di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Emas Darah dan Beruang Besi
Tiga hari perjalanan dari Desa Batu Kapur.
Hutan yang semula rimbun dengan pepohonan hijau kini berubah wajah. Pohon-pohon di sini menjulang setinggi menara, dengan batang hitam yang dipenuhi lumut beracun dan akar-akar raksasa yang mencuat keluar dari tanah seperti ular naga yang membatu. Udara terasa lembap, berat, dan berbau amis.
Ini adalah perbatasan Pegunungan Binatang Buas. Wilayah tanpa hukum di mana manusia bukanlah pemangsa puncak, melainkan camilan.
Di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tirai tanaman merambat berduri, Ye Yuan duduk bersila.
Napasnya teratur, panjang dan dalam. Setiap kali dia menarik napas, udara di sekitar gua bergetar, tersedot masuk ke dalam hidungnya seperti dua ekor naga kecil berwarna putih.
Di hadapannya, tergeletak tumpukan barang yang dia rampas dari mayat Si Jagal Besi.
"Orang ini benar-benar perampok kaya," gumam Ye Yuan, membuka mata. Kilatan ungu di pupilnya perlahan meredup, digantikan warna hitam pekat yang tenang.
Di atas batu datar di depannya, terdapat tumpukan Batu Roh yang berkilauan.
"Dua ratus lima puluh Batu Roh Tingkat Rendah," hitung Ye Yuan. Matanya berbinar.
Bagi murid luar, mendapatkan satu batu saja butuh kerja keras sebulan. Dua ratus lima puluh batu? Itu setara dengan kekayaan sepuluh tahun seorang murid biasa! Dengan sumber daya sebanyak ini, Ye Yuan tidak perlu khawatir tentang energi kultivasi untuk waktu yang lama.
Selain Batu Roh, ada juga beberapa botol pil.
3 Botol Pil Pengumpul Qi: Standar, tapi berguna.
1 Botol Pil Penyembuh Darah: Sangat penting di alam liar.
1 Gulungan Peta Kulit Binatang: Peta kasar wilayah Pegunungan Binatang Buas bagian luar.
Dan yang paling menarik perhatian Ye Yuan adalah sepotong logam aneh seukuran kepalan tangan. Logam itu berwarna biru tua, dingin saat disentuh, dan sangat berat.
"Bijih Besi Bintang Dingin," Ye Yuan mengenali material itu. "Ini bahan dasar sekop raksasa milik Jagal Besi. Pantas saja senjatanya keras sekali."
Saat Ye Yuan memegang bijih itu, pedang patah di punggungnya bergetar pelan. Zing...
"Kau mau ini?" tanya Ye Yuan.
Pedang itu berdengung lebih keras, seperti anak anjing yang melihat daging.
Ye Yuan tersenyum tipis. Dia menempelkan bilah pedang patahnya ke bijih Besi Bintang Dingin itu.
"Makanlah."
Ye Yuan mengaktifkan Sutra Hati Pedang Asura. Aura merah menyelimuti kedua benda itu.
Perlahan tapi pasti, bijih biru yang keras itu mulai meleleh, bukan karena panas, tapi karena esensinya diserap. Cahaya biru dari bijih itu mengalir masuk ke dalam retakan-retakan di pedang patah Ye Yuan.
Prosesnya memakan waktu satu jam.
Ketika selesai, bijih itu berubah menjadi debu abu-abu yang tidak berguna. Sementara pedang Ye Yuan...
Ye Yuan mengangkatnya. Beratnya bertambah lagi, kini mungkin mendekati seratus lima puluh kilogram. Warna hitamnya semakin pekat, dan di bagian bilah yang tadinya berkarat parah, kini muncul sedikit kilau biru metalik yang tajam.
Retakan-retakan kecil di badan pedang itu memang belum hilang sepenuhnya, tapi Ye Yuan bisa merasakan "struktur" pedang itu menjadi jauh lebih padat.
"Bagus. Kau semakin kuat, aku pun harus begitu," kata Ye Yuan.
Dia menyimpan kembali semua barang rampasan ke dalam Kantong Penyimpanan (Storage Bag) milik Jagal Besi—yang ruang penyimpanannya jauh lebih besar daripada miliknya yang lama.
Ye Yuan berdiri dan berjalan keluar gua.
Dia sekarang berada di Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Sembilan.
Kenaikan tingkat yang terlalu cepat akibat menyerap energi darah Jagal Besi membuat fondasinya sedikit tidak stabil. Qi di dalam tubuhnya masih liar dan buas. Dia butuh pertarungan nyata—bukan pembantaian satu sisi, tapi pertarungan melawan makhluk buas murni—untuk memadatkan energinya.
