NovelToon NovelToon
My Big Boy

My Big Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Posesif
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)

Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenang sebelum badai

Waktu berlalu dengan cepat tidak terasa pernikahan Rania dan Marco sudah berjalan satu tahun lebih.

Sejauh ini rumah tangga nya damai damai saja, Cantika sudah bisa berbicara dengan jelas meskipun masih cadel, Vano sudah bersekolah disekolah elit di Milan, meskipun bahasa Italia nya masih kaku dan banyak salah.

Rania duduk dikamar nya, ia ditangan nya terdapat botol obat yang berisi Pil diet, mungkin bagi Marco, Rania cantik apa adanya tapi bagi Rania ia merasa hanya akan membuat Marco malu jika ia tidak pandai mengurus dirinya sendiri dan tetap percaya diri dengan tubuh gempal nya.

Rania berdiri dan mengambil timbangan digital, lalu Rania naik perlahan dan angka-angka mulai bergerak cepat.

Sampai....

55.12 Kg

Rania menatap lama angka di timbangan itu, senyum perlahan terbit diwajahnya.

Berat badan nya dulu telah kembali, pintu kamar terbuka disana Marco berdiri. Marco tau Rania sedang melakukan diet dan Marco tidak melarang namun ia selalu dengan tegas mengatakan, 'boleh diet tapi jangan sampai tidak makan'.

Marco mendekat lalu melihat berat badan Rania lalu berkata.

"Cantikan kamu sat genduk, banyak daging nya enak di peluk" ujar Marco.

Rania memukul dada Marco dan sedikit cemberut. "Memang nya aku jelek?" tanya Rania.

"ngak kamu cantik, tapi masih cantik kamu yang gendut"

Marco terkekeh pelan melihat wajah Rania yang cemberut seperti anak kecil.

Ia meraih tangan istrinya, menurunkannya dari timbangan, lalu memeluknya dari belakang.

“Dengar ya,” bisik Marco lembut di telinganya, “aku menikahi kamu bukan karena angka di timbangan. mau kamu berat nya 60,70 ataupun 100 kg sekalipun aku akan menikahi mu, karna saat pertama kali aku melihat mu aku langsung jatuh cinta" ujar Marco bibir nya perlahan mencium leher Rania dan sesekali menggigit nya.

Rania terdiam.

Marco memutar tubuhnya perlahan agar mereka saling berhadapan.

Rania menunduk, jemarinya memainkan ujung bajunya.

“Tapi aku nggak mau kamu malu punya istri gendut,” gumamnya pelan.

Marco mengangkat dagunya.

“Aku yang harusnya malu kalau bikin istriku merasa nggak cukup.”

Hening sejenak.

Dari luar kamar terdengar suara Cantika memanggil dengan cadel khasnya.

“Mommy… Daddy… Tika lapaaarr…”

Marco tersenyum kecil. “Nah itu, pelanggan tetap kamu manggil.”

Rania tertawa pelan.

Marco lalu menepuk botol pil diet di meja. “Boleh diet. Boleh jaga badan. Tapi jangan menyiksa diri. Jangan sampai kamu sakit cuma demi standar orang lain.”

Rania mengangguk.

“55 kilo atau 65 kilo,” lanjut Marco sambil mencium keningnya, “yang penting kamu sehat. Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan bentuk tubuh kamu.”

Mata Rania sedikit berkaca-kaca.

Ia memeluk Marco erat.

“Terima kasih,” bisiknya.

Marco tersenyum jahil. “Tapi ya… jujur aja…”

Rania langsung menyipitkan mata. “Apa lagi?”

“Aku tetap paling suka kamu waktu gendut. Lebih empuk.”

Rania langsung mencubit pinggang Marco.

Tawa Marco pecah, mengalir hangat memenuhi kamar yang menjadi saksi perjalanan satu tahun pernikahan mereka yang awalnya hanya karna paksaan menjadi penerimaan, kekhawatiran kecil, dan penerimaan yang terus tumbuh.

Di luar, Vano terdengar berbicara campur aduk bahasa Indonesia dan Italia, membuat Cantika tertawa tanpa mengerti.

Dan Rania sadar mungkin kebahagiaan bukan tentang menjadi sempurna.

Tapi tentang diterima, bahkan saat Dia belum selesai menerima diri sendiri.

Rania hendak keluar namun Marco menahan nya. "Sayang kamu gak lupa sesuatu kan?" tanya Marco.

Rania menyeritkan dahinya lalu seolah paham Ia berbalik dan mengecup bibir Marco singkat namun bukan Marco nama nya kalo langsung berhenti. Marco menahan tengkuk Rania dan mencium nya lebih dalam, lebih panas dan lebih bernafsu.

Rania menyesal karna mencium Marco sudah dipastikan dia tidak akan keluar dari kamar

Marco mengangkat tubuh Rania menggendong nya ala koala tanpa melepaskan ciumannya.

"Dasar Mesum" ujar Rania disela ciuman nya.

