Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.Menantang Musuh
bugh
Pukulan langsung melayang di wajah Steven ,Donni menunjuk wajah Steven penuh amarah .
“ Kamu hanya membawakanku beberapa butir dan kamu berharap aku membayarmu sesuai apa yang kita sepakati ?. Sudah untung kamu aku bayar Steven ."Ucap Donni mengalihkan pandangannya.
"Sudahlah, yang penting kamu mendapatkan uang untuk membayar rumah sakit ibumu, bukan? Itu sudah harga yang cukup banyak untuk obat yang hanya beberapa butir ini.”
Setelah mengatakan itu, Donni langsung pergi begitu saja.
Steven hanya bisa berdiri di tempatnya dengan perasaan kesal dan terhina.Ia ingin marah, tetapi tidak berani.Ia bukan siapa-siapa di perusahaan itu.
Jika ia membuat masalah, ia bisa dipecat kapan saja.Dan itu tidak boleh terjadi.Ia masih harus membiayai rumah sakit ibunya.
Namun malam itu, sekitar pukul sembilan, sebuah berita mengejutkan tiba-tiba menghebohkan jagat maya.
Devon dikabarkan mengalami kecelakaan.Mobilnya ditemukan jatuh ke dalam jurang.Yang lebih mengejutkan lagi, di dalam mobil tersebut ditemukan obat-obatan yang persis sama seperti yang diminta Donni darinya.Saat melihat berita itu, tubuh Steven langsung gemetar.
Ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.
“Jadi untuk itu Pak Donni menyuruhku mengambil obat itu… untuk mencelakai Tuan Devon.”Suara Steven bergetar saat bergumam sendiri.
Malam itu juga ia langsung menemui Donni untuk meminta penjelasan.
“Pak, kenapa obat itu bisa berada di sana? Bapak memberikan obat itu kepada Tuan Devon?”
Namun Donni justru menatapnya dengan dingin.
“Tutup mulutmu jika kamu tidak ingin aku jadikan kambing hitam soal kecelakaan ini.”
Donni kemudian membuka layar ponselnya dan memperlihatkan rekaman CCTV.
Rekaman saat Steven mengambil obat di ruang rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat.
“Bukti ini akan menjebloskanmu ke penjara jika kamu tidak bisa menjaga mulutmu.”
Ancaman itu terasa seperti pisau yang menancap di dada Steven.
“Tapi… tapi itu semua atas perintah Bapak.”
Steven benar-benar merasa dijebak.
“Kamu pikir orang-orang akan percaya itu? Aku punya uang. Aku punya kuasa. Apa pun kata-katamu tidak akan dipercayai oleh orang-orang. Jadi cukup tutup rapat-rapat mulutmu kalau kamu tidak mau aku jadikan kambing hitam atas kecelakaan yang menimpa Devon!”
Kata-kata itu benar-benar menghancurkan keberanian Steven.Ia akhirnya terpaksa menyimpan rahasia itu rapat- rapat.
___
Kembali ke masa kini.
Brak!
Steven menutup pintu mobilnya dengan keras sebelum duduk di kursi pengemudi.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya yang tiba-tiba dipenuhi rasa takut.
“Apapun yang terjadi aku harus tetap mengunci rapat-rapat rahasia itu. Aku tidak ingin dijebloskan ke dalam penjara.”Setelah bergumam seperti itu, Steven segera menyalakan mesin mobilnya.
______
Drttt… drtt… drtt…
Suara getaran ponsel yang terus berulang akhirnya membuat Donni perlahan tersadar dari ketidaksadarannya. Kelopak matanya bergerak pelan, sementara napasnya terdengar berat. Ia menyibakkan kain putih yang menutupi wajahnya, merasakan hawa dingin yang menusuk dari ruangan tempatnya berada. Udara di sana begitu lembap dan menusuk tulang hingga membuat tubuhnya menggigil tanpa sadar.
Donni membuka matanya perlahan, mencoba memperjelas pandangannya yang masih buram. Kepalanya terasa berat, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya begitu nyata. Terlebih lagi pada tangannya yang retak—rasa nyerinya kini seperti dua kali lipat lebih menyakitkan dibanding sebelumnya saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun.
“Aakkhh…”
Rintihan kesakitan keluar dari bibir Donni ketika ia mencoba bersuara memanggil Sinta. Namun suaranya bahkan terdengar serak dan lemah. Tangannya yang bebas segera meraba wajahnya. Ia merasakan bagian pipinya yang lebam dan sedikit basah oleh darah kering. Jari-jarinya kemudian menyentuh sudut matanya yang juga terasa nyeri.
