NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Urus Suamiku

Sinar matahari menelusup lewat celah tirai, tepat mengenai wajah Dirga. Reflek, dia mengernyit pelan.

Kepalanya masih terasa berat. Namun, aroma masakan yang hangat dan cukup kuat memenuhi udara kamar, hingga indra penciumannya.

Dirga membuka mata perlahan. Langit-langit kamar itu, berbeda. Dia butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar terkumpul.

Setelah itu, Dirga bangkit dengan posisi setengah duduk. Pandangannya menyapu sekeliling. Lemari kecil di sudut, meja rias sederhana, tirai warna krem, dan selimut bermotif yang bukan miliknya.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Dirga menoleh ke sisi ranjang, kosong. Namun bantal di sampingnya masih berbekas.

Ingatan semalam mulai kembali sedikit demi sedikit. Pintu yang terkunci, ketukan yang tak dibalas, dan langkah sempoyongan.

Dirga mengusap wajahnya kasar.

“Astaga!” gumamnya lirih.

Dia menunduk, siku bertumpu di lutut. Kepalanya terasa pening, bukan hanya karena alkohol, tapi karena kenyataan.

Semalam adalah malam pertama pernikahan itu, dan dia tidak mengingat semuanya dengan jelas. Napasnya tertahan sejenak.

Aroma masakan kembali menyentuh indra penciumannya. Sungguh, sesuatu yang sangat jarang dirasakan di rumah ini. Biasanya Celine memang selalu membeli makanan di luar, dan sama sekali tidak pernah memasak.

Pelan-pelan, Dirga berdiri dan berjalan ke pintu kamar. Saat pintu dibuka, dia melihat Amira di dapur, mengenakan pakaian sederhana, dengan rambut yang terikat rapi.

Setelah selesai, Amira kemudian menata sarapan di meja makan, wajahnya terlihat tenang, meski ada garis lelah yang tak bisa disembunyikan. Dirga terdiam di ambang pintu.

Amira yang menyadari bayangan tubuh tinggi itu segera menoleh cepat, lalu menunduk sopan.

“Pak Dirga udah bangun? Saya udah buatkan sarapan, mau saya buatkan kopi atau teh?”

Dirga terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru terasa asing di telinganya. Selama menikah dengan Celine, pagi-paginya selalu sunyi. Tak ada aroma masakan. Tak ada suara piring beradu pelan. Tak ada sapaan hangat.

Celine bangun sesuai jadwalnya sendiri, kadang lebih pagi untuk pekerjaan, kadang lebih siang jika semalaman lembur. Mereka hidup berdampingan, tapi dengan ritme yang berbeda.

Dirga pun terbiasa menjadi suami yang mandiri. Bangun sendiri, menyiapkan kopi sendiri. Bahkan sering berangkat kerja tanpa perlu menunggu siapa pun.

Bisa dibilang, rumah hanya tempat singgah. Bukan tempat pulang. Namun pagi ini terasa berbeda.

Aroma nasi goreng hangat dan telur dadar memenuhi ruang makan kecil itu. Meja telah tertata rapi. Segelas air putih sudah tersedia di sisi kursinya, seolah Amira sudah memperkirakan dia akan duduk di sana.

"Pak Dirga mau minum apa?" tanya Amira kembali.

“Teh saja,” jawab Dirga akhirnya, dengan suara datar.

Amira mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Dirga menarik kursi dan duduk. Perempuan itu tak banyak bicara. Tak mencoba mendekat. Tak menyinggung kejadian semalam, seolah sedang menjaga jarak yang aman.

Dirga menyadari, jika Amira memang memperlakukannya seperti seorang suami. Sementara dia sendiri belum tahu bagaimana harus bersikap sebagai suami baginya.

Amira meletakkan cangkir teh di hadapan Dirga dengan hati-hati.

Uap tipis mengepul pelan. Dirga menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Tolong, jangan panggil aku Pak lagi.”

Amira terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia mengangguk canggung. “Ba-baik .…”

Dia bahkan sempat ragu sepersekian detik, lalu memperbaiki ucapannya.

“Silakan sarapan, Mas.”

Kata itu terasa asing di lidahnya. Namun begitu keluar, suasana berubah tipis. Dirga tidak langsung menjawab, tapi untuk pertama kalinya pagi itu, tatapannya melunak sedikit.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Celine keluar dengan langkah ringan.

