranu yang mengenakan pakaian abu-abu lusuh itu tampak membesar, auranya meluap menyaingi kegelapan di langit.
"Siapa sebenarnya kau... Ranu?" tanya Lingga dengan suara serak. "Kekuatan yang kau tunjukkan saat menenangkan Naga Bumi tadi... itu bukan kekuatan manusia. Dan darah emas itu... kau adalah makhluk surgawi yang turun ke bumi, bukan?"
Ranu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tenang di tengah kiamat yang sedang berlangsung. "Aku hanyalah seseorang yang ingin makan nasi jagung dengan damai, Lingga. Tapi sepertinya, teman-teman lama dari Langit Kesepuluh ini sangat ingin aku melakukan diet paksa."
Tiba-tiba, tangan raksasa di langit itu melakukan gerakan mencengkeram. Matahari yang seharusnya berada di puncak kepala mendadak meredup, cahayanya terhisap masuk ke dalam telapak tangan Sang Penelan Surya.
Gerhana total terjadi secara instan, namun ini bukan gerhana biasa. Ini adalah Gerhana Kehampaan, di mana bayangan di bumi mulai hidup dan menyerang pemiliknya sendiri.
"Nara! Lindungi para murid! Jangan biarkan bayangan mereka menyentuh kulit mereka!" teriak Ranu.
Nara, yang sejak tadi bersiaga di sisi arena, langsung melompat ke udara. Ia melepaskan rentetan anak panah cahaya hijau yang meledak menjadi jaring-jaring energi di atas tribun penonton. "Hamba laksanakan, Gusti!"
Pangeran Lingga menyadari bahwa saat ini bukan waktunya untuk bertanya. Ia berdiri di samping Ranu, meski kakinya terasa berat karena tekanan energi dari langit. "Apa yang harus aku lakukan? Pedangku... aku merasa dia tidak berguna melawan tangan itu."
Ranu menatap Lingga sejenak. "Pedangmu adalah pedang kebenaran, Lingga. Tapi kebenaran tanpa otoritas hanyalah sebuah opini. Pinjamkan aku sedikit niat pedangmu, dan aku akan memberimu otoritas untuk memotong bayangan."
Tanpa menunggu jawaban, Ranu meletakkan tangannya di atas bilah pedang Lingga. Seketika, pedang Candra Kirana yang tadinya memancarkan cahaya putih suci berubah menjadi warna perak keemasan yang menyilaukan.
Tekanan yang keluar dari pedang itu kini begitu besar hingga retakan di arena di bawah mereka berhenti mengeluarkan uap hitam.
"Sekarang, Lingga! Serang lengan itu! Jangan gunakan matamu, gunakan denyut jantung dunia yang baru saja aku sambungkan ke pedangmu!" perintah Ranu.
Lingga merasa tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang luar biasa. Ia melesat naik, membelah kabut hitam seperti kilat yang menyambar di malam hari. Di bawah arahannya, ia mengayunkan pedangnya ke arah pergelangan tangan raksasa Sang Penelan Surya.
SLASH!
Sebuah luka menganga muncul di tangan raksasa itu. Darah hitam yang kental seperti aspal menyembur keluar, namun sebelum menyentuh bumi, darah itu menguap terbakar oleh energi perak dari pedang Lingga. Raungan kemarahan bergema dari balik retakan langit, sebuah suara yang membuat beberapa gunung es di sekitar akademi runtuh seketika.
"Berani sekali semut fana melukaiku!" suara Sang Penelan Surya menggetarkan jiwa.
Ranu menyipitkan mata. Serangan Lingga hanya memberikan luka kecil. Ia tahu, untuk mengusir Jenderal Kehampaan ini, ia harus membangkitkan setidaknya 50% dari kekuatan aslinya, namun taruhannya adalah hancurnya gunung ini.
"Lingga, Nara, berkumpul di belakangku!" perintah Ranu.
Keduanya mendarat di samping Ranu. Pangeran Lingga tampak kelelahan, napasnya tersengal-sengal karena baru saja menggunakan energi yang jauh melampaui kapasitas tubuhnya.
