Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 sisa sisa keagunan
Asap tebal mengepul dari tungku batu yang retak, memenuhi ruangan dapur Sekte Awan Merah dengan aroma jelaga yang menyesakkan dada. Di tengah kegaduhan denting sudip dan teriakan koki kepala, Han Shuo berdiri membungkuk. Tangannya yang kasar dan penuh luka bakar sedang sibuk mengupas kulit Umbi Tanah yang kotor.
Pemuda itu menyeka keringat di dahinya menggunakan lengan baju yang sudah berubah warna menjadi kelabu. Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Mereka yang mampu menyerap energi Qi dari alam disebut kultivator, mahluk-mahluk agung yang bisa terbang di atas pedang. Sementara itu, Han Shuo hanyalah "sampah" dengan akar spiritual yang tumpul. Nasibnya tertambat di antara tumpukan piring kotor dan sisa makanan.
"Han Shuo! Cepat bersihkan jeroan Babi Hutan Berduri itu!" bentak Koki Liu, pria berbadan tambun dengan kumis yang berminyak. "Para murid inti akan segera menyelesaikan latihan pagi mereka. Jika sup ini terlambat dihidangkan, kepala kita berdua yang akan menjadi santapannya!"
Han Shuo hanya mengangguk pelan tanpa suara. Ia berjalan menuju sudut dapur yang paling gelap, tempat seonggok organ dalam binatang buas tergeletak begitu saja di atas meja kayu yang lembap. Babi Hutan Berduri adalah binatang tingkat rendah, energi di dalam dagingnya sangat liar dan kasar. Para Alkemis sekte biasanya membuang jeroannya karena dianggap mengandung terlalu banyak kotoran yang bisa merusak aliran Qi.
Saat tangannya menyentuh jantung babi yang masih sedikit hangat, sebuah getaran aneh merambat di ujung jarinya. Han Shuo tertegun. Di dalam kepalanya, sebuah gambaran muncul. Ia bisa melihat aliran energi merah redup yang terjebak di antara urat-urat jantung tersebut.
Kenapa aku bisa melihat ini? pikirnya heran.
Sudah satu bulan sejak ia menemukan sebuah gulungan tua yang nyaris hancur di gudang kayu. Gulungan itu tidak mengajarkan cara meditasi atau teknik pedang. Isinya hanya tentang cara memahami "Rasa Dasar" dari segala sesuatu. Han Shuo awalnya menganggap itu hanya buku masak biasa, walau rasa penasaran membuatnya terus mempelajarinya setiap malam di bawah cahaya bulan.
Ia mengambil pisau kecil yang sudah sangat tipis karena sering diasah. Alih-alih memotong sembarangan seperti yang diperintahkan Koki Liu, Han Shuo mulai mengikuti garis energi merah yang ia lihat. Pisau itu bergerak dengan ketelitian yang menakutkan. Ia memisahkan bagian yang beracun, menyisakan bagian paling murni yang hanya seukuran ibu jari.
"Membuang racun bukan berarti menghilangkannya, melainkan mengisolasi intisarinya," gumam Han Shuo lirih, mengulangi kalimat dari gulungan tua itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang angkuh terdengar dari arah pintu masuk dapur. Seorang pemuda berpakaian jubah sutra biru masuk dengan wajah penuh kejijikan. Ia adalah Wang Lin, salah satu murid luar yang terkenal karena sifatnya yang suka menindas.
"Koki Liu, mana sup sumsum untukku?" suara Wang Lin menggelegar, membuat suasana dapur seketika hening.
Koki Liu bergegas menghampiri dengan wajah menjilat. "Ah, Tuan Muda Wang! Sebentar lagi, mohon tunggu sebentar. Kami sedang menyiapkan yang terbaik."
Wang Lin berjalan mendekati meja kerja Han Shuo. Ia melihat tumpukan sisa jeroan yang sedang dikerjakan Han Shuo, lalu meludah ke lantai. "Sampah mengerjakan sampah. Benar-benar pemandangan yang memuakkan. Hei, pelayan rendah, apa kau sudah mencuci tanganmu? Aku tidak ingin supku terasa seperti bau badanmu yang busuk itu."
Han Shuo tetap menunduk, menggenggam pisaunya sedikit lebih erat. "Sudah, Tuan Muda."
"Jawab dengan benar saat aku bicara padamu!" Wang Lin menendang meja kayu di depan Han Shuo, membuat jantung babi yang baru saja dibersihkan itu jatuh ke lantai yang kotor.