Penampilannya sudah rapi dan cantik. Rambutnya tergerai indah, make up tipis menonjolkan wajahnya yang segar. Pakaian kerja mahal membalut tubuhnya dengan sempurna. Dia terlihat seperti biasa saja, tidak ada yang berubah. Seperti tidak ada malam penuh konflik beberapa hari lalu.

Amira spontan berdiri.

“Bu Celine, mau saya buatkan teh atau kopi?”

“Kopi,” jawab Celine singkat, tanpa menoleh pada Dirga terlebih dahulu. Nada suaranya tenang.

Amira segera berbalik ke dapur. Sementara itu, Celine berjalan mendekati meja makan dan duduk di kursi seberang Dirga. Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Celine menyandarkan punggungnya santai. “Kamu pulang jam berapa tadi malam?”

Nada suaranya ringan. Seolah hanya percakapan biasa antara dua orang yang tinggal serumah.

Dirga menghela napas pelan. “Memangnya itu penting buat kamu?"

Celine tersenyum tipis, bukan senyum sedih, ataupun kecewa. Melainkan senyum seseorang yang merasa semuanya berjalan sesuai rencana.

Suasana kembali, tak ada percakapan kembali antara mereka, hingga Amira datang membawa secangkir kopi panas dan meletakkannya perlahan di hadapan Celine.

“Ini kopinya, Bu.”

Celine mengangkat wajahnya, tersenyum tipis. “Makasih.”

“Kamu nggak usah bikinin kopi lagi buat Celine.”

Suara Dirga terdengar tegas. Celine mengangkat alisnya tipis. Dirga menatap lurus ke arah Amira.

“Kamu bukan asisten dia lagi. Jadi, ngga perlu layanin Celine lagi."

Amira menunduk perlahan. Tangannya saling menggenggam gugup di depan perutnya.

Celine justru tersenyum samar.

"Memangnya kenapa? Amira udah biasa melayaniku.”

Dirga menoleh pada Celine.

“Mulai sekarang biasakan sendiri. Dia bukan asisten kamu lagi!”

Celine menghela napas pelan setelah menyesap kopinya, seolah tak mengambil hati perkataan Dirga.

“Aku mau kasih tahu sesuatu,” ucapnya ringan, seolah hanya membicarakan jadwal biasa.

“Tiga hari lagi aku harus ke Cambridge. Menyelesaikan kerja sama proposal dan penelitian.”

Tangannya bergerak anggun saat mengangkat cangkir, sikapnya tenang dan penuh percaya diri.

Amira yang duduk di samping Dirga langsung menegang. Dia menunduk, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Perasaan canggung dan takut bercampur jadi satu.

Dia bahkan belum memahami sepenuhnya posisi barunya sebagai istri. Lalu kini harus tinggal serumah tanpa Celine?

Celine melirik sekilas ke arah Amira. Senyumnya tipis.

“Kali ini mungkin agak lama. Kalau berhasil, dampaknya bagus untuk karierku.”

Dirga tak menunjukkan ekspresi tertarik sedikit pun. Dia hanya meminum tehnya, lalu berkata datar, “Terserah.”

Celine berhenti mengaduk kopi. Dirga menambahkan, tanpa menatap siapa pun, “Aku nggak peduli.”

Amira perlahan mengangkat wajahnya, menatap Dirga sekilas. Ada sesuatu dalam nada suaranya, bukan hanya ketidakpedulian, tapi juga luka yang belum selesai.

Celine tersenyum lagi. Namun kali ini, senyumnya berbeda.

“Ya kamu emang nggak pernah peduli soal pekerjaanku.”

Dirga akhirnya menoleh. Tatapan mereka beradu. Tak ada teriakan. Tak ada amarah yang meledak, tapi ketegangan itu terasa jelas.

Amira merasa dirinya seperti berada di tengah dua arus yang berlawanan. Dia ingin menghilang saja dari meja itu.

Dirga berdiri terlebih dulu, meninggalkan keduanya dalam keheningan. Sedangkan Celine, terlihat tak peduli. Dia justru merapikan pakaiannya. Lalu menoleh pada Amira, dan mengusap pundaknya.

“Rumah ini aku titip,” ucapnya ringan.

Amira menelan ludah pelan.

"Tolong urus suamiku sebaik mungkin ya!"

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!