Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Berbeda dengan dugaan banyak orang, Arga tidak membiarkan dirinya hancur berkeping-keping. Lima tahun berlalu, dan pria itu justru tampil lebih matang, lebih tangguh, dan jauh lebih ambisius. Tidak ada raut terpuruk yang ia perlihatkan di depan publik seperti sebelumnya.Sebaliknya, Arga menjelma menjadi titan di dunia konstruksi.
Namanya kian harum sebagai CEO yang bertangan dingin. Proyek-proyek raksasanya tersebar di seluruh penjuru negeri, termasuk kesuksesannya yang baru saja rampung membangun jaringan underpass megah di Kalimantan. Bagi Arga, pekerjaan adalah pelarian sekaligus medan perang di mana ia harus selalu menang.
Malam ini, suasana kamarnya di Jakarta tampak tenang namun efisien. Arga sedang menata pakaian ke dalam koper premiumnya. Setiap kemeja dilipat dengan presisi, setiap jas diletakkan dengan sangat rapi,sikap perfeksionisnya tidak pernah berubah, justru semakin tajam.
Ia sedang bersiap untuk perjalanan dinas penting ke luar negeri guna memenuhi undangan simposium arsitektur internasional sekaligus menjajaki ekspansi bisnis di benua biru.
"Tuan, semua dokumen keberangkatan sudah siap," lapor Damar,asisten pribadinya melalui sambungan telepon nirkabel.
"Jadwalkan pertemuan dengan dewan direksi di sana segera setelah aku mendarat," jawab Arga singkat tanpa menghentikan gerakannya.
Sambil menutup koper, mata Arga tak sengaja melirik ke arah sebuah laci kecil di meja samping tempat tidurnya yang selalu terkunci rapat. Selama lima tahun ini, ia tidak pernah mencari Ayu dengan cara yang mengemis. Ia tidak membuat drama pencarian yang mengharu biru. Namun, bukan berarti ia melupakan.Ia tetap mencari.
*
Arga berdiri tegak di balik dinding kaca gedung pencakar langit,menatap hamparan kota Amsterdam yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Konsentrasinya yang semula terarah pada urusan bisnis langsung buyar manakala telepon di saku jasnya bergetar.
Melihat nama Andrea muncul di layar, senyumnya mengembang lebar. Tanpa menunda, ia langsung mengangkatnya.
"Iya, Mah," sapa Arga dengan nada suara yang terdengar jauh lebih ceria dari biasanya.
"Arga, jangan lupa mampir ke rumah Om Antony ya. Semalam Mama sudah bilang kalau kamu lagi di sana," ucap sang mama dari seberang sana.
"Iya, Mah. Nanti Arga usahakan buat mampir," jawab Arga patuh.
"Baiklah, Mama senang dengarnya. Oh ya, sesuai permintaanmu, dia sudah Mama kirimi bunga pagi ini," lanjut Andrea.
Mendengar kabar itu, raut wajah Arga seketika berubah cerah. Kegembiraan terpancar jelas dari binar matanya, seolah beban berat yang selama ini ia pikul baru saja terangkat. Tidak ada lagi gurat luka atau kesedihan di sana; yang ada hanyalah perasaan puas dan lega yang amat sangat.
"Terima kasih, Mah. Maaf merepotkan. Ya sudah, Arga tutup ya," ucap Arga dengan nada yang masih penuh semangat.
"Baiklah sayang, hati-hati ya."
Telepon dimatikan. Arga kembali menghela napas, namun kali ini napasnya terasa ringan. Ia kembali menatap gedung-gedung pencakar langit di kota itu dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Semuanya terasa berjalan sesuai rencana, dan bunga itu adalah simbol dari sebuah langkah besar yang sedang ia ambil.
Arga segera meraih jasnya yang tersampir di kursi, melangkah keluar ruangan dengan aura yang sangat positif. Ia memutuskan untuk tidak langsung menuju rumah Om Antony, melainkan memilih untuk menikmati suasana kota sejenak dengan berjalan kaki.
Namun, tepat saat ia berdiri di pinggir trotoar yang ramai, sebuah bus kota berhenti tepat di hadapannya. Pintu bus terbuka, dan di antara kerumunan penumpang yang naik, Arga menangkap sosok yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Seorang wanita dengan dress anggun dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya.
"Ayu?" bisiknya tak percaya.
Wanita itu sudah berada di dalam bus, dan kendaraan besar itu mulai bergerak menjauh. Arga yang semula merasa tenang, seketika berubah panik. Ia mengabaikan semua martabatnya sebagai CEO, ia berbalik dan mulai berlari mengejar bus tersebut sekuat tenaga di tengah padatnya trotoar Amsterdam.
"Ayu! Berhenti!" teriaknya sambil terus mengejar, namun nihil.
Secercah harapan muncul saat bus itu melambat, lalu berhenti sempurna di sebuah halte. Arga memacu langkahnya, mengabaikan paru-parunya yang mulai terasa terbakar. Beruntung, ia berhasil melompat naik tepat sebelum pintu tertutup.
Di sudut remang bus, Arga menarik kerah mantelnya lebih tinggi,bersembunyi di balik bayang-bayang. Matanya terkunci pada satu sosok. Wanita itu. Sosok yang selama lima tahun ini menjadi hantu di kepalanya, menghantui setiap mimpi dan sela-sela pikirannya. Ia memindai wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan lapar sekaligus tajam.
"Jadi, di sini kau bersembunyi, Rubah Kecilku," desisnya dalam hati. Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging. "Akan kupastikan kali ini kau tidak punya celah sedikit pun untuk lari."
Arga memilih tetap di posisinya, menjaga jarak aman agar kehadirannya tak terendus. Ia membiarkan wanita itu turun lebih dulu, lalu mengikutinya dari kejauhan seperti bayangan yang tak kasatmata. Ia berjalan di sisi seberang jalan, mengatur tempo langkahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Dada Arga mendadak bergemuruh panas saat melihat wanita itu mampir ke sebuah toko bunga. Ia melihat wanita itu melemparkan senyum ramah,senyum yang dulu hanya dirinya yang menikmati.Arga mengepalkan tinju di balik saku mantel. Tahan. Jangan sekarang. Ia harus bersabar jika ingin menangkap sang rubah liar ini dengan sempurna.
Langkah Arga mendadak terkunci. Di depannya, wanita itu membuka pintu pagar sebuah rumah megah dan melangkah masuk dengan santai. Matanya menyipit, ada rasa tidak suka yang merayap di dadanya melihat pemandangan itu.
Cepat-cepat, ia memotret fasad rumah tersebut dan mengirimkannya kepada asisten pribadinya. "Selidiki siapa pemilik rumah ini. Sekarang!" perintahnya melalui sambungan telepon, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Arga tetap terpaku di sana, menunggu tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Namun, rumah itu tetap sunyi. Hingga akhirnya, sebuah pesan masuk dari anak buahnya memberitahukan status rumah tersebut.
Arga menatap layar ponselnya, lalu kembali menatap rumah megah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baiklah, Nyonya Jansen..." Arga menggumam pelan. Sebuah senyum smirk menghiasi wajahnya, penuh dengan intrik yang mematikan. "Tunggu aku."
Bersambung...
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it