NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 – Bukan Rival

Lorong ruang perawatan malam itu sedikit lebih lengang, namun dua sosok berseragam pilot yang berjalan berdampingan tetap menjadi pusat perhatian.

Seragam putih bersih dengan garis emas di bahu, sepatu hitam mengilap, postur tegap dan langkah pasti—Brian dan Alexander jelas bukan bagian dari staf rumah sakit.

Beberapa perawat berbisik pelan.

Beberapa pasien menoleh dua kali.

Namun dua pria itu tidak peduli.

Fokus mereka hanya pada satu ruangan di ujung lorong.

Camille sudah tertidur. Obat penenang yang diberikan dokter membuat napasnya teratur dan wajahnya sedikit lebih tenang. Lebam di sudut bibirnya masih jelas terlihat, begitu pula perban di lengannya.

Brian berdiri di samping ranjang, menatap adiknya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Campuran amarah, rasa bersalah, dan kasih sayang yang dalam.

“Aku seharusnya ada di sini,” gumamnya pelan.

Alexander berdiri di sisi lain ruangan, bersandar ringan pada dinding. Ia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa kokoh.

“Kau tidak bisa berada di dua tempat sekaligus,” ucap Alexander akhirnya. “Dan dia tahu kau peduli.”

Brian menghela napas panjang.

Ia mengusap rambut Camille sekali lagi sebelum menarik selimutnya hingga menutupi bahunya dengan rapi.

“Aku akan memastikan dia tidak disentuh lagi oleh siapa pun,” katanya pelan namun tegas.

Alexander menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

“Kita lapar,” katanya datar. “Kau tidak makan sejak siang.”

Brian nyaris tersenyum.

Alexander memang seperti itu—kalimatnya pendek, tapi selalu tepat.

Mereka keluar ruangan dengan langkah pelan, memastikan Camille benar-benar terlelap sebelum pintu ditutup perlahan.

---

Kantin rumah sakit malam itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa keluarga pasien dan staf medis yang mengambil makan malam sebelum shift berikutnya.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak—dua pilot dengan seragam lengkap langsung menyita perhatian lagi.

“Seharusnya kita ganti baju dulu,” gumam Brian sambil mengambil nampan.

Alexander mengangkat alis tipis. “Terlambat.”

Brian mendengus pelan.

Mereka mengambil makanan sederhana—sup hangat, nasi, dan kopi hitam. Belum sempat duduk, sosok lain memasuki kantin.

Daniel.

Dokter muda itu tampak lelah. Jas putihnya masih terpasang, stetoskop menggantung di lehernya. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena terlalu sering menyibakkannya sepanjang hari.

Ia berdiri di depan kasir, memesan makan malamnya.

Alexander melihatnya lebih dulu.

“Daniel,” panggilnya.

Daniel menoleh.

Tatapannya langsung menangkap dua seragam pilot itu.

Lalu—

Matanya berhenti pada Brian.

Rahangnya mengeras.

Brian.

Pria yang tadi siang memeluk Camille dengan erat di ruang observasi.

Pria yang Camille peluk kembali tanpa ragu.

Dada Daniel terasa aneh.

Apa ini?

Bukankah ia mencintai Valeria?

Bukankah hatinya hanya untuk gadis yang kini terbaring di ICU itu?

Lalu kenapa melihat pria lain memeluk Camille membuatnya tidak nyaman?

Daniel menelan ludahnya.

Alexander mengangkat tangan, memberi isyarat. “Gabung.”

Daniel ragu sepersekian detik, lalu mengangguk dan membawa nampannya ke meja mereka.

Ia duduk berhadapan dengan Brian.

Tatapan mereka sempat beradu.

Daniel menatapnya sengit.

Brian menatap balik tanpa ekspresi.

Alexander yang duduk di tengah merasa situasi mulai memanas sebelum kata pertama terucap.

“Daniel,” ujar Alexander santai, “ini Brian. Sahabatku.”

Ia lalu menoleh pada Brian.

“Dan ini Daniel. Dokter yang menangani… seseorang yang penting bagi kita.”

Daniel masih menatap Brian.

Brian akhirnya mengulurkan tangan.

“Brian,” katanya singkat.

Daniel menatap tangan itu sepersekian detik sebelum menjabatnya.

“Daniel.”

Keheningan singkat.

Lalu Brian melanjutkan dengan nada lebih tenang.

"Dia gadismu?," ujarnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Brian.

"Siapa? Gadis yang mana?." hening sesaat. 3 Pria dewasa ini saling menatap. Dan Brian tersadar. Ia tersenyum.

"Caca maksudmu,? Camille?."

Hening.

"Aku kakaknya..kakak kandung Camille." tawa renyah Brian.

Kalimat itu seperti menjatuhkan sesuatu di meja.

Daniel membeku.

Kakak?

Otaknya butuh beberapa detik untuk mencerna.

“Kakak… kandung?” tanyanya tanpa sadar.

Brian mengangguk.

Daniel merasa panas di tengkuknya.

Astaga.

Tadi siang ia cemburu pada kakak kandung gadis itu.

Ia menunduk sedikit, merasa bodoh.

