NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32: Yang Ditakdirkan Datang Akhirnya Datang

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari sepenuhnya muncul dari balik gedung-gedung Kota Long’An, Lin Qiupu sudah tiba di markas. Langkahnya cepat dan gelisah, seakan seluruh tubuhnya dipacu oleh tenggat waktu penyelesaian kasus yang terus menghantui pikirannya. Tanpa mampir ke ruangannya, ia langsung menuju departemen forensik.

Begitu pintu terbuka, aroma kopi Blue Mountain yang pekat dan hangat menyeruak memenuhi ruangan. Peng Sijue, seperti biasa, berdiri membungkuk di depan komputernya. Wajahnya pucat, namun matanya terfokus tajam pada layar. Dari meja di sampingnya, beberapa cangkir kertas kosong mengindikasikan bahwa ia belum tidur sepanjang malam.

Tanpa menoleh, Peng Sijue berkata datar, “Laporannya ada di atas meja.”

Lin Qiupu mengambil laporan itu, namun perhatiannya teralih pada aroma kopi di mesin seduh. Biasanya, ia adalah peminum teh Longjing garis keras. Tetapi dua hari terakhir telah menguras energi dan ketajaman pikirannya hingga ke titik yang tidak ia sangka sebelumnya. Ia akhirnya menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.

Ia meneguknya. Pahit, kuat, menghentak—dan langsung menyapu sebagian kabut yang selama ini memelenggu otaknya.

“Terima kasih, Old Peng,” gumamnya sambil menikmati sensasi hangat itu. “Kalau bukan karena ide pemeriksaan kadar lipid darah itu, kita tidak mungkin menyimpulkan bahwa… pembunuh sebenarnya adalah dia! Tapi—bagaimana bisa kau terpikir untuk melakukan uji itu?”

Peng Sijue akhirnya menoleh sekilas, wajahnya tetap datar. “Itu bukan ideku, bukan pula ide adikmu, Kapten Lin. Itu ide Chen Shi.”

Lin Qiupu hampir menjatuhkan cangkirnya.

“Chen Shi? Chen Shi yang mana?”

“Chen Shi yang mana lagi? Sopir yang tidak kau sukai itu.”

Lin Qiupu terpaku. Rasanya sesuatu yang panas dan dingin sekaligus menyusup ke tengkuknya. “Dia? Lagi-lagi dia?!”

Peng Sijue mengangkat alis. “Haruskah aku menyembunyikannya?”

Lin Qiupu terdiam cukup lama. “Tidak. Aku sendiri yang memintanya ikut membantu kasus. Tentu saja aku ingin tahu.”

“Bagus,” ujar Peng Sijue singkat. “Asal jangan sampai kau bertaruh lagi dengan dia. Itu akan memalukan.”

Lin Qiupu hanya bisa tertawa hambar. Jika orang lain yang mengatakannya, mungkin kepalanya sudah “meledak”. Tetapi menghadapi Peng Sijue, apa pun rasanya tidak efektif.

Usai menghabiskan kopinya, ia meraih laporan dan keluar. Peng Sijue kembali ke komputernya. Di layar, ada data kependudukan dengan nama: Chen Shi. Kolom paling akhir bertuliskan: Menghilang sejak 2016.

Peng Sijue menatap data itu lama, lalu bergumam pelan, “Sebenarnya… siapa kau?”

Lin Qiupu memasuki ruang rapat. Kurang dari sepuluh jam tersisa sebelum batas waktu penyelesaian kasus yang ia tetapkan sendiri—dan yang kini menghimpitnya seperti batu besar. Hari ini tidak banyak yang bisa dibahas. Semua sudah jelas: target utama adalah mencari Kong Wende yang masih hidup.

Saat ia masuk, para polisi sedang membaca sebuah koran. Mereka tidak menyadari kehadirannya sampai ia berdiri tepat di belakang mereka.

“Sedang lihat apa?” tanyanya dengan nada dingin.

Serentak mereka berdiri tegak. “Ka–Kapten Lin! Ini… ini hanya koran Long’An Morning Post, Pak. Ada laporan yang… cukup rinci tentang kasus itu.”

“Kasus kita?! Beri aku.”

Lin Qiupu meraih koran itu dan membacanya cepat. Namun detik berikutnya, wajahnya memerah oleh kemarahan.

Artikel koran itu mendeskripsikan pembantaian keluarga tersebut dengan detail yang nyaris tidak mungkin diketahui publik. Ditambah lagi, sang wartawan menulis secara dramatis mengenai kondisi sang anak korban—bahwa ia terbangun, melihat keluarganya tewas, lalu melompat dari lantai tiga.

“Omong kosong!” Lin Qiupu hampir merobek koran itu. “Siapa yang membocorkan ini!?”

Para polisi saling pandang, masing-masing dengan wajah kebingungan. Sementara itu, Lin Dongxue berdiri di belakang mereka—dengan raut wajah penuh kecemasan. Ia tahu persis siapa biang keladinya.

Itu ulah Chen Shi.

