NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gesekan di Aspal Panas

Michael akhirnya tertidur pulas di kamar pribadinya setelah memastikan Rans menjaga seluruh akses keluar-masuk. Energi pria itu terkuras habis. Bayangan mata predator di balik topeng dan rengekan manja Shaneen terus berputar di mimpinya seperti kaset rusak.

Sementara itu, di Pusat Bisnis SM Corporation, Clara melangkah dengan angkuh masuk ke lobi. Ia mengenakan blazer ketat dan kacamata hitam, merasa dirinya adalah ratu di sana.

"Michael ada?" tanya Clara pada resepsionis di meja depan.

"Maaf, Nona. Apakah anda sudah ada janji sebelumnya dengan tuan Michael? Karena saat ini Tuan Michael sedang tidak di kantor hari ini. Beliau ada urusan mendesak," jawab sang resepsionis sopan.

Clara mendengus kesal. "Urusan mendesak? Pasti mengurusi si manja Shaneen itu lagi. Beritahu Michael, aku datang untuk membahas kerja sama baru antara keluarga kami, ya sudah."

Tanpa menunggu balasan, Clara berbalik pergi dengan emosi yang meluap. Ia merasa diabaikan, dan ia tahu siapa penyebabnya.

Tiga puluh menit kemudian...

Clara sedang mengendarai mobil convertible merahnya di jalanan The Golden Coast yang tidak terlalu padat. Namun, langkahnya terhenti di sebuah lampu merah tepat di samping sebuah butik bunga kelas atas. Di sana, ia melihat pemandangan yang memancing amarahnya. Shaneen sedang keluar dari butik, membawa satu buket besar mawar putih, tampak sangat santai dan manis dengan topi lebarnya.

Clara langsung menepikan mobilnya secara kasar, memotong jalan di depan mobil Shaneen yang sedang dikemudikan oleh Damian.

Cittt!

Shaneen terkejut, namun matanya yang tertutup kacamata hitam berkilat dingin. "Damian, tetap di dalam. Si ular sedang ingin menyapa."

Shaneen keluar dari mobil dengan langkah pelan, wajahnya langsung berubah menjadi mode "gadis lugu" yang terganggu.

"Aduh, Clara! Kamu hampir saja membuat mobilku lecet tahu! Kalau aku jatuh tadi bagaimana?" Rengek Shaneen sambil memeluk buket bunganya.

Clara keluar dari mobil, melipat tangan di dada dan menatap Shaneen dengan tatapan menghina. "Lecet? Seharusnya wajahmu yang lecet, Shaneen. Sampai kapan kau mau berakting seperti bayi di depan Michael? Dia itu butuh wanita yang bisa mendukung bisnisnya, bukan beban yang pingsan hanya karena mendengar suara petasan!"

Shaneen mengerjapkan matanya, tampak ingin menangis. "Tapi Michael nggak bilang aku beban. Dia malah bilang aku cantik pagi ini."

"Cantik tidak akan bisa menyelamatkan Michael dari siapa pun itu musuhnya!" Bentak Clara, wajahnya memerah. "Dengarkan aku, Shaneen. Sepertinya Michael sedang bahaya semalam. Dan orang sepertimu hanya akan menjadi titik lemah baginya. Mundurlah sebelum kau benar-benar hancur."

Shaneen terdiam sejenak. Darimana Clara tau jika Michael sedang dalam bahaya? Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Clara. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Suara Shaneen tiba-tiba berubah, volumenya sangat kecil hingga hanya Clara yang bisa mendengarnya.

"Clara..." bisik Shaneen. Tidak ada lagi nada manja. Suaranya dingin, kering, dan menusuk tulang. "Kau menyebut namaku sebagai titik lemahnya? Lucu sekali. Dan, darimana kamu tau kalau Michael sedang dalam bahaya?" Shaneen menatap mimik wajah itu yang langsung pucat pasi, sialan ini terlalu mudah ditebak. Sedangkan Clara seperti orang bodoh mematung karena omongan yang baru saja ia lontarkan.

Shaneen menyentuh kerah baju mahal Clara, merapikannya dengan gerakan yang sangat pelan namun terasa mengancam. "Saran dariku... berhentilah masuk ke kantor Michael atau mencoba mencari tahu tentang musuh itu. Karena jika kau terseret ke dalam lubang yang sedang tergali, bahkan sisa-sisa bajumu pun tidak akan ditemukan oleh ibumu."

Clara membeku. Ia merasakan aura yang sangat mengerikan terpancar dari gadis yang ia anggap remeh ini. Tekanan di bahunya saat Shaneen menyentuh kerahnya terasa sangat kuat, seolah-olah Shaneen bisa meremukkan tulang belikatnya saat itu juga.

"Apa... apa maksudmu?" Clara terbata, kakinya sedikit bergetar.