Alexander yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Daniel akhirnya tidak bisa menahan senyum tipisnya.

“Oh,” katanya ringan, “jadi itu sebabnya.”

Daniel menatapnya bingung.

Alexander mencondongkan tubuh sedikit, menatap Daniel dengan tatapan penuh arti.

“Kau pikir dia rivalmu?”

Brian mengernyit.

“Rival?”

Wajah Daniel memerah.

“Aku tidak—”

Alexander tertawa pelan, suara baritonnya rendah namun jelas.

“Kau menatapnya seperti ingin duel, Bung.”

Brian kini mulai memahami.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Daniel menghela napas panjang.

Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah.

“Aku hanya…” ia berhenti, mencari kata yang tidak mempermalukan dirinya sendiri.

Alexander menyelamatkannya.

“Itu artinya,” katanya santai, “kita bukan rival lagi.”

Daniel dan Brian menatapnya bersamaan.

“Maksudmu?” tanya Brian.

Alexander mengangkat bahu.

“Kita mencintai perempuan yang sama.”

"Caca maksudmu?" syok.

"Bukan." Alexander mendengus.

"Ya." Daniel lantang.

Kalimat itu membuat meja mereka hening beberapa detik.

Valeria.

Nama itu tidak perlu disebut.

Daniel menunduk sedikit, senyum tipis muncul di wajahnya.

Brian menatap Alexander, lalu Daniel, dan akhirnya tertawa kecil.

“Jadi kita satu tim,” ujar Brian.

“Sepertinya begitu,” balas Daniel.

Ketegangan yang tadi terasa kaku perlahan mencair.

Daniel menatap Brian lebih tenang sekarang.

“Terima kasih sudah ada untuk Camille,” katanya tulus. “Dia… pantas mendapat perlindungan.”

Brian mengangguk. “Dia terlalu sering melindungi dirinya sendiri.”

Daniel tersenyum kecil.

Ya. Ia tahu itu.

Ia sudah melihat bagaimana Camille selalu terlihat kuat, seolah tak butuh siapa pun. Padahal di balik itu, ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Alexander menyeruput kopinya perlahan, memperhatikan dua pria itu dengan ekspresi puas.

“Kalian tahu,” katanya ringan, “aku jarang melihat Niel cemburu.”

Daniel mendengus pelan. “Aku tidak cemburu.”

Alexander menaikkan alis. “Tentu saja.”

Brian terkekeh.

Suasana berubah jauh lebih santai.

Mereka mulai mengobrol tentang pekerjaan masing-masing. Tentang penerbangan panjang yang melelahkan. Tentang operasi yang rumit. Tentang pasien yang membuat jantung hampir berhenti berdetak karena ketegangan.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak berbicara tentang luka.

Tidak tentang penembakan.

Tidak tentang mafia.

Tidak tentang ketakutan kehilangan.

Hanya tiga pria dewasa yang tertawa di meja kantin rumah sakit.

Alexander akhirnya menatap Daniel dengan sorot lebih lembut.

“Bagaimana dia hari ini?” tanyanya pelan.

Daniel tahu siapa yang dimaksud.

“Stabil,” jawabnya singkat. “Profesor Eduardo turun tangan langsung lagi.”

Alexander mengangguk.

"Papa memiliki ikatan terhadap Gadis itu, Entah ada rahasia besar apa di antara mereka." ujarnya.

“Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya,” katanya pelan. “Sejak kejadian itu… beliau berubah.”

Alexander terdiam.

Ya.

Semua orang berubah sejak hari itu.

Brian menatap mereka bergantian.

“Dia akan bangun,” katanya mantap.

Daniel tersenyum tipis. “Aku juga percaya.”

Alexander menatap dua pria di hadapannya.

Dulu ia merasa sendirian dalam perasaannya terhadap Valeria.

Kini ia sadar—

Cinta tidak selalu berarti memiliki.

Terkadang cinta berarti berdiri bersama, menjaga orang yang sama, tanpa saling menjatuhkan.

Alexander berdiri lebih dulu.

“Baiklah,” katanya. “Kita kembali ke atas.”

Brian mengangguk.

Daniel juga berdiri, membawa nampannya.

Sebelum berpisah di lorong, Alexander menepuk bahu Daniel ringan.

“Tenang saja,” katanya pelan. “Kakaknya bukan sainganmu.”

Daniel tersenyum kecut.

“Aku tahu sekarang.”

Brian menoleh pada Daniel sebelum melangkah pergi.

“Dan satu hal lagi.”

Daniel menatapnya.

“Kalau kau serius pada adikku,” ujar Brian tenang, “pastikan kau tidak menyakitinya.”

Tatapan mereka bertemu.

Daniel tidak menghindar.

“Aku tidak akan,” jawabnya mantap.

Alexander melihat pertukaran itu dengan senyum tipis.

Malam itu, di antara lorong rumah sakit yang dingin dan lampu neon yang redup—

Sebuah kesalahpahaman berubah menjadi pertemanan.

Sebuah kecemburuan berubah menjadi tawa.

Dan tiga pria yang mencintai dengan cara berbeda—

Memilih untuk berdiri di sisi yang sama.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!