Dan ia sendiri berada di tempat kejadian ketika itu terjadi—meski ia sudah memperingatkannya.

Chen Shi hanya menjawab kala itu, “Aku bukan bagian dari kepolisian. Kapten Lin tidak memerintahkanku bungkam. Kalau ada masalah, itu tanggung jawabku. Kau tidak perlu takut.”

Namun itu tidak membuat Lin Dongxue lebih tenang.

Setelah rapat singkat, Lin Qiupu mengerahkan semua unit untuk menyisir seluruh kota. Ia menugaskan dua petugas—Old Zhang dan Xiao Zhang—untuk berjaga di rumah sakit.

Lin Dongxue spontan menegang.

Lin Qiupu melihat perubahan ekspresi adiknya dan mendekat. “Meskipun kau ingin membuat prestasi, jangan sampai melakukan hal bodoh seperti ini.”

“Bukan aku! Itu ide Chen Shi!” jawab Lin Dongxue cepat.

Lin Qiupu berdecak. “Tentu saja. Aku sudah menebaknya.”

Lin Dongxue memberanikan diri mengangkat suara. “Kapten Lin, saya meminta izin ikut berjaga di rumah sakit.”

Ia menatap adiknya beberapa detik, menghela napas panjang, lalu berkata, “Baik. Pergilah. Tapi jangan berpikir aku menaruh harapan pada rencanamu itu. Tidak mungkin Kong Wende mendatangi rumah sakit. Polisi sudah menyisir satu kota; orang itu pasti bersembunyi. Lagi pula, koran murahan itu hanya laku beberapa puluh ribu eksemplar. Kau kira dia pasti membaca? Tolong gunakan otakmu.”

Ucapannya tajam, namun akhirnya ia memberi izin.

Lin Dongxue hanya bisa menghela napas lega.

Setibanya di rumah sakit, Chen Shi sudah menunggu di koridor. Ia duduk sambil memotong apel untuk si bocah—yang kini sudah sadar namun masih tampak kehilangan, tatapan kosong, dan sensitif terhadap setiap kata yang menyebutkan keluarganya.

Ketika melihat Chen Shi memotong apel dengan santai, Lin Dongxue langsung memanggilnya keluar.

“Hei! Kau keluar sekarang!”

Chen Shi keluar sambil tersenyum. “Ada apa? Kenapa kau marah sekali?”

“Lihatlah keributan yang kau ciptakan. Kakakku tahu soal ini. Dia bilang penjualan koran itu kecil. Mungkin saja Kong Wende tidak akan melihatnya! Idemu… terlalu berisiko.”

Chen Shi menanggapi ringan, “Benar. Penjualannya kecil. Tapi pembacaannya tinggi. Koran murah seperti itu banyak dipakai di warung sarapan untuk membungkus makanan. Semua orang pagi-pagi membaca apa saja yang ada di depan mereka. Termasuk, mungkin, Kong Wende.”

“Kalau dia tidak melihatnya?”

“Segala strategi selalu punya risiko. Tapi peluangnya ada. Dan cukup besar.”

Lin Dongxue memijat pelipisnya. Ia ingin percaya, tapi … bagaimanapun, harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Waktu berjalan lambat.

Siang semakin dekat, tetapi tak ada tanda-tanda apa pun. Bocah itu hanya mau berbicara sedikit dengan Lin Dongxue. Setiap kali menyinggung ayah-ibunya, ia menangis terisak.

Pikiran Lin Dongxue seperti diikat tali. Ia ingin prestasi, ia ingin diakui kakaknya, dan diam-diam… ia ingin membuktikan bahwa Chen Shi benar.

Namun semakin lama, hatinya semakin lelah. Harapan itu perlahan runtuh.

Chen Shi yang melihat perubahan itu berkata pelan, “Kadang, dari jauh seseorang tampak menyebalkan. Tapi ketika kau melihat lebih dekat, baru kau sadar hidupnya penuh kesedihan. Dia punya rumah, punya keluarga. Tapi satu demi satu, karena keadaan dan keputusan yang salah, semuanya runtuh. Tinggal kehancuran yang tersisa.”

Nada suaranya berat. Lin Dongxue meliriknya curiga. “Kau bicara seolah pernah mengenal banyak kriminal.”

Chen Shi langsung tersenyum lebar. “Aku hanya mengutip drama TV. Aku baru nonton Reading the Heart. Bagus sekali!”

Lin Dongxue mendesah kesal. “Tidak usah sok dramatis!”

Menit demi menit berlalu.

Hingga akhirnya, pukul dua siang, sesuatu terjadi.

Tiiiin!!! Tiiiin!!!

Alarm kebakaran mendadak meraung di seluruh koridor. Lampu peringatan merah berkelip-kelip cepat. Suara langkah kaki para staf medis melewati lorong, disertai teriakan panik para pengunjung.

“Api! Ada api! Semua berlindung!”

Lin Dongxue refleks berlari ke luar ruangan.

Chen Shi muncul dari balik pintu dan berkata dengan nada sangat yakin,

“Dia datang. Orang yang kita tunggu—akhirnya datang!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!