"Apa yang terjadi denganku?"
Pikirannya berusaha keras mengingat kejadian terakhir yang ia alami.
"Oh iya… dua orang suruhanku. Apa mereka yang membawaku ke sini?"
Namun ingatannya terasa kabur. Ia hanya mengingat saat bertemu dua orang suruhannya di depan pintu ruang rawatnya. Setelah itu semuanya gelap.
Ketika Donni mencoba bergerak turun dari ranjang tempat ia berbaring, kain putih yang menutup tubuhnya jatuh sepenuhnya ke lantai.
Saat itulah pandangannya tertuju pada sesuatu di sampingnya.
Seorang pria.
Tubuhnya kaku. Wajahnya penuh luka jahitan. Kulitnya pucat dengan bekas luka kecelakaan yang masih terlihat jelas di sekujur tubuhnya.
Mayat.
“Waaaaaa! Aaaaaa!”
Donni menjerit histeris. Tubuhnya langsung melompat dari ranjang dengan gerakan panik. Kakinya seketika gemetar hebat saat ia menyadari tempat di mana dirinya berada.
Ruangan itu penuh dengan ranjang logam dingin.
Dan di atas setiap ranjang…
Mayat.
Tubuh Donni semakin gemetar. Ia ingin segera keluar dari ruangan mengerikan itu. Namun saat ia hendak melangkah, tiba-tiba salah satu tangan mayat yang berada di ranjang terdekat menjuntai ke bawah karena posisinya yang bergeser.
Pemandangan itu membuat Donni semakin panik.
“Aaaaa!”
Ia menjerit lagi dengan suara yang lebih keras. Langkahnya terseret-seret karena tubuhnya masih lemah dan ketakutan. Dengan susah payah ia akhirnya berhasil membuka pintu kamar mayat tersebut.
Begitu pintu terbuka, Donni langsung berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan itu. Wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah, dan matanya membelalak penuh ketakutan.
Ia berlari tanpa melihat jalan dengan benar.
Brak!
Tubuhnya menabrak seseorang di lobi rumah sakit.
Tepat saat itu, Lora memang sedang berjalan di area lobi. Ia sengaja datang kembali ke rumah sakit karena ingin melihat secara langsung wajah Donni saat menyadari apa yang telah terjadi padanya.
“Aaaa!”
Donni kembali berteriak. Bukannya meminta maaf kepada orang yang ia tabrak, ia justru berteriak panik hingga membuat orang tersebut mengumpat kesal sebelum akhirnya memilih pergi.
Lora mendekat dengan langkah santai.
Ia berdiri tepat di depan Donni yang masih terduduk di lantai dengan wajah pucat.
“Apa kamu takut? Wah… ternyata seorang Donni juga bisa ketakutan. Hahaha.”
Lora tertawa mengejek dengan suara yang cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Donni yang mendengar suara itu langsung mendongak.
Matanya memerah, penuh kemarahan saat melihat Lora berdiri tepat di hadapannya dengan senyum mengejek di wajahnya.
“Halo, Kakak ipar. Bagaimana rasanya berbaring di ruang mayat? Apakah cukup menyenangkan?”
Lora berbicara dengan senyum penuh kepuasan.
Donni menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kamu… bagaimana kamu bisa sembuh begitu cepat?”
“Tentu saja itu semua karena uang. Kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Aku membayar tiga kali lipat orang-orang suruhanmu itu dan memerintahkan mereka melancarkan rencanamu untuk mencelakaiku kepada dirimu sendiri. Bagaimana? Aku pintar, bukan?”
Nada suara Lora terdengar santai, bahkan sedikit bangga.
“Tapi jelas-jelas kamu terbaring di rumah sakit dengan tangan digips. Aku melihatnya sendiri!”
“ Soal itu aku menipu Steven. Akkhh… orang suruhanmu itu ternyata semuanya sama-sama bodoh. Gampang saja untuk aku bohongi.”
Lora menunduk sedikit, menatap Donni yang masih terduduk di lantai dengan ekspresi merendahkan.
Tepat saat itu Sinta, Vino, dan Vely yang sejak tadi panik mencari Donni akhirnya melihat mereka di lobi rumah sakit.
Mereka langsung berlari mendekat.
“Astaga, Mas! Kamu kenapa?”
Sinta berteriak panik begitu melihat wajah suaminya yang pucat dan babak belur. Ia segera membantu Donni berdiri dengan penuh kekhawatiran.
“Kak Donni?”
.
.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Untung aja nggk di kremasi tu si Donni 🤭🤭
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian