Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR MELUPAKAN GLOCK
10:00 AM. Alun Alun Desa, Pesisir Selatan Yunani.
Matahari musim gugur yang pucat menggantung di atas langit desa, menyinari pasar mingguan yang riuh. Bau ikan segar, oregano, dan kulit jeruk memenuhi udara. Raka berjalan di samping Liana, membawa dua kantong belanjaan anyaman yang penuh dengan sayuran dan roti gandum.
Bagi orang awam, Raka terlihat seperti suami yang sempurna tenang, protektif, dan kuat. Namun, jauh di dalam kepalanya, sistem operasinya masih berjalan dalam mode Tactical Overlay.
Matanya secara refleks memetakan rute pelarian dari alun-alun. Ia mencatat bahwa atap gereja tua di sebelah kiri adalah titik pantau ideal bagi penembak jitu. Ia menghitung bahwa ada tiga pria berjaket gelap di sudut kedai yang tangannya tetap berada di saku posisi siap senjata. Dan setiap kali ada knalpot motor yang meledak di kejauhan, otot bisepnya menegang, tangannya meraba pinggang belakang secara otomatis.
Kosong. Tidak ada Glock 17 di sana. Hanya ada kain kemeja linen yang lembut.
"Raka, kau melakukannya lagi," bisik Liana pelan. Ia menyisipkan tangannya ke celah lengan Raka, meremas bisepnya yang keras seperti baja.
Raka tersentak kecil, lalu mengembuskan napas panjang. "Melakukan apa?"
"Kau sedang menghitung lubang keluar, bukan?" Liana menatapnya dengan tatapan prihatin yang dicampur sedikit godaan. "Aku bisa melihat rahangmu mengeras. Raka, kita sedang membeli tomat, bukan sedang menginfiltrasi markas kartel."
Raka menunduk, menatap mata hijau istrinya. "Insting ini... mereka tidak mau pergi, Li. Mereka seperti hantu yang tidak tahu kalau perang sudah selesai."
"Maka ajari mereka," sahut Liana lembut. "Satu langkah pada satu waktu."
Tiba tiba, suasana pasar yang damai pecah. Sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah gang sempit di dekat bank desa.
BOOM!
Dalam kurang dari setengah detik, Raka sudah bergerak. Ia tidak berpikir. Ia menjatuhkan tas belanjaannya tomat tomat merah menggelinding di atas aspal dan menarik Liana ke belakang sebuah tiang beton besar. Ia memposisikan tubuhnya sebagai tameng, matanya menyapu area dengan intensitas yang mematikan. Tangan kanannya mencengkeram erat sesuatu yang tidak ada di pinggangnya, sementara tangan kirinya sudah mengepal siap menghancurkan jakun siapa pun yang mendekat.
"Tiarap, Liana! Tetap di bawah!" perintah Raka dengan suara bariton yang dingin dan penuh otoritas militer.
Orang orang di pasar berteriak kaget. Namun, teriakan itu bukan karena serangan teroris. Mereka berteriak karena terkejut melihat Raka yang tiba tiba berubah menjadi mesin tempur di tengah jalan.
Di ujung gang, kepulan asap putih muncul. Bukan dari granat, melainkan dari ban truk tua milik Pak Kostas yang meledak karena kelebihan muatan. Pak Kostas keluar dari kabinnya sambil menggerutu dan memukul stir truknya.
Suasana kembali normal. Orang orang mulai tertawa kecil, kembali ke aktivitas mereka. Namun Raka masih berdiri di sana, napasnya memburu, matanya masih liar mencari ancaman yang tidak nyata.
Liana berdiri perlahan, ia meletakkan tangannya di dada Raka yang naik turun dengan cepat. "Raka... lihat aku. Lihat mataku."
Raka menatap Liana. Pupil matanya yang melebar perlahan mulai mengecil.
"Itu hanya ban truk, Sayang," bisik Liana emosional. "Hanya ban truk Pak Kostas."
Raka melihat ke sekeliling. Ia melihat tomat-tomatnya yang hancur terinjak, ia melihat tatapan bingung para tetangga, dan ia melihat tangannya sendiri yang gemetar karena adrenalin yang tidak tersalurkan. Ia merasa bodoh. Ia merasa rusak.
Mereka kembali ke rumah dalam keheningan yang menyesakkan. Raka langsung menuju teras belakang, duduk di kursi kayu sambil menatap tangannya. Liana datang membawa segelas air dingin dan duduk di lantai di depan kursi Raka, di antara kedua kakinya.
"Aku hampir mematahkan leher seseorang tadi, Li," kata Raka, suaranya parau oleh rasa malu. "Hanya karena suara ban pecah."
"Itu refleks yang menyelamatkan kita selama sepuluh tahun, Raka. Kau tidak bisa menghapusnya dalam semalam," Liana menggenggam tangan Raka, menciumi punggung tangannya yang kasar.