Sementara itu, dari langit, Sang Penelan Surya mulai mengeluarkan wujud aslinya. Kepalanya yang sebesar bukit keluar dari retakan, memiliki ribuan mata kecil yang berputar-putar di dahinya.
"Wira Candra... jadi kau bersembunyi di balik tubuh anak kecil ini?" Sang Penelan Surya tertawa ngeri. "Berapa lama kau bisa menahan beban hukum dunia ini? Setiap kali kau menyerangku, tubuh fana itu akan hancur sedikit demi sedikit. Biarkan aku membantumu mengakhirinya!"
Sang Penelan Surya membuka mulutnya yang lebar, dan sebuah bola api hitam legam mulai terkumpul di sana. Ini adalah Napas Kehampaan, serangan yang mampu menghapus sebuah kerajaan dari peta dunia dalam sekali hembus.
Ranu menarik napas dalam-dalam. Ia melirik sapu lidinya yang patah. "Ah, sayang sekali. Aku belum sempat mengajarkan Sastro cara membuat sambal goreng yang tahan lama jika dunia ini hancur."
Ranu merapatkan kedua tangannya. Bintang ketujuh di punggungnya berdenyut dengan ritme yang bisa didengar oleh seluruh makhluk di Benua Utara. Tubuh remajanya mulai memancarkan retakan-retakan cahaya, tanda bahwa wadah fananya sudah mencapai batas.
"Bintang Ketujuh, Tahap Pertama: Tirai Pelindung Cakrawala," gumam Ranu.
Sebuah kubah cahaya emas raksasa menyelimuti seluruh Akademi Pedang Langit tepat saat Napas Kehampaan menghantam. Benturan kedua kekuatan itu menciptakan gelombang kejut yang meratakan hutan-hutan di kaki gunung.
Cahaya dan kegelapan saling berebut dominasi di udara, menciptakan pemandangan kiamat yang indah sekaligus mengerikan.
"Lingga! Nara!" teriak Ranu di tengah deru energi. "Aku akan membuka celah di dadanya selama satu persepuluh detik. Lingga, kau gunakan seluruh jiwamu untuk menusuk inti jantungnya. Nara, kau ikat jiwanya dengan Panah Penarik Sukma agar dia tidak bisa melarikan diri kembali ke dimensinya!"
"Tapi Ranu, bagaimana denganmu?" tanya Nara dengan nada cemas yang jarang ia tunjukkan.
"Aku? Aku akan menahan beban langit agar tidak runtuh menimpa kalian. Sekarang, lakukan!"
Ranu melompat ke arah Sang Penelan Surya. Di udara, jubah abu-abunya terbakar habis, menampakkan tanda tujuh bintang yang menyala terang di punggungnya. Ia menghantam dahi raksasa itu dengan tinju kosongnya.
DUM!
Ribuan mata Sang Penelan Surya meledak serentak. Makhluk itu melolong kesakitan, dan untuk sekejap, pertahanannya runtuh.
"SEKARANG!"
Nara melepaskan panah hijau zamrud yang melilit leher sang raksasa seperti rantai abadi, menariknya agar tetap berada di luar dimensi.
Di saat yang sama, Lingga melesat dengan Pedang Candra Kirana yang sudah dilapisi otoritas dewa dari Ranu. Dengan teriakan yang membelah langit, Lingga menusukkan pedangnya tepat ke tengah dada sang Jenderal Kehampaan.
BOOOOOOMM!
Ledakan energi putih murni terjadi di angkasa. Sang Penelan Surya terhisap kembali ke dalam retakan dimensi yang kini menutup dengan keras, seolah-olah dipaksa oleh tangan yang tak terlihat. Kegelapan sirna, dan matahari Benua Utara kembali bersinar, meskipun kini cahayanya terasa lebih hangat karena bercampur dengan sisa-sisa energi emas Ranu.
Ranu jatuh dari langit seperti burung yang sayapnya patah. Nara segera melompat dan menangkapnya sebelum ia menghantam arena. Tubuh Ranu tampak sangat lemah, kulitnya dipenuhi memar biru, dan napasnya pendek-pendek.