Marco tertawa. "Siapa suruh kamu sangat menggoda, sekarang ayo kita nabung buat adik untuk Cantika" ujar Marco berjalan ke ranjang, sesampainya diranjang Marco langsung menerkam Rania.

Marco mencium bibir Rania lalu turun ke lehernya, tangannya sudah merayap masuk terlebih dahulu ke dalam dress Rania. Tubuh Rania melengkung saat Marco mulai menggerakkan tangan nya.

"eunghhhhh" erang Rania.

Marco menyeringai, ia menarik tangannya membuat Rania sedikit kecewa karna kehilangan kenikmatan nya.

Marco membuka pakaiannya dan membuka lebar kaki Rania.

Kamar itu kembali berisik oleh desahan mereka, suara kulit yang saling bersentuhan dan erangan kenikmatan yang saling bersautan.

Jauh di Roma seorang wanita sedang berendam di bathtub yang dipenuhi busa dari sabun mahal, jari-jari lentik nya menggosok kulit putih halusnya.

"Marco, kau membatalkan pertunangan kita hanya demi wanita jelek, gendut dan seorang janda yang bahkan tidak bisa bersaing dengan ku, aku akan merebut mu dengan cara apapun" ujar wanita itu menyeringai.

Ia keluar dari bathtub, tubuh nya langsing dan kurus, kami jenjangnya tampak mempesona, paras nya bak Dewi, namun hatinya seperti iblis, dia Putri keluarga Smith Catrin Fanca Smith mantan tunangan Marco, wanita itu selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara apapun bahkan dengan cara paling kotor sekalipun akan dia lakukan.

Catrin menatap dirinya dari pantulan cermin.

"Marco kau nakal sekali, apa karna dulu aku selalu menolak pertunangan kita kau menghukum ku dengan menikahi janda gendut hm, tapi tenang saja, aku akan kembali padamu" ujar nya menyeringai jahat.

"Dan Rania, aku akan menyingkirkan mu apapun caranya bahkan jika harus membunuhmu dan kedua anak mu" ujar nya dingin.

 

Hari Minggu telah tiba. Marco berjanji akan membawa anak-anak untuk piknik di taman.

Sejak pagi, Mansion besar itu sudah ribut oleh suara Cantika yang riang.

 Cantika berlarian ke sana kemari sambil menyiapkan topi dan bola kesayangan nya, Vano hanya duduk santai sambil membaca buku bahasa Italia yang dibelikan oleh Jerry. Rania tersenyum melihat tingkah keduanya. Ia menyiapkan bekal dibantu Marry dan Vika keranjang piknik itu kini berisi: roti isi, buah potong, dan jus segar yang dimasukkan ke dalam Tumbler.

“Sudah siap semua?” tanya Marco sambil mengenakan jaket tipisnya.

“Sudah!” jawab Cantika dan Vano serempak.

Mereka berjalan kaki menuju taman yang tidak jauh dari rumah. Matahari bersinar hangat, angin pagi terasa sejuk menyentuh wajah. Sesampainya di taman, hamparan rumput hijau menyambut mereka. Beberapa keluarga lain juga tampak menikmati akhir pekan.

Rania membentangkan tikar di bawah pohon rindang. Cantika segera berlari mengejar kupu-kupu dan bermain bola,Vano hanya terus membaca buku. Tawa Cantika terdengar lepas, membuat hati Marco dan Rania terasa penuh.

Setelah lelah bermain, mereka duduk bersama menikmati bekal. Cantika bercerita tentang cita-citanya menjadi Dokter, sementara Vano ingin menjadi seperti Marco yang bisa melindungi orang-orang tersayang nya. Marco mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk bangga.

Tiba-tiba, angin bertiup sedikit lebih kencang dan awan tipis mulai menutupi matahari. Cantika memandang langit dengan cemas.

“Daddy, apakah akan hujan?”

Marco tersenyum. “Kalau hujan pun, kita tetap bisa bersenang-senang. Yang penting kita bersama, Princess"

Tak lama kemudian, rintik-rintik kecil benar-benar turun. Mereka tertawa sambil cepat-cepat merapikan barang dan berteduh di gazebo taman. Hujan tidak berlangsung lama. Setelah reda, pelangi tipis muncul di langit.

“Lihat, Daddy! Pelangi!” seru Cantika kegirangan.

Rania memeluk kedua anaknya, Marco memeluk Rania yang memeluk kedua anak nya. Di tengah hari yang sederhana itu, mereka sadar bahwa kebahagiaan bukan tentang tempat yang mewah atau rencana yang sempurna, melainkan tentang kebersamaan dan janji yang ditepati.

Dan hari Minggu itu pun menjadi kenangan manis yang tak akan mereka lupakan.

1
Hesty
ko ga up😄
Nyai Nung: Lagi proses sayang, malam baru up
total 1 replies
Hesty
ko ga up😄
anggita
like iklan👍☝
anggita
kadang KDRT malah jdi trend😑
Nyai Nung: Gimana maksudnya sayang?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!