"Tapi aku ingin melupakannya!" Raka berdiri dengan tiba tiba, berjalan mondar mandir di teras. "Aku ingin bisa mendengar suara keras tanpa ingin membunuh. Aku ingin bisa berjalan di pasar tanpa merasa seperti target. Aku ingin... aku ingin menjadi pria yang pantas untukmu di dunia yang normal ini."
Liana berdiri dan menghadang langkah Raka. Ia memeluk pinggang pria itu erat, menyandarkan wajahnya di dada Raka yang masih bergemuruh. "Kau sudah pantas, Raka. Kau pikir aku mencintaimu karena kau jago menembak? Aku mencintaimu karena meskipun kau dibentuk untuk menjadi mesin, kau tetap memilih untuk memiliki hati. Trauma itu... itu hanya luka fisik di jiwamu. Sama seperti bekas luka di bahumu."
Raka membalas pelukan Liana, membenamkan wajahnya di leher wanita itu. "Bagaimana jika aku tidak pernah bisa benar benar pulang, Li? Bagaimana jika sebagian dariku masih tertinggal di pangkalan Unit 09 selamanya?"
Liana melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Raka dengan kedua tangannya. Matanya berkaca kaca, namun ada kekuatan yang tak tergoyahkan di sana. "Maka aku akan pergi ke sana dan menjemputmu. Setiap hari. Sampai kau benar benar di sini."
Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit langit, sementara Liana tidur di pelukannya. Namun, ia tahu Liana hanya pura pura tidur untuk menjaganya.
"Raka," panggil Liana pelan dalam kegelapan.
"Ya?"
Liana bangkit, duduk di atas perut Raka, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah mereka berdua. Ia mulai melepaskan kancing piyama Raka satu per satu, sangat lambat.
"Jangan gunakan kepalamu malam ini," bisik Liana, suaranya serak dan intim. "Gunakan kulitmu. Rasakan tanganku. Rasakan napasku. Biarkan tubuhmu tahu bahwa satu satunya pertempuran yang kau miliki malam ini adalah denganku."
Liana membimbing tangan Raka untuk menyentuh lekuk tubuhnya, memaksa saraf saraf Raka untuk fokus pada kelembutan sutra dan panasnya kulit manusia, bukan pada dinginnya baja senjata.
Gairah yang muncul malam ini terasa berbeda lebih mendesak, lebih emosional. Raka mencium Liana dengan semacam keputusasaan, seolah olah melalui penyatuan fisik ini ia bisa mengusir hantu hantu militer dari kepalanya. Liana merespons dengan memberikan segalanya setiap desahannya adalah jangkar yang menarik Raka kembali dari memori perang menuju realitas cinta.
Dalam kegelapan kamar mereka, sentuhan fisik menjadi terapi. Raka merasakan otot ototnya yang selalu siaga perlahan lahan menyerah. Di bawah bimbingan Liana, ia belajar bahwa tangannya yang besar dan kuat tidak hanya diciptakan untuk menghancurkan, tapi juga untuk mendekap dengan kehalusan yang luar biasa.
"Aku di sini, Raka..." desah Liana saat mereka menyatu dalam ritme yang intens namun manis. "Kau aman. Kita aman."
Saat fajar mulai menyelinap di sela jendela, Raka akhirnya tertidur dengan tenang. Tangannya tidak lagi meraba pinggang mencari Glock yang hilang. Tangannya melingkar erat di pinggang Liana, memeluk satu satunya alasan mengapa ia terus berjuang untuk tetap menjadi manusia.
Keesokan paginya, Raka turun ke toko buku. Ia melihat sebuah kotak kecil di atas meja kasir. Di dalamnya ada sebuah jam beker tua yang berdetak nyaring. Liana menaruhnya di sana.
"Latihan pertama," kata Liana sambil tersenyum dari balik rak. "Setiap kali jam ini berbunyi keras untuk alarm, kau tidak boleh melompat ke posisi tempur. Kau harus menciumku. Setuju?"
Raka menatap jam itu, lalu menatap istrinya. Ia tersenyum senyum yang mencapai matanya. "Itu adalah aturan keterlibatan (rules of engagement) terbaik yang pernah kudengar."
Raka melangkah mendekat, menarik Liana ke dalam pelukannya di depan jendela toko yang terbuka luas. Di jalanan desa, Pak Kostas lewat dengan truknya yang sudah diperbaiki, membunyikan klakson dengan nyaring.
Raka tersentak kecil, namun ia tidak melepaskan Liana. Ia hanya menarik napas, mencium aroma vanila di rambut Liana, dan tetap berdiri di sana. Ia belum melupakan Glock nya sepenuhnya, tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak lagi membutuhkannya.