Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Rencanamu?
Setelah makan malam yang tenang namun penuh kemewahan itu selesai, Karina meletakkan serbet kainnya dengan gerakan anggun yang seolah-olah sudah ia lakukan setiap hari, meski kenyataannya ia telah meninggalkannya selama dua puluh tahun.
"Ella, Aisha," panggil Karina lembut.
"Kalian pasti lelah, pergilah ke lantai atas, Bi Sumi akan mengantar kalian ke kamar. Mama sudah meminta pelayan menyiapkan air hangat dan pakaian tidur yang nyaman untuk kalian," lanjut Karina.
Seorang pelayan senior dengan wajah ramah membungkuk sopan kepada si kembar, Ella dan Aisha, yang masih merasa seperti sedang dalam mimpi pun mengangguk patuh. Saat mereka menaiki tangga melingkar yang megah, mereka sempat menoleh ke bawah dan menatap Ibu mereka yang kini terlihat sangat berbeda, bukan lagi ibu rumah tangga yang lelah, melainkan penguasa rumah ini.
Setelah langkah kaki putri-putrinya menghilang di koridor lantai atas, ekspresi lembut di wajah Karina seketika mendingin dan ia menatap Paman Andri.
"Paman, mari kita bicara di ruang kerja Ayah," ucap Karina.
Paman Andri mengangguk serius lalu menuntun Karina menuju sebuah pintu kayu jati besar dengan ukiran naga yang rumit. Saat pintu terbuka, aroma cerutu tua dan buku-buku kulit yang sangat dikenal Karina menyeruak. Ruang kerja mendiang Baskoro Wijaya masih terjaga dengan sempurna, seolah pemiliknya baru saja keluar sebentar.
Karina duduk di kursi kebesaran Ayahnya, tangannya mengusap permukaan meja yang dingin. "Paman, aku ingin Agus hancur," ucap Karina.
"Pasti itu, kita akan menghancurkannya," ucap Paman Andri.
"Tapi aku tidak ingin dia tahu siapa yang menghancurkannya... setidaknya, belum sekarang," ucap Karina.
Paman Andri menyesap teh yang ia bawa dari ruang tamu lalu matanya menatap tajam ke arah Karina, "Agus sekarang merasa di atas angin, Karina. Perusahaannya baru saja go public, dia merasa dia adalah raja baru di Jakarta. Menghancurkannya secara frontal akan terlalu mudah bagi Grup Wijaya, tapi menghancurkannya perlahan... itu butuh ketelitian," ucap Paman Andri.
Karina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung racun. "Dia mencintai hartanya lebih dari apapun, Paman. Maka, aku akan mengambil hartanya satu per satu, dia pikir dia sukses karena kemampuannya? Dia lupa bahwa selama sepuluh tahun pertama, akulah yang menutupi semua lubang di pembukuannya," ucap Karina.
"Apa rencanamu?" tanya Paman Andri.
"Agus sedang mengejar proyek pengadaan material untuk pembangunan mega city di koridor Timur Jakarta. Itu proyek senilai triliunan. Dia sudah mempertaruhkan hampir seluruh likuiditas perusahaannya untuk deposit lelang dan suap kepada beberapa pejabat kecil...," ucap Karina menjeda dan matanya berkilat marah ketika mengingat usaha yang selama ini ia lakukan untuk pria brengsek itu.
"Jangan biarkan dia menang, tapi jangan juga biarkan dia tahu Wijaya yang menjegalnya. Gunakan perusahaan cangkang di Singapura, Phoenix Investama. Tarik semua vendor utama semen dan baja yang bekerja sama dengannya, berikan mereka kontrak yang jauh lebih menguntungkan dengan syarat mereka harus memutus kontrak dengan perusahaan Agus secara mendadak dengan alasan masalah teknis," lanjut Karina.
Paman Andri mencatat di tabletnya dan tersenyum, Karina memang tidak pernah mengecewakan. "Itu akan menyebabkan penalti keterlambatan yang besar bagi Agus dan sahamnya akan mulai bergejolak," ucap Paman Andri.