Pangeran Lingga mendarat di samping mereka, ia langsung berlutut di depan Ranu. Kali ini, ia tidak berlutut karena aturan akademi, melainkan karena rasa hormat yang mutlak. "Gusti... Anda menyelamatkan kami semua."
Ranu membuka matanya sedikit, mencoba tersenyum meskipun terlihat sangat kesakitan. "Lingga... sudah kubilang... jangan panggil Gusti. Dan satu lagi... tolong carikan aku sapu lidi yang baru. Yang ini sudah tidak bisa dipakai lagi."
......................
Kejadian hari itu dicatat dalam sejarah Akademi Pedang Langit sebagai "Bencana Gerhana Kehampaan". Namun, bagi para tetua yang tersisa, ada misteri yang jauh lebih besar.
Bagaimana mungkin seorang murid luar dan dua murid baru bisa mengusir Jenderal dari Langit Kesepuluh?
Penatua Wisesa yang sempat terinfeksi kini dikurung di penjara bawah tanah untuk diinterogasi. Namun Ranu tahu, Wisesa hanyalah satu dari sekian banyak pion yang sudah tersebar di lima benua.
Di ruang kesehatan khusus yang dijaga ketat oleh Nara dan Lingga, Ranu duduk bersandar di tempat tidur. Di depannya, Pangeran Lingga berdiri dengan tegak, namun kepalanya menunduk.
"Aku telah bersumpah pada pedangku," ucap Lingga pelan. "Mulai hari ini, nyawaku dan seluruh kekuatanku adalah milikmu, Ranu. Aku menyadari bahwa akademi ini, dan bahkan seluruh dunia fana ini, hanyalah butiran debu di depan ancaman yang kau hadapi."
Ranu menghela napas, menyesap teh hangat yang dibawakan Nara. "Lingga, aku tidak butuh budak. Aku butuh teman yang bisa diandalkan. Karena setelah ini, aku harus melakukan perjalanan ke Benua Timur, ke Hutan Labirin Jiwa. Di sana terdapat salah satu segel utama yang paling rawan ditembus."
"Hamba akan ikut," ucap Nara singkat.
"Aku juga akan ikut," tambah Lingga. "Sebagai murid nomor satu, kepergianku mungkin akan menimbulkan kecurigaan, tapi aku bisa beralasan sedang melakukan tugas pembersihan sisa-sisa iblis."
Ranu menatap kedua sekutunya itu. Seorang gadis dari suku kuno yang pendiam dan seorang pangeran pedang yang terlalu serius. "Baiklah. Aliansi aneh ini resmi dibentuk. Tapi ingat, di depan orang lain, aku tetaplah Ranu si penyapu halaman yang beruntung, dan kalian adalah jenius yang kebetulan berbaik hati padaku. Mengerti?"
Lingga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat di wajahnya yang kaku. "Mengerti, Ranu."
Namun, di tengah rencana keberangkatan mereka, sebuah pesan batin yang sangat mendesak datang dari kejauhan—dari perbatasan Kerajaan Durja. Suara Ki Sastro terdengar pecah dan penuh keputusasaan di kepala Ranu.
"Gusti... ampuni hamba... Desa Durja telah jatuh... Iblis itu... dia tidak membunuh kami... dia membawa Bapak dan Ibu ke arah Lautan Kematian..."
Gelas di tangan Ranu pecah berkeping-keping. Suhu di ruangan itu mendadak menjadi sangat panas hingga air di dalam teko mendidih seketika. Mata perak Ranu menyala dengan amarah yang bisa membakar seluruh langit.
"Amangkrat... kau benar-benar ingin aku menghancurkan seluruh sisa sukmamu," desis Ranu.
Ranu berdiri, membuang selimutnya. Rasa sakit di tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh dorongan adrenalin dewa yang murni. "Rencana berubah. Kita tidak ke Timur. Kita ke Lautan Kematian di Benua Selatan. Dan kali ini, aku tidak akan menyapu sampah... aku akan membakarnya sampai ke akar-akarnya."
......................