"Menurut peta, lima kilometer ke timur adalah wilayah Beruang Punggung Besi," gumam Ye Yuan. "Binatang Buas Tingkat Satu Puncak. Setara dengan kultivator Tingkat Sembilan yang memiliki kulit baja."
Target yang sempurna untuk karung tinju latihan.
Ye Yuan melesat menembus hutan. Kali ini dia tidak menggunakan kecepatan penuh Langkah Hantu Asura, melainkan berlari dengan beban pedang di punggung untuk melatih daya tahan otot kakinya.
Lembah Berkabut, Wilayah Timur.
Suara raungan keras mengguncang pepohonan. Burung-burung beterbangan panik.
Di tengah sebuah lembah sungai kering yang dipenuhi bebatuan besar, seekor beruang raksasa setinggi tiga meter sedang mengamuk.
Bulu beruang itu bukan bulu biasa, melainkan duri-duri keras berwarna abu-abu metalik. Punggungnya dilapisi lempengan tulang alami yang berkilau seperti baju zirah besi. Ini adalah Beruang Punggung Besi.
Di depan beruang itu, berdiri seorang pemuda kecil dengan pedang hitam besar.
"ROAAAARR!"
Beruang itu marah karena wilayahnya diganggu. Dia berdiri dengan dua kaki belakang, lalu menghempaskan kedua cakar depannya ke tanah.
BOOM!
Gelombang kejut tanah melesat ke arah Ye Yuan.
Ye Yuan tidak menghindar. Dia justru memasang kuda-kuda rendah.
"Datang!"
Dia menyalurkan Qi ke lengannya. Bukan Qi pedang yang tajam, tapi Qi murni untuk memperkuat otot. Dia ingin menguji batas fisik tubuhnya setelah mencapai Tingkat Sembilan.
Ye Yuan menonjok udara kosong di depannya.
DUAGH!
Tinju angin yang dia lepaskan bertabrakan dengan gelombang tanah beruang itu, meledak di tengah jalan.
Beruang itu terkejut. Manusia kecil ini tidak lari?
Merasa ditantang, Beruang Punggung Besi itu berlari menyeruduk. Kecepatannya mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu, seperti sebuah tank lapis baja yang melaju tanpa rem.
Jarak lima puluh meter dipangkas dalam sekejap.
Ye Yuan mencabut pedangnya. "Berat lawan berat. Mari kita lihat siapa yang lebih keras!"
Ye Yuan melompat tinggi, melewati kepala beruang itu, lalu memutar tubuhnya di udara. Dia menggunakan gaya gravitasi untuk menambah daya hancur serangannya.
[Tebasan Pembelah Gunung!]
Pedang hitam itu menghantam tepat di punggung beruang yang dilapisi tulang besi.
TRAAAAANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema di lembah.
Ye Yuan merasakan getaran hebat menjalar dari tangan hingga ke bahunya. Tulang punggung beruang itu... sangat keras! Pedangnya tidak langsung membelah, melainkan tertahan.
"ROAAAAR!"
Beruang itu menjerit kesakitan, tapi tidak mati. Lempengan tulang di punggungnya retak parah, tapi lemak tebal dan ototnya menahan pedang Ye Yuan agar tidak memotong tulang belakang.
Beruang itu mengibaskan tubuhnya dengan liar, melempar Ye Yuan ke udara.
Ye Yuan melakukan salto di udara dan mendarat di atas batu besar.
"Kulitnya benar-benar tebal," Ye Yuan menyeringai, menjilat bibirnya yang kering. "Akhirnya, lawan yang tidak langsung mati dalam satu pukulan."
Darah Ye Yuan mendidih. Rasa sakit di tangannya justru membuatnya semakin bersemangat. Sutra Asura menuntut pertarungan.
"Lagi!"
Ye Yuan melesat maju. Kali ini dia tidak melompat. Dia meluncur di bawah perut beruang itu menggunakan Langkah Hantu.
Beruang itu mencoba mencakar, tapi Ye Yuan terlalu cepat.
Sreeet!
Ye Yuan menebas kaki belakang beruang itu. Darah muncrat. Urat kakinya putus.
Beruang itu meraung, kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut dengan satu kaki.
"Sekarang!"
Ye Yuan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melompat ke punggung beruang itu, mencengkeram bulu kasarnya dengan tangan kiri, dan mengangkat pedang dengan tangan kanan.
Dia mengalirkan Qi hitam ke dalam pedangnya. Berat pedang itu seolah bertambah sepuluh kali lipat.
"Tidur selamanya, kawan besar."
JLEB!
Ye Yuan menusukkan pedangnya ke celah retakan tulang punggung yang dia buat tadi. Kali ini, dengan dorongan Qi penuh, pedang itu menembus tulang, daging, dan langsung menusuk jantung.
Beruang raksasa itu mengejang hebat sekali, lalu ambruk tak bernyawa.