Mata Han Shuo menyipit. Baginya, makanan adalah hal suci, satu-satunya cara bagi orang kecil seperti dirinya untuk bertahan hidup. Melihat kerja kerasnya diinjak-injak membuat sesuatu di dalam dadanya terasa panas. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah kedinginan yang tajam.
"Tolong ambilkan itu, Tuan Muda. Itu adalah bagian terbaik dari bahan ini," kata Han Shuo dengan nada datar, tanpa ada ketakutan dalam suaranya.
Koki Liu pucat pasi mendengarnya. "Han Shuo! Tutup mulutmu! Apa kau sudah gila?"
Wang Lin tertawa mengejek, suaranya melengking tinggi. "Kau menyuruhku mengambilkan sampah dari lantai untukmu? Kau benar-benar ingin mati!"
Wang Lin mengangkat tangannya, energi Qi biru tipis menyelimuti telapak tangannya. Ini adalah serangan Telapak Angin, sebuah teknik dasar yang cukup untuk mematahkan tulang manusia biasa. Serangan itu meluncur cepat menuju bahu Han Shuo.
Namun, di mata Han Shuo, gerakan Wang Lin terlihat sangat tidak teratur. Aliran energi di tangan Wang Lin tampak memiliki celah di bagian pergelangan tangan—seperti serat daging yang keras yang harus dipotong agar menjadi empuk.
Tanpa sadar, Han Shuo menggerakkan tangan yang memegang pisau kecilnya. Ia tidak menusuk, ia hanya menggeser pisau itu sedikit, memotong jalur udara di depan serangan Wang Lin.
Sret!
Wang Lin terhuyung. Serangannya meleset jauh, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang membelokkan arah pukulannya. Ia hampir terjatuh jika tidak segera berpegangan pada pilar kayu.
"Apa yang baru saja terjadi?" Wang Lin tertegun, menatap tangannya sendiri yang sedikit bergetar.
Han Shuo sendiri juga terkejut. Ia merasa baru saja memperlakukan serangan Wang Lin seperti memotong serat sayuran. Ia tidak menggunakan kekuatan fisik, melainkan pengetahuan tentang titik lemah suatu benda.
"Lancang! Kau menggunakan trik kotor apa?" Wang Lin yang merasa malu melepaskan aura yang lebih kuat.
"Cukup!"
Sebuah suara berat terdengar dari pintu. Seorang pria tua dengan jenggot putih panjang masuk. Ia adalah Penatua Sun, pengawas logistik sekte. Kehadirannya seketika menekan aura Wang Lin hingga padam.
"Dapur adalah tempat untuk bekerja, bukan untuk bertarung. Wang Lin, kembali ke asramamu. Han Shuo, selesaikan tugasmu atau kau tidak akan diberi jatah makan malam ini," ucap Penatua Sun dengan nada yang tak bisa dibantah.
Wang Lin mendengus, menatap tajam ke arah Han Shuo. "Urusan kita belum selesai, budak." Ia kemudian pergi dengan langkah lebar.
Penatua Sun melirik ke arah Han Shuo, matanya tertuju pada pisau kecil di tangan pemuda itu, lalu ke arah jantung babi di lantai. Ada kilatan ketertarikan di mata sang penatua, namun ia tidak mengatakan apa-apa dan segera pergi.
Setelah suasana kembali normal, Han Shuo memungut jantung babi yang kotor itu. Ia tidak membuangnya. Ia membawanya ke panci air mendidih pribadinya di pojok ruangan. Ia tahu, meskipun permukaannya kotor, intisari di dalamnya tetap murni.
Malam itu, saat semua orang sudah tidur, Han Shuo duduk sendirian di dapur yang sunyi. Ia memasak potongan kecil jantung babi itu dengan teknik yang diajarkan dalam gulungan—mengatur suhu api agar tidak merusak energi di dalamnya.
Saat ia memakan potongan kecil itu, sebuah ledakan rasa hangat menjalar dari lidahnya menuju ke seluruh pembuluh darahnya. Itu bukan hanya rasa lezat, itu adalah energi murni yang mulai memperbaiki akar spiritualnya yang rusak, selangkah demi selangkah.
Han Shuo memejamkan mata, merasakan setiap getaran energi itu. Ia sadar, jalannya menuju puncak tidak akan melalui meditasi membosankan di atas gunung, melainkan melalui setiap suapan masakan yang ia ciptakan. Dunia mungkin menganggapnya pelayan, tapi suatu hari nanti, dunia akan memohon untuk mencicipi masakannya.