"Itu baru permulaan, Paman. Agus punya kebiasaan buruk yang baru dia pelajari dari sekretarisnya, di mana dia menggunakan dana taktis perusahaan untuk gaya hidup mewah dirinya dan juga sekretarisnya lalu mencatatnya sebagai biaya operasional riset. Aku tahu persis di mana mereka menyembunyikan laporan asli itu, aku yang dulu mengajari Agus cara merapikan buku, sekarang aku akan menggunakan ilmu itu untuk menjerat lehernya," ucap Karina.
Karina berdiri dan berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah kota Jakarta yang gemerlap, "Aku ingin dia merasakan apa itu kemiskinan lagi, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya diusir, dihina dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dia banggakan. Biarkan dia menikmati kemenangannya dengan Sabrina selama beberapa hari ini. Biarkan dia merasa sangat tinggi, agar saat dia jatuh nanti, tulang-tulangnya hancur tak bersisa," lanjutnya.
"Dan mertuamu?" tanya Paman Andri.
"Wanita itu hanya setia pada uang, saat uang Agus habis, dia sendiri yang akan menjadi duri bagi anaknya. Kita tidak perlu melakukan banyak hal padanya, cukup pastikan semua aset properti yang atas nama Agus kita sita melalui jalur hukum atas pelanggaran pajak yang akan segera kita ekspos nanti," jawab Karina.
Paman Andri mengagumi transformasi keponakannya, "Kamu benar-benar putri Baskoro, tenang namun mematikan. Lalu, kapan kamu akan menemuinya dengan identitas aslimu?" tanya Paman Andri.
Karina menoleh, matanya mencerminkan lampu kota yang dingin. "Saat dia sudah berada di titik terendah, saat dia sedang mengemis di jalanan dan berharap ada keajaiban yang menyelamatkannya. Saat itulah, aku akan datang dengan mobil Rolls Royce ini dan menurunkan kaca jendela lalu menunjukkan padanya bahwa wanita kampung yang dia buang adalah pemilik dunia yang selama ini dia impikan," jawab Karina.
Keheningan menyelimuti ruang kerja itu, hanya suara detak jam dinding kuno yang terdengar, menandakan waktu bagi kehancuran Agus telah dimulai.
Setelah itu, Paman Andri pun pamit pergi dan Karina menuju ke kamarnya, langkah kakinya yang semula tegas kini terasa berat saat ia menapaki anak tangga menuju kamar utamanya di lantai dua, kamar yang dulu merupakan saksi bisu masa remajanya sebelum ia memilih untuk pergi demi cinta yang ternyata palsu.
Begitu pintu kamar tertutup dan dikunci dari dalam, keheningan mulai menyergap. Kamar itu masih sama, aroma kayu cendana kegemaran Bunda Tyas masih tertinggal samar di tirai sutra. Di atas meja rias, terdapat sebuah bingkai foto perak besar, Karina melangkah mendekat dan jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kaca foto tersebut.
Di sana, mendiang Ayah dan Ibunya tersenyum bangga, merangkul Karina yang mengenakan toga wisuda dari salah satu universitas terbaik di London dan mata mereka memancarkan harapan besar bahwa putri tunggal mereka akan meneruskan takhta Grup Wijaya.
"Ayah... Ibu...," gumam Karina dan tangisnya pun pecah.
Karina jatuh terduduk di atas karpet Persia yang tebal dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan di depan anak-anaknya dan Paman Andri kini meledak tanpa kendali, bahunya berguncang hebat. Bukan karena ia menyesali perceraiannya dengan Agus, melainkan karena rasa bersalah yang menghimpit dada layaknya bongkahan batu besar.
"Maafkan Karina, putri kalian begitu bodoh. Kalian membesarkanku dengan kemewahan dan pendidikan terbaik agar aku menjadi ratu, tapi aku malah memilih menjadi keset bagi pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai berlian," isaknya di sela napas yang sesak.
.
.
.
Bersambung.....