Ye Yuan tetap berdiri di atas mayat beruang itu, memejamkan mata. Dia merasakan aliran energi hangat dari darah binatang buas yang diserap pedangnya.
Kali ini, dia tidak membiarkan pedangnya menyerap semuanya. Dia mengendalikan aliran itu, mengarahkannya untuk memadatkan Qi di Dantian-nya yang masih bergejolak.
Satu menit kemudian, Ye Yuan membuka mata. Napasnya jauh lebih ringan. Rasa sesak di dadanya hilang. Fondasi Tingkat Sembilan-nya kini stabil sekeras batu karang.
"Sempurna," kata Ye Yuan.
Dia turun dari bangkai beruang itu. Dia mengeluarkan pisau kecil dari kantong penyimpanan dan mulai membedah beruang itu dengan terampil.
Empedu beruang, cakar, dan kulitnya adalah bahan berharga yang bisa dijual atau dijadikan obat. Dagingnya bisa jadi bekal makanan selama seminggu.
Setelah selesai membereskan bangkai itu, Ye Yuan berniat mencari tempat istirahat untuk membakar daging.
Namun, baru saja dia melangkah, pedang di punggungnya bergetar lagi.
Kali ini getarannya bukan karena lapar. Getarannya berirama, Dug... Dug... Dug..., seolah menunjuk ke suatu arah.
Bukan ke timur, tapi ke arah celah sempit di antara dua tebing curam di ujung lembah sungai kering itu.
Ye Yuan menyipitkan mata. Celah itu tertutup kabut tebal yang aneh. Peta milik Jagal Besi tidak menunjukkan jalan ke sana; area itu ditandai dengan tengkorak merah bertuliskan: "Zona Terlarang: Lembah Gema Hantu".
"Zona terlarang?" Ye Yuan mengerutkan kening.
Biasanya, zona terlarang berarti ada binatang buas tingkat tinggi atau racun mematikan. Tapi pedang di punggungnya menariknya ke sana dengan sangat kuat, seolah ada magnet raksasa yang memanggil.
"Ada sesuatu di sana yang berhubungan dengan pedang ini," simpul Ye Yuan.
Ye Yuan ragu sejenak. Masuk ke zona terlarang dengan kekuatan Tingkat Sembilan adalah tindakan bunuh diri. Tapi, rasa ingin tahunya—dan kepercayaan anehnya pada pedang ini—lebih besar.
"Baiklah. Kalau berbahaya, aku akan lari."
Ye Yuan merapikan barang bawaannya, mengecek persediaan obat, dan melangkah hati-hati menuju kabut tebal itu.
Begitu dia menembus kabut, suhu udara turun drastis. Suara angin di sini terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang menangis.
Dan di tanah... Ye Yuan melihat sesuatu yang membuatnya berhenti napas.
Bukan mayat manusia, melainkan pedang.
Ratusan pedang kuno tertancap di tanah di sepanjang jalan setapak, mirip seperti di Lembah Kuburan Senjata di sekte. Tapi bedanya, pedang-pedang ini tidak patah. Mereka utuh, namun berkarat total seolah sudah ada di sini selama ribuan tahun.
Dan di ujung jalan setapak itu, terdapat sebuah pintu gerbang batu raksasa yang tertutup rapat. Di pintu itu, terukir tulisan kuno yang memancarkan aura agung namun mengerikan:
[Makam Raja Pedang Langit]
Mata Ye Yuan membelalak. Makam Raja Pedang? Raja Pedang adalah sebutan untuk kultivator tingkat tinggi yang telah mencapai pemahaman Tao Pedang yang sempurna!
Kenapa makam sekuat ini ada di pinggiran Pegunungan Binatang Buas?
Tiba-tiba, pedang patah di punggung Ye Yuan terbang keluar dari sarungnya dengan sendirinya!
Pedang itu melayang di udara, ujungnya mengarah ke pintu gerbang batu itu, dan memancarkan cahaya hitam yang menyilaukan.
KRAK... BOOM!
Pintu gerbang batu raksasa yang mungkin belum pernah dibuka selama ribuan tahun itu... perlahan mulai terbuka, merespons kehadiran pedang Ye Yuan.
"Kunci..." Ye Yuan menatap pedang patahnya dengan takjub. "Pedang ini adalah kuncinya?"
Dari celah pintu yang terbuka, hembusan angin purba bertiup keluar, membawa aroma dupa dan darah kering.
Ye Yuan menelan ludah. Dia tahu, langkah selanjutnya akan mengubah hidupnya selamanya. Ini bukan sekadar petualangan mencari harta karun. Ini adalah warisan.
Dia melangkah maju, masuk ke dalam kegelapan makam kuno itu.
[Bersambung ke Bab 13]