Shaneen tiba-tiba tersenyum lebar, kembali ke mode manjanya. "Maksudku, bunganya wangi sekali! Kamu mau satu?" Shaneen menyelipkan setangkai mawar putih ke saku blazer Clara, lalu mencubit pipi Clara dengan gemas—sebuah cubitan yang sebenarnya sangat sakit.

Di pinggir jalan, Clara masih berdiri mematung. Ia menatap mawar putih di sakunya. Ia tidak bodoh. Ia baru saja menyadari bahwa di balik wajah polos Shaneen, ada monster yang sedang tertawa melihat kebodohannya. Clara menepis tangan Shaneen yang mencoba menyentuh buket bunganya.

"Jangan sentuh aku dengan tangan manjamu itu, Shaneen! Aku heran, apa yang Michael lihat dari wanita yang otaknya cuma berisi daftar belanjaan dan drama?"

Shaneen memiringkan kepalanya, matanya berkedip lambat. "Mungkin Michael suka karena aku nggak berisik seperti burung gagak, Clara. Kamu tahu kan? Burung gagak itu berisik, hitam, dan biasanya... cuma datang kalau ada bangkai." Wajah Clara memerah padam.

"Kau menyebutku burung gagak?!"

"Eh? Aku bilang burung gagak, bukan bilang Clara," sahut Shaneen dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Tapi kalau kamu merasa... ya ampun, maaf ya! Mungkin karena eyeliner kamu ketebalan hari ini, jadi mirip sayap gagak."

"Kau—!" Clara melangkah maju, jarinya menunjuk tepat di depan hidung Shaneen. "Dengar ya, dasar jalang kecil! Kamu pikir perjodohan ini akan menyelamatkanmu? Setelah Michael tahu kalau kau tidak bisa melakukan apa pun selain menghamburkan uangnya, dia akan membuangmu ke tempat sampah. Dia butuh partner, Shaneen! Dia butuh wanita yang tahu bisnis serta tangguh, bukan wanita yang kerjanya cuma nangis!"

Shaneen menghela napas panjang, ia mendekat hingga napasnya terasa di telinga Clara. Suaranya tiba-tiba merendah, menjadi seringan bulu namun setajam silet.

"Partner?" Bisik Shaneen. "Clara sayang... kau banyak bicara seolah-olah kau tahu segalanya. Padahal, mendekati urusan Michael itu ibarat bermain api di dalam gudang mesiu. Kau cantik, Clara. Sayang kalau wajah mahalmu itu harus hancur karena kau terlalu banyak tahu."

Clara tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Apa... apa maksudmu?"

"Maksudku..." Shaneen kembali menjauh, senyum manisnya merekah kembali. "Kamu itu terlalu berharga untuk mati konyol hanya karena kepo. Mending kamu fokus cari skincare baru deh, kayaknya kerutan di dahi kamu makin kelihatan kalau kamu marah-marah terus."

"SHANEEN!" Teriak Clara frustrasi. "Kau pikir kau siapa hah?! Kau itu cuma pajangan!"

"Iya, aku memang pajangan," Shaneen tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merdu namun mengerikan bagi yang menyadarinya. "Tapi aku pajangan di galeri Michael. Dan kamu tahu kan aturan main di galeri? Look, but don't touch. Kalau kamu nekat menyentuh milik Michael... tanganku yang 'manja' ini bisa saja berubah jadi sesuatu yang nggak akan pernah mau kamu lihat di cermin."

Shaneen kemudian mengambil setangkai mawar putih, lalu dengan gerakan cepat yang tak terlihat, ia mematahkan duri mawar itu dengan ujung kuku jarinya dan menyelipkannya ke saku blazer Clara.

"Ini mawar untukmu. Cantik, putih, suci... tapi durinya aku simpan sendiri. Biar kalau kamu macam-macam, aku tahu ke mana harus menusukkannya," ucap Shaneen sambil mengedipkan sebelah mata.

Clara gemetar hebat. Ia ingin membalas, tapi auranya seolah tersedot habis oleh tekanan mental yang diberikan Shaneen. Shaneen melenggang pergi, masuk ke dalam mobilnya tanpa menoleh lagi.

Di dalam mobil, Damian melihat melalui spion. "Nona, dia sepertinya hampir menangis."

"Bagus," sahut Shaneen sambil memeriksa kukunya yang sempurna. "Menangis itu sehat untuk wanita sombong seperti dia. Setidaknya air mata bisa melunturkan topeng 'wanita karir'-nya yang palsu itu. Damian, jalan. Kita mampir ke makam ayah dulu baru ke Mension utama."

"Dadah Clara! Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut, nanti nabrak pohon!" Shaneen melenggang pergi masuk ke mobilnya.

Begitu mobil melaju, Shaneen mengelap tangannya dengan tisu basah. "Damian, awasi Clara. Apa hubungannya dengan vendor chip itu semalam."

"Baik, nona."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!